IMF dan Bahaya yang Ditimbulkannya

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Sejak diundangnya IMF untuk menangani krisis moneter dan ekonomi Indonesia pada tahun 1997, krisis di Indonesia bukannya menurun apalagi pulih justru krisis semakin mendalam dan melahirkan krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Menurut Revrisond Baswir, setidaknya ada 10 dosa IMF yang menyebabkan terpuruknya kehidupan masyarakat Indonesia yaitu: (1) IMF menyebabkan terjadinya pelembagaan suatu sistem kolonialisme baru. (2) IMF menyebabkan makin dominannya peranan TNC (konglomerasi internasional). (3) IMF mendorong dikorbankannya kepentingan rakyat banyak untuk menyelamatkan para bankir. (4) IMF menyebabkan meningkatnya komersialisasi pelayanan publik. (5) IMF menyebabkan semakin meluasnya pengangguran. (6) IMF menyebabkan semakin merosotnya upah buruh. (7) IMF menyebabkan semakin terpinggirkannya kaum perempuan. (8) IMF menyebabkan semakin rusaknya lingkungan. (9) IMF menyebabkan semakin melebarnya kesenjangan kaya miskin. (10) IMF menyebabkan semakin parahnya krisis ekonomi.

Sementara dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, IMF telah membumi hanguskan perekonomian negara-negara berkembang. Menurut The Ecologist Report, di Filipina program IMF menyebabkan program belanja untuk pencegahan malaria, TBC, dan imunisasi, masing-masing merosot sebesar 27%, 37% dan 26%. Dalam Water Privatization Fact Sheet, disebutkan bahwa 40 negara yang diberikan pinjaman IMF pada tahun 2000, 12 negara di antaranya diharuskan menaikkan harga jasa pelayanan air dan melakukan privatisasi air. Parahnya, negara-negara tersebut merupakan negara paling kecil, paling miskin dan paling banyak menanggung hutang. Dalam IFG Bulletin, pemaksaan privatisasi air oleh IMF di Bolivia menyebabkan harga air meningkat tiga kali lipat.

Kebijakan IMF di bidang ketenagakerjaan di beberapa negara juga menyebabkan semakin melambungnya pengangguran. IMF memaksa agar para pekerja disektor publik diberhentikan. Selain itu IMF juga memaksa sejumlah negara untuk mengendalikan tingkat upah tetap rendah (John Capanagh, et.al: 2003).

Di Caracas, Venezuela, pada tahun 1989 akibat pengurangan subsidi pupuk dan bahan-bahan pokok, harga roti melonjak 200% sehingga meletuslah huru-hara. Anti sipasi aparat keamanan dengan melepaskan tembakan malah menyebabkan 1.000 orang tewas (Ibid).

Program-program penyesuaian struktural IMF sepanjang tahun 1980-1997 menyebabkan hutang negara-negara berpendapatan rendah bertambah sebesar 544% sedangkan hutang negara-negara berpendapatan menengah meningkat sebesar 481% (Ibid).

Di Ethiopia, program penyesuaian struktural IMF menyebabkan 8 juta orang Ethiopia kelaparan, meskipun produksi pangan di negara tersebut mencapai 90% kebutuhannya dan di beberapa tempat di negeri tersebut malah terjadi surplus produksi pangan (Michel Chossudovsky: 2003).

Jeffrey Sachs, ekonom Universitas Harvard, menilai IMF bersama Bank Dunia dan AS bertanggung jawab atas meninggalnya jutaan orang di dunia akibat kemiskinan. Menurutnya kebijakan-kebijakan lembaga kapitalis tersebut menyebabkan 25.000 orang meninggal setiap harinya.

Siapa IMF?

Kehadiran IMF dimanapun jelas menimbulkan kesengsaraan rakyat, tapi kenapa negara-negara berkembang termasuk Indonesia tetap latah mempertahankan kerja sama dengan IMF? Untuk itu kita perlu memahami IMF serta latar belakang pendiriannya.

Pada tanggal 1-22 Juli 1944, 44 negara (antara lain AS, Inggeris, Perancis) menyelenggarakan konferensi keuangan dan moneter PBB di Bretton Woods, New Hampshire, AS. Konferensi ini melahirkan dua lembaga keuangan internasional yaitu IMF dan Bank Dunia. Spesialisasi fungsi IMF adalah menjaga sistem moneter dunia.

Akan tetapi tujuan pendirian kedua lembaga tersebut bukanlah untuk memajukan perekonomian dunia, melainkan sarat dengan kepentingan negara-negara maju yang mempelapori pendiriannya.

Presiden AS George Washington mengungkapkan merupakan suatu kegilaan bagi suatu negara yang mengharapkan pertolongan negara lain tanpa memperhatikan kepentingan negara yang membantunya. (Robert: 1970). Sedangkan presiden AS Harry S Truman menyatakan bahwa negara-negara di belahan Selatan (negara berkembang) harus melakukan pembangunan. Baginya penting saat itu untuk merebut pengaruh negara-negara berkembang dari saingannya Uni Sovyet sehingga sejak saat itu pembangunanisme digalakkan dengan mengucurkan memberikan pinjaman luar negeri (Prasetyantoko: 2001).

Dengan demikian kelahiran IMF dan Bank Dunia adalah melanjutkan neo imperialisme negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang dan miskin yang baru melepaskan diri dari penjajahan fisik. Pendirian IMF merupakan salah satu thariqah (metode) penyebaran kapitalisme ke seluruh penjuru dunia.

Proses pengambilan keputusan IMF yang saat ini memiliki 182 negara anggota sangatlah tidak adil. Sesuai ketentuan, proses pengambilan keputusan di IMF berdasarkan jumlah pemilikan saham negara-negara anggota. Jika jumlah suara minimal 85% menyetujui terpenuhi maka keputusan dapat diberlakukan. Masalahnya negara-negara G-7 menguasai 45% suara, sedangkan AS saja memiliki 18% suara sehingga seluruh keputusan IMF tidak dapat diberlakukan tanpa persetujuan AS dan negara-negara G-7. Akibatnya kepentingan-kepentingan negara-negara maju khususnya AS sangat mendominasi kebijakan-kebijakan IMF.

Program Penjajahan Penyesuaian Struktural

Amerika, IMF dan Bank Dunia mengadakan pertemuan di Washington yang menghasilkan Konsensus Washington (KW). KW sendiri pada hakikatnya merupakan suatu formula yang lebih ampuh dalam menjerat, menundukkan dan menguasai negara-negara berkembang. Formula ini berupa sebuah program yang bernama program penyesuaian struktural (struktural adjustment policy/ SAP) yang harus dilaksanakan oleh negara-negara berkembang dalam pembangunannya sebagai syarat mutlak diberikannya pinjaman luar negeri dan dalam rangka mengatasi krisis dan kelesuan ekonomi.

Program penyesuaian struktural ini meliputi liberalisasi impor dan pelaksanaan sumber-sumber keuangan secara bebas (liberalisasi keuangan), devaluasi mata uang, pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter dengan pembatasan kredit untuk rakyat, pengenaan tingkat suku bunga yang tinggi, penghapusan subsidi, peningkatan harga-harga public utilities (kebutuhan rakyat), peningkatan pajak, menekan tuntutan kenaikan upah, liberalisasi investasi terutama investasi asing dan privatisasi.

Program SAP inilah yang diterapkan IMF kepada negara-negara pasiennya di seluruh dunia. Delapan kali penandatangan Letter of Intent (LoI) oleh Indonesia dan IMF selama periode 1997-2002, merupakan implementasi SAP. Jadi Indonesia harus melaksanakan SAP yang sarat dengan kepentingan kapitalisme jika ingin mendapatkan pinjaman IMF.

Author: Admin

Share This Post On

4 Comments

  1. klo aja seluruh rakyat di bumi pertiwi ini bisa puasa bicara sedetik aja, pasti tenang rasanya dunia ini…amin…

    Post a Reply
  2. aslmkm. pak, buku2 mengenai IMF apa saja ya pak? mohon, minta rekomendasinya. terima kasih banyak. wslm

    Post a Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Structural Adjusment Program Oleh IMF di Indonesia Saat Krisis Ekonomi 1997-1998 | reybellion - […] http://jurnal-ekonomi.org/imf-dan-bahaya-yang-ditimbulkannya/ diakses pada tanggal 14 Juni 2015 pukul 20.12 […]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *