Hak Paten Obat: Untuk Kesehatan Masyarakat atau Kekayaan Korporat

oleh: Abu Saleh

Kapitalisme Barat sedang melakukan sesuatu yang mereka sebut yang terbaik; yakni menciptakan kesengsaraan umat manusia. Serbuan terakhirnya adalah bidang kesehatan berupa pengembangan dan riset obat-batan. Industri farmasi internasional sedang memimpin desakan dengan didukung pemerintah negara-negara Barat seperti Amerika. Pusat perselisihan terletak pada apakah peraturan WTO harus digunakan mempertahankan semua biaya paten obat dan praktek monopoli perusahaan besar, atau apakah negara-negara yang memiliki tingkat penyakit yang tinggi harus menahan haknya untuk mendapatkan obat dengan harga yang terjangkau.

Medan pertempuran sekarang ada di Afrika Selatan. Negara yang sedang menderita krisis Aids akut dengan 10% penduduknya positif terjangkit HIV dan ini merupakan yang terbesar di dunia. Penyakit itu secara besar-besaran membunuh penduduk Afrika Selatan dengan jumlah penderita yang terus bertambah, penyakit ini telah menginfeksi 4 juta orang. Dalam keadaan putus asa untuk menahan pertumbuhan dan penyebaran penyakit tersebut pemerintah melalui undang-undang tahun 1997 mengijinkan impor obata-obatan generik dengan harga murah. Kebijakan pemerintah Afrika Selatan yang mengijinkan impor obat murah tersebut telah melepaskan negerinya dari cengkraman monopoli para pemegang hak paten seperti perusahaan-perusahaan farmasi. Kebijakan ini sangat menghemat biaya pemerintah dan memperbaiki tingkat harapan hidup. Brazil merupakan satu contoh cerita sukses. Empat tahun yang lalu, Brazil mulai memproduksi sendiri versi obat generik untuk obat terapi Aids . Sejak itu Brazil telah berhasil menurunkan separu tingkat kematian penderita Aids. Karena itu Afrika Selatan yang juga ingin mengulangi kesuksesan Brazil tersebut.

Tetapi, kebijakan tersebut telah menyusutkan keuntungan perusahaan farmasi. Lobi perusahaan farmasi yang memberikan sumbangan kampanye jutaan dollar untuk penegakkan sistem politik AS, secara konstan mendorong kantor perdagangan AS untuk mengangkat kasus tersebut dalam World Trade Organization. Mereka tidak pernah menyianyiakan waktu dalam menagih pemerintah negara-negara Barat untuk bertindak terhadap Brazil. Sejak saat itu pemerintah AS mengajukan komplain dengan WTO menentang hukum Brazil yang melanggar undang-undang hak paten. Dalam hal yang serupa, 40 perusahaan farmasi, termasuk perusahaan raksasa seperti GlaxoSmithKline dan Bayer, baru saja mengajukan pemerintah Afrika Selatan ke pengadilan.

Pada 5 Maret lalu mereka mengajukan masalah ini ke pengadilan Pretoria untuk menentang undang-undang yang menginjinkan pemerintah mengimpor obat generik ataupun obat tiruan. Ribuan demonstran dari luar negeri memprotes tindakan perusahaan-perusahaan farmasi tersebut. LSM, kelompok dan aktivis kesehatan memberikan dukungan terhadap pemerintah Afrika Selatan untuk mempertahankan posisinya. Dr. Eric Goemaere dari Program Pengobatan Aids Sans Frontieres di Afrika Selatan menuduh industri-industri farmasi tidak pantas melakukan hal tersebut. Menurutnya, “kita yang bekerja dalam bidang ini tidak melihat Aids semata-mata dalam batasan statistik, tetapi sebagai orang; pasien, rekan dan sahabat yang akan dikatakan kepada mereka bahwa mereka harus mempersiapkan kematian mereka karena obat yang dapat mempertahankan hidup mereka tidak tersedia. Kita harus berkonsentrasi sekarang pada penemuan, dengan cepat, jalan untuk membuat mereka yakin”. Penasehat Senior Kebijakan Amal Oxfam, Kevin Watkins, menuntut “reformasi fundamental perturan hak milik intelektual WTO, dengan mulai mengurangi lamanya perlindungan hak paten, meningkatkan perlindungan kesehatan dan larangan secara menyeluruh atas penggunaan ancaman sanksi perdagangan”.

Tetapi perusahaan-perusahaan farmasi mengulang kembali bahwa riset obat-obatan merupakan bisnis yang mahal dan membuat hak paten berguna untuk mendorong perusahaan mengembangkan obat-obat baru. Sir Richard Sykes dari GlaxoSmithkline menyebut perusahaan yang membuat tiruan generik sebagai “para bajak laut di tengah lautan”. Merek juga mendapatkan dukungan penuh dari WTO. Mike Moore, direktur jenderal WTO menyatakan: “Industri telah mengeluarkan biaya rata-rata pengembangan obat baru sebesar US $ 500 juta. Apakah itu bukan untuk sistem hak paten sebagai balasan bagi perusahaan yang menanggung resiko jutaan dolar dalam risetnya, sehingga tanpa ini obat anti Aids tidak akan penah ada”.

Kedua pihak yang saling bermusuhan sedang mengamati isu hak mempatenkan obat dari dua perspektif yang berlawanan. Pemerintah Afrika Selatan dan organisasi Aids menganggap masalah hak paten sebagai hukuman mati terhadap dunia miskin yang menimpa sejak hak paten telah menempatkan melebihi jangkauan mereka, saat perusahaan-perusahaan farmasi dan WTO menganggapnya sebagai perangsang/pendorng dan perlindungan atas investasi keuangan. Mengomentari peranan industri farmasi, Mr. Sykes mengatakan, “ini adalah suatu industri yang sangat penting, tidak hanya bagi perlindungan kesehatan. Ia sangat penting bagi neraca pembayaran negara”. Mike Moore mengakui bahwa riset yang berhubungan dengan obat untuk beberapa jenis penyakit tidak memberikan manfaat finansial, “tidak ada obat yang efektif untuk beberapa jenis penyakit yang menimpa orang-orang di negara-negara miskin saja, karena mengembangkannya secara komersial tidak sehat.” Dia benar; bahwa perusahaan-perusahaan terlalu sibuk mengembangkan obat yang menghasilkan uang berlimpah seperti viagra dan obat kegemukan. Negara-negara seperti Brazil dan Afrika Selatan yang telah melakukan kebijakan untuk kepentingan rakyatnya diancam dengan bermacam-macam sanksi. Di bawah ketentuan khusus undang-undang perdagangan “301”, Amerika Serikat secara sepihak dapat menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap negara-negara yang berbeda dengan keinginannya dan mengingkari keabsahan hak paten obat. Pada bulan November 1999, AS menggunakan kebijakan ini sebagai siasat untuk memaksa Thailand untuk menghentikan penggunaan obat generik.

Di negara-negara Kapitalis, kepentingan komersial menjadi faktor memotivasi pengembangan obat baru. Karenanya, pengobatan medis baru apapun dilihat sebagai kekayaan intelektual untuk keuntungan perusahaan-perusahaan farmasi meskipun hal itu menyebabkan penderitaan jutaan orang. Dengan kata lain, sasaran atau tujuan perusahaan-perusahaan tersebut adalah mencari laba bukan untuk menyelamatkan kehidupan. Dr. Sue Meyer dari kelompok riset Genewatch UK mengamati, “ilmu pengetahuan dikendalikan oleh kepentingan pribadi, mengarahkan maksimalisasi nilai saham mereka, dibandingkan dengan masalah kesehatan masyarakat.” Pembela penggunaan obat-obatan generik tidak melihat bahwa pemecahan masalah adalah jauh lebih dalam daripada reformasi hukum secara sederhana. Kecenderungan mementingkan diri sendiri dan kolonialis negara-negara Kapitalis sudah tertanam berabad-abad lamanya.

Pandangan hidup sekuler, yang dipeluk Barat, membuat pengejaran kesenangan dan kepentingan individu menjadi tujuan hidup. Ini dibuktikan dengan pencarian tidak ada berakhir untuk keuntungan materi dengan mengabaikan mudarat yang disebabkannya terhadap orang lain. Nilai-nilai yang mengedepankan kepentingan orang lain sangat asing bagi penganut pandangan ini. Karenanya hampir tidak mengagetkan menyaksikan ancaman dan perilaku kejam orang-orang yang menganut pandangan ini. Konsekuensinya, satu-satunya hal yang ingin diperoleh perusahaan-perusahaan farmasi Barat adalah pencarian profit yang maksimum. Bahkan ketika mereka memberikan bantuan sehingga layaknya dermawan seperti memberikan potongan harga produknya hanyalah sekedar menyamarkan tindakan untuk melindungi deviden dan menjaga dari pesaing generik yang memangkas pasar mereka. Tidak ada dari banyaknya demonstrasi masyarakat dan reformasi undang-undang yang akan menyelesaikan masalah ini kecuali meninggalkan asas sekuler. Pandangan dan asas alternatif yang komprehensip sangat diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Allah SWT menyatakan Islam sebagai rahmat dan panduan hidup umat manusia. Dalam Islam tujuan hidup adalah mencari keredhaan Allah. Pengejaran tujuan inilah yang mendorong negara Islam mengupayakan dan menyediakan obat ketika Rasulullah memberitahukan kepada kita bahwa: “Tidak ada penyakit yang diciptakan Allah kecuali Allah telah menciptakan obatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Obat yang telah ditemukan tidak pernah mempedulikan hak milik individu atau perusahaan dagang tertentu tetapi itu adalah kemurahan dari Allah SWT yang disediakan oleh negara untuk rumah sakit dan klinik kesehatan, dan banyak sekolah farmasi dan toko obat dibuka untuk memelihara urusan rakyat. Riset medis dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi dan dibuang jauh dari sikap egois sebagaimana yang dapat kita saksikan hari ini. Mujtahid terkemuka Imam Syafi’I mengatakan tentang obat: “Setelah ilmu pengetahuan yang membedakan mana yang halal dan yang haram, saya tidak mengetahui ada ilmu pengetahuan manapun yang lebih mulia kecuali ilmu pengobatan.” Orang Islam memiliki keunggulan dalam bidang pengetahuan obat-obatan. Ketika al Razi, kepala rumah sakit Bagdad selama kuartal pertama abad 10, mengembangkan penggunaan seton dalam pembedahan dan menyusun ensiklopedia medis, dia tidak pernah mempatenkan penemuannya, maupun yang dilakukan Ibnu Sina ketika dia mendiagnosa bilharzia dan menguraikan 760 obat yang berbeda. Karena Islam tidak mendorong penumpukan ilmu pengetahuan obat. Sebenarnya, buku-buku medis terpenting di Eropa berasal dari negara Islam.

Allah lah yang memberikan pengetahuan dan Dia menentukan bagaimana kita menggunakannya. “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 32)

Hanya Islam yang dapat menyelesaikan penyakit sekularisme. Dan hanya melalui kembalinya Khilafah dan penerapan syari’at secara komprehensif yang dapat membuat obat diatur secara efektif.

Sumber: Jurnal Khilafah, www.khilafah.com, 21 Maret 2001, Drug Patents: Corporates Wealth or Public Health?

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *