GLOBALISASI, KEMISKINAN, DAN AGAMA : Respon Hizbut Tahrir

Oleh : H. Ir. Muhammad Ismail Yusanto, MM

Pengantar

Bagi negara-negara Dunia Ketiga, globalisasi tiada lain adalah imperialisme baru yang menjadi mesin raksasa produsen kemiskinan yang kejam dan tak kenal ampun. Jerry Mander, Debi Barker, dan David Korten tanpa ragu menegaskan,”Kebijakan globalisasi ekonomi, sebagaimana dijalankan oleh Bank Dunia, IMF, dan WTO, sesungguhnya jauh lebih banyak menciptakan kemiskinan ketimbang memberikan jalan keluar.” (The International Forum on Globalization, 2004:8). Jadi, globalisasi adalah produsen kemiskinan.

Namun ada yang belum jelas, yaitu bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan di satu sisi, dengan agama (atau agama-agama) di sisi lain. Memang respon umum agama-agama adalah sikap resistensi terhadap globalisasi. Karena globalisasi dapat dikatakan sebagai ekspansi budaya Barat yang sekularistik, materialistik, dan liberal. Secara demikian, globalisasi dipastikan akan mengikis dan menggerus nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas berbagai agama. Anis Malik Toha (2005:48) menerangkan di antara dampak globalisasi adalah,”…manusia harus mengubah (revise) atau merombak (deconstruct) pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan agama tradisional agar seirama dengan semangat zaman, zeitgeist, dan nilai-nilai yang diyakini “universal.””

Maka nilai-nilai agama yang dikatakan tradisional seperti penolakan aborsi, homoseksual, dan lesbianisme, dapat luntur ketika berhadapan dengan globalisasi yang tak mengenal moral. Namun persoalannya, apakah respon resistensi (penolakan) sudah cukup? Jelas tidak. Yang diperlukan tak sekedar menolak atau mengkritik globalisasi, tapi juga bagaimana solusi alternatif yang dapat diajukan, termasuk jalan untuk menuju solusi itu. Inilah perkara yang belum jelas ketika kita berbicara kaitan agama dengan globalisasi dan kemiskinan.

Maka dari itu, tulisan ini bertujuan menjelaskan 3 (tiga) poin yang saling terkait dalam konteks globalisasi, kemiskinan, dan agama; yaitu :

Pertama, bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan. Akan dijelaskan dan dibuktikan bahwa globalisasi hanyalah penghasil kemiskinan bagi kebanyakan manusia di muka bumi.

Kedua, bagaimana respon agama (atau agama-agama) terhadap globalisasi. Akan dijelaskan bagaimana peta gerakan anti globalisasi, sehingga dapat diketahui di mana dan bagaimana posisi agama-agama terhadap globalisasi.

Ketiga, bagaimana respon Hizbut Tahrir terhadap globalisasi. Akan dijelaskan bagaimana Hizbut Tahrir dengan konsepnya yaitu Islam sebagai ideologi dan pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, kiranya akan dapat menjadi harapan umat manusia untuk membebaskan diri dari neo imperialisme global yang menjadi substansi globalisasi.

Globalisasi dan Kemiskinan

Globalisasi adalah penghasil kemiskinan, karena globalisasi adalah neo imperialisme yang dilaksanakan negara-negara kapitalis untuk menghisap dan mengeksploitasi dunia. Itulah yang ingin kami tegaskan. Untuk itu, akan dijelaskan secara ringkas definisi globalisasi dan bukti globalisasi menjadi penghasil kemiskinan.

Globalisasi memang suatu realitas global yang yang rumit, kompleks, dan multi-dimensional. Karena itu, tidak mudah menemukan satu definisi tunggal yang dapat mencakup semua gejala dan fenomena globalisasi. Definisi globalisasi banyak sekali. Sebuah buku berjudul Globalization karya Alex Mac Gillivray (2006) menerangkan betapa banyaknya buku tentang globalisasi. Dikatakannya ada sekitar 3.300 buku berbahasa Ingris, 700 buku berbahasa Perancis, 670 buku berbahasa Jerman, dan ratusan buku lainnya dalam bahasa Rusia, Arab, India, China, Spanyol, dan lain-lain yang bicara seputar globalisasi. Karena itu wajar ada ratusan definisi globalisasi. (Rais, 2008:11; Sejati & Martanto, 2006:1,66, & 118; Salim, tanpa tahun:2; Winarno, 2004:39).

Kami tidak akan terlalu jauh membahas macam-macam definisi globalisasi dengan berbagai macam kategorisasi dan perspektifnya. Namun memang benar, harus ada sebuah definisi tentang globalisasi yang diadopsi, karena kejelasan definisi ini akan menentukan arah pembahasan dan penyikapan terhadap globalisasi. Bahkan pemahaman kita terhadap definisi globalisasi ini menentukan bagaimana arah masa depan kita. Menurut kami, substansi globalisasi adalah imperialisme baru, bukan yang lain.

Syaikh Fathi Muhammad Salim, seorang ulama dan pemikir terkemuka dari Hizbut Tahrir, telah menganalisis secara mendalam macam-macam definisi globalisasi dalam kitabnya Al-‘Aulamah (globalisasi). Judul bukunya menggambarkan substansi pemahamannya yang akurat dan precise terhadap globalisasi. Bukunya secara lengkap berjudul Al-‘Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah al-Haditsah li As-Saitharah ‘Ala Al-‘Alam, yang berarti : globalisasi adalah alat kapitalisme modern untuk menguasai dunia.

Syaikh Salim pertama-tama mendeskripsikan realitas globalisasi dengan cermat dengan menyatakan, “Pengertian globalisasi ringkasnya adalah : suatu proses memudarnya tapal batas antar negara-negara baik secara ekonomi, budaya, ideologi, maupun sosial, serta kondisi dunia global yang menjadi bagaikan kampung kecil di hadapan hegemoni kapitalisme, dengan sistem ekonominya yang penuh dengan keburukan, kezaliman, kerakusan, dan eksploitasi, juga sistem pemikirannya yang destruktif terhadap berbagai ideologi, moral, dan nilai lain.” (Fathi Salim, Al-‘Aulamah, hlm. 2).

Syaikh Salim lalu mendefinisikan globalisasi dengan redaksi lain. Fokusnya adalah pada dua dimensi, yaitu dimensi ideologi dan ekonomi. Dalam dimensi ideologi, Syaikh Salim menegaskan, “Globalisasi adalah suatu proses menjadikan ideologi kapitalisme sebagai ideologi universal yang harus dianut oleh semua bangsa secara sukarela atau terpaksa, serta pemaksaan peradaban Barat dan nilai-nilainya kepada dunia.” Sementara dalam dimensi ekonomi, Syaikh Salim mengatakan,”Globalisasi adalah proses menjadikan sistem ekonomi kapitalis ala Amerika Serikat sebagai sistem dominan di dunia, dengan mengintegrasikan perekonomian lokal ke dalam tatanan perekonomian global melalui privatisasi, pasar bebas, dan mekanisme pasar pada semua perekomian negara-negara di dunia. Ini berarti penghapusan semua batasan dan hambatan terhadap arus perpindahan barang, modal, dan jasa yang bersandar pada kekuatan pengaruh Amerika Serikat. WTO, Bank Dunia, dan IMF tiada lain hanyalah alat untuk memaksakan kekuatan Amerika Serikat itu.” (Fathi Salim, Al-‘Aulamah hlm. 8).

Jadi, apa substansi globalisasi? Syaikh Salim kemudian menyimpulkan,”Fa-hiya bi ikhtishar isti’mar jadid.” (Jadi, globalisasi ringkasnya adalah imperialisme baru). (Fathi Salim, Al-‘Aulamah, hlm. 18).

Penilaian bahwa globalisasi identik dengan imperialisme baru ini sebenarnya bukan pandangan yang keterlaluan atau berlebihan, karena memang demikianlah faktanya. Tak sedikit intelektual dan akademisi yang –sejalan dengan kesimpulan Syaikh Salim ini– menyimpulkan globalisasi adalah neo imperialisme atau neo kolonialisme. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Al-Muslimun wa Al-‘Aulamah hlm. 17 menyatakan bahwa globalisasi adalah bentuk baru atau penghalusan bahasa dari imperialisme yang telah di-make-up wajahnya. (Usman, 2003:262) Menurut Khor (1995) dan Ling (2000), globalisasi bagi negara-negara dunia ketiga sama saja dengan kolonialisasi. (Sejati & Martanto, 2006:3). Jeffrey Sachs, profesor ekonomi dari Universitas Colombia Amerika Serikat, menilai bahwa globalisasi tak lain adalah bungkus baru dari developmentalisme yang merupakan episode lanjutan dari imperialisme yang gagal dalam bentuk awalnya. (Prasetyantoko, 2001:15). Budi Winarno (2004) menulis buku dengan judul yang terus terang tanpa tedeng aling-aling : Globalisasi Wujud Imperialisme Baru. Amien Rais dalam bukunya Selamatkan Indonesia! (2008:27) menyatakan pula bahwa globalisasi yang dikembangkan Amerika hakekatnya adalah sebuah neo imperialisme. Mansour Fakih menegaskan hal serupa dengan menyatakan,”Globalisasi yang ditawarkan sebagai jalan keluar bagi kemacetan pertumbuhan ekonomi bagi dunia ini…telah dicurigai sebagai bungkus baru dari imperialisme dan kolonialisme.” (Fakih, 2001:211).

Kesimpulannya, globalisasi tiada lain adalah neo imperialisme. Inilah definisi yang paling tepat dan pantas untuk globalisasi, tak lebih dan tak kurang. Dengan demikian, akan mudah dipahami bagaimana hubungan globalisasi dengan kemiskinan. Globalisasi sungguh adalah penghasil kemiskinan dunia.

Memang globalisasi selalu digembar gemborkan oleh para aktornya sebagai sesuatu yang menguntungkan karena menghasilkan kemakmuran dunia. Kapitalisme sebagai ideologi dasar globalisasi diklaim oleh Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin sebagai,”pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal dunia.” (Gilpin & Gilpn, 2002:xv). Namun persoalan sesungguhnya adalah distribusi dari kesejahteraan itu. Jadi yang harus dipersoalkan bukanlah apakah globalisasi menghasilkan kemakmuran atau tidak, melainkan apakah kemakmuran itu didistribusikan secara adil atau tidak.

Faktanya, globalisasi hanya menguntungkan negara-negara industri kaya. Sementara hanya sedikit negara berkembang (itu pun hanya segelintir penduduknya) yang mendapatkan manfaat globalisasi. Joseph Stiglitz, pemenang Nobel bidang ekonomi tahun 2001, dalam bukunya In the Shadow of Globalization dengan terus terang mengatakan pemenang globalisasi adalah negara-negara industri (lama dan baru), sementara sebagian besar negara berkembang menjadi pecundang. (Hadar, 2004:42). Banyak data menunjukkan fakta keras ini.

Laporan United Nations Human Development tahun 1999 menyebutkan, seperlima orang terkaya dari penduduk dunia mengkonsumsi 86 % semua barang dan jasa. Sedangkan seperlima yang termiskin hanya mendapatkan 1 % lebih sedikit. Seperlima yang terkaya juga menikmati 82 % perdagangan dan 68 % Investasi Asing Langsung (FDI=Foreign Direct Investment), sedang seperlima yang termiskin hanya mendapatkan 1 % lebih sedikit. (The International Forum on Globalization, 2004:31).

Data kesenjangan tahun 1999 ini tidak banyak berubah jika dibanding data tahun 1980 ketika globalisasi mulai beroperasi dengan neoliberalismenya, saat Margaret Thatcher dan kemudian Ronald Reagan menduduki kursi kekuasaan. (Wibowo & Wahono, 2003:20). Robert H. Strahm menggambarkan data tahun 1980 dengan berkata,”Kita hidup dalam sebuah dunia, di mana 26 % penduduknya (di negara-negara industri Blok Barat dan Blok Timur) menguasai lebih dari 78 % produksi, 81 % penggunaan energi, 70 % pupuk, dan 87 % persenjataan dunia. Sementara 74 % penduduk dunia di negara-negara berkembang (Afrika, Asia, dan Amerika Latin) hanya mendapat seperlima produksi dan kekayaan dunia.” (Strahm, 1999:3).

Walhasil, di satu sisi, globalisasi memang sangat menguntungkan negara-negara kapitalis, khususnya perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs=multi national corporations). Menurut catatan Duncan McLaren dan Willmore (2003:3), pada tahun 2003 lima ratus perusahaan multinasional mengontrol hampir dua pertiga perdagangan dunia. Bahkan lima perusahaan multinasional terbesar dunia secara bersama-sama menghasilkan angka penjualan tahunan yang lebih besar dibanding pendapatan 46 negara termiskin di dunia. (Sejati & Martanto, 2006:72). Pada tahun 1999, hasil penjualan dari lima korporasi papan atas (General Motors, Wal-Mart, Exxon-Mobil, Ford Motor, dan Daimler-Chrysler) lebih besar dibanding GDP 182 negara. (The International Forum on Globalization, 2004:41).

Namun di sisi lain, globalisasi hanya menghasilkan kemiskinan untuk negara-negara berkembang. Pada pertengahan 1990-an, dengan standar kemiskinan ekstrim yakni konsumsi sebesar satu dolar AS per hari, kurang lebih 33 % penduduk negara-negara berkembang hidup dalam kemiskinan. Dari jumlah itu, 550 juta jiwa ada di Asia Selatan, 215 juta jiwa ada di Sub-Sahara Afrika, dan 150 juta jiwa di Amerika Latin. (Castel, 2000:243, dikutip oleh Sejati & Martanto, 2006:75).

Kesenjangan kaya miskin sebagai akibat globalisasi juga dapat dilihat dari data yang mengiris hati berikut. Untuk perbaikan pendidikan dasar di seluruh negara berkembang, dibutuhkan dana 6 miliar USD setahun. Jumlah ini lebih sedikit dibanding dana 8 miliar USD setahun untuk belanja komestik di AS saja. Untuk instalasi air dan sanitasi seluruh negara berkembang, diperlukan 9 miliar USD setahun, lebih kecil dari dana konsumsi es krim di Eropa yang besarnya 11 miliar USD setahun. Untuk pemeliharaan kesehatan dan nutrisi, seluruh negara berkembang perlu 13 miliar USD setahun, lebih kecil dibanding dana untuk pakan hewan piaraan (anjing dan kucing) di Eropa dan AS yang besarnya 17 miliar USD setahun. (Rais, 2008:22).

Itulah hakikat globalisasi yang jahat, yaitu neo imperialisme negara-negara kapitalis untuk menghisap dan mengeksploitasi negara-negara berkembang. Globalisasi adalah penghasil kemiskinan.

Respon Agama : Memahami Peta Gerakan Anti Globalisasi

Dikarenakan berbagai dampak buruk globalisasi, wajar kalau muncul respon berupa protes dan kritik tajam terhadap globalisasi, yang disimbolkan dengan berbagai simptomnya, seperti WTO dan berbagai summit yang dilakukan oleh G-8, IMF, EU, APEC, AFTA, dan seterusnya. Gelombang protes atas globalisasi di Seattle pada Nopember 1999, berlanjut di kota-kota besar lain tempat berbagai pertemuan internasional berlangsung, seperti Washington, Millan, Melbourne, Prague, Nice, Gothenburg, Quebec City, Genoa, London, Barcelona, Doha, dan Cancun. (Sejati & Martanto, 2006:91).

Bagaimana peta gerakan anti globalisasi yang ada? Lalu di mana posisi agama dalam peta gerakan tersebut? Eric Hiariej dalam artikelnya Gerakan Anti Kapitalisme Global telah mencoba membuat peta gerakan anti globalisasi itu, namun memang tidak jelas di mana posisi atau peran agama dalam peta yang dibuatnya tersebut. (Sejati & Martanto, 2006:85-107).

Hiariej mengutip klasifikasi gerakan anti globalisasi menurut Manfred Steger (2002) dan Callinicos (2003). Dalam versi Manfred Steger, gerakan ini secara sederhana dipilah mengikuti pemilahan klasik “kanan” dan “kiri” sebagai berikut :

Pertama, kelompok kanan, yaitu para proteksionis nasionalis, yang cenderung menyalahkan globalisasi sebagai biang penyebab berbagai penyakit sosial, ekonomi, dan politik yang menimpa masyarakat di negara asalnya. Mereka mencela perdagangan bebas, kekuatan investor global, dan perusahaan multinasional yang dianggap menyumbang kerusakan sosial di negara mereka. Para proteksionis nasionalis menuntut keutuhan bangsa dan negaranya dari elemen-elemen asing. Menurut Steger, mereka ini contohnya adalah Patrick Buchanan, Jorg Haidar, Jean-Marie Lepen, Gerhard Frey dan Gianfranco Fini.

Kedua, kelompok kiri, yang disebut Steger egalitarian internasionalis. Mereka ini meliputi partai-partai politik progresif dengan visi dunia yang lebih adil dan merata antara Utara dan Selatan, serta berbagai NGO yang mengusung isu-isu lingkungan, HAM, buruh, dan perempuan. Para egalitarian internasionalis menuduh para elit penggerak globalisasi telah memaksakan neoliberalisme yang menjadi sumber ketimpangan global, pengangguran, degradasi lingkungan, dan matinya kesejahteraan sosial. Kelompok kiri ini bermaksud mengambil alih proses globalisasi dari tangan para pengambil kebijakan neoliberal dan pemilik modal. Menurut Steger, mereka ini contohnya adalah aktivis anti korporasi Ralph Nader, kelompok pergerakan seperti Zapatista (Meksiko) dan Chipko (India), dan berbagai NGO seperti International Forum on Globalization, Global Exchange, dan Focus on the Global South. (Sejati & Martanto, 2006:97-98).

Sementara menurut Callinicos (2003) gerakan anti globalisasi dipilah lebih lengkap menjadi enam kelompok :

Pertama, kelompok reaksioner, atau para romantic capitalism. Mereka memperjuangkan masyarakat baru berdasarkan kerinduan akan masa lalu yang ideal tanpa sepenuhnya menolak modernitas. Contohnya kelompok dengan ideologi Kanan Jauh di Amerika yang memandang integrasi transnasional sebagai ancaman serius.

Kedua, para borjuis penentang kapitalisme. Mereka ini contohnya Norena Heertz yang posisi ideologisnya sebenarnya tidak anti kapitalisme. Bagi Hertz, yang menjadi soal bukan korporasi besar, tapi perimbangan antara politik dan pasar. Mengingat globalisasi menempatkan politik di bawah kendali pasar, maka kelompok ini menyerukan harus ada perimbangan politik dan pasar, agar korporasi besar tidak mengendalikan negara demi kepentingannya sendiri.

Ketiga, kelompok localist anti-capitalism. Kelompok ini mencakup aktivis dan intelektual yang memperjuangkan mekanisme pasar yang diperbarui dan lebih terdesentralisasi sebagai jawaban terhadap globalisasi. Mereka mengajukan localization, sebagai alternatif globalisasi. Gagasan ini diwujudkan dalam bentuk fair trade pada level mikro antara produsen dan konsumen. Konsumen di Utara harus mengutamakan hubungan dagang yang lebih adil terhadap produsen di Selatan.

Keempat, kelompok reformis. Mereka merupakan kelompok gerakan buruh yang reformis, dengan mengacu pada strategi demokrasi sosial (sosdem) untuk menggapai sosialisme lewat jalan parlementer. Mereka ingin membuat kapitalisme yang lebih manusiawi, atau lebih terregulasi. Contoh figurnya adalah James Tobin dan Susan George, yang menghendaki kembalinya kapitalisme Keynesian yang diperbarui, bukan hanya untuk Amerika dan Eropa, tapi juga untuk seluruh dunia.

Kelima, para otonomis. Dengan inspirasi gerakan Tute Bianche di Italia dan Zapatista di Mexico, kelompok otonomis menolak sentralisasi kekuatan dan justru mengedepankan metode yang berbeda-beda dalam mengorganisir berbagai aksi perlawanan.

Keenam, para sosialis. Mereka adalah sisa-sisa elemen sosialis sekitar gerakan buruh dan organisasi revolusioner, setelah surutnya sosialisme. Sebagian besar mereka adalah kaum sosialis yang mewarisi tradisi Trotskyisme, terutama yang berada di Eropa Barat. (Sejati & Martanto, 2006:98-101).

Dari paparan Eric Hiariej di atas, baik versi Steger maupun Callinicos, tidak nampak bagaimana respon atau sikap agama dalam peta gerakan-gerakan yang menentang globalisasi. Namun dalam pemetaan yang dilakukan Mansour Fakih (2001:223-226), agak sedikit lebih jelas di mana peran agama dalam penentangan terhadap globalisasi. Menurut Fakih, para penentang globalisasi dapat diidentifikasikan dalam tiga kelompok :

Pertama, kelompok gerakan kultural dan agama. Menurut Fakih, sebagai bentuk resistensi terhadap globalisasi, gerakan berbasis agama timbul di mana-mana. Dia contohkan, di Mesir, kekecewaan terhadap pembangunan telah melahirkan gerakan berbasis keagamaan yang dilabeli dengan fundamentalis Islam. Di India, resistensi terhadap globalisasi nampak pada kelompok Hindu Revivalis (Rashtriya Swayamsewak Sangh) yang mendesak India untuk memboikot barang buatan asing.

Kedua, kelompok new social movement dan global civil society. Mereka adalah gerakan yang menentang pembangunan dan globalisasi, seperti gerakan hijau, feminisme, dan gerakan masyarakat akar rumput. Contohnya adalah KAU (Koalisi Anti Utang) di Indonesia, serta berbagai koalisi LSM yang menentang WTO.

Ketiga, kelompok lingkungan. Mereka berupaya untuk memberdayakan rakyat (eko-populisme) dan membongkar kerusakan ekosistem dunia yang diakibatkan oleh praktik ekonomi modern di bawah pengaruh globalisasi. Contohnya gerakan Chipko (Chipko Movement) di India, yang menentang perusahaan penebangan hutan. WALHI di Indonesia juga merupakan salah satu contohnya. (Fakih, 2001:223-226).

Dari deskripsi Mansour Fakih di atas, menjadi agak jelas bagaimana posisi dan respon agama dalam menghadapi globalisasi. Agama-agama, khususnya Islam, ternyata menunjukkan sikap menolak dan melawan globalisasi, meski Fakih masih terjebak dalam kerangka tipologi intelektual Barat yang menyebut gerakan-gerakan Islam (al-harakah al-Islamiyah) sebagai kelompok Fundamentalisme Agama yang berkonotasi negatif. (Adams, 2004:425-458).

Dapat ditambahkan, respon agama terhadap globalisasi juga dilukiskan oleh Norena Heertz ketika dia menyayangkan bagaimana terkikisnya identitas masyarakat Budha di kerajaan Bhutan. Kerajaan yang terletak di antara Tibet dan India ini, berubah gaya hidupnya dari sederhana menjadi konsumtif dan hedonis gara-gara globalisasi. (Wahono & Wibowo, 2003:13-46). Respon kalangan Katolik terhadap globalisasi, juga dapat ditunjukkan sebagaimana disinggung sekilas oleh Gilpin dan Gilpin (2002). Paus Johannes Paulus II dianggap sebagai penentang globalisasi dari kelompok Komunitarian, yakni kelompok yang menginginkan kembalinya komunitas-komunitas lokal, mandiri, dan terjalin erat, bukan komunitas yang didominasi perusahaan multinasional, pasar modal, dan birokrat internasional seperti IMF dan WTO. (Gilpin & Gilpin, 2002:332-335).

Bagi umat Islam, globalisasi memang sangat berbahaya. Sebab umat Islam tidak hanya merasakan bahayanya dari sudut ekonomi, seperti kemiskinan, namun juga bahayanya secara ideologi, yakni terancamnya orisinalitas ajaran Islam. Contohnya adalah penyelenggaraan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) oleh PBB di Kairo, September 1994. Konferensi itu sangat membahayakan karena berusaha melegalkan zina, homoseksual, lesbianisme, aborsi. Padahal semua itu haram menurut Islam. (Usman, 2003:262-263). Contoh lainnya adalah bagaimana agen-agen globalisasi juga merusak ajaran Islam lewat pendidikan. Di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lain-lain telah dilakukan perubahan kurikulum Islam dengan dalih perkembangan jaman. Arab Saudi mengubah materi al-wala` wa al-bara` (loyalitas dan disloyalitas). Sementara Yordania, Mesir, dan Kuwait mengubah materi tentang jihad dan perang melawan kafir agresor, seperti Yahudi dan Nasrani. Negara-negara itu juga mengubah konsep-konsep Islam yang dibenci AS. (An-Nabhani, 2006:103).

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa agama-agama dunia (Islam, Katolik, Hindu, Budha) pada umumnya menentang globalisasi. Namun penentangan Islam, nampaknya merupakan penentangan paling kuat (Hizbut Tahrir, 1996:6). Mengapa? Karena Islam sesungguhnya adalah sebuah ideologi, suatu level yang setara dengan kapitalisme mazhab neo-liberalisme yang menjadi ideologi dasar globalisasi. Agama-agama selain Islam tidak mencapai level ideologi, namun hanya sebatas agama dalam arti terbatas (hanya terfokus mengatur hubungan privat manusia dengan Tuhan). Karena itu, Hizbut Tahrir sebagai gerakan Islam internasional pengemban ideologi Islam perlu dikaji untuk mengetahui responnya terhadap globalisasi.

Respon Hizbut Tahrir terhadap Globalisasi

Menurut Hizbut Tahrir, perlawanan terhadap globalisasi tidak akan berhasil, kecuali jika dilakukan dengan serius dan komprehensif. Untuk itu, perlawanan terhadap globalisasi hendaknya memenuhi paling tidak 3 (tiga) kriteria berikut :

Pertama, hendaknya ada kritik yang memadai terhadap globalisasi;

Kedua, hendaknya ada solusi alternatif yang memadai, yaitu suatu kondisi ideal yang diharapkan;

Ketiga, hendaknya ada peta jalan (road map) yang jelas, berupa strategi yang dapat ditempuh untuk mengubah kondisi yang ada menuju kondisi ideal.

Itulah tiga kriteria yang kiranya dapat menjadi standar umum untuk menilai sejauh mana keseriusan kita untuk menentang globalisasi. Setiap respon, perlawanan, atau penentangan terhadap globalisasi, baik oleh individu, kelompok, atau negara yang tidak memenuhi tiga kriteria di atas, dapat dianggap cacat atau gagal.

Sebagai kelompok Islam yang sangat serius melawan globalisasi, Hizbut Tahrir berusaha memenuhi tiga kriteria di atas. Ini dapat dilihat dari tiga bukti atau argumen berikut, mengikuti tiga kriteria di atas :

Pertama, HT telah memberikan kritik yang memadai terhadap globalisasi. Ini bisa dilihat dari berbagai analisis dan kritik tajam tentang globalisasi, baik berupa kitab-kitab yang secara resmi dikeluarkan oleh HT, maupun yang ditulis oleh para syabab (aktivis) HT. Pada tahun 1996-1998 HT secara berturut-turut menerbitkan tiga buku yang mengkritik globalisasi. Tahun 1996 HT menerbitkan Al-Hamlah Al-Amirikiyah li Al-Qadha` ‘Ala Al-Islam (Serangan Amerika untuk Menghancurkan Islam). Dalam buku ini HT mengkritik empat konsep Amerika yang dijajakannya untuk menyerang Islam, yaitu demokrasi, pluralisme, HAM, dan pasar bebas (sebagai salah satu alat dalam globalisasi). Tahun 1997 HT mengeluarkan Hazzatul Aswaq al-Maliyah Asbabuha wa Hukm Asy-Syar’i fi Hadzihi Al-Asbab (Kegoncangan Pasar Modal, Sebab-Sebabnya, dan Hukum Syariah untuk Sebab-Sebab Ini). Dalam buku ini HT membuat analisis mendasar bahwa penyebab krisis keuangan global tahun 1997, adalah tiga faktor internal yang terdapat secara inheren dalam sistem ekonomi kapitalisme (yang menjadi motor globalisasi). Ketiga faktor itu adalah : sistem moneter yang berbasis uang kertas, bunga (riba), dan sistem perseroan terbatas (PT). HT mengajukan solusi, yaitu sistem moneter harus berbasis mata uang emas dan perak, bunga harus dihapuskan dalam segala transaksi ekonomi, dan institusi PT harus dihapuskan dan diganti dengan sistem perusahaan Islami (syirkah). Lalu tahun 1998 HT menerbitkan kitab Mafahim Khathirah li Dharb Al-Islam wa Tarkiz Al-Hadharah Al-Gharbiyah (Persepsi-Persepsi Berbahaya Untuk Menghantam Islam dan Mengokohkan Peradaban Barat). Dalam buku ini HT membongkar dan mengkritik sejumlah konsep yang digunakan Barat untuk menyerang Islam dan umat Islam. Buku itu secara telak telah menyingkap bahaya dari ide-ide Amerika yaitu : Dialog Antar Agama, Terorisme, Fundamentalisme, Jalan Tengah (Moderasi), dan Globalisasi.

Selain buku yang resmi dikeluarkan HT, ada pula berbagai buku yang ditulis oleh para aktivis HT seputar globalisasi. Salah satunya adalah yang sudah dikutip sebelumnya, yaitu kitab Al-‘Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah al-Haditsah li As-Saitharah ‘Ala Al-‘Alam (Globalisasi Adalah Alat Kapitalisme Modern Untuk Menguasai Dunia). Ini adalah karya Syaikh Fath Muhammad Salim, seorang ulama dan pemikir terkemuka Hizbut Tahrir dari Timur Tengah.

Kritikan dari HT bukan sekedar dalam ranah pemikiran atau intelektual berupa perang ideologi (ash-shira` al-fikri), seperti yang dijelaskan di atas. Lebih dari itu, HT juga mewujudkan kritikannya dalam bentuk pertarungan politik (al-kifah as-siyasi) yang dimensi waktunya lebih pendek dan lebih langsung ditujukan kepada para penguasa, baik penguasa negeri-negeri Islam maupun penguasa dari negara-negara penjajah, khususnya Amerika Serikat. Dalam konteks Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah melakukan serangkaian aktivitas politik mengkritik pemerintah dan DPR karena membuat dan menjalankan berbagai undang-undang yang pro-globalisasi. Contohnya, RUU Penanaman Modal Asing (PMA), RUU Ketenagalistrikan, dan RUU Sumber Daya Air. HTI juga menentang RUU Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang berusaha melegalkan aborsi. HTI tak ketinggalan menentang pornografi dan pornoaksi, dengan mengawal RUU-APP (RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) agar sejalan dengan Syariah Islam yang mengharamkan pornografi dan pornoaksi. HTI juga menentang rencana pemerintah RI untuk melakukan privatisasi BUMN dan memecah (un-bundling) kesatuan institusi PLN. HTI juga menentang naiknya harga BBM, karena kebijakan ini bukan untuk menyelamatkan APBN, bukan pula karena naiknya harga minyak dunia, melainkan untuk melancarkan program liberalisasi migas di sektor hilir, sebuah agenda yang jelas-jelas merupakan dikte dari globalisasi.

Semua langkah ini didasarkan pada persepsi HT, bahwa globalisasi hanyalah satu bentuk dari sekian bentuk penjajahan (imperialisme, isti’mar) yang dilancarkan oleh negara-negara kafir penjajah atas dunia. Padahal bagi HT, penjajahan dalam segala bentuknya harus dihapuskan dari muka bumi, baik di bidang militer, budaya, politik, ekonomi, maupun di bidang lainnya (seperti kesehatan dan energi).

Bagi HT alasan menentang penjajahan bukan sekedar bertolak dari argumen empiris, seperti terjadinya kemiskinan, namun lebih karena argumen normatif, yakni menentang karena Allah. Sebab bagi HT penjajahan adalah suatu kondisi yang diharamkan dalam Islam, karena Allah SWT tidak membenarkan adanya dominasi atau hegemoni kaum kafir atas kaum muslimin, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan /menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisaa` [4] : 141).

Kedua, HT telah memberikan solusi alternatif yang memadai. Ini bisa dibuktikan baik solusi secara global maupun terperinci. Secara global, HT mempunyai prinsip bahwa apa pun masalahnya, solusinya haruslah Syariah Islam, bukan yang lain. Bagi HT Syariah Islam dari Allah SWT adalah satu-satunya solusi untuk segala problematika manusia (mu’alajat li masyakil al-insan). Dan yang sangat prinsipil bagi HT, Syariah Islam ini dilaksanakan karena alasan iman, bukan karena alasan kemaslahatan. HT percaya, bahwa di mana syariah, maka di situ ada kemaslahatan. (Haitsuma yakunu asy-syar’u takunu al-mashlahatu). Firman Allah SWT :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (QS An-Nisaa` [4] : 65).

Secara rinci, solusi syariah untuk globalisasi setidaknya terdapat dalam 3 (tiga) agenda perjuangan yang ditawarkan HT kepada dunia :

Pertama, menegakkan negara Khilafah yang akan mempersatukan kaum muslimin di seluruh dunia dan menjadi negara adidaya yang akan mampu menghadang dan menggagalkan globalisasi dalam politik internasional. (An-Nabhani, 2006:105).

Kedua, menerapkan sistem ekonomi Islam dalam negara Khilafah yang akan menerapkan sistem ekonomi yang adil, manusiawi, menyejahterakan, dan bermartabat, sekaligus akan menghancurkan sistem ekonomi lama yang menjadi basis globalisasi, yaitu sistem ekonomi kapitalisme.

Ketiga, menghapuskan tiga sumber penderitaan dunia (termasuk sumber globalisasi), yang akan menjadi agenda Khilafah nanti, yaitu : (1) adanya PBB dan UU internasional, (2) adanya koalisi negara-negara adidaya, (3) adanya imperialisme, yang telah menjadi metode tetap dalam penyebaran kapitalisme. (An-Nabhani, 2006:201-222).

Maka bagi HT, demi lepasnya dunia dari penderitaan, PBB berikut seluruh organnya (seperti Bank Dunia dan IMF) harus dibubarkan, seluruh hukum dan undang-undang internasional yang ada (seperti Piagam PBB) harus dihentikan, dan koalisasi negara-negara adidaya seperti WTO dan NATO, harus dimusnahkan.

Lebih dari itu, imperialisme yang menjadi bagian integral ideologi kapitalisme berikut negara pengembannya, khususnya Amerika Serikat, harus dihancurkan atau dilumpuhkan tanpa kompromi lagi. Karena ideologi kapitalisme itulah yang menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan seluruh umat manusia di dunia. Memang saat ini Amerika Serikat sedang meluncur menuju jurang kehancurannya. (Shoelhi, 2007; Shutt, 2005). Namun demikian, nampaknya masih perlu satu tangan kuat lagi perkasa untuk memukulnya. Dan hanya Khilafah kiranya yang mampu memikul tugas suci itu, insya Allah.

Hizbut Tahrir dalam bukunya Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir (Konsep Politik Hizbut Tahrir) tanpa ragu menegaskan :

“Penderitaan dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan dari negara-negara kapitalis, khususnya AS, tidak akan lenyap kecuali dengan tegaknya negara Khilafah yang akan menerapkan ideologi yang haq, yaitu Islam yang agung yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin. Pada saat itu, keadilan Islam akan dapat membongkar kebobrokan kapitalisme, dalam pemikirannya yang materialistik dan metodenya yang imperialistik. Demikian pula, kekuatan Islam yang baik akan menghancurkan kesombongan dan arogansi AS, serta akan memaksa AS untuk kembali ke isolasinya dan Dunia Barunya, jika Dunia Baru itu masih ada. Kemudian kebaikan akan tersebar luas ke seluruh penjuru dunia dan dunia pun akan dapat bernafas lega setelah lama menderita dan sengsara.” (An-Nabhani, 2006:105-106).

Ketiga, HT telah menjelaskan peta jalan yang harus ditempuh. Untuk mewujudkan kondisi ideal seperti baru saja diterangkan, HT telah menerangkan langkah-langkah yang harus ditempuh.

Dalam kitab Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir hlm. 78-80, HT menerangkan ada 2 (dua) hal yang menjadi kewajiban umat Islam (wajibul ummah al-islamiyah), yaitu :

Pertama, umat Islam wajib melakukan pembebasan atau penyelamatan atas dirinya sendiri (tahrir al-ummah / inqaadzu al-ummah) lebih dahulu. Caranya adalah dengan menerapkan kembali Islam secara utuh, baik Aqidah Islam maupun Syariah Islam, dalam negara Khilafah Islam.

Kedua, setelah itu, umat Islam wajib melakukan pembebasan atau penyelamatan dunia (tahrir al-‘alam / inqaadzu al-‘alam). Caranya adalah dengan mengemban dakwah Islam (haml ad-da’wah al-islamiyah) ke seluruh dunia dengan jalan jihad fi sabilillah.

Adapun langkah-langkah untuk kembali menerapkan Islam seutuhnya dalam wadah negara Khilafah, HT juga telah menerangkannya dengan jelas dan rinci. Antara lain dalam kitab Manhaj Hizb At-Tahrir fi At-Taghyir (Strategi Dakwah Hizbut Tahrir) (1989:38). Ringkasnya sebagai berikut :

Pertama, tahap pembinaan (tatsqif) untuk membentuk kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islam) yang mempercayai pemikiran (fikrah) dan metode (thariqah) Hizbut Tahrir dalam rangka untuk membentuk sebuah kelompok kepartaian (al-kutlah al-hizbiyah);

Kedua, tahap interaksi dengan umat (tafa’ul ma’a al-ummah) agar terwujud opini umum dan kesadaran umum tentang Islam di tengah umat, sehingga umat turut memperjuangkan dan mewujudkan Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat;

Ketiga, tahap penerimaan kekuasaan (istilaam al-hukm), yaitu penerapan Islam secara menyeluruh oleh negara Khilafah dan penyebaran Islam sebagai risalah untuk seluruh umat manusia dengan jalan jihad fi sabilillah.

Penutup

Globalisasi sungguh merupakan bencana bagi umat manusia, karena globalisasi sebenarnya adalah neo imperialisme yang jahat dan kejam. Globalisasi telah menjadi mesin kapitalis raksasa yang memproduksi kemiskinan global struktural yang memaksa sebagian besar umat manusia untuk hidup menderita.

Hizbut Tahrir percaya, Islam adalah kebaikan yang diturunkan Allah bukan hanya untuk umat Islam, namun juga untuk seluruh manusia. Karena itu, Hizbut Tahrir tidak hanya ingin membebaskan umat Islam dari cekikan globalisasi, namun juga seluruh manusia di dunia. Firman Allah SWT :

“Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Saba` [34] : 28). [ ]

= = = = =

*Makalah disampaikan dalam Konferensi Internasional dengan tema Globalization : Challenge and Opportunity for Religions, diselenggarakan oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Gadjah Mada University & Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS-Yogya) Gadjah Mada University, State Islamic University Sunan Kalijaga, Duta Wacana Christian University in cooperation with HIVOS and The Oslo Coalition, pada 2 Juli 2008, di Graduate School of Gadjah Mada University 5 th Floor.

**Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

    Adams, Ian, Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today), Penerjemah Ali Noerzaman, (Yogyakarta : Penerbit Qalam), 2004

    An-Nabhani, Taqiyuddin, Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir, Cetakan I, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1973

    ———-, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir, Cetakan IV, (Beirut : Darul Ummah), 2005

    ———-, Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir), Penerjemah M. Shiddiq Al-Jawi, Cetakan I, (Bogor : HTI Press), 2006

    Fakih, Mansour, Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi, Cetakan I, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 2001

    Gilpin, Robert & Gilpin, Jean Millis, Tantangan Kapitalisme Global : Ekonomi Dunia Abad Ke-21 (The Challenge of Global Capitalisme), Penerjemah Haris Munandar & Dudy Priatna, Cetakan I, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), 2002

    Hadar, Ivan A., Utang, Kemiskinan, dan Globalisasi, Cetakan I, (Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama), 2004

    Hizbut Tahrir, Manhaj Hizb At-Tahrir fi At-Taghyir, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1989

    ———-, Al-Hamlah Al-Amirikiyah li Al-Qadha` ‘Ala Al-Islam, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1996

    ———-, Hazzatul Aswaq al-Maliyah Asbabuha wa Hukm Asy-Syar’i fi Hadzihi Al-Asbab, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1997

    ———-, Mafahim Khathirah li Dharb Al-Islam wa Tarkiz Al-Hadharah Al-Gharbiyah, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1998

    Prasetyantoko, A., Arsitektur Baru Ekonomi Global : Belajar dari Keruntuhan Ekonomi Asia Tenggara, (Jakarta : PT Elex Media Komputindo), 2001

    Rais, Mohammad Amien, Agenda-Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!, Cetakan Ekstra, (Yogyakarta : PPSK Press), 2008

    Salim, Fathi Muhammad, Al-‘Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah al-Haditsah li As-Saitharah ‘Ala Al-‘Alam, www.alokab.com

    Sejati, Nanang Pamuji & Martanto, Ucu (Ed.), Kritik Globalisasi dan Neoliberalisme, Cetakan I, (Yogyakarta : Fisipol UGM), 2006

    Shoelhi, Mohammad, Di Ambang Keruntuhan Amerika, Cetakan I, (Jakarta : Grafindo Khazanah Ilmu), 2007

    Shutt, Harry, Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism), Penerjemah Hikmat Gumilar, Cetakan I, (Jakarta : Teraju), 2005

    Strahm, Rudolf H., Kemiskinan Dunia Ketiga : Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negeri Berkembang (Warum Sie So Arm Sind), Penerjemah Rudy Bagindo dkk, (Jakarta : PT Pustaka CIDESINDO), 1999

    The International Forum on Globalization, Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does Globalization Help the Poor?), Penerjemah A. Widyamartaya & AB Widyanta, (Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2004

    Toha, Anis Malik, “Konsep World Theology dan Global Theology Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama, Smith dan Hizk”, Jurnal Islamia, Tahun I No 4, Januari – Maret 2005, (Jakarta : Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dan Khairul Bayan), 2005, hal. 48-60.

    Usman, Muhammad Nuroddin, Menanti Detik-Detik Kematian Barat, Cetakan I, (Solo : Era Intermedia), 2003

    Wibowo, I. & Wahono, Francis (Ed.), Neoliberalisme, (Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2003

Winarno, Budi, Globalisasi Wujud Imperialisme Baru : Peran Negara dalam Pembangunan, Cetakan I, (Yogyakarta : Tajidu Press), 2004

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI

    Sikap dan tindakan Rasulullah saw terhadap agama dan kekuasaan Jahiliyah semasa di zaman Jahiliyah Makkah :

    1. Mengisytiharkan kalimah Laailaahaillallah untuk menegakkan kekuasaan Islam dan sistem kehidupan Islam, serta matlamat untuk menghapuskan kekuasaan Jahiliyah;

    2. Mengisytiharkan agama jahiliyah Mekah sebagai agama yang syirik dan kufur;

    3. Tidak mengamal, mengimani dan menganuti agama Jahiliyah;

    4. Tidak membolehkan amalan agama Jahiliyah bagi tujuan perjuangan Islam;

    5. Tidak mengiktiraf dan bersetuju terhadap agama Jahiliyah;

    6. Tidak bersetuju untuk menyerahkan hak dan kuasa untuk membuat peraturan dan undang-undang kepada manusia;

    7. Tidak mentaati peraturan dan undang-undang manusia;

    8. Menafi, menolak, mengingkari dan menentang dengan terbuka, aktif dan total terhadap agama Jahiliyah;

    9. Memisah dan mengasingkan diri daripada kepimpinan kufur dan kekuasaan kufur serta untuk memusuhi dan membencinya;

    10. Mengamalkan sikap tidak berkompromi dan non-konformis terhadap agama Jahiliyah;

    11. Mencabar dan mengancam agama Jahiliyah yang sedang berkuasa dan berdaulat;

    12. Bersedia dan sanggup untuk dizalimi dan ditindas oleh kekuasaan Jahiliyah dengan ketara dan berpajangan;

    13. Setelah memperolehi kekuatan, Islam akan melancarkan Jihad dan Perang terhadap Jahiliyah untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia dan untuk mengembalikan pengabdian seluruh umat manusia kepada Allah sahaja.

    Inilah jalan dan metod perjuangan Rasulullah saw semasa dalam era Mekah yang sama sekali berbeza dan berkontradiksi dengan jalan dan cara umat Islam kita di Malaysia kini. Baginda memisah dan mengasingkan kumpulan umat Islam daripada masyarakat Jahiliyah dan meletakkanya di bawah kepimpinan yang baru yang dipimpin oleh beliau sendiri yang mencabar dan mengancam kepimpinan Jahiliyah. Baginda mengamalkan sikap dan tindakan-tindakan penafian, penolakan, pengingkaran dan penentangan yang terbuka, aktif dan total terhadap agama Jahiliyah, kepimpinan Jahiliyah dan kerajaan Jahiliyah Mekah.

    Pembentukan kerajaan Islam adalah perintah Allah yang diwajibkan ke atas setiap orang yang beriman kepada kalimah Laailaahaillallah. Metod Islam untuk mewujudkan kerajaan Islam ialah Jihad, Perang dan Revolusi, bukan melalui jalan demokrasi dan proses demokrasi kerana itu adalah jalan yang syirik dan kufur.

    Jihad dan Perang dalam Islam adalah diperintahkan Allah ke atas kita yang bertujuan untuk :

    1. Menghapuskan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA yang wujud dan beroperasi di bawah kekuasaan sesebuah kerajaan manusia seperti kerajaan demokrasi kita ini yang sekali gus ianya (peperangan itu) bererti menghapuskan segala penindasan, kezaliman, pencerobohan, kejahatan, ancaman, dan kerosakan yang sedang wujud dan berleluasa di bawah kekuasaannya;

    2. Mewujudkan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA ALLAH di bawah kekuasaan sesebuah kerajaan Allah yang akan mewujudkan keadilan, kebebasan dan keamanan di kalangan manusia mengikut neraca-neraca Allah;

    3. Menghapuskan penindasan dan kezaliman sekali gus untuk menegakkan keadilan dan kebebasan;

    4. Menghapuskan kebatilan untuk menegakkan kebenaran;

    5. Menegakkan ketuanan Islam supaya agama Islam wujud sebagai agama yang paling berkuasa dan agung di atas muka bumi ini;

    6. Menghapuskan kekuasaan yang menghalangi dakwah Islam.

    Dalam mencapai seluruh Misi Islam Yang Maha Agung seperti di atas ini, Islam BERHAK untuk melancarkan Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF ke atas sesuatu Negara Bangsa atau Kerajaan Demokrasi, atau ke atas mana-mana Kerajaan Manusia sekalipun tanpa terlebih dahulu ianya diserang, diperangi, dizalimi dan diancam oleh mana-mana negara atau kerajaan-kerajaan tersebut. Ini adalah doktrin FUNDAMENTALISME dalam kalimah Laailaahaillallah.

    Firman Allah :al-Baqarah 251
    Sekiranya Allah tidak menahan segolongan manusia dengan segolongan yang lain nescaya rosak binasalah bumi ini.

    Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran- al-Baqarah) :
    “Dan pada akhirnya muncullah kebaikan, kebajikan dan kesuburan apabila munculnya kelompok manusia yang terpilih yang mendapat hidayat Allah SWT dan akhlak daripada Allah SWT, iaitu kelompok yang mengenali kebenaran yang telah diterangkan Allah SWT kepada mereka dan mengenal pula jalan yang terang menuju ke arah-Nya, kelompok yang sedar bahawa mereka ditugaskan untuk menolak kebatilan dan menegakkan kebenaran dan seterusnya sedar bahawa mereka tidak akan selamat daripada azab Allah SWT melain apabila mereka menunaikan peranan yang luhur ini dan melainkan apabila mereka sanggup menanggung apa sahaja penderitaan di bumi ini untuk mematuhi perintah Allah SWT dan mencari keredhaan-Nya.

    Di sini Allah SWT menguat kuasakan perintah-Nya, melaksanakan takdir-Nya dan meletakkan kalimah kebenaran, kebajikan dan kebaikan sebagai kalimah yang tertinggi, iaitu Allah SWT meletakkan hasil pertarungan, pertandingan dan perjuangan itu di tangan kekuatan yang baik dan membina, iaitu pertarungan yang merangsangkan sesuatu yang paling luhur dan mulia yang ada pada kekuatan ini dan menyampaikan kekuatan ini kesetinggi-tinggi darjah kesempurnaan yang telah ditetapkan kepada-Nya dalam hidup ini.

    Oleh sebab itulah kumpulan kecil yang beriman dan percaya kepada Allah SWT itu mendapat kemenangan pada akhir perjuangan mereka. Ini ialah kerana mereka melambangkan iradat Allah SWT yang tetinggi yang mahu menolak kerosakan daripada bumi dan menegakkan kebaikan dalam kehidupan manusia. Mereka mendapat kemenangan kerana mereka melambangkan matlamat Ilahi yang tertinggi yang wajar mendapat kemenangan.”

    Saiyyid Qutb menghuraikan bahawa ayat di atas ini menceritakan mengenai kaum Talut yang diutuskan Allah untuk memerangi kaum Jalut yang zalim, menindas dan jahat, iaitu mereka itu adalah kaum yang mengabdikan manusia kepada kuasa manusia. Talut menyerang, memerangi, membunuh dan menghalau kaum Jalut yang kafir dan jahat itu daripada bumi Kanaan dan dengan itu terhapuslah sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia dan terbentuklah sistem pengabdian manusia kepada Allah sahaja. Inil justifikasi Jihad dan Perang dalam Islam. Sekiranya Talut tidak menyerang, memerangi, membunuh dan menghalau mereka itu keluar, akan berkekalanlah sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia dan akan berlakulah kehancuran dan kerosakan yang besar di kalangan manusia.

    Firman Allah : al-Hajj 40
    Sekiranya Allah tidak menjatuhkan segolongan manusia dengan segolongan yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja, dan sinagog-sinagog dan juga masjid-masjid yang sentiasa disebut nama Allah dengan banyak padanya.

    Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran- al-Hajj 40) :
    “Kuasa-kuasa jahat dan sesat sentiasa bertindak di dunia ini. Pertarungan tetap berterusan di antara baik dan jahat, di antara hidayat dan kesesatan. Perjuangan tetap berterusan di antara kekuatan-kekuatan keimanan dengan kekuatan-kekuatan kezaliman sejak Allah menciptakan insan.

    Kejahatan bertindak liar dan kebatilan mempunyai senjata. Oleh sebab itu ia bertindak tanpa silu malu, ia menyerang tanpa kasihan belas. Ia boleh menyelewengkan manusia daripada kebaikan apabila mereka telah menemui jalannya. Ia boleh menyesatkan mereka daripada kebenaran apabila mereka telah membuka pintu hati menerimanya. Oleh itu keimanan, kebaikan dan kebenaran pasti mempunyai kekuatan yang dapat melindinuginya daripada serangan yang kejam, memeliharanya daripada fitnah dan menjaganya daripada duri-duri dan racun-racun.

    Allah tidak mahu meninggalkan keimanan, kebaikan dan kebenaran menentang kuasa-kuasa kezaliman, kejahatan dan kebatilan dengan tangan kosong tanpa senjata atau dengan semata-mata berpegang dengan kekuatan iman dalam hati, dengan persebatian kebenaran dalam fitrah semulajadi dan dengan kedalaman akal tunjang kebaikan dalam sanubari, kerana kekuatan kebendaan yang dimiliki kebatilan itu boleh menggoncangkan hati, boleh mengelirukan jiwa dan boleh menyesatkan fitrah, di samping itu kesabaran dan daya ketahanan menanggung penderitaan itu mempunyai batas dan hadnya. Daya tenaga dan kekuatan manusia juga ada titik penghabisannya. Dan Allah Maha Arif dengan hati dan jiwa manusia. Oleh sebab itu Allah tidak mahu meninggalkan kaum mukmin, menjadi korban fitnah (orang-orang kafir). Apabila mereka telah bersiap sedia untuk menentang dan mempertahankan diri serta mempunyai kelengkapan yang cukup, maka mereka telah diizinkan berperang untuk menangkis pencerobohan.

    As-sawami (biara-biara) ialah rumah-rumah ibadat yang terpencil para paderi . Al- Biya ialah gereja-gereja kaum Kristian umumnya. Ia lebih luas daripada biara-biara, dan as-Salawat ialah rumah-rumah ibadat kaum Yahudi dan al-Masajid ialah rumah ibadat kaum Muslimin.

    Semua rumah-rumah ibadat akan terancam kepada perobohan walaupun rumah-rumah itu merupakan rumah-rumah suci yang didirikan khusus untuk beribadat kepada Allah, kerana ia mengikut pandangan kebatilan, alasan bahawa rumah-rumah itu banyak disebutkan nama Allah tidak dapat menolaknya daripada perobohan dan tiada yang dapat melindungkan keselamatan rumah-rumah suci itu melainkan (sunnatullah) yang menolak setengah pencerobohan manusia dengan penentangan daripada setengah manusia yang lain, iaitu penolakan dan pertahanan yang dilakukan oleh pembela-pembela aqidah terhadap musuh-musuh mereka yang mencabul kehormatan rumah-rumah suci dan para penghuninya. Kebatilan selalu bersikap sewenang-wenang. Ia tyidak berhenti-henti mencabul dan menceroboh kecuali ia ditentang dan dilawan dengan kekuatan yang sama. Kebenaran itu tidak cukup dengan kebenarannya sahaja untuk melawan pencerobohan kebatilan, malah ia harus mempunyai kekuatan yang dapat melindung dan mempertahankan keselamatannya.”

    Saiyyid Qutb menghuraikan bahawa Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF terhadap mana-mana kerajaan manusia yang MENGABDIKAN MANUSIA KEPADA KEKUASAAN MANUSIA seperti kerajaan demokrasi kita ini atau mana-mana kerajaan sekalipun yang memerintah dengan undang-undang manusia dan tidak memerintah dengan undang-undang Allah. Kita diperintahkan Allah supaya melancarkan Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF ke atas negara kufur itu, iaitu TANPA TERLEBIH DAHULU KITA INI DISERANG, DIPERANGI DAN DIZALIMI olehnya, dan walaupun negara itu tidak ingin berperang dengan kita dan sentiasa menghulurkan tangan persahabatan kepada kita, kita tetap dikehendaki dan diperintahkan Allah supaya menyerang dan memeranginya semata-mata kerana itu adalah Jihad dan Perang yang bertujuan untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia yang wujud dan berlaku di dalam Negara itu.

    Di atas prinsip yang Maha Agung ini, Allah memerintahkan kita supaya MENYERANG, MEMERANGI dan MEMBERONTAK terhadap kerajaan demokrasi Malaysia kita ini untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia yang sedang wujud dan beroperasi di dalam sistem politik demokrasi kita ini dan supaya kita kembalikan pengabdian manusia itu kepada kuasa Allah sahaja di bawah sebuah kerajaan Allah. Allah memerintahkan kita supaya menyerang dan memeranginya dalam bentuk yang OFENSIF, iaitu menyerang dan memerangi tanpa kita ini terlebih dahulu diperangi, diceroboh dan dizalimi oleh mereka itu.

    Khalifah Saiyyidina Umar ra telah menyerang, memerangi dan membunuh bangsa Farsi tanpa terlebih dahulu diserang, dizalimi dan diprovokasikan oleh Raja dan kerajaan Farsi, tetapi semata-mata itu adalah kerana Islam menjalankan tanggungjawabnya untuk membebaskan rakyat Farsi daripada belenggu pengabdian manusia kepada kuasa manusia dan supaya akhirnya mereka itu mengabdikan diri mereka kepada kuasa Allah di bawah kerajaan Allah di bumi Farsi itu sendiri. Rakyat Farsi tidak merayu atau memohon untuk dibebaskan, malah mereka itu kesemuanya bersetuju dan menyokong Raja dan kerajaan mereka, namun peranan dan tanggungjawab kekuasaan Islam itu adalah untuk membebaskan mereka itu daripada belenggu pengabdian manusia kepada kerajaan manusia dengan pelancaran Jihad dan Perang.

    Sekirannya Khalifah Umar al-Khattab ra tidak melancarkan Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF ke atas Farsi dalam peperangan al-Qadisyiyah itu yang bertujuan untuk menghapuskan sistem kerajaan yang mengabdikan manusia kepada kuasa manusia, akan berlaku di bumi Farsi itu satu KEROSAKAN yang amat besar. Allah memerintahkan kita supaya melancarkan JIHAD, PERANG dan REVOLUSI terhadap kerajaan demokrasi Malaysia kita ini dalam bentuk yang OFENSIF, iaitu serangan dan pelancaran perang tanpa terlebih dahulu diserang, diperangi dan dizalimi oleh kerajaan Malaysia kita ini. Tujuan pelancaran Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF seperti ini adalah untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia yang sedang wujud, beroperasi dan berkuatkuasa di dalam kerajaan Malaysia kita ini.

    Inilah Misi Islam yang Maha Agung di bumi ini!

    Peperangan al-Qadisyiyah itu adalah satu manifestasi dalam alam realiti ini mengenai kewujudan doktrin FUNDAMENTALISME Yang Maha Agung yang terkandung dalam kalimah Laailaahaillallah. Doktrin fundamentalisme dalam kalimah Laailaahaillallah seperti inilah yang DISEMBUNYIKAN oleh para ulama dan intelek Islam kita daripada diketahui dan difahami oleh seluruh massa umat Islam kita baik di Malaysia mahupun di dunia ini seluruhnya, dan ayat-ayat al-Quran (al-Baqarah : 251, Hajj : 40) seperti inilah di antara ayat-ayat yang selalunya DIPESONG dan DISALAH ERTIKAN oleh mereka ini dengan sengaja dan terancang supaya seluruh umat Islam kita terus berada dalam kebingungan, kebodohan dan kesesatan.

    Dalam kesempatan di sini, kita dapat melihat bahawa HIZBU AT – TAHRIR adalah sebuah pertubuhan yang KAFIR yang diasaskan oleh seorang agen Yahudi, Taqiyuddin al-Nabhani, kerana mereka mengajar bahawa Jihad, Perang dan Revolusi tidak wujud dalam Islam semasa di bawah kekuasaan Jahiliyah. Ini adalah ajaran yang sesat dan jahat yang merosakkan agama Islam dan seluruh massa umat Islam di dunia dan ini adalah ajaran yang melibatkan gejala mengubahkan ayat-ayat al-Quran dan menyembunyikan sebahagian daripada ayat-ayat yang lain yang dilakukan dengan sengaja dan terancang oleh pihak Hizbu at – Tahrir.

    Perang ke atas kerajaan demokrasi kita ini adalah diperintahkan Allah untuk menghapuskan sistem penindasan dan kezaliman yang wujud dan beroperasi di dalamnya yang timbul akibat daripada kesyirikan dan kufurannya itu. Setiap kerajaan manusia yang selain daripada Allah seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini adalah disifatkan Allah sebagai kerajaan yang zalim dan menindas yang diperintahkan untuk diserang dan diperangi serta ditundukkan kepada kekuatan dan kekuasaan Islam.

    Firman Allah: al-Baqarah 193
    Dan berperanglah sehingga tiada lagi fitnah (penindasan) dan jadilah agama untuk Allah.

    Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) :
    “Jika ayat ini – ketika turunnya – sedang menghadapi kekuatan kaum musyrikin di Semenanjung Tanah Arab yang bertindak menindas orang ramai dan menghalangkan perkembangan agama Allah, namun maksud ayat ini adalah umum dan arahannya tetap kekal berterusan (pada bila-bila masa). Anjuran Jihad kekal berterusan sehingga hari kiamat. Kini setiap hari ada sahaja kuasa zalim yang menghalangkan orang ramai daripada agama Allah, iaitu menghalangkan mereka mendengar dakwah Allah dan beriman dengan-Nya setelah mereka yakin kepada kebenarannya dan berpegang dengannya dengan aman. Kaum Muslimin adalah ditugaskan pada setiap waktu supaya meleburkan kuasa yang zalim ini dan membebaskan orang ramai daripada penindasnya agar mereka dapat mendengar dakwah Allah, memilih agama Allah dan mendapat hidayat Allah.

    Larangan terhadap penindasan itu diulangkan sekali perbicaraannya setelah dikecam dan disifatkannya sebagai perbuatan yang lebih kejam daripada melakukan pembunuhan. Ulangan ini menyarankan betapa besarnya perkara ini dalam pandangan Islam, juga mewujudkan satu dasar yang amat besar yang mengadakan – pada hakikatnya – satu hari lahir yang baru bagi manusia di tangan al-Quran, iaitu satu hari lahir yang meletakkan nilai manusia pada nilai aqidahnya, di mana hidup seseorang manusia itu diletakkan di sebelah daun neraca dan diletakkan pula aqidahnya di sebelah daun neraca yang satu lagi, kemudian neraca aqidah itu menjadi berat. Begitu juga mengikut dasar ini dapat ditentukan siapakah musuh-musuh manusia-manusia yang beriman dan menyakiti orang-orang Islam kerana keIslaman mereka. Merekalah orang-orang yang menafikan umat manusia daripada sebesar-besar unsur kebaikan dan menghalangkan mereka daripada agama Allah, dan merekalah golongan yang wajib diperangi dan dibunuh oleh kaum Muslimin di mana sahaja mereka jumpai.

    Dasar agung yang disyariatkan oleh Islam di dalam ayat-ayat pertama al-Quran yang diturun mengenai peperangan ini masih lagi berkuat kuasa, dan Aqidah Islam juga masih terus menghadapi orang-orang yang mencerobohinya dan mencerobohi pemeluk-pemeluknya dengan berbagai-bagai cara, dan penindasan dan tindakan-tindakan kejam juga masih terus menimpa orang-orang yang beriman dalam bentuk individu, kelompok-kelompok dan umat-umat seluruhnya pada sesetengah waktu. Dan setiap mereka yang menghadapi penindasan terhadap agamanya dalam apa-apa bentuk sekalipun adalah diwajibkan bangkit melawan dan berperang, dan menegakkan dasar agung yang disyariatkan oeh Islam itu. Oleh sebab itu kelahiran dasar ini merupakan hari lahir yang baru bagi umat manusia.

    Firman Allah: al-Anfal 39
    Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah.

    Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) :
    “Kedatangan Islam – sebagaimana dijelaskan dalam kata pengantar surah ini – merupakan satu perisytiharan umum untuk membebaskan manusia di muka bumi ini daripada perhambaan kepada sesama manusia dan daripada perhambaan hawa nafsu sendiri yang juga merupakan perhambaan kepada sesama makhluk, iaitu dengan mengumumkan Uluhiyah Allah dan Rububiyah-Nya sahaja yang menguasai seluruh alam. Ini bermakna suatu pemberontakan umum terhadap kuasa hakimiyah manusia, undang-undang dan peraturannya dalam segala rupa dan bentuknya di samping merupakan suatu pemberontakan umum terhadap segala kedudukan di mana kuasa memerintah berada dalam tangan manusia dalam mana-mana bentuknya.

    Untuk merealisasikan matlamat yang agung ini perlu dilakukan dua langkah yang asasi :

    Pertama : Menghapuskan gangguan dan penindasan terhadap orang-orang yang menganut agama ini dan mengumumkan kebebasan mereka daripada kuasa hakimiyah manusia serta memulangkan Ubudiyah mereka kepada Allah sahaja, iaitu menolak Ubudiyah kepada sesama manusia dalam segala bentuk dan rupanya.
    Matlamat ini tidak direalisasikan kecuali dengan adanya kelompok Muslim yang mempunyai organisasi yang bergerak di bawah kepimpinan yang beriman kepada perisytiharan umum itu dan berjuang untuk melaksanakannya di alam realiti dan seterusnya berjuang menentang setiap Taghut yang menggugat dan menindas penganut Islam atau mengadakan halangan-halangan menggunakan kekuatan, tekanan, paksaan dan kempen terhadap orang-orang yang ingin menganut Islam.

    Kedua : Menghancurkan segala kuasa di muka bumi ini yang ditegakkan di atas Ubudiyah kepada sesama manusia dalam mana-mana bentuk dan rupa untuk menjamin matlamat yang pertama, dan mengumumkan Uluihiyah Allah di seluruh muka bumi ini agaar seluruh agama tertentu kepada Allah sahaja. Agama yang dimaksudkan di sini ialah ketaatan kepada kuasa Allah dan ketaatan itu bukanlah semata-mata dengan iktikad sahaja.”

    Saiyyid Qutb menghuraikan bahawa “fitnah” di sini dimaksudkan kepada penindasan, iaitu penindasan dalam bentuk peraturan dan undang-undang manusia yang berdaulat dan berkuasa ke atas manusia. Kerajaan dan Otoriti Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia adalah satu “fitnah” di sisi Allah swt, iaitu satu bentuk penindasan dan kezaliman ke atas manusia yang diperintahkan Allah s.w.t. untuk diserang dan diperangi. Selagi “fitnah” itu wujud, selama itulah Jihad dan Perang dikehendaki dan diperintahkan Allah untuk dilancarkan sehingga fitnah itu, iaitu kerajaan dan otoriti demokrasi itu, mengalami kehancuran; dan “jadilah agama untuk Allah”, iaitu sehingga Islam sahaja yang berkuasa dan memerintah ke atas seluruh ideologi dan pemikiran yang lain dan ke atas seluruh umat manusia di bumi, baik ke atas umat Islam mahupun bukan Islam. Bagi umat Islam yang sedang berada di bawah kekuasaan dan naungan kerajaan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis, Jihad dan Perang dikehendaki untuk dijadikan sistem kehidupan hari-hari dan terus berkesinambungan sehingga hancurnya kufur (demokrasi) dan tertegaknya Islam. Ini adalah ayat REVOLUSI, iaitu ayat yang memerintahkan kita supaya MEMBERONTAK dan BERPERANG untuk meruntuh dan menghancurkan kekuataan dan kekuasaan sesuatu kerajaan kufur seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini untuk kemudiannya digantikan dengan Kerajan Islam, iaitu supaya agama Islam sahaja yang berkuasa dan memerintah ke atas manusia.

    Ayat-ayat Jihad dan Perang seperti mana yang sedang kita bicarakan di sini adalah ayat-ayat yang UMUM, TETAP, FINAL dan MUKTAMAD yang diperintahkan ke atas kita, iaitu yang diwajibkan ke atas seluruh umat Islam, dan bukanlah yang hanya terhad kepada kerajaan dan pemerintahan Islam sahaja, malah ke atas sesiapa sahaja yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya untuk memerangi, meruntuh dan menghancurkan kekuatan dan kekuasaan kerajaan demokrasi Malaysia kita ini kerana, mengikut kriteria Islam, ianya adalah kerajaan yang zalim dan menindas. Setelah orang ramai memberontak dan berperang yang meruntuh dan menghancurkan kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur itu, barulah wujudnya gejala “jadilah agama untuk Allah”, iaitu jadilah agama Allah ini sebagai agama yang berkuasa dan memerintah ke atas manusia. Perang dan Revolusi ini adalah Jihad ke jalan Allah dan ianya adalah Metod Perjuangan daripada Allah yang membolehkan kita untuk meruntuh dan menghancurkan mana-mana sahaja kerajaan manusia yang syirik dan kufur serta yang disifatkan oleh Islam sebagai zalim dan menindas ini, seperti mana kerajaan demokrasi kita ini, untuk digantikan dengan kerajaan Allah yang adil dan bebas.

    Hizbu at – Tahrir sebagai sebuah pergerakan Islam palsu yang menjadi agen kepada Yahudi mengutarakan pandangan-pandangan mereka bahawa tidak wujud Jihad, Perang dan Revolusi terhadap kerajaan demokrasi Malaysia kerana sebab-sebab berikut :

    1. Tidak wujud sebarang sebab mengikut hukum Islam yang membolehkan kita untuk melancarkan Jihad , Perang dan Revolusi ke atas kerajaan demokrasi Malaysia kita ini ;

    2. Mereka berpegang kepada hujjah bahawa Rasulullah saw tidak berperang semasa di zaman Mekah selama tiga belas tahun itu, dan bahawa perang itu hanya diperintahkan setelah terbentuknya sebuah kekuasaan Islam di Medinah. Justeru, mereka menghujjahkan bahawa Islam hanya berperang setelah terbentuk dan wujudnya sesebuah kekuasaan Islam;

    Ini adalah dakwaan-dakwaan yang batil, tipudaya dan pembohonghan yang maha besar kerana Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Perang dan Revolusi terhadap sesuatu kerajaan manusia yang syirik dan kufur seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini kerana :

    1. Menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia dan untuk menegakkan sistem pengabdian manusia kepada Allah sahaja ;

    2. Menghapuskan penindasan dan kezaliman yang wujud dan berlaku dalam sistem kerajaan manusia .

    Perintah untuk memerangi dan memberontak ke atas kerajaan demokrasi Malaysia kerana dua sebab di atas ini adalah berdasarkan kepada hukum Allah yang disokong dengan ayat-ayat al-Quran yang jelas dan konkerit seperti mana yang telahpun dibicarakan dengan panjang lebar seperti di atas ini .

    Mereka mengutarakan ayat berikut sebagai dalil untuk menguatkan pandangan-pandangan mereka itu :

    Firman Allah: an-Nisa 77
    Tidakkah engkau ketahui orang-orang yang dikatakan kepadanya: tahanlah kedua tanganmu (dari memerangi orang-orang kafir) dan dirikanlah sembahyang dan bayarkanlah zakat. Tatkala diperlukan peperangan atas mereka itu, tiba-tiba segolongan di antara mereka takut kepada manusia, seperti ketakutan kepada Allah, atau lebih sangat takut. Mereka itu berkata: Ya Tuhan kami, mengapakah Engkau perlukan peperangan di atas kami, mengapakah tidak Engkau undurkan (wafat) kami, hingga waktu yang dekat? Katakanlah: Kesenangan dunia cuma sedikit dan akhirat lebih baik bagi orang yang taqwa; sedang kamu tiada teraniaya sedikit pun.

    Sebaliknya perintah Allah yang melarang berperang pada zaman Mekah itu (4:77) adalah perintah yang berbentuk MARHALIYAH, iaitu yang berbentuk sementara dan terkhusus bagi zaman Mekah itu sahaja.
    ]
    Mereka mendakwakan bahawa ayat di atas ini adalah dalil yang Allah melarang kita daripada berperang semasa berada di bawah kekuasaan Jahiliyah seperti mana kita kini yang sedang berada di bawah kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur ini. Justeru meskipun kerajaan demokrasi kita ini adalah kerajaan yang syirik dan kufur, mengikut pandangan para pejuang aplogis ini, kita tidak boleh berjihad dalam menentang kerajaan demokrasi Malaysia kita ini dalam bentuk Jihad dan Perang. Kita tetap menentang kerajaan demokrasi Malaysia kita ini tetapi tidak melalui Jihad dan Perang.

    Dakwaan golongan Hizbu at-Tahrir seperti di atas ini yang menolak Jihad dan Revolusi dalam bentuk PERANG dan KEKERASAN ke atas sesebuah kerajaan manusia yang syirik dan kufur seperti mana kerajaan demokrasi Malaysia kita ini adalah dakwaan yang BATIL yang tidak diasaskan kepada prinsip-prinsip Islam kerana :

    1. Ayat ini (4:77) adalah ayat yang UMUM, TETAP, FINAL dan MUKTAMAD, iaitu ayat yang menyeruh dan memerintahkan kita supaya Berjihad dan Berperang terhadap kerajaan demokrasi Malaysia yang syirik dan kufur ini malah terhadap seluruh kerajaan manusia yang syirik dan kufur di atas muka bumi ini TANPA MENGHADKANNYA kepada sesuatu KERAJAAN ISLAM sahaja atau kepada sesuatu MASA yang tertentu;

    2. Ayat ini mengecam dan mengutuk orang-orang Islam yang tidak bersedia untuk berperang pada zaman Medinah sedangkan perintah untuk berperang sudahpun wujud dan berkuatkuasa pada masa itu;

    3. Ayat ini menceritakan kepada kita bahawa perang TIDAK DIPERINTAHKAN Allah pada zaman Mekah kerana hikmah-hikmahnya yang tertentu yang tidak diberitahu secara jelas dan terang kepada kita;

    4. Ayat ini tidak menyatakan, samada dengan tersurat mahupun dengan tersirat, bahawa LARANGAN itu adalah sesuatu yang BERTERUSAN, iaitu tidak dinyatakan bahawa ianya adalah berkuatkuasa untuk selama-lamanya sehinggalah ke zaman kita kini dan seterusnya untuk masa-masa hadapan;

    5. Sebenarnya larangan berperang terhadap sesuatu kekuasaan yang syirik dan kufur hanyalah terhad kepada Rasulullah saw di zaman Mekah sahaja dan tidak dimaksudkan kepada kita kini;

    6. Ini adalah kerana terdapat ayat-ayat PERANG dalam Islam seperti ayat-ayat Hajj 39, 40, Baqarah 193, an-Nisa 75, 77, Taubah 5, 29, Anfal 60, dan banyak ayat-ayat yang lain lagi yang kesemuanya bersifat UMUM dan TETAP, serta FINAL dan MUKTAMAD yang memerintah dan mewajibkan seluruh umat Islam untuk BERPERANG :

    • Allah memerintahkan seluruh umat Islam untuk Berjihad dan Berperang, baik indidvidu, keluarga dan kelompok, mahupun kaum yang TIDAK TERHAD hanya kepada KERAJAAN ISLAM sahaja;

    • Jihad dan Perang itu adalah untuk dioperasikan untuk SEPANJANG MASA tanpa terkhusus kepada sesuatu masa atau period yang tertentu sahaja;

    7. Larangan berperang “Tahanlah tangan kamu (daripada berperang) dan dirikanlah solat dan tunaikan zakat” adalah larangan yang berbentuk MARHALIYAH, iaitu yang sementara, tidak tetap, final dan muktamad , iaitu yang hanya dimaksudkan untuk dikuatkuasakan pada zaman Mekah itu sahaja;

    8. Zaman kita sekarang ini adalah zaman PASCA WAHYU yang difardhu dan diwajibkan ke atas kita untuk mentaati, mematuhi dan mengikut segala ayat Allah dan perintah Allah yang diturunkan pada zaman wahyu yang berbentuk UMUM, TETAP, FINAL dan MUKTAMAD dan yang tidak memerlukan kita untuk mengikut ayat-ayat al-Quran dan peristiwa-peristiwa yang berbentuk MARHALIYAH yang berlaku pada zaman wahyu;

    9. Seumpamanya solat (hanya berlaku pada saat-saat akhir), puasa, zakat dan seluruh SYARIAT ISLAM yang lain langsung tidak wujud dan tidak diamalkan oleh Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya yang pertamanya itu di zaman Mekah, tetapi kesemuanya itu adalah WAJIB bagi kita kini kerana kesemuanya itu adalah perintah-perintah yang berbentuk UMUM, TETAP, FINAL dan MUKTAMAD;

    10. Justeru PERANG yang meskipun tidak berlaku pada zaman Mekah itu adalah WAJIB ke atas kita buat sekarang ini sebagai mana wajibnya ke atas kita amalan-amalan solat, zakat, puasa, haji dan segala SYARIAT ISLAM yang tidak wujud dan berkuatkuasa pada zaman Mekah itu – ini adalah kerana ayat-ayat perang itu kesemuanya adalah berbentuk UMUM, TETAPI, FINAL dan MUKTAMAD;

    11. Sekiranya Jihad berperang itu hanya terhad kepada Kerajaan dan Negera Islam sahaja, ianya bererti seolah-olah seseorang individu, kelompok dan kaum itu tidak diperintahkan Allah untuk berperang sedangkan kezaliman dan penindasan sedang berleluasa dan bermaharajalela ke atas manusia tanpa batasan – hal ini adalah berkontradiksi dengan perintah Allah (2:193; 4:75) ke atas kita , iaitu perintah supaya kita menyerang dan memerangi sesuatu kekuasaan dan kekuatan yang zalim dan menindas dan yang melakukan kezaliman dan penindasan ke atas seluruh umat manusia seperti mana yang kini terdapat dan berlaku di dalam kerajaan demokrasi Malaysia kita ini;

    12. Dakwaan mereka seperti ini menolak konsep REVOLUSI ISLAM terhadap sesuatu kerajaan manusia yang syirik dan kufur, dan ianya juga menolak konsep serangan dan peperangan dalam bentuk yang OFENSIF seperti mana yang sedang dibicarakan dengan panjang lebar di dalam bab-bab Jihad dan Perang di dalam buku ini.

    Selain daripada ayat-ayat Jihad dan Perang seperti mana yang dibincangkan di atas ini, terdapat lagi ayat-ayat yang lain yang berbentuk UMUM, KEKAL dan MUKTAMAD yang memerintahkan kita supaya Berjihad dan Berperang walaupun sewaktu kita belum lagi wujud sebagai sebuah kerajaan Islam yang berkuasa dan memerintah. Nabi Musa as memerintahkan kaumnya supaya memerangi kaum yang sedang berkuasa dan memerintah di dalam satu negeri yang mengikut sesetengah riwayat, adalah dimaksudkan kepada Baitul Maqdis, manakala kaum yang diperintahkan untuk diserang dan diperangi mereka itu adalah kaum A’maliqah :

    Firman Allah : al-Maidah 21
    Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah untuk kamu dan janganlah kamu mundur ke belakang nescaya kamu kelak menjadi orang-orang yang rugi .

    Firman Allah : al-Maidah 22
    Mereka berkata,” Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada satu kaum yang gagah perkasa dan sesungguhnya kami tidak akan dapat memsukinya sehingga mereka keluar daripadanya. Oleh itu jka mereka keluar daripadanya, maka kami tetap akan memasukinya.

    Firman Allah : al-Maidah 23
    Lalu berkatalah dua lelaki daripada kalangan mereka yang takut kepada Allah yang telah Allah kurniakan kepada keduanya nikmat keyakinan : “Hendaklah kamu masuk menyerang mereka melalui pintu (kota) dan jika kamu memasukinya, maka kamu akan tetap mendapat kemenangan. Oleh itu hendaklah kamu bertawakkal kepada Allah jika kamu benar-benar beriman.”

    Firman Allah : al-Maidah 24
    Mereka berkata : “Wahai Musa! Kami tidak akan memasukinya buat selama-lamanya selagi kaum itu berada di dalamnya. Oleh itu pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Sesunggunya kami hanya akan menunggu di sini sahaja. ‘

    Ini adalah ayat-ayat Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF yang berbentuk UMUM, KEKAL, FINAL dan MUKTAMAD, iaitu ayat-ayat yang memerintahkan kaum Nabi Musa as supaya menyerang dan memerangi kaum yang lebih besar dan kuat, padahal pada masa itu mereka itu (kaum Nabi Musa as) hanyalah satu kaum yang mengembara dan berpindah randah, dan apa yang jelasnya ialah mereka itu bukanlah satu kaum yang sedang berkuasa dan memerintah serta yang menetap di dalam sesuatu negeri. Ayat-ayat ini menyangkal teori karut dan batil puak yang menyatakan bahawa Perang dan Jihad itu hanya diperintah dan diwajibkan ke atas sesebuah kerajaan Islam dan kaumnya sahaja dan tidak ke atas sebarang golongan dan kaum daripada umat Islam yang belum lagi berkuasa dan memerintah. Mereka yang berpegang kepada teori yang karut ini adalah kaum yang kafir, zalim dan fasik kerana mereka menyangkal dan menafikan ayat-ayat Allah mengenai Jihad dan Perang yang jelas dan terang!

    Perintah Allah untuk berperang dan berjihad yang sebenar seperti mana yang terkandung di dalam al-Quran dan Hadis adalah sengaja DIPUTARBELIT dan DISEMBUNYIKAN oleh musuh-musuh Islam daripada diketahui oleh massa umat Islam kita sendiri.

    Firman Allah : al-Imran 187
    Dan (kenangilah) ketika Allah mengikat perjanjian dengan kaum Ahlil Kitab iaitu : ‘Hendaklah kamu menjelaskan kandungan kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya’ lalu mereka melemparkan perjanjian itu ke belakang mereka dan mereka menukarkannya dengan harga yang sedikit alangkah kejinya tukaran yang dibuat oleh mereka.”

    Firman Allah : an-Nisa 46
    Di antara orang-orang Yahudi itu terdapat mereka yang mengubahkan kalam Allah daripada maksud-maksudnya yang sebenar.

    Ayat-ayat di atas ini mengutuk dan mengecam keras terhadap para ulama dan intelek Islam kita yang MENYEMBUNYIKAN ayat-ayat Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF yang sebenar serta mereka MENGUBAH dan MEMUTAR BELITKAN pengertian-pengertian ayat-ayat al-Quran sehingga terhapusnya Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF ini dalam Islam.

    Firman Allah: at-Taubah 38, 39
    Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu jika dikatakan orang kepadamu: “Berperanglah kamu pada jalan Allah”, lalu kamu berlambat-lambat (duduk) ditanah? Adakah kamu suka dengan kehidupan didunia ini daripada akhirat? Maka tak adalah kesukaan hidup di dunia, diperbandingkan dengan akhirat, melainkan sedikit sekali.

    Jika kamu tiada mahu berperang, nescaya Allah menyiksamu dengan azab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tiada melarat kepada Allah sedikit pun. Allah Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

    Firman Allah: an-Nisa 77
    Tidakkah engkau ketahui orang-orang yang dikatakan kepadanya: tahanlah kedua tanganmu (dari memerangi orang-orang kafir) dan dirikanlah sembahyang dan bayarkanlah zakat. Tatkala diperlukan peperangan atas mereka itu, tiba-tiba segolongan di antara mereka takut kepada manusia, seperti ketakutan kepada Allah, atau lebih sangat takut. Mereka itu berkata: Ya Tuhan kami, mengapakah Engkau perlukan peperangan di atas kami, mengapakah tidak Engkau undurkan (wafat) kami, hingga waktu yang dekat? Katakanlah: Kesenangan dunia cuma sedikit dan akhirat lebih baik bagi orang yang taqwa; sedang kamu tiada teraniaya sedikit pun.

    Firman Allah: Sof 2, 3
    Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, kerana kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat.

    Orang-orang yang tidak melaksanakan tanggungjawab dan perintah Allah untuk berjihad, adalah dimurkai, dibenci, dilaknati oleh Allah swt dan akan diseksa di akhirat nanti. Di sinilah terletaknya kekuatan Islam – berjihad itu adalah satu perintah daripada Allah yang Maha Tinggi, sedangkan mengabaikan Jihad itu adalah satu pengingkaran dan kederhakaan yang besar terhadap Allah!

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *