FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme

oleh: Taufik Hidayat, SEI

Terhitung empat hari dari tanggal 28 januari 2009 sampai selesai, beberapa negara-negara di dunia mengadakan pertemuan World Economic Forum (WEC) di Davos, Swiss. Pertemuan yang dihadiri sebanyak 2.340 peserta dari 89 negara hadir, termasuk 735 pemimpin, kepala eksekutif dan kepala keuangan perusahaan, dan beberapa selebritis yang konsen dalam isu-isu dunia internasional.

Bahkan forum ini dihadiri juga oleh petinggi-petinggi korporasi internasional. Ketua Intel Corp Craig Barret, Ketua dan CEO perusahaan baja terbesar dunia Mittal, Laskhmi Mittal, dan  Presiden & CEO Aramco Arab Saudi, Abdullah S Jum’ah. Mereka semua bertemu di Davos selama empat hari dalam rangka membahas isu-isu penting dunia, mulai dari program nuklir Iran, harga minyak yang tinggi, kekuatan ekonomi baru di Asia, sampai penanggulangan pasca krisis global.

Kilas Balik Forum Davos

Sepintas kalau dilihat kebelakang secara historis. Forum Ekonomi Davos ini merupakan forum ekonomi dunia yang dibentuk pada tahun 1970-an dengan salah satu misinya untuk mengembangkan kebijakan ekonomi Neoliberalisme. Berawal dari kebijakan pemerintahan Margaret Thatcher di Inggris dan Ronald Reagen di Amerika Serikat berkembang meluas sampai menghasilakn beberapa inspirasi seperti GATT, yang menjadi dasar dari WTO.

Forum Ekonomi Davos merupakan simbol dan alat perjuangan bagi Neoliberalisme dalam mempromosikan ide-ide yang terkait dengan Washington Consensus. Ide-ide dalam Washington Consensus antara lain; negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian, swastanisasi atau privatisasi, liberalisasi pasar dan modal, pengurangan pajak bagi orang kaya dan pemotongan pengeluaran sosial atau penghapusan subsidi.

Mereka percaya bahwa ekonomi dunia akan mengalami pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, ketika semuanya diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Tentunya hal ini bisa tercapai jikalau pemerintah tidak perlu mencampuri perihal aktivitas ekonomi masyarakat maupun negaranya sendiri. Sebagai gantinya, ekonomi dunia akan makmur dengan ketentuan diatur oleh “The Invisible Hand” (tangan tidak kelihatan). Dengan jargon ini, Forum Ekonomi Davos kemudian mengkampanyekan keseluruh dunia perihal minimalisasi peran negara, pasar bebas dan globalisasi.

Maka bisa diamati bahwa setiap ada pertemuan Forum Davos dari tahun ke tahun, pastilah yang dibahas oleh para peserta tidak lepas dari kerangka penjagaan terhadap pasar bebas, penghilangan peran negara dalam perekonomian, globalisasi, pencabutan subsidi, loby-loby korporasi besar kepada beberapa negara, dan juga gerakan swastanisasi. Ini semua tidak lepas dari cara pandang terhadap gagasan ekonomi Neoliberalisme.

Frustasi Menghadapi Krisis Global

Suasana yang lain dari biasanya, Forum Ekonomi Davos kali ini tidak diwarnai dengan semangat antusiasme, optimisme, dan kegembiraan oleh para peserta forum seperti tahun-tahun sebelumnya. Kekhawatiran, kekecewaan serta frustasi mewarnai wajah setiap peserta Forum Ekonomi Davos kali ini. Bahkan sebagian besar diantara mereka tidak tahu kebijakan ekonomi seperti apa lagi yang akan dikerjakan di masa depan. Bahkan di forum tercuat opini, tidak ada lagi solusi bagi krisis keuangan yang menghantam pertumbuhan ekonomi global saat ini.

Pendiri Forum Ekonomi Dunia Klaus Schwab mengatakan kepada jaringan pemberitaan Inggris BBC hari Rabu (28/01): “Orang pelan-pelan sadar betapa serius dan rumitnya krisis ini  karena tumpang tindih dengan krisis yang lain. Kita menghadapi krisis yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan ekonomi dunia. Kita menghadapi krisis keuangan, krisis kepercayaan, dan di atas semua itu krisis sistem. Semua orang merasa terisolasi, semua orang ingin dimengerti. Tapi mengumpulkan orang-orang, politisi, pemimpin bisnis dan khususnya juga para pakar untuk duduk bersama dan untuk mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi, saya pikir untuk itulah Davos diselenggarakan.”

Hal senada juga diungkapkan oleh peserta forum, sebagaimana dilaporkan televisi France-24, seorang ekonom Perancis Henry Laura mengatakan bahwa konferensi ekonomi tahun ini di Davos lebih banyak menjadi pertemuan para pemicu krisis ekonomi, dari pada membahas penyelesaian bersama. Selama beberapa hari, para peserta berdiskusi mengenai apa yang disebut dengan krisis Neoliberalisme. Forum Davos hanya berakhir dengan seruan untuk membangun kembali sistem ekonomi global. Hanya saja, sebagian besar diskusi hanya menggambarkan permasalahan, bukannya solusi. Mereka tidak mengetahui solusi apa yang harus ditawarkan untuk keluar dari krisis dunia saat ini.

Bahkan yang terjadi bukannya mencari solusi real dalam menghadapi krisis saat ini, tetapi malah saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Yang menjadi target kesalahan paling besar dalam forum ini adalah Amerika serikat yang telah menyeret banyak negara ke dalam kubangan krisis global. Gambaran suram untuk AS disuarakan Nouriel Roubini, chairman Roubini Global Economics, New York. Menurutnya, “tidak lagi bila AS bersin seluruh dunia kena pilek karena dalam kasus ini AS justru akan kena pilek berlarut-larut hingga pneumonia”. Hal senada juga diungkapkan oleh Gubernur Bank Sentral Meksiko Guillermo Ortiz, Kendati pasar Asia dan Wall Street sedikit terangkat tetapi saham Eropa berjatuhan kendati Federal Reserve melakukan pemotongan tingkat suku bunga sehari sebelumnya guna menstabilkan perekonomian. Di Davos, kekhawatiran akan resesi bergema. “Kita berada di Ronde 1 atau 2. Ini adalah pertarungan 15 ronde,” mengisyaratkan yang terburuk akan datang.

Sementara gagalnya Forum Ekonomi Davos ditekankan oleh Kishore Mahbubani, Dekan The Lee Kuan Yew School of Public Policy di Singapura. Kishore mengatakan, semua pihak telah kalah dalam forum Davos. “Tidak ada seorang pun yang paham bagaimana mengatasi krisis ini dan apa yang harus kita lakukan agar keluar dari belenggu ini,” paparnya. Kishore berpandangan, dibutuhkan kembali pengujian fundamental sistem global untuk melihat seperti apa salahnya. Nah, menurut dia, tidak ada seorang pun yang siap untuk menjawab pertanyaan tersebut di Davos. Yang ada dalam forum Davos adalah saling menyalahkan. Para pemimpin pemerintah dan pengusaha hanya menyudutkan Amerika Serikat (AS) yang memicu krisis keuangan terus berlanjut menjadi krisis global. “Davos hanya menjadi ajang debat global semata,” papar Stephen Roach, kepala bank investasi Morgan Stanley.

Matinya Neoliberalisme

Ibarat mahluk hidup, ia akan terus bertahan hidup selama nyawanya masih bersemayam dalam dirinya, tetapi jika nyawanya tercabut maka akan mengalami kematian. Begitu juga dengan Neoliberalisme dengan nyawa yang dimilikinya berupa menghilangkan peran negara dalam perekonomian dan adanya deregulasi dalam pasar bebas. Neoliberalisme akan terus bertahan hidup jika nyawanya tidak tercabut dari dirinya.

Jargon inilah yang selama ini diperjuangkan oleh kaum kapitalis, termasuk salah satunya melalui Forum Ekonomi Davos. Kaum kapitalis menyakini bahwa keterlibatan negara dalam campur tangan ekonomi akan membuat perekonomian tidak sehat dan akan mematikan perekonomian. Kebijakan pasar bebas dengan berbagai aturan yang sangat ketat justru akan menghambat pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Dengan Konsep inilah Neoliberalisme disembah dan diyakini bisa berkembang pesat di berbagai  negara.

Tetapi ada suatu hal yang aneh dalam Forum Ekonomi Davos kali ini. Para peserta bukan saja kebingungan dan frustasi dalam menghadapi krisis ekonomi global saat ini, tetapi justru mengambil kebijakan yang mematikan/mencabut nyawa Neoliberalisme. Kebijakan tentang keharusan negara berperan dalam perekonomian mulai digulirkan dan disepakati. Bahkan kebijakan tentang pengawasan yang ketat terhadap pasar bebas dengan berbagai aturan mulai diamini oleh peserta Forum Ekonomi Davos kali ini.

Heiner Flassbeck, kepala ekonom pada Konferesi PBB Mengenai Perdagangan dan Pembangunan, UNCTAD, tak menantikan rangsangan apapun dari Forum Ekonomi Dunia. Ia menyebut Davos murni sebagai pertemuan kelompok. Agar krisis keuangan bisa dikendalikan, dibutuhkan peraturan perbankan yang ketat dan stabilisasi sistem moneter internasional. Demikian ditekankan Flassbeck hari Rabu pada Radio Jerman, Deutschlandfunk.

Hal senada juga diungkapkan oleh Miliarder George Soros menyerukan langkah radikal dengan injeksi regulasi besar-besaran dan pengawasan pasar finansial. Menurutnya kebebasan yang berlebihan menyebabkan “bukan krisis yang wajar tetapi akhir sebuah era.” Pihak berwenang mesti meneliti pembukuan institusi-institusi finansial dan memberi jaminan bahwa mereka akan menyelamatkan dan bahkan mengambil alih bank-bank yang bangkrut,” tukasnya.

Walhasil, Forum Ekonomi Davos kali ini tidak menghasilkan sebuah formula yang bisa menyelesaikan dunia dari krisis ekonomi global dan malah menunjukkan tanda kematian sebuah madzab ekonomi Neoliberalisme.[]

Tulisan ini dimuat juga di Harian Kedaulatan edisi 7 Februari 2009

Taufik Hidayat, SEI adalah dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara Yogyakarta

Author: Admin

Share This Post On

2 Comments

  1. Saatnya bagi dunia untuk secara serius merumuskan paradigma ekonomi alternatif yang diharapkan dapat sesegera mungkin menjadi solusi satu-satunya yang siap baik secara konsep maupun infrastruktur…..

    Post a Reply
  2. Saatnya bagi dunia untuk secara serius merumus ekonomi berdasarkan kerakyatan, karena pada hakekatnya tujuan pembangunan ekonomi adalah untuk kesejahteraan rakyat secara umum, bukan untuk dimonopoli oleh kaum kapitalis yang serakah….
    Untuk itu keterlibatan pemerintah suatu negara dalam penataan ekonomi masih diperlukan diperlukan, terutama sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak…..

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *