<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Feb 2010 23:25:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 07:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2562</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/04/28/171351p.jpg" alt="" width="80" height="60" />Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek sebagaimana dipetik Kompas hari ini (5/2/2010) menceritakan keluh kesahnya tentang ironi pemanfaatan sumber daya alam (SDA) propinsi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Badan Anggaran DPR kemarin (4/2). Ia mencontohkan, bagaimana sebuah perusahaan tambang batubara di propinsi tersebut setiap tahunnya dapat menghasilkan batubara sebanyak 45 juta ton, tetapi pemasaran hasilnya hanya 5% untuk kebutuhan dalam negeri sedangkan 95% ditujukan untuk ekspor. Selama ini, daerah-daerah penghasil batubara seperti Kalimanan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan justru mendapatkan pasokan batubara yang sangat minim.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p><img class="alignleft" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/04/28/171351p.jpg" alt="" width="298" height="224" />Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek sebagaimana dipetik Kompas (5/2/2010) menceritakan keluh kesahnya tentang ironi pemanfaatan sumber daya alam (SDA) propinsi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Badan Anggaran DPR (4/2/2010). Ia mencontohkan, bagaimana sebuah perusahaan tambang batubara di propinsi tersebut setiap tahunnya dapat menghasilkan batubara sebanyak 45 juta ton, tetapi pemasaran hasilnya hanya 5% untuk kebutuhan dalam negeri sedangkan 95% ditujukan untuk ekspor.</p>
<p>Selama ini, daerah-daerah penghasil batubara seperti Kalimanan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan justru mendapatkan pasokan batubara yang sangat minim. Propinsi Kalimantan Selatan misalnya hampir setiap hari mengalami pemadaman listrik. Padahal 25% cadangan batubara nasional ada di propinsi ini.</p>
<p>Eksploitasi batubara di Indonesia khususnya di Kalimatan Timur dan Kalimantan Selatan dilakukan secara &#8220;gila-gilaan&#8221;. Betapa tidak, kerakusan perusahaan tambang bahkan sampai memasuki kawasan Taman Hutan Rakyat Bukit Soeharto yang dikelola Universitas Mularwarman Samarinda untuk keperluan pendidikan dan penelitian. Hutan seluas 40 kali lapangan sepabola tersebut atau sekitar 20.271 hektar sedang dalam proses penghancuran. <em>”Kami tidak mampu menghentikan kerakusan ini. Kewenangan kami cuma memakai hutan ini untuk kepentingan pendidikan dan penelitian, tidak lain dari itu,”</em> kata Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman (PPHT Unmul) Chandradewana Boer.</p>
<p>Begitu pula Kalimantan Selatan, propinsi yang memiliki hamparan Pegunungan Meratus yang berisi batubara dengan jumlahnya tak terkira sedang &#8220;diperkosa&#8221; habis-habisan oleh perusahaan tambang batubara. Pegunungan Meratus yang luasnya mencapai 1,6 juta hektar mencakup sembilan dari 13 kabupaten/kota di propinsi ini, sedangkan hutan alam yang masih bertahan kurang dari 500.000 hektar. Dari sembilan kabupaten tersebut tujuh di antaranya sudah mengeluarkan ratusan izin pertambangan batubara dan bijih besi. Akibatnya daerah pegunungan Meratus pun mengalami kerusakan amat parah. Hutan menjadi gundul dengan danau-danau hitam ataupun kubangan-kubangan raksasa dengan diameter mencapai ratusan meter.</p>
<p><strong>Negeri Kaya yang Membuang Sumber Energi</strong></p>
<p>Berdasarkan data <strong>Coal Statistics</strong>, batubara merupakan primadona sumber energi dunia. Batubara menyediakan 26,5% sumber energi primer. Batubara juga menghidupkan 41,5% pembangkit listrik di seluruh dunia. Ini artinya keberadaan batubara sanga vital. Namun sangat disayangkan pemanfaatan batubara untuk kepentingan nasional dan lokal sangat dianaktirikan, sedangkan yang tersisa adalah kerusakan lingkungan dan bencana alam.</p>
<p>Estimasi 2008 World Coal Institute, Indonesia menempati posisi ke enam sebagai produsen batubara dunia dengan jumlah produksi mencapai 246 juta ton, peringkat pertama ditempati China dengan jumlah produksi 2.761 juta ton, disusul AS 1007 juta ton, dan India 490 juta ton, Australia 325 juta ton, Rusia 247 juta ton. Ekspotir batubara terbesar dunia ditempati Australia 252 juta ton, Indonesia peringkat kedua dengan jumlah ekspor 203 juta ton. Sedangkan China sebagai produsen batubara terbesar dunia, hanya menempati peringkat ke tujuh sebagai eksportir dengan jumlah 47 juta ton.</p>
<p>Data ini memiliki arti relevansi kuat terhadap kerusakan lingkungan, eksploitasi, dan minimnya pemanfaatan batubara untuk kepentingan rakyat Indonesia. Meskipun hasil batubara cukup besar setiap tahunnya namun lebih banyak ditujukan untuk pasar ekspor. Hal ini terlihat dari 246 juta ton produksi batubara, 82,52% disediakan untuk pasar ekspor sisanya baru digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Karena itu pasokan batubara untuk pembangkit listrik cukup minim. Perusahaan tambang hanya melihat di mana harga batubara yang paling menarik di situlah mereka akan memasarkan batubaranya.</p>
<p>Berbeda dengan Indonesia, China sebagai produsen batubara terbesar dunia yang jumlah produksinya lebih dari 11 kali produksi batubara Indonesia mengalokasikan 98,3%  batubaranya untuk kepentingan dalam negeri dan hanya 1,7% yang diekspor.</p>
<p>Dari perbandingan pola pemanfaatan batubara tersebut, terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara Indonesia dengan China. Hasilnya, perekonomian China jauh melejit meninggalkan Indonesia. Bahkan dalam konteks ACFTA (perdagangan bebas ASEAN dengan China) yang dimulai awal tahun ini, China menjadi ancaman berat bagi perekonomian Indonesia di tengah masalah kelistrikan yang masih membelilit negeri kita. Sementara setiap tahunnya Indonesia terus “membuang” salah satu sumber energinya ini ke luar negeri.</p>
<p><strong>Akar Masalah<br />
</strong></p>
<p>Inilah masalah utama negara kita yang tidak memiliki &#8220;visi&#8221; bagaimana memanfaatkan sumber daya alam batubara untuk kepentingan rakyat. Negara justru menjadi alat Kapitalisme untuk menghisap dan mengeksploitasi kekayaan nasional tersebut.</p>
<p>Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2008 merupakan salah satu contoh negara telah menjadi alat hisap Kapitalisme. Dalam PP ini, negara memberikan kesempatan luas kepada perusahaan-perusahaan tambang untuk melakukan kegiatan tambang di kawasan hutan lindung. Akibatnya perusahaan tambang batubara memiliki kesempatan luas dan legal untuk melakukan kegiatan pertambangan walaupun di kawasan hutan lindung. Dan faktanya kawasan hutan lindung di Indonesia khususnya daratan Kalimantan menyimpan kekayaan barang tambang yang sangat melimpah.</p>
<p>Selain problem pemerintahan yang tidak memiliki visi untuk rakyat (<em>laisses faire</em>-pro Kapitalis), negara kita juga melakukan kesalahan fatal dengan menjadikan sumber daya alam yang melimpah dan strategis sebagai kepemilikan yang dapat dikuasai oleh swasta dan asing. Akibatnya apakah eksploitasi batubara untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor, hasilnya tidak jatuh ke tangan rakyat tetapi jatuh ke tangan swasta dan asing.</p>
<p><strong>Visi Syariah </strong></p>
<p>Dari perspektif Syariah, tambang batubara dalam jumlah besar merupakan milik rakyat. Dalam hadist riwayat Abu Daud, disebutkan <em>“Kaum muslimin berserikat dalam tiga barang, yaitu air, padang rumput, dan api.”</em> Yang dimaksud dengan api adalah sumber daya energi. Batubara termasuk sumber daya energi. Karena itu tambang batubara yang cukup besar sudah seharusnya menjadi milik bersama, yakni milik rakyat.</p>
<p>Larangan menguasai barang tambang yang melimpah bagi individu dipertegas oleh hadis Nabi SAW yang lain. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abyadh bin Hamal, bahwa ia telah meminta kepada Rasulullah saw untuk dibolehkan mengelola sebuah tambang garam. Lalu Rasulullah saw memberikannya. Setelah ia pergi, ada seorang laki-laki dari majelis tersebut bertanya:</p>
<p><em>“Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu bagaikan air yang mengalir.” </em>Rasulullah saw kemudian menarik kembali tambang tersebut darinya. (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Berdasarkan aturan Syariah tentang barang tambang tersebut, maka tambang batubara yang cukup besar (termasuk tambang minyak dan gas bumi, bijih besi, alumunium, nikel, uranium, dan lain-lainnya) merupakan milik bersama (milik umum) sehingga tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh individu (swasta) dan asing. Makna milik umum juga membatasi bahwa kepemilikannya tidak di tangan pemerintah/negara tetapi di tangan rakyat. Hanya saja, negara berkewajiban mengelolakan harta milik umum untuk dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat sesuai Syariah Islam.</p>
<p>Dengan menyerahkan pemilikan atau penguasaan batubara ke tangan swasta dan asing yang dilakukan secara legal maupun ilegal, maka negara telah melakukan kemunkaran karena kebijakan tersebut bertentangan dengan hukum Allah. Hal ini diperparah dengan tidak adanya visi dan <em>political will</em> pemerintah untuk menjaga kemaslahatan rakyat termasuk di dalamnya kemandirian energi dan ekonomi. Padahal fungsi negara di dalam Islam adalah <em>ri&#8217;ayah su&#8217;unil ummah</em> (melayani rakyat) bukan melayani pasar (baca: investor) dan bukan juga melayani penguasa. <em></em></p>
<p><em>“Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.”</em> (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Terbaliknya fungsi negara saat ini telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan sia-sianya kekayaan batubara bagi rakyat. Liberalisasi ekonomi dengan memindahkan penguasaan dan pemanfaatan tambang batubara ke tangan perusahaan tambang serta membatasi peran negara hanya sebagai alat untuk melegalisasi kerakusan demi kerakusan pemilik modal adalah sebab utama hilangnya fungsi negara.</p>
<p>Di sinilah pengelola negara telah melakukan kecurangan dan selalu menyulitkan kehidupan rakyatnya. Tidak sedikit izin pertambangan yang mereka berikan berujung pada perburuan rente atau untuk memperkaya diri sendiri.</p>
<p><em>“Seseorang yang memimpin kaum muslimin dan dia mati, sedangkan dia menipu mereka (umat) maka Allah akan mengharamkan ia masuk ke dalam surga.” </em>(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Melayangnya batubara Indonesia disebabkan oleh tidak adanya visi batubara untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan negara, serta kesalahan fatal tata kelola ekonomi yang menyerahkan kepemilikan dan penguasaan tambang kepada pemilik modal. Hal ini terjadi karena negara menjadi subordinasi pemilik modal dan tunduk pada kepentingan-kepentingan Kapitalisme global.</p>
<p>Karena itu Indonesia harus memiliki visi Syariah dan mengadopsi sistem kepemilikan umum sehingga kekayaan batubara nasional dapat digunakan untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan rakyat secara adil. Untuk mencapai tujuan tersebut, transformasi sistem harus dilakukan dari Kapitalisme-Liberalisme menjadi Syariah di bawah sistem Khilafah.</p>
<p><strong><em>REFERENSI:</em></strong></p>
<p>Kompas (5 Februari 2010), <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/05/04440899/kenakan.pajak.tinggi."><em>Kenakan Pajak Tinggi</em></a><em>.</em></p>
<p>Kompas (25 Januari 2010), <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/25/03593960/kami.tak.sanggup.menghentikan.kerakusan.ini..."><em>Kami Tak Sanggup Menghentikan Kerakusan Ini&#8230;</em></a></p>
<p>Kompas (26 Januari 2010), <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/26/03084016/tetap.gelap.di.lokasi.dekat..jantung.tambang"><em>Tetap Gelap di Lokasi Dekat Jantung Tambang.</em></a></p>
<p>World Coal Institute, <a href="http://www.worldcoal.org/resources/coal-statistics/"><em>Coal Statistics.</em></a><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/15/indonesia-diam-dengan-genosida-muslim-uighur/" title="Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur">Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/12/neolib-tidak-mungkin-memajukan-ekonomi-syariah/" title="Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah">Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2010%2F02%2F06%2Fnegeri-kaya-tambang-miskin-batubara%2F&amp;linkname=Negeri%20Kaya%20Tambang%20Miskin%20Batubara"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 12:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANALISIS]]></category>
		<category><![CDATA[ACFTA]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perdagangan Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[<img title="ACFTA" src="http://ditjenkpi.depdag.go.id/images/stories/asean_china-bendera.jpg" alt="ACFTA" align="left" height="120" width="120"/>Perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah memasuki babak realisasi sejal januari tahun ini. Hasilnya, produk impor dari China semakin mendominasi pasar Indonesia dan mengancam eksistensi industri dan usaha menengah kecil serta kemandirian Indonesia. Kesepakatan pemerintah akan perjanjian perdagangan bebas disadari atau tidak telah membunuh ekonomi negeri ini secara perlahan namun pasti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>Mulai 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan China. Begitu pula sebaliknya, dikatakan Indonesia mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut.</p>
<p>Pembukaan pasar ini merupakan realisasi perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam) dengan China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).</p>
<p><strong>Pro Kontra Pasar Bebas ASEAN-China</strong></p>
<p>Dengan dimulainya perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN plus China tahun ini, maka berbagai konsekwensi pun harus ditanggung Indonesia. Pihak yang pro ACFTA menyatakan ACFTA tidak berarti hanya ancaman invasi produk-produk China tetapi juga peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke China dan negara-negara ASEAN.</p>
<p>Purbaya Yudi Sadewa dari Danareksa Research Institute menyimpulkan meski ada dampak negatif terhadap sektor tertentu, secara keseluruhan dampak positif lebih besar. Karena itu Purbaya menyarankan Indonesia tidak perlu menarik diri dari liberalisasi ini (Kompas, 4/1/2010).</p>
<p>Kekhawatiran akan dampak negatif perdagangan bebas ASEAN-China juga ditepis pemerintah melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu. Menurut Abimanyu, proporsi perdagangan antara Indonesia dengan ASEAN dan China hanya 20% saja.</p>
<p>Sementara itu Ernovian G Ismy, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan kekhawatirannya atas pemberlakukan perdagangan bebas ASEAN-China. Ernovian mengkhawatirkan berubahnya pola usaha yang ada dari pengusaha menjadi pedagang. Sebab jika berdagang lebih menguntungkan karena faktor harga barang-barang impor yang lebih murah, akan banyak industri nasional dan lokal yang gulung tikar hingga akhirnya berpindah menjadi pedagang saja (Republika, 4/1/2010).</p>
<p>Ernovian mencontohkan jumlah industri tekstil dari kelas industri kecil hingga besar bisa mencapai 2.000. Jika setiap industri tekstil mampu menyerap 12-50 orang tenaga kerja, maka bisa dibayangkan hancurnya kita karena akan banyak pengusaha yang beralih dari produsen tekstil menjadi pedagang yang juga berimplikasi pada penyerapan tenaga kerja.</p>
<p>Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia, Djimanto menilai ada tujuh sektor yang paling terpengaruh dengan serbuan produk-produk China, antara lain industri tekstil, alas kaki, pertanian, dan baja. Sedangkan mantan Dirjen Bea Cukai, Anwar Surijadi mempertanyakan manfaat pemberlakukan perdagangan bebas ini bagi masyarakat. Anwar merisaukan hal ini karena industri Indonesia akan terganggu (Republika, 4/1/2010).</p>
<p>Hal yang sangat dikhawatirkan mengenai dominasi China terhadap Indonesia disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurut Hidayat dalam kerangka ACFTA yang berlatarbelakang semangat bisnis, China bisa berbuat apa pun untuk mempengaruhi Indonesia mengingat kekuatan ekonominya jauh di atas Indonesia (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).</p>
<p><strong>Membunuh Ekonomi Nasional</strong></p>
<p>Sebelum realisasi perjanjian perdagangan bebas dengan China, kita sudah mendapatkan hampir segala lini produk yang dipergunakan di rumah dan perkantoran saja bertuliskan <em>made in China</em>. Bahkan tidak sedikit produk dari negara maju yang masuk ke Indonesia pun mengikutsertakan produk China sebagai perlengkapannya. Seorang ekonom yang juga pejabat menteri ekonomi di kabinet pemerintahan sekarang mengomentari serbuan produk China ke Indonesia dengan dimulainya perdagangan bebas Indonesia-China <em>“seperti air bah”</em>.</p>
<p>Karena itu pemberlakuan pasar bebas ASEAN-China sudah pasti menimbulkan implikasi yang sangat negatif. <em>Pertama</em>, invasi produk asing terutama dari China di tengah lemahnya infrastruktur ekonomi, modal, daya saing, dan dukungan pemerintah, dapat menyebabkan hancurnya sektor-sektor ekonomi yang diserbu.</p>
<p>Sektor industri pengolahan (manufaktur) dan industri kecil menengah (IKM) merupakan sektor ekonomi yang paling terkena dampak realisasi perjanjian perdagangan bebas ini. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi.</p>
<p>Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Begitupula diproyeksikan 5 tahun ke depan investasi di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM.</p>
<p>Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar.  Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya dikatagorikan akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari China (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).</p>
<p><em>Kedua</em>, pasar lokal dan nasional yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja.</p>
<p>Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) China lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia, 9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah pilihan pragmatis dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil China atau setidaknya pedagang tekstil. Sederhananya, <em>&#8220;buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing, lebih baik impor saja murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri&#8221;. </em></p>
<p>Inilah fenomena yang mulai nampak sebagaimana yang akhir-akhir ini ditayangkan televisi nasional sejak awal tahun 2010. Misalnya para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu China secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan jamu lokal. Akibatnya produsen jamu lokal terancam gulung tikar.</p>
<p><em>Ketiga, </em>kondisi ini akan membuat karakter perekomian nasional semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing, bahkan produk &#8220;tetek bengek&#8221; seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor sedangkan sektor-sektor vital ekonomi nasional juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi nasional Indonesia?</p>
<p><em>Keempat</em>, jika di dalam negeri saja kalah bersaing bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan China? Data menunjukkan tren pertumbuhan ekspor non  migas Indonesia ke China sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%. Ini lebih kecil dengan tren pertumbuhan ekspor China ke Indonesia yang mencapai 35,09%.</p>
<p>Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat memungkinkan berkembang justru ekspor bahan mentah bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh China yang memang sedang &#8220;haus&#8221; bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.</p>
<p>Secara umum, neraca perdagangan Indonesia dengan China dan negara-negara anggota ASEAN semakin defisit sebagaimana data ekspor-impor Indonesia yang baru dirilis BPS. Ekspor Indonesia ke China selama Januari-November 2009 mencapai US$ 7,71 miliar sedangkan impornya US$ 12,01 miliar. Dengan Singapura, ekspor Indonesia tahun 2008 US$ 12,86 miliar dan impor US$ 21,79 miliar. Indonesia juga mengalami defisit neraca dagang dengan Thailand sebesar US$ 2,67 sedangkan dengan Malaysia defisit US$ 2,49 miliar (Kompas, 5/1/2010). Ini sangat mengkhawatirkan di tengah arus liberalisasi perdagangan yang dijalankan Indonesia.</p>
<p><em>Kelima, </em>terpangkasnya peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional karena perannya digantikan impor dampaknya juga menimpa penyediaan lapangan kerja. Tentu ini sangat memberatkan para pekerja dan pendatang baru dunia kerja. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang sedangkan pada periode Agustus 2009 jumlah pengangguran terbuka mencapai 8,96 juta orang.</p>
<p>Pada prinsipnya pasar bebas merupakan bagian dari paket liberalisasi ekonomi. Liberalisasi adalah proses untuk menghilangkan peran pemerintah dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat dan menyerahkannya pada peranan pasar (baca: kaum pemilik modal).</p>
<p>Dalam Islam, peran pemerintah di tengah-tengah masyarakat adalah paten sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: <em>&#8220;Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.&#8221; </em>Artinya negara tidak boleh melepaskan tanggungjawabnya terhadap segala urusan rakyat sebagaimana spirit dan aplikasi liberalisasi ekonomi yang justru mengharuskan diamputasinya peran negara.</p>
<p>Kita menyaksikan pemerintah telah melakukan “keteledoran luar biasa” dengan melakukan perjanjian ACFTA sebagaimana perjanjian-perjanjian internasional lainnya yang telah dilakukan pemerintah. Seakan-akan pemerintah tidak berpikir dulu apa baik dan buruknya dalam setiap perjanjian internasional yang mereka teken. Yang kita lihat justru pemerintah sangat berbangga di hadapan asing dalam setiap keikutsertaannya menandatangani perjanjian liberalisasi ekonomi. Sementara yang kita saksikan dan rasakan kehidupan ekonomi rakyat semakin terhimpit sedangkan kemandirian negara semakin lemah. Perjanjian perdagangan bebas seperti ACFTA merupakan bentuk penghianatan pemerintah terhadap rakyatnya yang seharusnya dilindungi dari ketidakberdayaan ekonomi.  [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/15/indonesia-diam-dengan-genosida-muslim-uighur/" title="Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur">Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/kebutuhan-khilafah-sangat-mendesak/" title="Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak ">Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/24/barat-ancam-cina-terakit-masalah-bahan-mentah/" title="Barat Ancam Cina Terkait Masalah Bahan Mentah">Barat Ancam Cina Terkait Masalah Bahan Mentah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/22/di-cina-hillary-juga-ajak-bangun-kemitraan-yang-semu/" title="Di Cina Hillary juga Ajak Bangun Kemitraan yang Semu">Di Cina Hillary juga Ajak Bangun Kemitraan yang Semu</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/19/eforia-kunjungan-hillary-di-tengah-babak-baru-neoimperialisme-amerika/" title="Eforia Kunjungan Hillary di Tengah Babak Baru Neoimperialisme Amerika">Eforia Kunjungan Hillary di Tengah Babak Baru Neoimperialisme Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/23/cina-menutup-44-ribu-situs-porno-bagaimana-dengan-indonesia/" title="Cina Menutup 44 Ribu Situs Porno, Bagaimana dengan Indonesia ?">Cina Menutup 44 Ribu Situs Porno, Bagaimana dengan Indonesia ?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2010%2F01%2F10%2Fbunuh-diri-ekonomi-indonesia%2F&amp;linkname=Bunuh%20Diri%20Ekonomi%20Indonesia"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[G20]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Imperialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/</guid>
		<description><![CDATA[G-20 merupakan sebuah forum baru yang mempertemukan negara-negara kaya yang sebelumnya terhimpun dalam G-8 dengan negara-negara berkembang dengan skala ekonomi yang cukup besar. Keberadaan G-20 didorong oleh pukulan krisis keuangan global yang “bersumbu” di AS. Apa yang melatarbelakangi G-20 dan siapa yang memanfaatkan keberadaan organisasi ini? Bagaimana posisi Indonesia serta konsekwensinya bagi perekonomian dunia? Tulisan ini berusaha mengulas pertanyaan-pertanyaan tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #800000;"><em>Tulisan ini dimuat di Jurnal Al-Waie Edisi November 2009</em></span></p>
</blockquote>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>KTT G-20 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat 24-25 September lalu menjadi babak baru bagi perekonomian dunia dengan diubahnya status forum ini menjadi permanen. Otomatis G-20 menghapus G-8 sebagai kelompok ekonomi terbesar di dunia. G-20 menghimpun dua pertiga penduduk dunia dengan nilai ouput mencapai 90% PDB global dan menguasai 80% transaksi perdagangan internasional.</p>
<p>KTT G-20 di Pittsburgh juga menghasilkan keputusan meningkatkan keterlibatan negara-negara berkembang di IMF. Di samping itu, G-20 tetap mempertahankan langkah stimulus, meningkatkan kuantitas dan kualitas modal bank, pemangkasan gaji dan bonus para eksekutif di sektor perbankan, dan penghapusan tempat bebas pajak (<em>tax heaven</em>). Anggota G-20 juga sepakat untuk menghapus subsidi bahan bakar fosil yang memperparah pemanasan global.</p>
<p>G-20 merupakan sebuah forum baru yang mempertemukan negara-negara kaya yang sebelumnya terhimpun dalam G-8 dengan negara-negara berkembang dengan skala ekonomi yang cukup besar. Keberadaan G-20 didorong oleh pukulan krisis keuangan global yang “bersumbu” di AS. Apa yang melatarbelakangi G-20 dan siapa yang memanfaatkan keberadaan organisasi ini? Bagaimana posisi Indonesia serta konsekwensinya bagi perekonomian dunia? Tulisan ini berusaha mengulas pertanyaan-pertanyaan tersebut.</p>
<p><strong>Melemahnya Hegemoni AS</strong></p>
<p>Sejak didaulat memasuki resesi pada Desember 2007 hingga September 2009, jumlah pengangguran di negeri Paman Sam meledak dari 7,6 juta orang menjadi 15,1 juta orang (Bureau of Labor Statistics U.S. Department of Labor, <em>News Release: The Employment Situation – September 2009</em>). Di sisi lain, biaya krisis yang sudah dikeluarkan AS menyebabkan defisit terburuk sejak 1945. Sejak pemerintahan Obama dimulai, AS mengalami defisit APBN hingga US$ 1,4 trilyun (cboblog.cbo.gov, 7/10/2009).</p>
<p>Jumlah hutang pemerintah AS pun bertambah US$ 2,75 trilyun sejak resesi Desember 2007. Di awal resesi hutang AS mencapai US$ 9,15 trilyun dan kini sudah menyentuh US$ 11,90 trilyun (treasurydirect.gov). Akibatnya beban pembayaran bunga juga bertambah besar tiga kali lebih banyak dari anggaran pendidikan AS. Kondisi ini menyebakan hegemoni AS di bidang ekonomi melemah.</p>
<p>Sikap penentangan terhadap dominasi AS secara terang-terangan ditunjukkan oleh negara-negara Kapitalis Eropa daratan (<em>continental</em>). Jerman dan Perancis mengecam dominasi AS dalam sistem keuangan global. Jerman menegaskan krisis telah menggerus status AS sebagai adidaya di bidang ekonomi sedangkan Perancis menginginkan diakhirinya sistem pasar bebas tanpa kontrol (euobserver.com, 26/9/2009).</p>
<p><strong>Ada Apa dengan G-20?</strong></p>
<p>Dalam forum G-20, AS berkepentingan mempertahankan hegemoninya. Karena itu arah strategi AS dalam penyelesaian krisis keuangan global tidak bertumpu pada perombakan sistem Kapitalisme. AS fokus pada pembiayaan dampak krisis keuangan yang dialaminya dalam bentuk <em>bailout </em>dan stimulus bukan merombak sistem keuangan. Begitu pula AS berupaya agar seluruh dunia terlibat dalam pendanaan dampak krisis sehingga partisipasi internasional dapat meringankan bebannya.</p>
<p>Dalam wawancara dengan Financial Times, Kepala Penasehat Ekonomi Gedung Putih, Lawrence Summers menyerukan para pemimpin dunia lebih banyak mengucurkan dana stimulus sebagai jalan untuk mendorong pertumbuhan global (ft.com, 8/3/2009). AS juga telah menganggarkan US$ 11,56 trilyun untuk memerangi krisis, di mana US$ 2,90 trilyun di antaranya dikeluarkan sebagai paket <em>bailout </em>dan stimulus ekonomi (bloomberg.com, 25/9/2009).</p>
<p>Sebaliknya, Jerman dan Perancis yang mewakili Uni Eropa berupaya menggeser dominasi AS dalam sistem keuangan global. Kedua negara ini mengarahkan G-20 pada reformasi sistem keuangan global, seperti masalah transparansi, pengurangan bonus “gila-gilaan” para eksekutif bank, penghapusan negara bebas pajak (<em>tax heaven</em>) yang menjadi surga penggelapan pajak, dan pembatasan transaksi derivatif (bbc.co.uk/indonesian, 1/4/2009).</p>
<p>Berdasarkan konstelasi geoekonomi tersebut, maka pertemuan demi pertemuan para pemimpin G-20 pada dasarnya hanya untuk merealisasikan visi kedua kutub ekonomi dunia ini. Karena itu deklarasi yang dihasilkan pada akhirnya hanyalah berisi poin-poin kompromi kedua belah pihak, bukan menyelesaikan sebab fundamental krisis keuangan global.</p>
<p>Meskipun demikian negara independen seperti China dan Rusia juga memiliki kepentingan terhadap G-20. China misalnya berkepentingan agar AS dan dunia tetap memiliki kekuatan permintaan dalam perdagangan internasional. Sebab jika terjadi penurunan permintaan AS dan dunia secara siknifikan dan berkelanjutan, maka imbasnya kembali ke negeri tirai bambu tersebut dalam bentuk penurunan ekspor, out put, dan tentu saja bertambahnya pengangguran.</p>
<p><strong>Posisi Indonesia</strong></p>
<p>Sejak keterlibatan Indonesia dalam pertemuan G-20 di level kepala negara, ada semacam kebanggaan Indonesia sudah setara dengan negara-negara maju, lebih strategis, dan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh Presiden SBY juga diadopsi menjadi keputusan G-20. Pandangan ini salah kaprah. Dengan berpijak pada konstelasi geoekonomi G-20, dapat kita lihat di mana posisi Indonesia.</p>
<p>Dalam KTT G-20 di Washington (15/11/2008), Presiden SBY menyampaikan proposal solusi krisis jangka pendek dengan menjamin tersedianya dana likuiditas dan menjaga kepercayaan perbankan. Untuk jangka menengah, SBY mengusulkan  perlunya langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter. Sedangkan jangka panjang, SBY mengusulkan reformasi sistem arsitektur keuangan global dengan melibatkan lebih besar lagi peran negara-negara berkembang (<em>emerging market</em>) ke dalam institusi keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia (presidensby.info, 16/11/2008).</p>
<p>Gagasan yang disampaikan Presiden SBY tersebut sesuai dengan visi AS dalam G-20. <em>Pertama</em>, pada solusi jangka pendek yang dilontarkan presiden, searah dengan kebijakan AS yakni jaminan dan <em>bailout</em> negara atas institusi keuangan/bank untuk memulihkan kepercayaan dan terjaganya likuiditas.</p>
<p><em>Kedua</em>, solusi jangka menengah sesuai seruan AS agar negara-negara di dunia meningkatkan pengeluaran dalam bentuk stimulus fiskal dan ekonomi.</p>
<p><em>Ketiga</em>, solusi jangka panjang dalam bentuk reformasi arsitektur keuangan global yang digagas presiden sebenarnya bukanlah sebuah gagasan untuk melakukan perubahan fundamental. Gagasan Indonesia justru memperkuat sistem keuangan global yang didominasi AS. Seperti tentang perlunya keterlibatan negara-negara berkembang dalam proporsi yang lebih siknifikan dalam IMF ataupun Bank Dunia, serta keterlibatan yang lebih luas dalam mensupport pendanaan bagi kedua lembaga Bretton Woods.</p>
<p>Di KTT G-20 London (2/4/2009), secara tidak langsung Presiden SBY kembali menegaskan dukungannya yang luas untuk kepentingan AS. Di London, Presiden SBY mengharapkan keterlibatan yang lebih luas bagi negara-negara berkembang pada institusi keuangan global. Dalam “bahasa SBY”, agar KTT G-20 dapat mewadahi kepentingan negara-negara berkembang (lihat presidensby.info, 3/4/2009).</p>
<p>Di Pittsburgh, Indonesia kembali memfokuskan G-20 pada keterlibatan negara-negara berkembang dalam penanganan krisis keuangan global dan resesi dunia, serta keinginan Indonesia agar G-20 menjadi forum permanen (presidensby.info, 25/9/2009). Dengan langkah ini, Indonesia berkonstribusi menjerumuskan negara-negara berkembang secara lebih dalam kepada imperialisme Barat di bidang ekonomi.</p>
<p>Jelaslah, keberadaan Indonesia memiliki peran penting untuk merealisasikan visi AS. Indonesia didesain menyampaikan gagasan-gagasannya secara independen tidak lain hanya untuk memperkuat posisi AS dalam forum G-20.</p>
<p><strong>G-20 sebagai Sarana Imperialisme</strong></p>
<p>Harapan agar G-20 memiliki peran yang besar dalam mengatasi krisis global, menciptakan kesetaraan dan keadilan hanya ilusi. Sebab G-20 tidak menjawab persoalan krisis secara subtansial melainkan lebih terarah untuk mempertahankan Kapitalisme baik Kapitalisme ala Anglo-Saxon (AS dan Inggris) maupun ala Eropa Continental (Jerman dan Perancis). Justru G-20 menjadi sarana baru bagi Barat dalam mempertahankan eksistensi penjajahannya atas dunia.</p>
<p>Pelibatan negara-negara berkembang dalam G-20 dan penataan institusi keuangan global tidak serta merta membuat posisi dunia ketiga terhadap negara-negara maju menjadi setara. Skenario ini justru semakin menguras sumber daya yang dimiliki negara-negara berkembang untuk membiayai krisis AS dan Eropa. Di sisi lain negara-negara berkembang didesain untuk meningkatkan ketergantung pada hutang melalui IMF dan Bank Dunia dengan dana yang diambil dari negara-negara berkembang yang kaya seperti Arab Saudi.</p>
<p>Keberadaan G-20 juga bukan untuk menggantikan peran IMF dan Bank Dunia. Namun, G-20 dibutuhkan Barat untuk menutupi ketidakmampuan dua lembaga ini dalam meredam dampak krisis keuangan global. Dengan G-20, Barat memiliki kekuatan lebih untuk mengorganisir kebijakan dan menghimpun dana dalam menyokong institusi keuangan global tersebut. Sebagaimana kesepakatan KTT G-20 di London yang menggalang sumber daya global untuk meningkatkan pembiayaan IMF tiga kali lipat menjadi US$ 750 milyar</p>
<p>Di G-20 negara-negara berkembang tetap menjadi subordinasi negara-negara maju. Mereka mengikuti apa saja yang diinginkan oleh Barat sebagaimana mereka dilarang melakukan proteksionisme dan harus meliberalisasi perekonomian domestik. Padahal negara-negara maju melakukan proteksionisme terselubung terhadap lembaga keuangan dan korporasi raksasa mereka dengan dana trilyunan dollar.</p>
<p>Melalui G-20 negara-negara berkembang terperangkap pada penghapusan subsidi bahan bakar fosil dengan alasan menanggulangi perubahan iklim. Aneh, pemanasan global yang diakibatkan konsumsi BBM secara rakus oleh negara-negara maju terutama AS yang menghabiskan seperempat konsumsi BBM dunia setiap harinya harus ditanggung oleh rakyat di belahan bumi selatan. Lebih aneh lagi Indonesia sangat bangga karena gagasan tentang mengatasi dampak perubahan iklim datang dari Presiden SBY yang memperkuat usulan penghapusan subsidi bahan bakar fosil berasal dari Presiden Obama.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Secara ideologis, negara-negara Barat tidak dapat bertahan hidup untuk membiayai “kerakusan” sistem ekonominya kecuali melakukan penjajahan atas negara lain. Sebagaimana pandangan Taqiyuddin an-Nabhani, penjajahan merupakan metode baku Kapitalisme, sedangkan yang berubah hanya cara (<em>uslub</em>) dan sarananya.</p>
<p>Krisis keuangan global telah memunculkan G-20 sebagai sarana baru bagi Barat untuk mengatasi dampak krisis sekaligus mengefektifkan penjajahannya atas dunia Islam dan negara-negara berkembang. Patut disayangkan, Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia bukan saja terperangkan penjajahan Barat tetapi juga menjadi “ujung tombak” AS dalam merealisasikan agenda-agenda imperialismennya. Seharusnya Indonesia menjadi pionir bagi dunia Islam yang berani melepaskan keterikatan dengan ideologi Kapitalisme dan menghidupkan kembali sistem Khilafah yang pernah memimpin dunia.[]</p>
<p><strong><em>Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin</em></strong><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/13/obama-loyalis-yahudi-dan-babak-baru-imperialisme-as/" title="Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS">Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/dunbar-ortizm-amerika-dirancang-sebagai-negara-penjajah/" title="Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah">Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/sudan-membutuhkan-khilafah/" title="Sudan Membutuhkan Khilafah">Sudan Membutuhkan Khilafah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/05/pertempuran-barat-dan-mahkamah-yang-jahat/" title="Pertempuran Barat dan Mahkamah yang Jahat">Pertempuran Barat dan Mahkamah yang Jahat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/kerusakan-sistem-barat-semakin-tidak-teratasi/" title="Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi">Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F12%2F22%2Fg20-sarana-baru-imperialisme-barat%2F&amp;linkname=G20%3A%20Sarana%20Baru%20Imperialisme%20Barat"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukti Kejahatan Korporasi Asing Berkedok HAM</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/bukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/bukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Korporasi]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik Hidayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2553</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Taufik Hidayat


HAM atau yang  sering dikenal dengan Hak Asasi Manusia, saat ini merupakan sebuah gagasan  yang sangat populer. Ide ini meluas keseluruh penjuru dunia dan dianggap  sebagai dewa penolong bagi umat manusia. Bahkan gagasan HAM sudah menjadi  standar baik dan buruk bagi manusia. Segala perbuatan yang melanggar  HAM dianggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: <strong>Taufik Hidayat</strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">HAM atau yang  sering dikenal dengan Hak Asasi Manusia, saat ini merupakan sebuah gagasan  yang sangat populer. Ide ini meluas keseluruh penjuru dunia dan dianggap  sebagai dewa penolong bagi umat manusia. Bahkan gagasan HAM sudah menjadi  standar baik dan buruk bagi manusia. Segala perbuatan yang melanggar  HAM dianggap tercela, sedangkan perbuatan yang sesuai dengan HAM dianggap  terpuji.<span id="more-2553"></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Berabad-abad  lamanya HAM telah mendasari ide perjuangan kemerdekaan di berbagai negara  dalam menginspirasi perjuangan rakyat melawan tirani/para diktator.  Tetapi, seiring berkembangnya jaman, HAM gagal sebagai spirit perjuangan  rakyat terhadap kedzaliman, penindasan, dan kediktatoran. Bahkan lambat  laun, secara konsepsi maupun realitanya banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan  dibalik ide HAM. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pelaksanaan <em> the Universal Declaration of Human Rights</em> (UDHR) sering menggunakan  standar ganda. Korporasi besar (MNCs) lewat aktivitasnya yang merusak  lingkungan, menteror manusia, menjarah kekayaan alam sebuah negara,  bahkan sering memberangus lembaga-lembaga yang berseberangan. Anehnya,  perbuatan tersebut dibiarkan begitu saja atas nama kebebasan. Tetapi,  ketika ada seseorang yang mencoba kritis terhadap kebijakan korporasi  (MNCs), ia langsung diajukan ke pengadilan dan dikatakan melanggar HAM</span><span style="font-family: Times New Roman; color: #ff0000; font-size: small;">. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>KONTRADIKSI  HAM DALAM CENGKRAMAN KORPORASI</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kemunculan  ide HAM berawal dari sebuah pandangan filsafat dan tradisi politik dalam  konteks liberalisme. Liberalisme yang menjadikan kebebasan sebagai nilai  politik yang utama, mempunyai akar sejarah di Eropa Barat pada abad  kegelapan (<em>The Dark Age</em>). Nilai kebebasan menemukan puncaknya  ketika Eropa mengalami era pencerahan. Kaum cendekiawan dan filosof  berteriak lantang memperjuangkan dan mengagung-agungkan kebebasan demi  meraih idealisme kebahagian umat manusia. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dalam konteks  sosial-kemasyarakatan, liberalisme menyakini bahwa individu-individu  yang bebas merupakan pondasi masyarakat yang baik. Hal ini merupakan  buah pikiran Locke yang tertuang dalam <em>Two Treatises on Governement</em> (1690), yang berbicara perihal dua konsep dasar kebebasan: (1) kebebasan  ekonomi, yaitu hak untuk memiliki dan menggunakan kepemilikan; (2) kebebasan  intelektual, di dalamnya termasuk kebebasan berpendapat. Pemikiran khas  empirisme dari Locke inilah yang menjadi pelopor lahirnya konsepsi modern  HAM.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Gagasan tersirat  dari ide ini menegaskan bahwa manusia akan menemukan eksistensinya ketika  diberi kebebasan dalam hidupnya. Dengan akalnya, manusia akan mampu  menggunakan kebebasannya secara optimal dalam berkreasi dan berekspresi.  Disamping itu, kebebasan individu akan dibatasi oleh kebebasan orang  lain sehingga akan memunculkan <em>balance</em> (keseimbangan). Maka dari  itu siapapun boleh hidup dengan mengatasnamakan kebebasan dirinya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dalam implementasinya,  ide kebebasan HAM banyak kontradiksinya. Individu, masyarakat, dan negara  yang mengatasnamakan kebebasan HAM justru menimbulkan banyak kerusakan  dan konflik sosial. Semakin HAM diterapkan oleh semua pihak, semakin  menimbulkan banyak virus yang menghancurkan kehidupan manusia. Beberapa  kontradiksi yang muncul pada kebebasan dalam HAM antara lain; </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong><em>Pertama</em>,</strong> HAM mendorong manusia untuk serakah dan membunuh manusia lain secara  sistematis. Dengan adanya kebebasan ekonomi dalam konteks kebebasan  kepemilikan yang dilandasi rasa ingin memiliki kekayaan sebesar-besarnya.  Manusia akan berpikir bagaimana mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya  dengan menghalalkan segala cara. Prinsipnya cukup sederhana, mengumpulkan  kekayaan merupakan hak asasi manusia, maka orang akan berpikir seribu  satu cara untuk meraup untung sebesar-besarnya, walaupun cara yang dia  tempuh merugikan banyak orang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Logika inilah  yang diterapkan oleh korporasi multinasional (MNCs). Demi melaksanakan  hak asasi manusianya dalam meraup keuntungan, para korporasi ini akhirnya  tidak mempedulikan berapa nyawa sekalipun yang sudah jadi tumbalnya.</span><span style="font-family: Times New Roman; color: #0000ff; font-size: small;"> </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sebut  saja korporasi bernama &#8216;Merck&#8217;, perusahaan ini tercatat telah mengakibatkan  tercabutnya 55.000 orang meninggal dunia. Adalah Dr. David Graham, pegawai  pada Unit Keamanan Obat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (<em>Food and  Drug Administration,</em> FDA) yang kesaksiannya sebelum rapat komite  senat mengguncangkan publik AS. Riset Graham mencatat sekitar 88.000  sampai 139.000 orang di AS menderita serangan jantung atau <em>stroke</em> akibat meminum obat radang sendi Vioxx buatan Merck. &#8220;Sekitar 40  persen dari jumlah tersebut, atau sekitar 35.000-55.000 orang, meninggal&#8221;,  kata Graham. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Kedua,</strong> Dengan menggunakan HAM, korporasi multinasional tersebut melancarkan  isu berkeinginan membantu beberapa negara berkembang. Membantu dalam  menyelesaikan problem pengelolaan sumber daya alam yang selama ini belum  optimal. Tetapi keyataannya, hal ini hanya merupakan kedok semata untuk  bisa merampok kekayaan alam yang ada pada sebuah negara.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Korporasi multinasional  (MNCs) ini akhirnya merampok kekayaan SDA di wilayah negara-negara berkembang.  Adanya eksploitasi SDA yang rakus, membawa dampak pada pemiskinan dan  penderitaan global rakyat kecil. Ujung-ujungnya kekayaan berkumpul hanya  pada segelintir orang saja. Contoh yang sangat nyata terjadi di negeri  kita, dimana beberapa korporasi asing telah menjarah, menguasai, mengeksploitasi  kekayaan alam. Sedangkan negeri Indonesia di telantarkan dalam kondisi  yang serba kekurangan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dari hasil  perampokan mereka mengatasnamakan HAM, mereka mendapatkan banyak sekali  keuntungan finansial. Dalam laporan pendapatannya untuk tahun 2007,  pihak ExxonMobil memperoleh keuntungan sebesar $40.6 Billion atau setara  dengan Rp3.723.020.000.000.000 (dengan kurs rupiah 9.170). Nilai penjualan  ExxonMobil mencapai $404 billion, melebihi Gross Domestic Product (GDP)  dari 120 negara di dunia. Setiap detiknya, ExxonMobil berpendapatan  Rp 11.801.790, sedangkan perusahaan minyak AS lainnya, Chevron, melaporkan  keuntungan yang diperolehnya selama tahun 2007 mencapai $18, 7 billion  atau Rp171.479.000.000.000. Royal Ducth Shell menyebutkan nilai profit  yang mereka dapatkan selama setahun mencapai $31 milyar atau setara  dengan Rp 284.270.000.000.000. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Keuntungan  yang diperoleh korporasi-korporasi Negara imperialis ini tidaklah setara  dengan Produk Domestic Bruto (PDB) beberapa Negara dunia ketiga, tempat  korporasi tersebut menghisap. Hingga akhir tahun 2007, Produk Domestik  Bruto (PDB) Indonesia belum sanggup menembus Rp4.000 Trilyun, untuk  triwulan ke III tahun 2007 saja hanya mencapai Rp 2.901. trilyun. Untuk  Negara penghasil minyak lainnya, Libya hanya 50.320 juta US$, Angola  (44, 033 juta US$), Qatar (42, 463US$), Bolivia (11.163 juta US$), dan  lain-lain.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Berkuasanya  korporasi di beberapa negara berkembang sering menimbulkan kemiskinan  secara kolektif dengan berkumpulnya harta segelintir orang kaya saja.  Hasil penelitian oleh Prof Robert Reich, guru besar dari Harvard University  yang pernah menjabat menteri perburuhan pemerintahan Presiden Clinton.  Dia mengatakan bahwa dalam dunia yang sudah tanpa batas atau the borderless  world, memang ada yang menikmati dan menjadi sangat kaya raya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Ketiga, </strong> Oleh<strong> </strong>korporasi multinasional, HAM dijadikan senjata untuk merusak  dan mencemari lingkungan. Dengan dalih bahwa mereka punya kebebasan  dalam mengelola sebuah usaha/perusahaan tanpa diganggu pihak lain, maka  apapun dampaknya merupakan suatu hal yang biasa dalam berusaha/bisnis. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Termasuk dampak  yang ditimbulkan berupa pengrusakan dan pencemaran lingkungan, mereka  merasa bahwa hal tersebut tidak masalah. Untuk pembenahan kerusakan  lingkungan tersebut tanggung jawab pemerintah, padahal mereka (MNCs)  yang menimbulkan kerusakan lingkungan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Laporan 6 Nopember  2009 dari Organisasi Non Pemerintah dan Masyarakat korban dari 10 propinsi  di Pulau Sumatera dan Jawa telah menjadi saksi memburuknya kondisi social  ekologis pulau Sumatera dalam lima tahun terakhir. Atas nama pembangunan,  kekayaan pulau Sumatera  dieksploitasi sebagai bahan mentah memenuhi  kebutuhan Negara-negara industri dengan ongkos yang dibebankan kepada  penghuni pulau. Akibatnya, kini krisis listrik akut terjadi di seluruh  propinsi dan hampir separuh propinsi mengalami kebakaran hutan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pulau Sumatera  menjadi tempat nyaman bagi industri boros  lahan, air dan energi, yang  tingkatnya telah mengancam ekosistem-ekosistem yang genting di pulau  ini. Perusakan terjadi di kawasan pegunungan Bukit Barisan yag menyangga  hulu-hulu sungai  pulau Sumatera, deforestasi hutan-hutan dataran tinggi   hingga perusakan kawasan rawa gambut dan hutan bakau di pesisir timur  yang rata-rata mencapai 800 ha tiap tahunnya. Kini, lebih 500 perijinan  Kuasa Pertambangan batubara, emas dan pasir besi dikeluarkan tanpa mempertimbangkan  kerentanan pulau. Pembakaran hutan untuk pembukaan lahan-lahan sawit  terjadi pada lahan  PT RAPP, IKPP dan anak anak perusahaannya . Telah  membuat warga menanggung ongkosnya, di Pekanbaru tercatat sejak Mei-Agustus  2009 jumlah korban penyakit ISPA karena asap kebakaran mencapai 10.094  orang. <em> </em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>AYO&#8230; KAUM  MUSLIMIN !!!</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Maka dari ketiga  realita tersebut, sebenarnya menggambarkan bahwa HAM telah menjebak  umat manusia dalam berbagai macam penindasan. Tentu saja dengan adanya  wajah baru penindasan via HAM, dunia akan di isi oleh manusia-manusia  yang tidak bermoral. Kondisi duniapun berubah menjadi tatanan sosial  yang penuh dengan tipu muslihat dan konflik manusia secara makro seperti  saat ini. </span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Adanya kerusakan  HAM yang dideklarasikan PBB dari mulai ide dan implementasinya, maka  sudah saatnya HAM disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan umat manusia.  Semakin banyak manusia meninggalkan HAM berarti satu langkah maju untuk  melawan dan menolak liberalisme berkedok kebebasan. Banyaknya manusia  menolak HAM berarti telah membela umat manusia untuk lepas dari berbagai  kedzaliman dan penindasan oleh para korporasi. </span> []</p>
<p><strong><em>Taufik Hidayat adalah staf pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Hamfara Yogyakarta.</em></strong><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/" title="Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)">Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/" title="Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar">Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F12%2F22%2Fbukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham%2F&amp;linkname=Bukti%20Kejahatan%20Korporasi%20Asing%20Berkedok%20HAM"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/bukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 13:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Dollar]]></category>
		<category><![CDATA[fiat money]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perampokan Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik Hidayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2551" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" title="Fiat-Empire" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire-300x300.jpg" alt="Fiat-Empire" width="120" height="120" /></a>Kehancuran kapitalisme di Amerika, Eropa dan dunia Internasional tinggal tunggu waktu. Terlebih lagi bila triliunan US Dollar dana penyelamatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Inflasi, resesi dan depresi terus mengancam seolah membuktikan bahwa teori-toeri ekonomi sekarang ini mulai terbukti kerusakannya dan tumbang satu-persatu. Kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal akibat keserakahan terhadap mata uang kertas (fiat money) ala Amerika dan dunia Eropa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <strong>Taufik Hidayat, SEI</strong></em></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2551" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" title="Fiat-Empire" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire-300x300.jpg" alt="Fiat-Empire" width="300" height="300" /></a>Kehancuran kapitalisme di Amerika, Eropa dan dunia Internasional tinggal tunggu waktu. Terlebih lagi bila triliunan US Dollar dana penyelamatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Inflasi, resesi dan depresi terus mengancam seolah membuktikan bahwa teori-toeri ekonomi sekarang ini mulai terbukti kerusakannya dan tumbang satu-persatu.</p>
<p>Kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal dari sebuah transaksi keserakahan terhadap mata uang kertas (<em>fiat money</em>) ala Amerika dan dunia Eropa. Rakus, tamak, serakah, loba yang dibungkus dalam sebuah sistem ekonomi dengan mengandalkan kekuatan US Dollar sebagai Tuhannya. Padahal secara fakta telah terbukti bahwa sistem ekonomi (berdasarkan <em>fiat money</em>) tersebut mengandung banyak permasalahan didalamnya. Berikut beberapa problem mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p><strong>Ajang Bisnis Menggiurkan</strong></p>
<p>Dikarenakan ada selisih nilai didalam mata uang kertas (<em>fiat money</em>) antara nilai instrinsik dan nilai nominalnya, maka pastilah ada pihak yang akan diuntungkan. Dalam konteks bisnis, pencetakan mata uang kertas (<em>fiat money</em>) merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Bayangkan saja dalam sebuah ilustrasi, jika anda membuat sebuah produk A dengan biaya total produksi hanya Rp 400. Kemudian Produk A tersebut dijual seharga Rp 1.000, maka sudah untung Rp 600. Lantas kalau dijual seharga Rp 10.000, maka akan untung Rp 9.600. Atau bahkan kalau dijual seharga Rp 100.000, maka akan untung Rp 99.600. Coba bayangkan jika anda mencetak 1000 lembar uang RP 100.000, berapa keuntungan akan anda peroleh ?. Semakin tinggi anda menjualnya (angka nominalnya) maka keuntungan semakin banyak, karena berapapun anda jual, total biaya produksi tetap sama yaitu Rp 400 perlembar.</p>
<p>Dalam pencetakan mata uang US Dollar, nilai instrinsiknya sekitar 4 sen perlembar. Sedangkan nilai nominalnya bisa bervariasi, dari mulai $1, $ 10, atau bahkan $ 100. Dengan nilai nominal yang bervariasi tersebut, biaya Instrinsiknya tetap sama yaitu 4 sen. Kalau The Fed mencetak dengan nominal  US $ 100 per lembarnya, padahal nilai sebenarnya cuma 4 sen, berapa keuntungan perlembarnya ?.  Ternyata Amerika telah mencetak uang dengan nominal  US $ 100 berlembar-lembar dan disebar ke seluruh penjuru dunia. Maka bisa dibayangkan, dengan pola bisnis seperti ini Amerika meraup keuntungan yang sangat besar. Bentuk keuntungan tersebut, kompensasinya Amerika mendapatkan begitu banyak komoditi barang dari berbagai negara yang menggunakan dollar. Hal ini <strong>sungguh bisnis yang sangat menggiurkan</strong>.</p>
<p>Amerika menikmati pendapatan yang luar biasa besar dari penciptaan mata uang dollar dengan hanya mengandalkan <em>seignorage</em> (selisih biaya cetak atau biaya produksi dengan nilai yang tertera di mata uang/nilai nominal). Keuntungan tersebut semakin besar didapatkan Amerika, ketika semakin banyak negara mensirkulasikan untuk kebutuhan transaksinya. Inilah bisnis abad ini yang sangat menggiurkan sekali. Cuma berbekal selembar kertas mirip kwarto dan sebotol tinta warna serta sebuah mesin cetak mampu meraup keuntungan yang sangat banyak sekali.</p>
<p><strong>Inflasi</strong></p>
<p>Salah satu virus yang ditakuti para ekonom saat ini adalah inflasi yang tidak terkendali. Lantaran itu, Hayek yang meraih Nobel ekonomi tahun 1974, mengkritik keras penggunaan <em>fiat money</em>. Ia mengajukan proposal radikal untuk menghapuskan peran bank sentral dan pada saat yang sama menawarkan ide untuk menggunakan mata uang yang berbasis komoditi (<em>commodity money</em>) seperti emas&#8230;Hayek yakin pengguna mata uang akan bisa memilih mana dari mata uang yang beredar (Apakah <em>fiat money</em> atau <em>commodity money</em>) yang akan terus bertahan, lebih kompetitif, dan memuaskan keinginan para penggunanya.</p>
<p>Statmen yang dilontarkan Hayek tersebut, bisa dijabarkan dalam sebuah percontohan yang lebih gamblang sebagai berikut; seseorang meminjam Rp 13 juta dari kawannya, dan berjanji akan mengembalikan dalam jumlah yang sama 10 tahun kemudian. Tentu saja rekan tersebut akan menolaknya, karena nilai Rp 13 juta sekarang akan lebih berharga dibandingkan 10 tahun kemudian. Jika Rp 13 juta saat ini (tahun 2009) bisa untuk membeli setidaknya dapat 1 motor bebek merk Honda, tapi apa yang terjadi 10 tahun kemudian. Sangat mungkin uang Rp 13 juta tidak bisa untuk membeli 1 buah motor Honda lagi, bisa jadi cuma dapat untuk membeli 1 ban motor saja. Hal ini dikarenakan terkena dampak inflasi.</p>
<p>Bagaimana misal, bila uang Rp 13 juta tadi diganti dengan Dinar (1 Dinar = 1,3 juta rupiah pada tahun 2009, jadi kalau Rp13 juta sebanding dengan 10 Dinar). Pertanyaannya, apakah 10 Dinar sekarang lebih berharga dibandingkan 10 tahun yang akan datang?. Memang tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi Dinar mempunyai kecenderungan terapresiasi terhadap mata uang kertas (<em>fiat money</em>) manapun. Dalam perbandingan dengan mata uang rupiah, terlihat pada bulan oktober 2003 nilai tukar 1 Dinar adalah Rp 450.000, tahun 2004 senilai Rp 540.000, tahun 2005 senilai Rp 652.000, 2006 senilai Rp 785.000, 2007 senilai 974.000, dan pada juli 2008 senilai Rp 1.150.000, 2009 bulan ini senilai Rp 1.330.000. Dengan kata lain <strong>mata uang kertas (fiat money) akan terus terancam inflasi</strong> dan mata uang Dinar terbukti terus terapresiasi.</p>
<p><strong>Spekulasi</strong></p>
<p>Aksi spekulasi dari pendekatan secara historis sudah terjadi semenjak beredarnya mata uang kertas yang tanpa di back up dengan emas. Setelah PD I sistem standar emas berakhir, mata uang dunia diganti oleh US Dollar. Baru setelah PD II, persoalan moneter mengarah menjadi sebuah sistem dunia, dengan dimulainya Sistem Bretton Woods. Ditandai dengan lahirnya IMF dan World Bank sejak 1944.</p>
<p>Sejak saat itu semua mata uang dunia berhubungan satu sama lain, dan dikaitkan dengan nilai US Dollar. Nilainya saat itu secara fixed setara dengan satu ounce emas sebanding dengan 35 Dollar. Baru pada awal 1970-an, ketika Richard Nixon menghentikan sistem <em>fixed rate</em> dollar, muncul fenomena sistem &#8220;pasar bebas&#8221; untuk uang. Jadi baru awal tahun 1970-an, metamorfosis mata uang kertas terjadi. Semula mata uang kertas difungsikan sebagai alat tukar semata, kemudian dijadikan sebagai alat komoditi yang sangat berharga untuk diperdagangkan. Kondisi seperti inilah yang menumbuh suburkan para spekulan dunia bermain kurs mata uang.</p>
<p>Dengan kejadian tersebut, aksi spekulan semakin menggila dan merobohkan bangunan ekonomi sebuah negara. Bayangkan saja, semenjak tahun 1970-an aksi spekulasi omsetnya sudah mencapai sekitar 15 milliar US Dollar. Pada periode 1980-an, saat kontrol mulai mengendor, omset tersebut meningkat empat kali lipat menjadi 60 milliar US Dollar. Dan sekarang, ketika pasar bebas semakin liberal, omset para spekulan diperkirakan mencapai 1,3 triliun US Dollar, alias melonjak lebih dari 20 kali.</p>
<p>Masih ingat dalam benak kita, krisis tahun1997-1998 yang menghancurkan perekonomian Indonesia. Banyak investor domestik pada panik dan trauma akan kejadian tersebut. Tetapi hal ini beda dengan yang dialami George Soros, pemilik Quantum Fund tersebut, dia justru meraup keuntungan besar sekali dari aksi spekulasi di pasar valas. Seorang spekulan kelas kakap yang meraup keuntungan miliaran dollar dari gerak naik-turunnya kurs mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p><strong>Perampokan</strong></p>
<p>Biasanya, sebuah negara mendapatkan pendanaan salah satunya dari memungut pajak dari rakyatnya. Namun bagi negara super power mereka memungut pajak dari negara-negara lainnya. Itulah berabad-abad yang lalu dikerjakan oleh Imperium Yunani, Romawi, bahkan Inggris Raya. Umumnya negara-negara lain tersebut menyerahkan upeti dalam bentuk emas dan perak. Dalam perjalannya, praktek ini semakin bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih canggih lagi.</p>
<p>Namun, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat pada abad ke-20 bisa memajaki negara-negara lain di dunia secara tidak langsung, melalui beban inflasi penciptaan mata uang dollar yang tidak di <em>backed</em> dengan emas. Mata uang dollar yang terdistribusi secara luas menempatkan Amerika pada tempat istimewa. Negara-negara lain harus berkeringat menyerahkan hasil buminya berupa minyak, rotan, kayu, emas, dll. Sementara sang super power cukup menukarkannya dengan uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dengan nilai instrinsik yang tidak sebanding.</p>
<p>Resiko terjadinya inflasi karena pencetakan mata uang kertas (<em>fiat money</em>) yang melampaui batas, bisa dialihkan oleh Amerika ke beberapa negara yang lain. Caranya dengan memaksa negara-negara tersebut menggunakan mata uang dollar dalam setiap transaksinya serta menyimpannya dalam bentuk devisa negara. Dengan licik inflasi akan beralih dari Amerika ke negara-negara pengguna dollar Amerika.</p>
<p>Bayangkan saja, misal masyarakat Indonesia dengan susah payah mengelola minyak dan hasil bumi. Tenaga, waktu, pikiran, dibawah terik panasnya matahari, banting tulang semua sudah dicurahkan dalam rangka mengolah hasil bumi tersebut. Ternyata setelah semua berhasil dipanen/diolah, harus ditukarkan dengan beberapa lembar mata uang dollar Amerika. Apakah sebanding ? mata uang US $1000 yang sebenarnya harganya cuma 4 sen (mungkin cuma sekitar 400 rupiah) ditukar dengan beras ber ton-ton, minyak berjuta-juta barel, hasil hutan beberapa hektar, gas alam yang sangat banyak sekali.</p>
<p>Minyak bumi, gas alam, kerajinan, hasil hutan, ikan, bahan-bahan mentah di ekspor ke Amerika, dan ditukar oleh Amerika cuma dengan beberapa lembar kertas bertuliskan US $. Apakah sebanding ?, Apakah adil ?. Fenomena tersebut, bukannya berbicara sebanding atau tidak sebanding tukar-menukarnya, tetapi hal ini sudah merupakan perampokan besar-besaran abad ini. Perampokan yang dilakukan negara super power terhadap negara lain yang mengatasnamakan sistem mata uang kertas (<em>fiat money</em>). Jadi semakin banyak bangsa ini memegang dan menyimpan dollar Amerika, maka perampokan juga semakin merajalela di negeri ini.</p>
<p><strong>Kepercayaan Semu</strong></p>
<p>Ketika muncul sebuah pertanyaaan, &#8220;Apa bedanya mata uang Rupiah dengan mata uang pada permainan monopoli ?&#8221;. Secara fisik tidak ada bedanya, mata uang rupiah ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Sedangkan mata uang pada permainan monopoli juga sama, ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Kalau memang secara fisik sama dan hampir serupa, lantas kenapa mata uang rupiah berharga dan bisa digunakan untuk transaksi jual beli, sedangkan mata uang monopoli tidak berharga sama sekali . Apa yang sebenarnya terjadi ?.</p>
<p>Jika dikaji lebih mendalam lagi, sebenarnya semua mata uang kertas (<em>fiat money</em>) tidak ada harganya, tidak jauh berbeda dengan uang-uangan pada permainan monopoli. Cuma pada kasus mata uang kertas (<em>fiat money</em>), setiap masyarakat dipaksa oleh kebijakan pemerintah melalui sebuah undang-undang untuk mau menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p>Agar selembar mata uang kertas (<em>fiat money</em>) tersebut seolah-olah berharga, anda selaku masyarakat dipaksa untuk menerimanya. Pemerintah melarang siapa pun untuk menerbitkan dan mencetak uang kertas. Siapa saja yang berani mencetak uang kertas (selain bank sentral) maka akan diancam penjara bahkan dihukum mati. Sebagai masyarakat harus menerima kebijakan ini <em>taken for granted</em>, tidak boleh ada protes, demo, dan perlawanan dalam bentuk apapun. Pokoknya masyarakat harus menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>) ini. Titik !.</p>
<p>Inilah paksaan dari setiap Bank sentral di setiap negara kepada rakyatnya. Dikemudian hari menimbulkan kebodohan warganya untuk mau menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>) yang sebenarnya adalah mata uang bohong-bohongan. Inilah gambaran betapa arogannya dan otoriternya pemerintah melalui Bank sentral kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan &#8220;kepercayaan kepada mata uang kertas&#8221; [].</p>
<p><strong><em>Taufik Hidayat, SEI</em></strong><em> adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara</em>.</p>
<p><strong>Referensi </strong></p>
<ol>
<li>Muhaimin Iqbal, Dinar The Real Money, Gema Insani,      Jakarta, 2009</li>
<li>Nofie Iman, Investasi Emas Investasi Bijak di Masa      Krisis, Daras Books, Jakarta, 2009</li>
<li>Indra Ismawan, Warren Buffet Takutlah Saat Orang Lain      Serakah, Serakahlah Saat Orang Lain Takut, Media Pressindo, Yogyakarta,      2009</li>
<li>Dinar Emas Solusi Krisis Moneter, Pirac, SEM Institute,      INFID, Jakarta, 2001</li>
<li>M Luthfi Hamidi, Gold Dinar Sistem Moneter Global yang      Stabil dan Berkeadilan, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2007</li>
<li>Muhammad Ma&#8217;ruf, Tsunami Finansial, Hikmah, Jakarta,      2009</li>
<li>Anonim, Uang Kertas VS Dinar dan Dirham Islam, PTI,      Jakarta, 2009</li>
</ol>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/" title="Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar">Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/bukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham/" title="Bukti Kejahatan Korporasi Asing Berkedok HAM">Bukti Kejahatan Korporasi Asing Berkedok HAM</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/" title="Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)">Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/membongkar-kerusakan-teori-inflasi-moderat/" title="Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat">Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/25/memprihatinkan-spekulasi-di-lantai-bursa-indonesia-meningkat-13888/" title="Memprihatinkan Spekulasi  di Lantai Bursa Indonesia Meningkat 138,88% ">Memprihatinkan Spekulasi  di Lantai Bursa Indonesia Meningkat 138,88% </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/" title="Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam">Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F10%2F11%2Fproblem-mata-uang-kertas-fiat-money%2F&amp;linkname=Problem%20Mata%20Uang%20Kertas%20%28Fiat%20Money%29"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 01:22:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Dinar]]></category>
		<category><![CDATA[fiat money]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik Hidayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2542</guid>
		<description><![CDATA[Sejak jaman dahulu kala, emas merupakan barang yang sangat berharga. Nilainya tidak pernah turun dan cenderung stabil terhadap barang/aset. Hal ini berbeda dengan nilai mata uang berbasis kertas belaka atau fiat money seperti Rupiah dan Dollar. Berikut ini pendapat beberapa tokoh Barat tentang mata uang dinar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh : <b>Taufik Hidayat, SEI<b /></b></i></p>
<p>Sejak jaman dahulu kala, emas merupakan barang yang sangat berharga. Nilainya tidak pernah turun dan cenderung stabil terhadap barang/aset. Bahkan emas dianggap sebagai lambang kemegahan, kekuasaan, dan kewibawaan sebagai seorang raja/ pemimpin. Itulah sebabnya sejak jaman Nabi Sulaiman as hingga sekarang, emas tetap diburu dan disenangi banyak orang.<br />
Gambaran di atas bertolak belakang dengan realitas mata uang kertas (<i>fiat money</i>). Penerimaan masyarakat terhadap mata uang kertas sebenarnya bukanlah karena senang menerima keberadaannya, melainkan karena paksaan dan doktrin menyesatkan dari kebijakan pemerintah. Masyarakat jika menyadari makna uang kertas yang sebenarnya, pasti akan membuang uang kertas tersebut di tong sampah bak seperti kotoran yang tidak ada harganya.<br />
Dalam perkembangan terbaru, sudah banyak analisis dan teori-teori yang mulai mempertanyakan keampuhan mata uang kertas. Dari berbagai pengalaman krisis dunia, mata uang <i>fiat money</i> tidak berdaya menyelamatkan kekayaan/aset umat manusia. Masyarakat dunia internasional pun mulai berangsur-angsur meninggalkan US dollar, Yen, Poundsterling dll. Mata uang dinar pun mulai jadi buah bibir dikalangan para tokoh ekonomi sebagai alternatif masa depan.<br />
<b>Pendapat Ekonom Barat</b><br />
Dengan runtuhnya rezim mata uang kertas US dollar yang mulai konspirasinya semenjak kejadian di Bretton Woods 1944 dilanjutkan dengan keputusan Prsiden Nixon tahun 1970an, banyak orang mulai berpikir alternatif mencari mata uang yang aman dan stabil. Orang mulai meninggalkan US dollar yang terbukti semakin hancur nilainya dikarenakan krisis ekonomi. Seperti ungkapan Warren Buffet di CNBC tanggal 22 agustus 2008 &#8220;Perekonomian Amerika Serikat akan terus memburuk dan menuju resesi&#8221;. Sebaliknya, dinar malah menunjukkan prestasi yang gemilang dengan semakin menguat nilainya dari tahun ke tahun terhadap semua mata <i>fiat money</i>.<br />
<b>Para pecinta emas (<i>goldbugs</i>)</b> sangat menyakini akan kejatuhan dollar Amerika di masa mendatang. Bahkan tinggal menghitung jam saja alias tidak lama lagi. Kalau nilai dollar jatuh, mata uang kebangggan Amerika ini akan menjadi lembaran kertas tidak berharga. Di titik itulah emas akan semakin membumbung tinggi harganya. Bahkan ketika potensi imbalan (<i>return</i>) berinvestasi dalam saham atau obligasi tidak lagi menarik dan dianggap tidak mampu mengkompensasi resiko yang ada, maka investor akan mengalihkan dananya ke dalam aset riil, seperti logam mulia atau properti yang dianggap lebih layak dan aman (<i>secure</i>).<br />
Hal ini sesuai pernyataan Alan Greenspan (mantan <i>Chairman the Fed</i>), <i>&#8220;Emas masih menjadi bentuk utama pembayaran di dunia. Dalam kondisi ekstrem, tidak ada yang mau menerima uang fiat. Tapi emas selalu diterima&#8221;</i>. Hal senada juga diungkapkan Jerome F. Smith, dia mengatakan <i>&#8220;Semakin sedikit orang yang percaya pada kertas sebagai media penyimpanan nilai, maka harga emas akan terus melonjak&#8221;</i>.<br />
Secara tegas, kerapuhan uang kertas serta kuatnya emas (Dinar) sebagai mata uang diungkapkan oleh John Naisbitt, yang di dunia barat dianggap sebagai &#8216;dewa&#8217; nya ekonomi modern. Dia menyimpulkan bahwa monopoli terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoli uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. Masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat (benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik).<br />
Peter Bernstein seorang pakar keuangan terkemuka dunia, pernah mengatakan secara terbuka bahwa, <i>&#8220;Gold is the ultimate certainly and escape from risk&#8221;</i>. Ketika semua mata uang kertas berjatuhan, emas akan menunjukkan kesaktiannya. Ketika <i>fiat money</i> satu per satu berjatuhan, emas (dinar) menunjukkan nilai yang stabil dan cenderung menguat terhadap mata uang kertas. Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Jerome F Smith <i>&#8220;As fewer and fewer people have confidence in paper as store of value, the price of gold will continue to rise&#8221;</i>.<br />
Bahkan prospek kegemilangan dinar untuk menggantikan fiat money sudah nampak pada ketahannya terhadap krisis keuangan yang terjadi berkali-kali. Seolah-olah dinar adalah mata uang untuk sampai akhir hayat hidup umat manusia. James Blakely mengungkapkan sebuah keunggulan dinar dengan pernyataan <i>&#8220;Gold is forever. It is beautiful, useful, and never wears out. Small wonder that gold has been prized over all else, in all ages, as a store of value that will survive the travails of live and the ravages of time&#8221;</i>.<br />
Fakta menunjukkan bahwa mata uang kertas (<i>fiat money</i>) sudah tidak bisa dipertahankan. Bahkan kecenderungan setiap tahun kehilangan nilainya dan penurunan daya beli terutama dibandingkan dengan emas (Dinar). Sinyal-sinyal tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa, dari mulai konspirasi perang di Afganistan, perang Irak, badai Katrina dan sejumlah bencana lainnya, skandal korporat seperti Enron hingga Bear Stearns atau Lehman Brothers, sampai krisis kredit perumahan (<i>subprime mortgage</i>), ini semua telah membuka pintu gerbang kebangkrutan dollar Amerika.<br />
<b>REFERENSI</b><br />
Muhaimin Iqbal, <i>Dinar The Real Money</i>, Gema Insani, Jakarta, 2009<br />
Nofie Iman, <i>Investasi Emas Investasi Bijak di Masa Krisis</i>, Daras Books, Jakarta, 2009<br />
William Tanuwidjaja, <i>Cerdas Investasi Emas</i>, Media Pressindo, Yogyakarta, 2009<br />
Indra Ismawan, <i>Warren Buffet Takutlah Saat Orang Lain Serakah, Serakahlah Saat</i><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/" title="Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)">Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/bukti-kejahatan-korporasi-asing-berkedok-ham/" title="Bukti Kejahatan Korporasi Asing Berkedok HAM">Bukti Kejahatan Korporasi Asing Berkedok HAM</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/15/internastional-conference-of-islamic-economic-system-dinar-will-be-back/" title="Internastional Conference of Islamic Economic System: DINAR WILL BE BACK">Internastional Conference of Islamic Economic System: DINAR WILL BE BACK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/" title="Rupiah Melemah, Dinar Solusinya">Rupiah Melemah, Dinar Solusinya</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/10/bagaimana-teknik-konversi-rupiah-ke-dinar-dirham/" title="Bagaimana Teknik Konversi Rupiah ke Dinar / Dirham?">Bagaimana Teknik Konversi Rupiah ke Dinar / Dirham?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/28/tantangan-dinarisasi/" title="Tantangan Dinarisasi">Tantangan Dinarisasi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/26/sistem-dinar-emas-solusi-untuk-perbankan-syariah/" title="Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah">Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/04/27/sistem-moneter-islam-solusi-atas-kerusakan-moneter-dunia/" title="Sistem Moneter Islam Solusi atas Kerusakan Moneter Dunia">Sistem Moneter Islam Solusi atas Kerusakan Moneter Dunia</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F24%2Fpendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar%2F&amp;linkname=Pendapat%20Tokoh-Tokoh%20Barat%20terhadap%20Keunggulan%20Dinar"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 23:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANALISIS]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Paradoks Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengangguran]]></category>
		<category><![CDATA[Resesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2540</guid>
		<description><![CDATA[Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi. Namun di tengah deklarasi tersebut terdapat paradoks, yakni semakin bertambahnya jumlah pengangguran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi atau mungkin akan mengakhri masa ekonomi suram.</p>
<p>Di Asia, ADB meramalkan perekonomian negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonominya akan memimpin pemulihan ekonomi global. Di Amerika, gubernur bank sentral AS, The Fed, Ben Bernake mendeklarasikan kejatuhan ekonomi AS segera berakhir. Sedangkan di Eropa, gubernur bank sentral Inggris, BoE (Bank of England), Mervyn King minggu lalu menyatakan Inggris telah bergabung dengan Jerman dan Prancis dalam barisan negara yang keluar dari resesi.</p>
<p><b>Paradoks Krisis</b></p>
<p>Harian Inggris The Independent (20/9) menurunkan sebuah laporan tentang paradoks ekonomi yang mengiringi pemulihan ekonomi. Meski berbagai negara besar telah menyatakan sudah keluar dari resesi atau akan berhenti dari kejatuhan ekonomi, pada kenyataannya negara-negara tersebut menghadapi masalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran.</p>
<p>Di Inggris, jumlah pengangguran bertambah 2,5 juta orang dalam 3 bulan hingga Juli. Ini merupakan level tertinggi sejak tahun 1995. </p>
<p>Posisi angka pengangguran di Inggris sendiri 7,9% masih di bawah angka pengangguran rata-rata Uni Eropa, OECD, dan G7. Sementara Amerika Serikat dan Prancis telah menembus tingkat pengangguran 10%. Negara lain seperti Irlandia angka pengangguran mencapai 12%.</p>
<p>OECD, organisasi yang menghimpun negara-negara industri minggu lalu melaporkan akibat pelambatan ekonomi global di seluruh dunia telah kehilangan 25 juta lapangan kerja. Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria menyatakan pengangguran akan tetap bertambah pada tahun depan.</p>
<p>Ketika bisnis mulai tumbuh akibat dorongan permintaan domestik ataupun pasar internasional yang mulai menaik, tidak otomatis lapangan kerja bertambah dalam sebuah perusahaan sebanyak lapangan kerja yang hilang sebelumnya.</p>
<p>Di sisi lain <i>bailout</i> dan stimulus fiskal yang dijalankan sebuah negara untuk mendorong permintaan dan pertumbuhan ekonomi domestiknya harus dibiayai dengan hutang dengan kompensasi bunga. Dalam jangka pendek dan jangka panjang langkah ini menimbulkan beban keuangan pemerintah yang cukup berat dan lagi-lagi harus ditanggung rakyat negara bersangkutan. Ini juga sebuah paradoks.</p>
<p>Hal ini merefleksikan: <i>&#8220;Jika resesi (akan) berlalu dengan pemulihan di sisi permintaan (domestik) dan laju pertumbuhan telah beranjak dari negatif ke positif, maka tidak otomatis krisis pasti akan berakhir.&#8221;</i> Dengan kata lain, <i>&#8220;jangan tertipu oleh gejala-gejala di permukaan&#8221;.</i></p>
<p>Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak memecahkan masalah pengangguran. Permintaan memang mulai pulih tetapi permintaan tersebut didorong oleh konsumsi yang dibiayai hutang. Hal ini berbeda jika permintaan lahir dari kemampuan finansial mandiri.</p>
<p>Ibarat pasien yang sedang sakit, negara-negara di dunia saat ini memfokuskan perhatiannya pada gejala-gejala sakit saja. Mereka hanya memperhatikan bagaimana caranya keluar dari krisis atau resesi dengan mendorong permintaan dan pertumbuhan. </p>
<p>Jika ekonomi mulai tumbuh dan terkatagori keluar dari resesi, maka perekonomian negara tersebut dianggap telah sembuh dari sakitnya. Padahal resesi hanyalah gejala yang tidak muncul kecuali ada problem sistemik di dalamnya. Tidak aneh karena salah diagnosis, krisis yang terjadi datang secara berulang-ulang, dengan rentang waktu yang lebih pendek dan konskwensi yang lebih berat. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/29/out-put-jepang-meningkat-pengangguran-juga-meningkat/" title="Out Put Jepang Meningkat Pengangguran Juga Meningkat">Out Put Jepang Meningkat Pengangguran Juga Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/resesi-sebabkan-57-juta-warga-as-di-phk/" title="Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK">Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/15/jerman-alami-defisit-dan-pertumbuhan-terburuk-paska-perang/" title="Jerman Alami Defisit dan Pertumbuhan Terburuk Paska Perang">Jerman Alami Defisit dan Pertumbuhan Terburuk Paska Perang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/10/tidak-ada-negara-yang-lolos-dari-krisis/" title="Tidak Ada Negara yang Lolos Dari Krisis">Tidak Ada Negara yang Lolos Dari Krisis</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/ekonomi-dunia-tempati-posisi-terburuk-sejak-pd-ii/" title="Ekonomi Dunia Tempati Posisi Terburuk Sejak PD II">Ekonomi Dunia Tempati Posisi Terburuk Sejak PD II</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/roubini-resesi-bisa-berlanjut-hingga-akhir-2010/" title="Roubini: Resesi Bisa Berlanjut Hingga Akhir 2010">Roubini: Resesi Bisa Berlanjut Hingga Akhir 2010</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/terjerumus-krisis-defisit-transaksi-berjalan-jepan-capai-rekor-terburuk/" title="Terjerumus Krisis, Defisit Transaksi Berjalan Jepang Capai Rekor Terburuk">Terjerumus Krisis, Defisit Transaksi Berjalan Jepang Capai Rekor Terburuk</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/amerika-semakin-suram/" title="Amerika Semakin Suram">Amerika Semakin Suram</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/06/apakah-krisis-saat-ini-lebih-hebat-dibanding-great-depression-1929/" title="Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?">Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/kontraksi-62-ekonomi-as-semakin-terpuruk/" title="Ekonomi AS Menyusut 6,2%">Ekonomi AS Menyusut 6,2%</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F24%2Fparadoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat%2F&amp;linkname=Paradoks%20Ekonomi%20%3A%20Resesi%20Berakhir%20Pengangguran%20Meningkat"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADB: Asia Memimpin Pemulihan Ekonomi Dunia</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 06:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[ADB]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Pemulihan Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2538</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rilis berita ADB yang diterima Jurnal Ekonomi Ideologis kemarin (22/9), ADB memprediksi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global. Hal ini tertuang dalam update Asian Development Outlook (ADO) 2009.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Dalam rilis berita ADB yang diterima Jurnal Ekonomi Ideologis kemarin (22/9), ADB memprediksi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global. Hal ini tertuang dalam update Asian Development Outlook (ADO) 2009.</p>
<p>Kepala ahli ekonomi ADB, Jong-Wha Lee menyatakan ketahanan ekonomi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global di tengah situasi perekonomian dunia yang masih krisis. </p>
<p>Dalam Asian Development Outlook 2009, perekonomian Asia diprediksi tumbuh 3,9% dari perkiraan semula 3,4% pada saat ADO diril bulan Maret lalu. Untuk tahun 2010, ADB juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan Asia dari 6% menjadi 6,4%.</p>
<p>Asia Selatan dan Asia Timur memimpin laju pertumbuhan di Asia. Menurut ADB kedua kawasan tersebut tumbuh 5,6% dan 4,4% pada tahun ini dari perkiraan semula 4,8% dan 3,6%. India dan China tetap menjadi pionir penggerak pertumbuhan di kawasan ini, yakni 6% dan 8,2%.</p>
<p>Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara diturunkan dari 0,7% menjadi 0,1%. Hal ini didorong oleh penurunan perekonomian Malaysia dan Thailand.</p>
<p>Sedangkan proyeksi pertumbuhan Asia Tengah anjlok dari 3,9% menjadi 0,5%. Hal ini disebabkan jatuhnya harga-harga komoditas primer yang menjadi andalan ekspor negara-negara Asia Tengah. </p>
<p>Terhadap semakin positifnya perekonomian Asia terkini, Jong-Wha Lee memperingatkan agar negara-negara Asia jangan berpuas diri dengan kondisi ekonomi yang mereka capai. </p>
<p>Memang jika ditinjau dari besaran angka makro ekonomi semata, negara-negara Asia di barisan terdepan jauh meninggalkan negara-negara Barat. Tapi harus kita pahami perekonomian yang tumbuh, secara internal belum tentu dapat memecahkan permasalahan ekonomi negara yang bersangkutan. Bahkan seringkali pertumbuhan menghasilkan berbagai problem.</p>
<p>Memimpin pemulihan ekonomi global tidak berarti Asia memimpin ekonomi dunia. Ketergantungan Asia terhadap kawasan lain khususnya Amerika masih cukup tinggi. Asia tetap menjadi subordinasi ekonomi Barat selama kawasan ini masih menjadi bagian dari Kapitalisme Global. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/10/adb-kerugian-dunia-akibat-krisis-50-trilyun-dollar/" title="ADB: Kerugian Dunia Akibat Krisis 50 trilyun Dollar">ADB: Kerugian Dunia Akibat Krisis 50 trilyun Dollar</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F23%2Fadb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia%2F&amp;linkname=ADB%3A%20Asia%20Memimpin%20Pemulihan%20Ekonomi%20Dunia"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Hari Kemenangan, Telah Satu Koma Tiga Juta Rakyat Irak Dibantai Amerika</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 08:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Imperialis]]></category>
		<category><![CDATA[Irak]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2536</guid>
		<description><![CDATA[Sejak invasi Amerika Serikat ke Irak sudah 1.339.771 umat manusia yang dibantai  (justforeignpolicy.org). ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Sejak invasi Amerika Serikat ke Irak sudah 1.339.771 umat manusia yang dibantai  (justforeignpolicy.org).</i> </p>
<p><i>Oleh: <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Rakyat Irak adalah manusia sebagaimana manusia lainnya yang memiliki hak fundamental untuk hidup. Mereka bukan binatang dan binatang pun tidak boleh dibantai.</p>
<p>Hingga kini tidak ada satu negara pun termasuk badan dunia seperti PBB yang memandang AS sebagai penjahat perang dan negara teroris, apalagi melawannya dengan mengangkat senjata. </p>
<p>Logika-logika berpikir politik internasional pun menjadi jungkir balik. Mengapa peradaban modern melahirkan pembantaian demi pembantaian?</p>
<p>Yang kita ingat ketika Amerika memaksakan diri menginvasi Irak tanpa legalitas perang adalah untuk mencari senjata pemusnah massal dan memerangi rezim pro teroris. Ternyata tidak ditemukan bukti senjata pemusnah massal dan tidak ada pula kaitan rezim Saddam Husein dengan al-Qaidah.</p>
<p>Yang kita dengar AS datang untuk membebaskan rakyat Irak dari kediktatoran rezim Saddam Husein dan membangun Demokrasi yang menjunjung tinggi harkat manusia. Tetapi yang kita ketahui AS tidak sekedar negara diktator terhadap negara lainnya melainkan negara imperialis sejati yang tanpa sungkan membunuh ratusan hingga ribuan nyawa dalam sekejap. Demokrasi telah menjadi alat AS untuk menjajah dunia dan merampok kekayaan minyak sebuah negara berdaulat.</p>
<p>Peradaban modern begitu ganas bagi yang tidak memiliki kekuatan. Karena yang lemah tersebut seperti buih di lautan atau seperti hidangan di atas meja makan yang menjadi santapan manusia serakah. </p>
<p>Keganasan peradaban modern disebabkan oleh nilai-nilai sekuler yang menjadi paradigma berpikir para pemimpin dunia. Mereka tidak takut terhadap Tuhan, bahkan kadang-kadang Tuhan pun mereka anggap tidak ada. Maka wajar mereka tidak memiliki rasa takut terhadap umat manusia yang mereka zalimi.</p>
<p>Keganasan peradaban modern juga disebabkan oleh dominasi ideologi Kapitalisme atas dunia. Ideologi ini adalah ideologi yang didorong oleh motif keserakahan dan ketamakan. Karenanya, ideologi ini menjadikan imperialisme atau penjajahan sebagai metode untuk memajukan dan melestarikan peradaban modern.</p>
<p>Lihatlah bagaimana krisis finansial global telah memukul AS yang oleh para pakar ekonomi dunia disebabkan oleh keserakahan pemodal di sektor keuangan. Lihatlah bagaimana keserakahan elit penentu kebijakan Amerika telah meluluhlantakkan negeri Irak dan Afghanistan.</p>
<p>Apakah dunia masih dapat disebut beradab jika tidak dapat menghukum kejahatan perang ini dan mencegahnya di masa depan? Apakah sebuah negara dapat disebut beradab jika diam atas kejahatan berat ini bahkan menganggap AS sebagai negara sahabat atau negara mitra? </p>
<p>Alasan-alasan ini sudah cukup untuk mendongkel Kapitalisme dari dominasi dunia. Bagi dunia Islam, tidak ada lagi argumentasi untuk mempertahankan nilai-nilai dan sistem yang berkarakter imperialis kecuali kembali pada sistem Islam itu sendiri. </p>
<p>Tidak pantas hari kemenangan dirayakan jika masih terdapat kaum Muslimin yang menderita akibat penjajahan seperti di Irak, Afghanistan, Palestina, Xinjiang, Somalia, Sudan, Pattani, Moro, Kashmir, India, dan Pakistan. Begitu pula tidak pantas jika problematika kaum Muslim belum dapat dipecahkan di mana sampai saat ini ratusan juta menderita kemiskinan dan kemelaratan.</p>
<p>Satu koma tiga juta rakyat Irak yang dibantai jangan lagi dibiarkan bertambah. Sudah saatnya hari kemenangan bagi umat Islam direngkuh dengat tegaknya Khilafah dan Syariah Islam. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/resesi-sebabkan-57-juta-warga-as-di-phk/" title="Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK">Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/taliban-atau-amerika-yang-menjadi-ancaman/" title="Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?">Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/20/amerika-keluarkan-jurus-cetak-dollar/" title="Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar">Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/19/amerika-serba-defisit/" title="Amerika Serba Defisit">Amerika Serba Defisit</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/dunbar-ortizm-amerika-dirancang-sebagai-negara-penjajah/" title="Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah">Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/amerika-semakin-suram/" title="Amerika Semakin Suram">Amerika Semakin Suram</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/makin-jelas-dukungan-amerika-terhadap-penjajahan-israel/" title="Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel">Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/kontraksi-62-ekonomi-as-semakin-terpuruk/" title="Ekonomi AS Menyusut 6,2%">Ekonomi AS Menyusut 6,2%</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/27/alamak-defisit-apbn-as-membengkak-us-175-trilyun/" title="Alamak! Defisit APBN AS membengkak US$ 1,75 trilyun">Alamak! Defisit APBN AS membengkak US$ 1,75 trilyun</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F22%2Fdi-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika%2F&amp;linkname=Di%20Hari%20Kemenangan%2C%20Telah%20Satu%20Koma%20Tiga%20Juta%20Rakyat%20Irak%20Dibantai%20Amerika"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Idul Fitri 1430 H</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 11:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Mohon Maaf Lahir&#038;Batin.
Taqabalallahu Minna Waminkum.
&#8220;Semoga umat kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah.&#8221;
Random Posts

Solusi Islam atas Masalah Ketenagakerjaan
APBN Perubahan 2008
Bank Dunia Senang yang Paling Neolib Menang
Telaah Sekilas tentang Asuransi
Buku: Sebab-sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam
Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale
Menanggulangi  Legalisasi Bisnis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS mengucapkan <b>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H</b><br />
Mohon Maaf Lahir&#038;Batin.<br />
Taqabalallahu Minna Waminkum.<br />
<i>&#8220;Semoga umat kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah.&#8221;</i><br />
<h3>Random Posts</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/23/karena-politik-kekuasaan-sby-jk-tidak-harmonis/" title="Karena Politik Kekuasaan SBY-JK tidak Harmonis ">Karena Politik Kekuasaan SBY-JK tidak Harmonis </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/06/apakah-apec-akan-mampu-menanggulangi-krisis-global/" title="Apakah APEC Akan Mampu Menanggulangi Krisis Global?">Apakah APEC Akan Mampu Menanggulangi Krisis Global?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2006/09/01/politik-ekonomi-kebijakan-fiskal-islam/" title="Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam">Politik Ekonomi Kebijakan Fiskal Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/17/new-iraqi-dinar-investasi-atau-spekulasi/" title="New Iraqi Dinar: Investasi atau Spekulasi ?">New Iraqi Dinar: Investasi atau Spekulasi ?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/aqidah-islam-memancarkan-sistem-ekonomi/" title="Aqidah Islam Memancarkan Sistem Ekonomi">Aqidah Islam Memancarkan Sistem Ekonomi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/08/bagaimana-pandangan-hukum-islam-atas-subprime-mortgage/" title="Bagaimana Pandangan Hukum Islam atas Subprime Mortgage?">Bagaimana Pandangan Hukum Islam atas Subprime Mortgage?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/02/25/membangun-sistem-ekonomi-alternatif-paska-keruntuhan-kapitalisme/" title="Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Paska Keruntuhan Kapitalisme">Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Paska Keruntuhan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/26/hai-obama-amerika-tidak-akan-sembuh-dengan-retorika/" title="Hai Obama, Amerika tidak akan Sembuh dengan Retorika!">Hai Obama, Amerika tidak akan Sembuh dengan Retorika!</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/10/25/penerbitan-obligasi-negara-perangkap-kapitalisme/" title="Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme">Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F20%2Fselamat-idul-fitri-1430%2F&amp;linkname=Selamat%20Idul%20Fitri%201430%20H"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Disandera Kapitalisme Global</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 12:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2530</guid>
		<description><![CDATA[<img class="alignleft size-full wp-image-2532" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="SBY-okezone" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg" alt="SBY-okezone" width="80" height="80" />Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>EKONOMI: Kapitalisme Global</pre>
<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2532" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="SBY-okezone" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg" alt="SBY-okezone" width="250" height="250" /></a>Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, <strong><span style="color: #800000;">Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.</span></strong></p>
<p>Sebagaimana dipetik <a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/08/14/10172077/Ekonomi.Indonesia.Tak.Boleh.Tersandera.Kapitalisme.Global">Kompas.com (14/8)</a>, presiden mengatakan: <em>&#8220;Paradigma dan grand strategy pembangunan ekonomi seperti itulah yang mesti kita anut dan perkokoh. Intinya kita tidak boleh terjerat, menyerah, dan tersandera oleh kapitalisme global yang fundamental yang sering membawa ketidakadilan bagi kita semua.&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan presiden tersebut terasa sangat mempesona. Sepertinya rakyat memiliki seorang pemimpin yang berani melawan arus politik ekonomi global. Namun sayangnya, realitas paradigma dan <em>track record</em> kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan presiden SBY justru bertolakbelakang dengan ucapan-ucapannya.</p>
<p>Begitu pula, <em>track record</em> bagaimana SBY berhadapan dengan publik sudah diketahui umum bahwa ia merupakan orang yang gemar membangun citra dirinya dari pada bertindak sesuai ucapannya. Di bawah kepemimpinannya, birokrasi pusat hingga ke daerah lebih sibuk memoles &#8220;gincu&#8221; dalam bentuk iklan-iklan di media elektronik dan cetak dari pada menyelesaikan permasalahan negara dan masyarakat.</p>
<p>Sementara itu, realitas paradigma kebijakan pemerintah tetap setia pada liberalisme ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah justru membangun keterikatan dengan lembaga-lembaga global Kapitalisme seperti organisasi perdagangan bebas dunia (WTO), IMF, World Bank, dan ADB.</p>
<p>Satu contoh, betapa Indonesia terikat dengan Kapitalisme global adalah upaya pemerintah menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar internasional. Ini artinya pemerintah menyerahkan harga komoditas BBM (yang sebagian sumber dayanya ada di negeri sendiri) mengikuti turun naiknya harga minyak mentah yang ditentukan oleh para penjudi (spekulan) di lantai bursa dunia.</p>
<p>Ketika Mahkamah Konstitusi melarang pemerintah menetapkan harga BBM berdasarkan harga pasar internasional, pemerintah pun mengakalinya dengan mengubah istilahnya menjadi harga kekinian.</p>
<p>Sungguh kita mengetahui begitu beratnya dampak dari kenaikan harga BBM bagi masyarakat khususnya lapisan menengah ke bawah. Namun pemerintah tidak bergeming.</p>
<p>Inilah satu contoh negara kita dan pemimpin negeri ini telah mengikatkan tali Kapitalisme Global sehingga Indonesia tersendera. Dan untuk itu, penguasa negeri ini terus melakukan kebohongan publik dengan konsekwensi semakin langgengnya penjajahan Kapitalisme Global di Indonesia. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/kerusakan-sistem-barat-semakin-tidak-teratasi/" title="Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi">Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/barat-terjungkal-karena-ekonomi-non-riil/" title="Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil">Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/14/kapitalisme-sistem-yang-gagal/" title="Kapitalisme Sistem yang Gagal">Kapitalisme Sistem yang Gagal</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/07/neoliberalisme-dan-kebangkrutan-ideologi-kapitalisme/" title="Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme">Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/13/obama-loyalis-yahudi-dan-babak-baru-imperialisme-as/" title="Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS">Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/" title="Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale">Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F08%2F14%2Findonesia-disandera-kapitalisme-global%2F&amp;linkname=Indonesia%20Disandera%20Kapitalisme%20Global"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 06:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANALISIS]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Obligasi]]></category>
		<category><![CDATA[PLN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2522</guid>
		<description><![CDATA[Arus liberalisasi ekonomi yang didorong oleh pemerintah telah menimpa PLN. Langkah pemerintah "berlepas tangan" dan melakukan privatisasi terhadap PLN menyebabkan BUMN ini harus mencari sendiri sumber pendanaan. Salah satunya adalah dengan menarik hutang melalui obligasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>PLN merupakan badan usaha milik negara yang sejatinya didirikan untuk memberikan pelayanan listrik kepada seluruh warga negara. Karena itu pula, sudah seharusnya sumber daya yang diperlukan PLN untuk memberikan pelayanan tersebut harus disediakan dan diupayakan oleh negara. Termasuk dalam hal ini sumber pendanaan.</p>
<p>Namun, arus globalisasi dan neolibisasi yang dijalankan pemerintah khususnya sejak era reformasi telah membuat PLN kehilangan sumber-sumber pendanaan yang selama ini dibackup oleh negara. PLN kini harus mencari sendiri pembiayaan untuk pemeliharaan dan investasi pengembangan kelistrikan di Indonesia.</p>
<p>Konsekwensinya tentu saja PLN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih bersifat komersiil, di samping kekuatan PLN sendiri saat ini sudah dipecah-pecah dalam kerangka privatisasi. </p>
<p>Salah satu dampak terbesar dari &#8220;berlepas tangannya&#8221; pemerintah adalah PLN melakukan pembiayaan melalui hutang. </p>
<p>Seperti diberitakan Kompas hari ini (5/8/2009), PLN baru saja menerbitkan obligasi internasional senilai U$ 750 juta atau setara Rp 7,5 trilyun. Obligasi bertenor 10 tahun tersebut di pasar modal mengalami kelebihan permintaan sebanyak 11 kali lipat, yakni sebesar U$ 8,6 milyar. Obligasi PLN diminta  310 pembeli dari Asia, Amerika Serikat, dan Eropa.</p>
<p>Menyambut besarnya minat atas obligasi PLN, wakil direktur PLN Rudianto (4/8/2009) menyatakan optimis akan penerbitan kembali obligasi. Hal ini sangat memprihatinkan. Sebab, tidak sedikit beban bunga yang harus dibayar PLN mengingat imbal hasil yang dijanjikan mencapai 8,125 persen. </p>
<p>Kondisi beban keuangan PLN sendiri dari segi jumlah hutang tidak sedikit. Menurut laporan Kompas (5/8/2009), beban hutang yang ditanggung PLN hingga akhir tahun 2008 mencapai Rp 35 trilyun dalam mata uang dollar AS dan Rp 23 trilyun dalam Yen. Ditambah dengan hutang baru PLN senilai U$ 750 juta plus bunganya dan rencana penerbitan kembali obligasi, menjadikan BUMN ini terjerambat dalam lingkaran hutang.</p>
<p>PLN, sekarang dan ke depan akan selalu terlilit masalah hutang yang berdampak pada perubahan fungsi PLN itu sendiri. Para kreditor PLN sudah pasti menuntut PLN membayar hutang-hutangnya plus bunga tepat waktu sesuai jadwal. Kondisi ini menuntun PLN pada pelayanan yang bersifat komersial dengan mengutamakan pemasukan. Akibatnya, tarif listrik ke depan akan menjadi lebih mahal. </p>
<p>Masalah hutang PLN dan problem kelistrikan secara menyeluruh tidak dapat ditimpakan kepada BUMN ini. Sebab kondisi PLN sekarang erat kaitannya dengan grand design global yang dikawal IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan WTO. Lembaga-lembaga neoliberal ini selalu menyertakan syarat liberalisasi dan privatisasi sektor publik Indonesia agar pemerintah Indonesia mendapatkan pinjaman. Inilah penjajahan ekonomi terhadap negeri kita. </p>
<p>&#8220;Kata kunci&#8221; untuk melepaskan PLN dari jerat hutang dan mengembalikan fungsinya ada di tangan pemerintah. Pemerintah harus mengambilalih pemenuhan sumber daya yang dibutuhkan PLN. Memperkuat PLN dengan tidak memisahkan PLN dari sumber daya energi yang dimiliki Indonesia (migas, batubara, dll), produksi, dan distribusi listrik ke masyarakat. </p>
<p>Namun hal itu hanya akan tercapai jika negara kita mampu membebaskan diri dari cengkraman hutang dan pasar bebas dengan mengelola kekuatan dan potensi ekonomi berdasarkan syariah. (JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/jangan-tertipu-dengan-perhatian-imf-terhadap-negara-negara-miskin/" title="Jangan Tertipu dengan Perhatian IMF terhadap Negara-Negara Miskin">Jangan Tertipu dengan Perhatian IMF terhadap Negara-Negara Miskin</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/terbitkan-obligasi-us-3-m-hutang-indonesia-semakin-menggunung/" title="Terbitkan Obligasi US$ 3 m, Hutang Indonesia Semakin Menggunung">Terbitkan Obligasi US$ 3 m, Hutang Indonesia Semakin Menggunung</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/10/25/penerbitan-obligasi-negara-perangkap-kapitalisme/" title="Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme">Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F08%2F05%2Fpln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang%2F&amp;linkname=PLN%20Terjerambat%20dalam%20Jebakan%20Hutang"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 11:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[SISTEM EKONOMI SYARIAH]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[M. Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Moneter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2506</guid>
		<description><![CDATA[<img class="size-full wp-image-1380 alignnone" title="inflasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg" alt="inflasi" width="118" height="91" align="left" />Sebagaimana diketahui, banyak para ekonom, baik itu ekonom konvensional maupun Islam, mengatakan bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang harus atau wajib dipecahkan adalah persoalan inflasi. Tulisan ini dimaksudkan penulis sebagai kajian awal konsep inflasi dalam kerangka Daulah Khilafah. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>EKONOMI : Moneter</pre>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg"><img title="inflasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg" alt="inflasi" width="118" height="91" /></a></p>
<p><em>Oleh <strong>M. Hatta</strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>Sebagaimana diketahui, banyak para ekonom, baik itu ekonom konvensional maupun Islam, mengatakan bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang harus atau wajib dipecahkan adalah persoalan inflasi. Mereka semua memandang (dari segi dampak) bahwa inflasi sangat tidak baik bagi masyarakat, meskipun dalam hal tertentu mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda terutama dalam hal upaya penyelesaiannya.</p>
<p>Betapa pentingnya penyelesaian masalah inflasi bukanlah tanpa alasan. Betapa tidak, inflasi secara faktual sesungguhnya menggambarkan tingkat harga dari barang dan jasa yang sejatinya sering dibutuhkan oleh masyarakat kebanyatakan.</p>
<p>Dari segi urgensitas penyelesaiannya, sesungguhnya permasalahan inflasi tidaklah memandang siapa dan dari mana orangnya, apakah orang Islam atau bukan. Hal ini dikarenakan inflasi sejatinya adalah sebuah fenomena faktual dalam sebuah ekonomi. Namun, dalam dataran sebab dan bagaimana solusinya akan sangat berbeda bagaimana antara orang (ekonom) Islam dan konvensional dalam memandangnya.</p>
<p>Bagaimana dari segi pengukurannya atau perhitungannya, apakah juga terdapat perbedaan antara ekonom Islam dan konvensional? Dalam konsep sistem ekonomi konvensional, inflasi diukur dan diamati sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai cara. Istilah yang terlahirpun bermacam-macam, ada inflasi inti, inflasi IHK, dan inflasi IHPB. Jenis barang dan jasa yang diukurpun juga dikelompokkan bermacam-macam, ada kelompok bahan makanan, sandang, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga. Begitu pula teknik dan metode yang digunakan untuk mengukur besaran inflasi yang terjadi juga bermacam-macam adanya. Bagaimana dalam konsep sistem ekonomi Islam?</p>
<p>Tulisan ini dimaksudkan penulis sebagai kajian awal konsep inflasi dalam kerangka Daulah Khilafah. Sebuah pemerintahan yang sudah pernah berkuasa kurang lebih tiga belas abad lamanya dan diprediksikan akan kembali memimpin dunia dalam waktu dekat ini.</p>
<p><strong>Urgensitas Penyelesaian Inflasi Dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p>Pentingnya persoalan inflasi diselesaikan menurut Islam dapat dimulai dari pandangan politik ekonomi Islam yang disampaikan oleh Taqiyuddin an Nabhani. Beliau mengatakan, Politik ekonomi Islam adalah menjamin terealisasinya pemenuhan semua kebutuhan primer (basic needs) setiap orang secara menyeluruh, berikut kemungkinan dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sabagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu (Islam).<sup>1</sup></p>
<p>Oleh karenanya, agar semua basic needs beserta sekunder dan tersiernya dapat terpenuhi, maka pemerintah (Khalifah) memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga tingkat harga barang dan jasa yang beredar sehingga berada dalam jangkauan masyarakat untuk membelinya.<sup>2</sup></p>
<p>Dalam kerangka menjaga tingkat harga inilah kemudian dibutuhkan sebuah pengamatan terhadap barang dan jasa yang beredar sehingga dapat diketahui perkembangan tingkat harga terkini.</p>
<p><strong>Menjernihkan Definisi dan Hakikat Persoalan Inflasi</strong></p>
<p><em><strong>Definisi inflasi</strong></em></p>
<p>Dalam mendefinisikan inflasi, ekonom konvensional memberikan definisi yang saling berbeda. Dari beberapa definisi yang ada, setidaknya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: pertama, definisi yang menggabungkan antara penyebab dengan fenomena inflasi itu sendiri. Kedua, definisi yang hanya sebatas memberikan definisi kepada fenomenanya saja.</p>
<p>Contoh dari definisi yang pertama adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ludwig von Mises (salah seorang ekonom mazhab Austria). Ia mengatakan Inflasi adalah “peningkatan jumlah uang dan uang kertas yang beredar serta kuantitas deposito bank yang dapat dicairkan.”<sup>3</sup></p>
<p>Aliminsyah dan Padji memberikan definisi inflasi sebagai berikut “suatu keadaan yang menunjukkan jumlah peredaran uang yang lebih banyak dari pada jumlah barang yang beredar, sehingga menimbulkan penurunan daya beli uang dan selanjutnya terjadi kenaikan harga yang menyolok”<sup>4</sup>.</p>
<p>Downes dan Elliot Goodman mengatakan, inflasi adalah kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi jika pembelanjaan bertambah dibandingkan dengan penawaran barang di pasar (dengan kata lain terlalu banyak uang yang memburu barang yang terlalu sedikit).<sup>5</sup></p>
<p>Higher prices:<strong> </strong>an increase in the supply of currency or credit relative to the availability of goods and services, resulting in higher prices and a decrease in the purchasing power of money.<sup>6</sup></p>
<p>A continuing rise in the general price level usu. Attributed to an increase in the volume of money and credit relative to available goods and services.<sup>7</sup></p>
<p>Adapun contoh dari definisi yang kedua misalnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Inflasi dalam <em>Dictionary of Economics </em>didefinisikan dengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu.<sup>8</sup></p>
<p>Samuelson dan Nordhaus dalam buku mereka <em>Macro Economics</em> mendefinisikan inflasi dengan cukup singkat yaitu kenaikan tingkat harga umum.<sup>9</sup></p>
<p>Bank Indonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus.<sup>10</sup></p>
<p>Badan kebijakan fiskal Departemen Keuangan mendefinisikan inflasi dengan sebuah proses kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan sebagai akibat adanya ketidakseimbangan (<em>excess demand</em>) dalam perekonomian.<sup>11</sup></p>
<p>Terjadinya perbedaan dalam mendefinisikan inflasi di atas dikarenakan sebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi berdasarkan sebab yang menimbulkan inflasi dan sebagian yang lain berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh inflasi.<sup>12</sup></p>
<p>Dari dua kelompok definisi di atas, penulis cenderung untuk sepakat dan menggunakan definisi inflasi dari kelompok yang kedua dengan menambahkan beberapa point. Mengapa kelompok yang kedua?</p>
<p>Pertama, harus kita pahami bahwa sebuah definisi adakalanya berasal dari sebuah konsep tentang nilai yang dalam perumusannya diharuskan merujuk kepada dalil-dalil syar&#8217;i dan adakalanya terkait dengan konsep yang murni berasal dari sebuah fakta.<sup>13</sup></p>
<p>Definisi inflasi sepenuhnya didasarkan pada penelaahan yang cermat (dan tepat) terhadap fakta fenomena perkembangan harga barang dan jasa. Dengan kata lain, definisi inflasi adalah berbicara fakta apa adanya (<em>das sein</em>), bukan berbicara apa yang seharusnya (<em>das sollen</em>).<sup>14</sup> Dalam hal ini, definisi inflasi kelompok yang ke pertama tidaklah menggambarkan fakta apa adanya.<sup>15</sup></p>
<p>Ini sama halnya ketika kita mendefinisikan tentang akal. Akal atau berpikir adalah proses pemindahan fakta melalui indera ke dalam otak disertai dengan informasi sebelumnya yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Definisi ini diperoleh dari fakta kegiatan berpikir manusia.<sup>16</sup> Metode telaah seperti inilah yang seharusnya juga diterapkan dalam mendefinisikan fakta tentang inflasi.</p>
<p>Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasi kelompok yang ke dua memasukkan unsur besaran jumlah uang beredar sehingga definisi tersebut tidak bersifat netral (mengikuti aliran moneteris). Dengan kata lain, ia hanya memuat salah satu dari penyebab terjadinya inflasi. Padahal secara faktual penyebab inflasi sangatlah beragam.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, Penulis mendefinisikan inflasi adalah sebagai suatu fakta (kejadian) yang menunjukkan telah terjadi kenaikan relatif harga barang dan jasa baik dalam satu jenis maupun secara umum (dalam banyak jenis), dimana kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya.</p>
<p><strong>Penjelasan definisi:</strong></p>
<p><strong>Sebagai suatu fakta</strong>, maksudnya adalah inflasi merupakan sebuah kejadian yang benar-benar terjadi.</p>
<p><strong>Kenaikan relatif,</strong> maksudnya adalah meskipun kenaikan dari harga barang dan jasa yang ada tidaklah sama atau dalam prosentase yang saling berbeda tetaplah dikatakan sebagai sebuah inflasi.</p>
<p><strong>Dalam satu satu jenis maupun secara umum, </strong>artinya dikatakan inflasi meskipun barang dan jasa yang mengalami kenaikan harganya hanya satu jenis.</p>
<p><strong>Kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya,</strong> maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa kenaikan harga barang yang terjadi dapat diketahui dari nilai sebuah mata uang ataupun dengan benda lainnya. Tidak semata-mata hanya dapat diketahui dari mata uang. Lebih dari itu, bagian dari definisi ini bukan bermaksud menunjukkan bahwa penyebab terjadinya inflasi hanya karena nilai uang yang turun atau banyaknya uang yang beredar. <strong>BERSAMBUNG</strong> [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]</p>
<p><span style="color: #800000;"><em><strong>M. Hatta</strong> adalah aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Sleman dan mahasiswa Pasca Sarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Yogyakarta Konsentrasi Ekonomi Islam.</em></span><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/membongkar-kerusakan-teori-inflasi-moderat/" title="Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat">Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/" title="Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam">Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/" title="Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)">Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/kebutuhan-khilafah-sangat-mendesak/" title="Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak ">Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/mengenal-apbn-khilafah/" title="Mengenal APBN Khilafah ">Mengenal APBN Khilafah </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/29/e-book-makna-kebangkrutan-amerika/" title="Free e-Book: Makna Kebangkrutan Amerika">Free e-Book: Makna Kebangkrutan Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/15/demokrasi-kapitalis-tidak-berkah-ekonomi-islam-khilafah-itu-berkah/" title="Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah">Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/sudan-membutuhkan-khilafah/" title="Sudan Membutuhkan Khilafah">Sudan Membutuhkan Khilafah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/01/%e2%80%98blame-the-victim%e2%80%99/" title="&#8220;Blame The Victim&#8221;">&#8220;Blame The Victim&#8221;</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F29%2Fmengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i%2F&amp;linkname=Mengkonstruksi%20Konsep%20Inflasi%20dalam%20Daulah%20Khilafah%20%28bagian%20I%29"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 15:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Privatisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2497</guid>
		<description><![CDATA[Membaca berita yang dilaporkan Detikcom (18/7/2009) dengan judul Pemerintah Minta Setoran Dividen BUMN Ditambah, seperti melihat pemerintah sedang melakukan “kekonyolan”. Betapa tidak, pada saat yang sama khususnya sepanjang pemerintahan neolib saat ini BUMN telah dibonsai sedemikian rupa melalui program privatisasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>EKONOMI : BUMN</pre>
<p><img src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=c66bc96cfbb312c7f2f284b99b5cedcd&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.detikfinance.com%2Fimages%2Fcontent%2F2009%2F07%2F18%2F4%2Fkantor-bumnjelas-4-dalam.jpg" alt="" /></p>
<p>Foto: Detikcom</p>
<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p>Membaca berita yang dilaporkan Detikcom (18/7/2009) dengan judul <strong><a title="http://www.detikfinance.com/read/2009/07/18/153938/1167667/4/pemerintah-minta-setoran-dividen-bumn-ditambah" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=116805095896&amp;h=d747871498fe39b54f6a1506e7ec9e64&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.detikfinance.com%2Fread%2F2009%2F07%2F18%2F153938%2F1167667%2F4%2Fpemerintah-minta-setoran-dividen-bumn-ditambah" target="_blank">Pemerintah Minta Setoran Dividen BUMN Ditambah</a></strong>, seperti melihat pemerintah sedang melakukan “kekonyolan”. Betapa tidak, pada saat yang sama khususnya sepanjang pemerintahan neolib saat ini BUMN telah dibonsai sedemikian rupa melalui program privatisasi.</p>
<p>Konsekwensi dari pembonsaian kepemilikan pemerintah pada BUMN mengakibatkan semakin menipisnya potensi penerimaan negara baik dari penerimaan langsung maupun dari dividen.</p>
<p>Privatisasi juga semakin melemahkan peran pemerintah dalam perekonomian yang selama ini didukung oleh keberadaan BUMN. Dengan lepasnya sejumlah BUMN Indonesia dan semakin tipisnya kepemilikan pemerintah pada sebagian BUMN, maka kemampuan pemerintah mengarahkan BUMN pada kepentingan nasional menjadi lebih sulit.</p>
<p>Sepanjang pemerintahan SBY-JK dalam lima tahun terakhir, privatisasi BUMN menjadi agenda utama pemerintah sebagai pra syarat diberikannya pinjaman oleh ADB dan Bank Dunia. Tahun 2007 Pemerintah merencanakan 15 BUMN diprivatisasi, sedangkan tahun 2008 BUMN yang hendak diprivatisasi mencapai 44. Namun akibat krisis keuangan global, agenda privatisasi tersebut tertunda. Sementara itu, <a title="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/obral-bumn-menanti-sby-boediono/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=116805095896&amp;h=b2940bbba2c1f513628dd19d8d629c1e&amp;url=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F11%2Fobral-bumn-menanti-sby-boediono%2F" target="_blank">obral BUMN menanti </a>pemerintahan baru ke depan yang kemungkinan dilanjutkan oleh SBY-Boediono.</p>
<p>Permintaan penambahan setoran dividen BUMN yang oleh Sekretaris Kementrian Negara BUMN, M Said Didu untuk menutupi lubang akibat penerimaan pajak yang tidak mencapai target pada tahun ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi pemerintah. Bahwa kebijakan pemerintah telah berjalan di atas “kekonyolan” tanpa berpikir panjang. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/obral-bumn-menanti-sby-boediono/" title="Obral BUMN Menanti SBY-Boediono">Obral BUMN Menanti SBY-Boediono</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/22/kuat-dugaan-privatisasi-untuk-pembiayaan-parpol/" title="Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol">Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/" title="Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale">Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/18/fakta-dan-kebohongan-privatisasi-di-indonesia/" title="Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia">Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/06/bom-privatisasi-indonesia-2008/" title="BOM Privatisasi Indonesia 2008 ">BOM Privatisasi Indonesia 2008 </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/bumn-diprivatisasi-lagi-pemerintah-harus-bertanggung-jawab/" title="BUMN Diprivatisasi lagi: Pemerintah Harus Bertanggung Jawab">BUMN Diprivatisasi lagi: Pemerintah Harus Bertanggung Jawab</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/yahudi-di-balik-pembelian-indosat/" title="Yahudi di Balik Pembelian Indosat">Yahudi di Balik Pembelian Indosat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F19%2Faneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen%2F&amp;linkname=Aneh%2C%20Bonsai%20BUMN%20tapi%20Berharap%20Tambah%20Dividen"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 15:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[AC Manullang]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ledakan Bom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa ledakan bom di Hotel J.W. Marriot dan Ritz-Carlton Jum’at pagi lalu, telah berkembang dengan cepat menjadi isu terorisme yang dikaitkan dengan Islam. Meski opini tersebut tidak langsung ditujukan kepada Islam, namun media lokal dan asing termasuk pemerintahan Barat telah menunjuk hidung Jema’ah Islamiyah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>NASIONAL: Ledakan Bom</pre>
<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p>Peristiwa ledakan bom di Hotel J.W. Marriot dan Ritz-Carlton Jum’at pagi lalu, telah berkembang dengan cepat menjadi isu terorisme yang dikaitkan dengan Islam. Meski opini tersebut tidak langsung ditujukan kepada Islam, namun media lokal dan asing termasuk pemerintahan Barat telah menunjuk hidung Jema’ah Islamiyah.</p>
<p>Presiden AS, Barack Obama misalnya, sebagaimana dikutip Antara News (17/7) menyebut langsung kelompok garis keras dan ekstrimis di balik serangan bom tersebut. Sebagaimana lazimnya opini yang berkembang, kelompok garis keras dan ekstrimis diidentikkan dengan kelompok-kelompok Islam yang menyerukan penegakkan Syariah.</p>
<p><a title="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/07/AC-Manullang-Inilahdotcom.jpg" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=116771355896&amp;h=c4693c24214343e22ec318149710bd40&amp;url=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2009%2F07%2FAC-Manullang-Inilahdotcom.jpg" target="_blank"><img src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=1bfeb64123f85bc25778e84267981510&amp;url=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2009%2F07%2FAC-Manullang-Inilahdotcom.jpg" alt="" /></a>Menurut pengamat intelejen AC Manullang dalam tulisannya di Seputar Indonesia (18/7), sesungguhnya Islam bukan teroris dan tidak pernah menjadi teroris. Hanya saja kelompok-kelompok tersebut memanfaatkan Islam untuk kepentingan mereka. Bukan hanya itu, isu-isu kelaparan dan kemiskinan pun juga mereka gunakan.</p>
<p>Dalam konteks ini, Manullang menekankan bahwa Indonesia berada dalam grand strategy global Amerika Serikat yang membawa agenda neoliberalisme dan neokapitalisme. Manullang mengingatkan, Indonesia merupakan negeri kaya yang menjadi rebutan negara lain termasuk Amerika. Di samping itu, Amerika juga memiliki masalah dengan Islam yang menjadi agama mayoritas di negeri ini.</p>
<p>Adalah harapan kepada pemerintah Indonesia untuk menyelidiki dan mengungkap dalang peledakan secara jernih, independen, dan tidak terpengaruh opini-opini negara asing dan media. Termasuk pemerintah harus peka terhadap adanya kelompok tertentu yang selalu memanfaatkan isu-isu yang berkaitan dengan Islam sebagai pembenar tindakan teror mereka.</p>
<p>Karena sesuatu hal yang tidak masuk akal, jika berjuang untuk Islam tetapi menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan Syariah Islam dan pada akhirnya selalu merugikan kepentingan umat Islam itu sendiri. Sebaliknya, serangan teror tersebut selalu memberikan keuntungan bagi negara asing seperti Amerika Serikat dan Australia dalam menggiring opini pada kepentingan dan agenda global mereka. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/17/blasts-at-j-w-marriott-and-ritz-carlton-hotel-an-old-scenario-by-a-new-director/" title="Blasts at J.W. Marriott and Ritz-Carlton Hotel: an Old Scenario by A New Director?">Blasts at J.W. Marriott and Ritz-Carlton Hotel: an Old Scenario by A New Director?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/resesi-sebabkan-57-juta-warga-as-di-phk/" title="Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK">Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/taliban-atau-amerika-yang-menjadi-ancaman/" title="Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?">Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/20/amerika-keluarkan-jurus-cetak-dollar/" title="Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar">Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/19/amerika-serba-defisit/" title="Amerika Serba Defisit">Amerika Serba Defisit</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/dunbar-ortizm-amerika-dirancang-sebagai-negara-penjajah/" title="Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah">Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/amerika-semakin-suram/" title="Amerika Semakin Suram">Amerika Semakin Suram</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/makin-jelas-dukungan-amerika-terhadap-penjajahan-israel/" title="Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel">Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/kontraksi-62-ekonomi-as-semakin-terpuruk/" title="Ekonomi AS Menyusut 6,2%">Ekonomi AS Menyusut 6,2%</a></li>
</ul>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F19%2Fac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika%2F&amp;linkname=AC%20Manullang%3A%20Ada%20Grand%20Strategy%20Global%20Amerika"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
