Eforia Kunjungan Hillary di Tengah Babak Baru Neoimperialisme Amerika

Analisis Politik

Hidayatullah Muttaqin

oleh: Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI


Eforia Indonesia

Mulai hari ini hingga esok (18-19 Februari) Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Rodham Clinton berkunjung ke Indonesia setelah sebelumnya bertamu ke Jepang. Kunjungannya ini merupakan lawatan pertamanya ke luar negeri setelah secara resmi menjabat sebagai menlu di bawah pemerintahan Obama.

Bak gayung bersambut, kedatangan menlu negara adi kuasa disambut dengan latah oleh pejabat negara dan media di Indonesia. Eforia sedang melanda negeri ini karena merasa diperhatikan dan diprioritaskan oleh Amerika Serikat.

Para pejabat negara merasa derajat Indonesia naik satu tingkat setara dengan negara-negara maju. Mensesneg Hatta Rajasa misalnya menyatakan wajar Indonesia merupakan negara pertama yang dikunjungi Hillary karena menlu AS tersebut pernah mengatakan Indonesia adalah salah satu negara yang diharapkan mampu mengatasi krisis global (Okezone, 5/2/2009). Menlu Indonesia, Hasan Wirayudha menambahkan biasanya kunjungan pertama menlu AS adalah ke Eropa, sehingga dari kunjungan ini posisi Indonesia menjadi penting.

Wakil Presiden Jusuf Kallas menceritakan hasil pertemuannya dengan Wapres Amerika Serikat Joe Biden tentang posisi Indonesia. Menurut Kalla, sebenarnya Menlu AS dalam lawatan luar negeri pertamanya hanya mengunjungi China, Korea Selatan, dan Jepang. Namun, Presiden Obama memerintahkan agar Hillary jangan lupa mengunjungi Indonesia. Kata Kalla: “Itu artinya Indonesia memiliki peran yang penting di kawasan Asia, dan pasti Indonesia akan jadi prioritas” (Antara, 5/2/2009).

Selaras dengan para pejabat negara, editorial Kompas hari ini (18/2/2009) mengatakan “tamu kita kali ini adalah sosok yang istimewa. … … Lawatan Hillary kita harapkan juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memberikan kontribusi di panggung internasional dan mendapatkan mitra berpengaruh untuk membantu meredam krisis ekonomi saat ini.” Dalam headlinenya, Kompas memaknai kunjungan Hillary merupakan gambaran pentingnya posisi Indonesia di mata pemerintahan AS saat ini.

Dari pernyataan para pejabat Indonesia dan opini yang dikembangkan media, dapat diperoleh gambaran bahwa negeri ini tidak mampu memetakan dirinya, apalagi menyelesaikan urusannya sendiri. Bagaimana tidak, untuk memposisikan apakah Indonesia penting atau tidak di dunia internasional saja harus mendapat restu AS.

Lihat Amerika dari Kacamata Ideologi

Dalam nuansa eforia, lawatan pertama Hillary yang bukan kebiasaan menlu-menlu AS sebelumnya dianggap sebagai lisan dan pikiran AS yang menempatkan Indonesia sebagai negara utama. Padahal itu hanyalah lawatan biasa-biasa saja. Pejabat negara tidak berusaha melihat AS dan kunjungan Hillary dalam perspektif bahwa AS adalah negara Kapitalis. Apapun kebijakan luar negeri AS senantiasa dibalut dalam kerangka ideologi Kapitalisme meskipun telah terjadi pergantian kepemimpinan dari partai dan orang yang berbeda.

Apakah dengan naiknya Obama menggantikan Bush AS akan berubah? Posisi politik dan ekonomi AS di dunia memang berubah karena terjadinya perubahan konstelasi yang melemahkan negara ini. Kondisi ini menuntut AS untuk menerapkan gaya (uslub) baru dalam berinteraksi dengan dunia. Tetapi bukan berarti perubahan ini mengubah ideologi negara tersebut. AS tetaplah negara Kapitalis yang memandang dunia dalam perspektif ideologinya, dan dalam konteks ini AS adalah negara yang menerapkan imperialisme dalam mencapai tujuan-tujuannya.

Motif AS

Kebencian warga dunia terhadap AS akibat politik (war on) terrornya di era Bush menempatkan negara tersebut sebagai musuh dunia. Kerapuhan sistem ekonomi Kapitalisme mendudukan negara adi daya ini dalam kebangkrutan. Kedua hal ini memang memaksa AS berpikir ulang tentang politik luar negerinya agar kepentingan-kepentingannya tetap terjaga. Bahkan AS harus melakukannya untuk mendapatkan tali yang menjadi sarana mengeluarkan AS dari jurang kehancuran.

AS memerlukan langkah-langkah untuk meredam kemarahan warga dunia khususnya dunia Islam dengan tujuan meminimalisir resistensi penjajahan AS yang sudah terlanjur besar. Sinyal ini diungkapkan Hillary: “Kita harus membangun dunia dengan lebih banyak mitra dan lebih sedikit musuh” (Detiknews, 14/1/2009). Namun sekuat apapun upaya AS memulihkan citranya di dunia Islam sebagaimana dikatakan Obama kepada al-Arabiya “Amerika bukan musuh Islam” (Tempointeraktif, 27/1/2009), AS sejatinya memusuhi Islam. Sebagaimana sikap absolut Hillary yang menjadikan pengakuan akan eksistensi Israel sebagai syarat negosiasi dengan HAMAS, padahal mengakui negara Israel bagi dunia Islam adalah hal yang tidak mungkin.

Jika resistensi tidak dapat dikontrol maka kesempatan AS mencakar sumber daya alam (SDA) dan minyak dunia Islam menjadi lebih sulit. Padahal SDA, minyak, dan pasar negeri-negeri Islam sangat dibutuhkan Amerika untuk mempertahankan eksistensinya dari kebangkrutan.

Bukan hanya itu, Islam pun telah berkembang sebagai ancaman ideologi yang nyata. Konsep tentang Syariah dan Khilafah merupakan lawan yang terlalu tangguh bagi AS jika umat berhasil merealisasikannya di negeri mereka. Karena itu memalingkan dunia Islam dari ide Syariah dan Khilafah merupakan proyek utama AS. Maka wajar jika AS berusaha mencerabut ide-ide ini dengan menguatkan pemahaman sekuler, liberalisme, demokrasi, dan pluralisme di tengah-tengah umat Islam.

Dalam jumpa pers seusai pertemuan dengan menlu Hasan Wirayudha di Jakarta hari ini, Hillary Clinton mengatakan: “Membangun kemitraan menyeluruh dengan Indonesia adalah langkah yang sangat penting bagi Amerika Serikat untuk mendukung, satu negara yang sudah nyata-nyata menunjukkan dengan jelas bahwa Islam, modernitas dan demokrasi bukan hanya bisa hidup bersamaan tapi juga dapat berkembang pesat sekaligus.” (BBC Indonesia, 18/2/2009). Inilah sikap AS yang berupaya mengkaburkan pandangan umat terhadap agamanya dan menjadikan paham Barat sebagai kacamatanya.

Smart Power: Babak Baru Neoimperialisme Amerika

Ketika dengar pendapat dengan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (13/1/2009), Hillary Clinton dengan jelas menggambarkan keinginan dan cita-cita AS. Ia mengatakan: “memperbarui kepemimpinan Amerika melalui diplomasi yang akan meningkatkan keamanan kita, mengedepankan kepentingan kita, dan mencerminkan nilai-nilai kita” (Antara, 15/1/2009). Pernyataan tersebut mencerminkan realitas bahwa posisi AS benar-benar terpuruk sehingga harus memperbaharui kepemimpinannya (atas dunia).

Pemerintahan AS saat ini berupaya mencitrakan dirinya berbeda dengan pemerintahan era George W. Bush. Dalam kerangka ini, menlu Hillary memposisikan kebijakan luar negeri AS sangat berubah dibanding sebelumnya yang lebih banyak mendikte dan menggunakan senjata. Di Jakarta Hillary mengatakan: “Kemitraan komprehensif dengan Indonesia adalah langkah penting bagi AS dalam rangka menjalankan smart power-nya” (Detiknews, 18/2/2009).

Smart power merupakan istilah yang digunakan Hillary untuk menggambarkan kebijakan luar negeri AS yang lebih banyak mendengar dan mengedepankan diplomasi. Ini tidak lebih kamuflase belaka. Sebab smart power hanyalah cara (uslub) merealisasikan tujuan-tujuan politik luar negerinya, sedangkan metode (thariqah) AS untuk mencapainya tetap dengan jalan penjajahan (imperialisme).

Bagi sebuah negara ideologis, cara (uslub) merealisasikan tujuan bisa saja berubah-ubah tetapi metode (thariqah) untuk mencapainya tidak akan pernah berubah. Selamanya Amerika dengan Kapitalismenya adalah penjajah dunia, sedangkan smart power hanyalah cara baru AS mengikat negara lain dalam penjajahannya. Sayangnya pemerintah Indonesia terbujuk rayu sehingga masuk dalam dekapan babak baru neoimperialisme Amerika sebagaimana yang dikatakan Menlu Hasan Wirayudha: “Kita sambut baik kebijakan pemerintah Obama yang akan menggunakan smart power, kekuatan persuasi, dan soft power, serta kegigihannya untuk mendekati tidak saja dunia muslim tetap juga Asia Pasifik,” (Detiknews, 18/2/2009).

Kita Membutuhkan Smart System

Dunia saat ini sangat menderita akibat penjajahan Amerika dan Barat. Di Irak, AS dan sekutunya telah membunuh 1,3 juta penduduk,  di Afghanistan 2.118 warga sipil pada tahun 2008 terbunuh, dan saat ini setiap hari rata-rata 26.500 anak-anak tewas akibat kekejaman ekonomi Kapitalisme. FAO memprediksi tahun 2009 jumlah orang kelaparan di dunia akan mencapai 963 juta jiwa (Kompas, 10/12/2008).

Amerika sebagai penyebab malapetaka dunia pun terpuruk dalam kebangkrutan. Setiap hari koran-koran AS dipenuhi berita suram. Setiap bulan 500 ribu warga AS kehilangan lapangan kerja, ribuan perusahaan mengalami kebangkrutan. Meskipun pemerintah AS mengatakan “kita belum memasuki depresi”, namun ancaman kebangkrutan menjadi realita yang sangat menakutkan (New York Times, 16/2/2009).

Kebangkrutan AS merupakan konsekwensi logis dari kerakusan dan kerapuhan sistem ekonomi Kapitalisme AS. Kebangkrutan ini pula yang mendorong derajat pengaruh AS di dunia anjlok. Jerman menganggap AS bukan lagi super power di sektor keuangan (Market Watch, 25/9/2008). Wapres AS Joe Biden pada tahun 2008 mengakui krisis keuangan menyebabkan melemahnya kemampuan AS dalam memberikan pinjaman kepada negara lain (Kompas, 4/10/2008). Padahal selama ini AS menjadikan pinjaman luar negeri sebagai metode untuk mencengkram negara lain dalam penjajahannya.

Anehnya di tengah perekonomian AS yang babak belur, pemerintah Indonesia melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu menyatakan keinginannya untuk meminta pinjaman hutang kepada pemerintah AS (Detikfinance, 18/2/2009). Jangankan memberi pinjaman, pemerintah AS sendiri sibuk mencari hutang kepada China, Jepang, dan negara-negara petro dollar di Timur Tengah. Posisi hutang AS pun membengkak dari US$ 9 trilyun pada awal tahun 2008 menjadi US$ 12 trilyun tahun fiskal 2009. Jumlah ini mencapai 85% PDB AS (RGE Monitor’s Newsletter, 18/2/2009).

Sikap pemerintah Indonesia ini sangat menyedihkan. Tidak mungkin kita bisa berharap pada sistem yang bangkrut dan pada negara yang sangat jahat. Sistem Kapitalisme Amerika jelas telah gagal sebagaimana yang diungkapkan sendiri oleh pakar ekonomi dari AS Nouriel Roubini baru-baru ini kepada Financial Times (9/2/2009). Meskipun menlu Hillary Clinton datang ke Indonesia dengan konsep Smart Power, Indonesia tidak perlu berharap karena itu bukanlah cara cerdas melainkan cara bodoh menyerahkan diri dalam dekapan penjajahan AS.

Indonesia membutuhkan smart system, yakni sistem yang mampu membaca akar masalah dan memberikan solusi yang tuntas bagi dunia Islam. Khilafah merupakan sistem Islam yang diwariskan Rasulullah SAW untuk menerapkan Syariah Islam sebagai solusi untuk Indonesia, dunia Islam, bahkan seluruh dunia. Khilafah bukanlah sistem yang eksploitatif yang dibangun atas dasar ketamakan sebagaimana sistem Kapitalisme. Khilafah dibangun atas dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Konsep dan metode yang digunakan Khilafah dalam memecahkan problem dunia hanya bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Khilafah adalah sistem yang akan meruntuhkan penjajahan AS dan Barat atas dunia. Insya Allah … []

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat dan Ketua Lajnah Siyasiyah HTI Kalsel. Blog pribadi www.jurnal-ekonomi.org/muttaqin/
Artikel terkait:

Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Sedih rasanya memikirkan tingkah laku para pemimpin kita. Mayoritas mereka adalah muslim. Bagi seorang muslim, jelas-jelas ada panduan mengatasi persoalan apapun, termasuk masalah ekonomi negara, yaitu sistem khilafah. Pemimpin kita bukan saja tidak mau menggunakan sistem itu, bahkan meninggalkannya. Mereka lebih suka meminta resep dan pertolongan “musuh”. Apapun yang diberikan musuh pastilah berbahaya bagi kelangsungan kita. Musuh pasti tidak ingin kita kuat dan hebat. Kapan para pemimpin kita sadar bahwa AS adalah penjahat. Bantuan apapun yang diberikan kepada kita pasti dijadikan sarana untuk mengikat kita. Berkali-kali berganti pemimpin, tetapi kita tidak pernah bisa lepas dari penjajahan AS dan Barat. Akankah kita selamanya menjadi jongos AS dan Barat? Na’udzubillah min dzalik.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *