Dusta Kaum Neolib

EKONOMI: Neoliberalisme
Foto: Presidensby.info

Foto: Presidensby.info

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Melekatnya stempel Neoliberal pada kubu SBY-Boediono membuat gerah sekelompok ekonom neolib. Setelah Rizal Malaranggeng “mengejek” Kwik Kian Gie tidak sepintar Boediono, kini giliran ekonom UI Chatib Basri yang bersuara.

Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Ia mencontohkan privatisasi terjadi sejak zaman pemerintahan Gusdur.

Menurut Chatib, ia tidak dapat mencari jejak neolib di Indonesia sebab peran pemerintah dalam perekonomian yang diwakili oleh BUMN masih sangat besar.

Pembelaan kedua ekonom terhadap Boediono sangat tidak berdasar. Bagaimana mungkin di Indonesia tidak ada jejak neolib sementara berbagai undang-undang yang berkaitan dengan permasalahan ekonomi seperti UU Migas dan UU Penanaman Modal sangat kental nuansa liberalisasi. Bahkan kedua undang-undang tersebut dilahirkan dalam rangka liberalisasi ekonomi yang digencarkan oleh IMF, Bank Dunia, ADB, WTO, dan negara-negara maju.

Begitu pula kebijakan-kebijakan neolib sangat nampak dilakukan pemerintahan SBY -termasuk pemerintahan sebelumnya- tanpa memberi rasa kasihan kepada rakyat. Kita menyaksikan dengan “mata kepala sendiri” bagaimana BUMN-BUMN strategis diprivatisasi. Bahkan di zaman SBY-JK pemerintah memprogramkan “obral aset negara” lebih dari 40 BUMN pada tahun 2008 dan 20 BUMN tahun ini. Meski kemudian program “obral aset negara” tersebut gagal total akibat krisis finansial global.

Kita juga melihat dengan sejelas-jelasnya bagaimana pemerintahan SBY-JK merancang harga BBM Indonesia sesuai dengan harga pasar internasional. Ketika MK melarang harga BBM sesuai mekanisme pasar internasional karena BBM merupakan barang publik yang menguasai hajat hidup orang banyak, pemerintahan ini malah “mengakalinya” dengan mengubah istilahnya menjadi “harga kekinian”.

Sungguh terlalu banyak dan terlalu zalim kebijakan Neoliberal yang dijalankan pemerintahan SBY-JK. Adapun Boediono termasuk pejabat tinggi negara yang paling bertanggungjawab dalam terealisasinya kebijakan-kebijakan neolib di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan, ekonom neolib seperti Chatib Basri dan Rizal Malaranggeng menjadi penikmat “rente” ekonomi Neoliberal di Indonesia.

Sebagai ekonom yang duduk dalam salah satu departemen, seharusnya mereka memberikan pencerahan bagi rakyat bukannya berbohong. Namun perilaku mereka seperti seseorang yang digambarkan dalam hadis nabi berikut ini: “Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga.” (HR Bukhari dari Ma’qil bin Yasar ra).

Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib. Sebuah dusta yang tentu saja dicatat di sisi Allah sebagai timbangan dosa di samping kebijakan neolib itu sendiri yang zalim dan bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu.” (Terjemahan QS. Yunus: 57). [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

Author: Admin

Share This Post On

5 Comments

  1. Sdr Hidayat, mungkin pengetahuan saya tidak sampai, tapi membaca tulisan sdr seperti membaca tanggapan yang bernada “benci & dendam” sehingga tidak bermakna pengetahuan

    Post a Reply
  2. Salam Pak Heru.

    Terima kasih masukannya. Tulisan ini memang bersifat opini, bila pun dalam konteks “bahasa” terkesan seperti apa yang Pak Heru sebut, hal itu bukan tanpa dasar. Sejumlah ekonom terkenal juga sudah cukup sering menjelaskan apa itu Neoliberal dan bagaimana ekonomi Neoliberal dijalankan pemerintah.

    Saya melihat kepura-puraan ekonom dalam tulisan ini tentang di Indonesia tidak ada jejak Neoliberalisme. Bukannya ia tidak mengetahui apa itu Neoliberalisme, tetapi ekonom tersebut beropini demikian untuk menghilangkan dampak negatif terhadap citra incumbent.

    Bagaimana pun pencitraan Neoliberalisme realitinya memang buruk. Saya sebagai warga negara merasakan sekali kezaliman kebijakan-kebijakan pemerintah yang berorientasi Neoliberal.

    Problemnya, mengapa ekonom tersebut tidak berani mengatakan itu Neoliberal dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa Neoliberal dapat mensejahterakan masyarakat dan memajukan negara?

    Salam,
    HM

    Post a Reply
  3. Saat ini ada 3 pasangan yang akan maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden RI yang akan kita pilih tanggal 8 Juli 2009. Nah, menurut anda manakah yang menawarkan sistem ekonomi yang baik dari pemaparan yang pernah mereka sampaikan. Juga dari track record yang sudah mereka lakukan. Mohon informasinya….

    Post a Reply
  4. pak hidayat saya sepakat dengan pak hidayat, selama ini orang mengelak dengan neolib… artinya orang tidak mau secara terus terang mengatakan bahwa program yang dijalankan saat ini adalah program neoliberalisme. padahal kita tahu bahwa neoliberalisme lah yang digunakan… namun tidak ada satu pun yang berani dengan jujur dan bangga bahwa neoliberalisme dapat mensejahterakan masyarakat…., orang malah takut kalau dirinya diklaim seorang neoliberalisme… sehingga mereka mengelak dan akhirnya melakukan kebohongan publik….
    saya rasa tulisan ini bukan ” Dendam ato Benci” namun memang harus disebarluaskan kepada masyarakat agar masyarakat kita sadar bahwa memang program yang dijalankan ala neoliberalisme…
    mengakui dan jujur kepada publik ternyata susah ya pak hidayat…, dangan lapang dada apalagi

    Post a Reply
  5. orang yang paling berbahaya adalah orang bodoh yang sokpinter dan merasa benar sendiri…
    bersyukurlah bila kita dapat terhindar dari fitnah keji seperti yang disebarkan di web ini.
    mudah2an tuhan menuntun anda ke jalan yang benar sebelum azab datang.
    azab bagi penyebar fitnah bukan cuma neraka akhirat, tetapi di sini di dunia ini bakal terasa akibatnya.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *