DIKTAKTOR INTELEKTUAL

PEMIKIRAN

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

tokoh pembela AhmadiyahJurnal-ekonomi.org – Siapa pun tidak ingin dirinya dizalimi oleh orang lain. Setiap orang pasti menginginkan diperlakukan secara adil dan hidup merdeka dari ketertindasan dan pemaksaan yang tidak berdasar. Semua orang tentu tidak ingin dipersalahkan atas pemikiran dan perilakunya jika berdasarkan fakta yang benar ia tidak melakukan kesalahan.

Sikap tersebut manusiawi dan senantiasa muncul dari manusia mana pun sebagai konsekwensi adanya naluri mempertahankan diri pada dirinya. Begitu pula, sikap umat Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam adalah sikap yang benar untuk menjaga keutuhan dan kemurnian akidah Islam.

Keluarnya fatwa MUI No. 11/MUNAS VII/15/2005 yang menyatakan Ahmadiyah bukan bagian dari Islam, sesat dan menyesatkan, merupakan fatwa yang bertujuan melindungi akidah umat dari fitnah dan rongrongan akidah Ahmadiyah. Fatwa ini sekaligus menjadi edukasi bagi pengkuatan akidah umat.

Fatwa MUI: Monopoli Kebenaran?

Seiring dikeluarkannya rekomendasi Bakorpakem (16 April 2008) berbagai cacian dan pemaksaan opini dilontarkan oleh banyak pihak khususnya terhadap MUI. Salah satunya adalah lontaran Prof. Dr. Syafii Maarif bahwa MUI “memonopoli kebenaran” (Okezone.com 27/04/2008).

Menurut Prof. Dr. Syafii Maarif keberadaan Ahmadiyah di Indonesia dilindungi oleh undang-undang yang menjamin kebebasan beragama. Bahkan menurut sang profesor, atheis pun diperbolehkan hidup di Indonesia selama tidak mengganggu kepercayaan orang lain (ibid).

Sebaliknya, Prof. Dr. Syafii Maarif menganggap fatwa MUI bertentangan dengan undang-undang, sehingga jika rekomendasi Bakorpakem ditindaklanjuti dalam bentuk SKB, maka SKB tersebut dianggap profesor sebagai wujud “monopoli kebenaran” MUI.

Argumentasi yang dipaksakan oleh profesor sangat lemah dan sangat bertentangan dengan fakta. Pertama, rekomendasi Bakorpakem lahir dari pengamatan rinci dan pemantauan selama tiga bulan pada 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Menurut Kepala Litbang Depag, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah menyimpang dari ajaran pokok Islam karena di seluruh cabang Ahmadiyah, Mirza Gulam Ahmad tetap diakui sebagai Nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci mereka. Koordinator Bakorpakem juga menyatakan, dengan jelasnya penyimpangan JAI maka tidak ada lagi evaluasi, negosiasi, dan diskusi tentang akidah Ahmadiyah. Jadi rekomendasi Bakorpakem lahir bukan karena paksaan dari MUI melainkan hasil pengamatan berdasarkan fakta.

Kedua, tuduhan terhadap MUI oleh profesor hanya berdasarkan “logika jungkir balik”. Maksudnya, dengan mengacu pada logika “kebebasan beragama” semua permasalahan kehidupan beragama dinilai dengan menggunakan logika ini tetapi di sisi lain logika ini justru menjungkirbalikkan pokok-pokok ajaran agama Islam.

Semua orang pada umumnya mengetahui ajaran pokok Islam seperti tidak ada kitab suci di luar al-Qur’an dan tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. Sedangkan Ahmadiyah mengaku dirinya Islam tetapi kitab sucinya adalah Tadzkirah dan Nabinya adalah Mirza Gulam Ahmad, bahkan Ahmadiyah mengkafirkan Islam selain Islam versi Ahmadiyah. Jadi ajaran pokok Ahmadiyah sangat bertentangan dengan akidah Islam yang menunjukkan bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari tubuh umat Islam.

Apabila upaya Ahmadiyah menyatakan dirinya Islam tidak diganjal dengan kebijakan pelarangan aktivitas dan pembubaran organisasinya oleh negara, dikhawatirkan umat yang lemah iman akan terperangkap dalam akidah Ahmadiyah karena mengira Ahmadiyah termasuk bagian dari Islam.

Jika saja ada seseorang yang tidak dikenal dan bukan darah daging profesor tiba-tiba datang mengaku sebagai anak kandung beliau dan menuduh anak kandung profesor sebagai orang lain, apakah profesor dapat menerimanya? Apalagi tujuan orang tersebut mengaku anak kandung hanya untuk merampok harta warisan profesor. Secara naluri dan perasaan mungkin saja profesor menolak kedatangan orang yang tak dikenal tersebut dan marah bila ia tetap bersikeras mengaku sebagai anak. Jika profesor konsisten dengan “logika jungkir balik” kebebasan beragama, maka profesor harus menerima orang tersebut sebagai anak kandungnya. Bila sikap ini yang diambil profesor, maka profesor mengakomodir kebohongan orang yang tak dikenal tersebut yang akan merusak keutuhan kehidupan keluarga.

Inilah fakta, siapa pun tidak dapat mengelak dari kebenaran bila kebenaran tersebut berpijak pada fakta yang benar, di luar itu adalah “kebohongan” belaka. Dan ini pula yang menjadi pijakan fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan ditinjau dari akidah Islam. Sehingga fatwa MUI tersebut bukanlah “memonopoli kebenaran” melainkan “mengungkap kebenaran”.

Munculnya Diktaktor Intelektual

Sikap menuduh penolakan umat terhadap Ahmadiyah yang diwakili oleh MUI melalui fatwanya sebagai “memonopoli kebenaran”, tidak menghargai kebebasan beragama, dan melanggar HAM, merupakan sikap arogan dan zalim. Memaksakan pemikiran “logika jungkir balik” kebebasan beragama meski umat telah menolaknya merupakan suatu bentuk “arogansi pemikiran”. Memberikan “cap negatif” sebagai punishment terhadap penolakan pemikiran yang dipaksakan adalah “kezaliman pemikiran”.

Arogansi dan zalim merupakan sifat yang melekat pada seorang diktaktor. Karena arogansi dan kezaliman ini berada dalam ranah pemikiran, maka orang-orang yang mengusung pemikiran dengan cara seperti ini lebih tepat disebut “diktaktor intelektual”.

Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif, Dr. Hamim Ilyas yang bekerja sebagai dosen pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkapkan fatwa MUI bertentangan dengan konstitusi dan HAM yang menjamin kebebasan beragama. Ia juga mengatakan karena fatwa sesatnya, MUI harus disadarkan (Okezone.com 24/04/2008). Dari pernyataan tersebut, seolah-olah Hamim Ilyas mengatakan yang sesat adalah MUI bukan Ahmadiyah, sehingga yang harus diluruskan adalah MUI. Sebagai bagian umat, “cap sesat” terhadap MUI bagi penulis sangat zalim dan menyakitkan, karena cap tersebut hanya fitnah belaka.

Hamim Ilyas juga menyatakan MUI perlu didemo karena menolak pluralisme agama. Apalagi MUI menggunakan dana APBN/APBD, yang salah satunya berasal dari pajak warga Ahmadiyah. Katanya, “kalau mau menyesatkan jangan pakai APBN dan APBD dong”. Hamim menambahkan, berdasarkan hasil penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, fatwa-fatwa MUI menyebabkan deintelektualitas kaum Muslim (ibid).

Benar-benar “logika ngawur” apa yang disampaikan dan dituduhkan Dr. Hamim Ilyas tersebut. Ia dengan yakinnya menjadikan pluralisme agama sebagai “kebenaran mutlak”, yang berbeda menurut pemikirannya ini salah dan harus didemo.

Sebagai institusi ulama, maka wajar bagi MUI untuk memberikan edukasi akidah dan syariah Islam kepada umatnya salah satunya dalam bentuk mengeluarkan fatwa. Karenanya kesimpulan penelitian UIN Sunan Kalijaga seperti yang disampaikan Dr. Hamim Ilyas sangat patut dipertanyakan khususnya menyangkut metodologi, independensi, dan sponsorshipnya.

Sebaliknya langkah-langkah Dr. Hamim Ilyas dan orang-orang yang sepertinya hanya akan memalingkan umat dari akidah dan syariah agamanya. Sifat-sifat “diktaktor pemikiran” yang suka memfitnah inilah yang justru menyebabkan “deintelektualitas umat Islam”.

Dari sisi tinjauan fakta, jika seseorang ingin menjadi muslim ia harus memahami dan mengadopsi akidah Islam sebagai fondasi agamanya, dan mengambil syariah Islam sebagai tata perilaku dan perbuatan dalam kehidupannya. Begitu pula jika seseorang ingin menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ia harus mengikuti prosedur pendaftaran dan seleksi yang telah ditetapkan pihak rektorat. Dan ketika sudah diterima, ia harus mematuhi tata tertib kampus dan aturan akademik.

Jika ada seorang pemuda ditangkap polisi karena melakukan tindakan kriminal dan mengaku sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga padahal ia tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa, maka sangat logis bila pihak rektorat UIN Sunan Kalijaga menyatakan pemuda tersebut bukan mahasiswanya. Jika logika berpikir Dr. Hamim Ilyas diterapkan dalam kasus ini, maka pihak rektorat harus mengakui pemuda tersebut adalah mahasiswanya. Tentu pengakuan seperti ini merupakan kebohongan.

Penutup

Sikap penolakan terhadap klaim Ahmadiyah merupakan hak umat Islam. Sikap para “diktaktor intelektual” yang menuduh MUI dan penolakan umat atas Ahmadiyah dengan tuduhan keji seperti “memonopoli kebenaran” dan “cap sesat” merupakan “pemerkosaan” atas hak umat untuk beragama sesuai agamanya.

Sebagai “diktaktor intelektual”, kepentingan yang mereka bawa bukanlah kepentingan umat melainkan kepentingan pribadi dan kepentingan negara-negara penjajah. Bukankah ide-ide kebebasan beragama dan berkeyakinan (tanpa ada batasan) dan pluralisme agama adalah ide-ide sekuler dan liberal yang kerap diusung negara-negara Barat terhadap umat Islam? []

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pengelola website Jurnal Ekonomi Ideologis : www.jurnal-ekonomi.org

Author: Admin

Share This Post On

12 Comments

  1. Ahmadiyah bukan bagian dari kelompok/gerakan dalam Islam karena penyimpangan akidah mereka. Karena itu mereka semestinya mendeklarasikan diri di Indonesia dan seluruh dunia sebagai agama Ahmadiyah, bukan agama Islam.

    Post a Reply
  2. Sikap ‘Dikdator Intelektual’ yang dilakukan Prof. Dr. Syafii Maarif dan Dr. Hamim Ilyas yang Memaksakan pemikiran “logika jungkir balik” kebebasan beragama meski umat telah menolaknya merupakan suatu bentuk “arogansi pemikiran”. Dan memberikan “cap negatif” sebagai punishment terhadap penolakan pemikiran yang dipaksakan adalah “kezaliman pemikiran”. Menginggatkan kita semua pada ‘Diktator Intelektual’ Abu Jahal dan Abu Lahab. Berbagai upaya keji dilakukan oleh Abu Lahab dan Abu Jahal dalam menghalangi penyebaran Islam di makkah seperti melakukan fitnah keji terhadap Rasulullah, penghasutan untuk memusuhi Rasulullah, mencela kebenaran Al quran, dll; yang intinya mereka memaksakan pemikiran “logika Jungkir balik” dan “arogansi Pemikiran”. Sudah 15 abad lebih Abu Jahal dan Abu Lahab tiada tapi ternyata di zaman modern sekarang ternyata masih ada Abu Jahal dan Abu Lahab Modern yang “berbaju Intelektual Muslim”, yah seperti Prof. Dr. Syafii Maarif dan Dr. Hamim Ilyas.

    Post a Reply
  3. Salam,
    Sorry, saya ingin menyatakan yang sebaliknya. Saya tidak pernah melihat MUI bekerja dengan benar. Di zaman Orde Baru, kerja ulama MUI hanya mendoakan agar Pak Harto dipilih kembali setiap 5 tahun, sehingga bangsa Indonesia terpenjara oleh rezim otoriter selama 32 tahun lamanya.
    Ulama MUI adalah salahsatu penyebabnya.
    Setelah reformasi, dan rezim Soeharto tumbang, MUI banyak dimasuki ulama fundamentalis-radikal dan Islam Transnasional seperti Majelis Mujahidin dan Hisbuth Thahir yang banyak memproduksi fatwa-fatwa yang mendorong tindakan anarkis umat.
    Selain itu, jualan MUI lebih sibuk jualan “sertifikat halal” kepada para pengusaha (non muslim) dan mengancam mereka yang tak mau memperpanjang dengan “men-subath-kan”nya dan meragukan kehalalannya.
    Bagaimana pun di dunia modern seperti sekarang agama dilihat dari “produksi”nya. Biar agamanya dielu-elukan sebagai agama mulia, asli murni, kalau umatnya gemar merusak tempat ibadah umat lain, anarkis, gampang sirik dan menteror sesama penganut agama sendiri yang berbeda faham, dengan teror dan tindak kekerasan, maka rusaklah citra agama itu.
    Dalam kasus Ahmadiyah, kini kemuliaan dimiliki umat Akhmadiyah yang teraniaya dan dizalimi. Sedangkan kehinaan dimiliki Islam Fundamentalis radikal, antitoleran yang merusak dan membakar tempat ibadah mereka.
    Sepenuh-penuhnya, saya setuju dengan penmdapat Prof. Dr. Syafii Maarif.
    Ini zaman HAM, Bung.
    Mayopritas negara anggota PBB menandatangani HAM
    dan mayoritas penduduk muka bumi kini mendukung HAM.
    Agama tidak boleh melanggaer HAM !

    Wassalam,

    Dimas.
    masdimas62@yahoo.com

    Post a Reply
  4. Mas Dimas Yth.

    Salam,

    Memang benar pada masa lalu, MUI berada di bawah kendali Orde Baru. Bahkan tidak hanya MUI tapi hampir semua komponen masyarakat tunduk dan ikut saja dengan apa yang menjadi kemauan Orde Baru. Hanya sebagian kecil saja yang berani menentang dengan lantang kezaliman Orde Baru. Keadaan tersebut terjadi karena sifat diktator Presiden Soeharto dengan dukungan penuh Bank Dunia dan Amerika Serikat.

    Mas Dimas, dari argumentasi yang anda jelaskan, pijakan argumentasi anda berasal dari “ketidaksukaan” terhadap MUI dan apa yang anda katakan sebagai “fundamentalis-radikal”. Dari sini saja argumentasi anda sangat lemah, seharusnya anda berpijak pada “kebenaran fakta” bukan pada asumsi-asumsi (opini) yang anda miliki. Asumsi-asumsi anda sangat jelas terbentuk dari persepsi-perspsi negatif yang dicangkokkan Barat kepada umat manusia khususnya kepada umat Islam. Hal ini nampak dari istilah-istilah yang anda gunakan.

    Akibat persepsi yang anda miliki ini, anda tidak dapat melihat “kebenaran fakta”, anda akan selalu menyalahkan MUI, dan anda akan selalu mengaitkan perubahan MUI yang menurut anda buruk akibat pengaruh negatif Islam fundamentalis. Persepsi anda tidak sesuai fakta, apa yang dilakukan MUI dengan fatwanya tentang Ahmadiyah sudah benar (sebagaimana alasan-alasan yang saya kemukakan dalam tulisan tersebut).

    MUI merupakan institusi formal ulama di Indonesia sehingga adalah kompetensi MUI mengeluarkan fatwa. Sedangkan Prof. Dr. Syafii Maarif bukanlah ulama dan bukan pula berasal dari institusi ulama, sementara pernyataannya bahwa MUI “memonopoli kebenaran” merupakan fitnah yang sangat keji, seakan-akan pernyataan sang profesor memiliki kompetensi yang sangat tinggi (ia bagaikan sebuah pengadilan yang berhak memvonis suatu perkara). Inilah akibat apabila orang-orang yang tidak berilmu berbicara tentang sesuatu yang di luar kapasitasnya (di luar keilmuan) terlebih jika pendapat-pendapatnya dikeluarkan bukan dalam keadaan “merdeka” melainkan dikuasai hegemoni Barat.

    Anda mengagung-agungkan HAM yang diusung Barat. Mari kita lihat; Barat yang mengusung HAM merupakan pelanggar HAM paling besar sepanjang sejarah kemanusiaan hingga kini. Negara-negara Barat sejak dahulu dikenal sebagai imperialis yang merampas harta, kekayaan, menjadikan manusia yang dijajahnya sebagai budak, dan mereka pun tak segan-segan untuk membunuh. Hampir semua negara-negara dunia ketiga (baik yang mayoritas penduduknya muslim maupun non muslim) di Asia, Afrika, dan benua Amerika merasakan kejamnya penjajahan Barat.

    Amerika di bawah Clinton mensponsori sanksi PBB terhadap Irak yang menyebabkan jutaan penduduk meninggal terutama dari kalangan wanita dan anak-anak. Sanksi saja tidak cukup, AS di bawah Bush dan Inggris di bawah Blair, dengan membawa “segepok” ajaran HAM dan demokrasinya membunuhi ratusan ribu rakyat Irak, menyebabkan jutaan rakyat Irak kehilangan rumah, hak akses atas air, listrik, pelayanan pendidikan dan kesehatan. Hingga kini hak paling mendasar bagi rakyat Irak untuk hidup secara normal direnggut Barat dengan cara berdarah-darah, dan PBB yang anda agung-agungkan itu diam seribu bahasa atas pelanggaran HAM yang paling kejam yang pernah terjadi di dunia ini. Masih banyak pelanggaran HAM yang dilakukan negara-negara Barat terhadap umat manusia baik dengan difasilitasi PBB maupun dengan diamnya PBB.

    Anda sangat pro dengan istilah fundamentalis dan radikal. Anda menyebut organisasi seperti Hizbut Tahrir atau organisasi apa pun yang mengusung penerapan syariah Islam sebagai Islam fundamentalis atau Islam radikal. Istilah yang anda sebut adalah istilah yang datang dari Barat, dan istilah-istilah tersebut merupakan bagian dari perang opini yang dilancarkan Barat terhadap upaya umat untuk menegakkan Syariah dan Khilafah ISlamiyah di negeri-negeri kaum Muslim. Jika anda meneruskan penggunaan istilah tersebut di mana pun anda berada, maka anda secara tidak langsung menjadi bagian Barat yang memerangi keinginan umat untuk menerapkan Syariah Islam. Adalah hak kaum Muslim untuk hidup menurut ajaran agamanya, dan bukan hak anda untuk melarang mereka apalagi dengan menyebut-nyebut mereka sebagai Islam fundamentalis. Jika anda atas nama HAM meneruskan opini-opini anda, apa artinya HAM yang anda dengungkan itu.

    Anda menuduh Islam fundamentalis-radikal sebagai anti toleran dan melakukan tindakan anarkis. Apa buktinya? Anda juga menyebut Hizbut Tahrir sebagai gerakan fundementalis, sekarang anda buktikan di mana saja di Indonesia Hizbut Tahrir melakukan tindakan kekerasan. Tolong buktikan, jika anda tidak dapat membuktikan berarti tuduhan anda adalah fitnah.

    Yang saya ketahui Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang melakukan perjuangan dengan cara intelektual dan non kekerasan. Kekerasan bukanlah manhaj Hizbut Tahrir. Anda harus membaca buku-buku yang diterbitkan Hizbut Tahrir dan berdialog dengan mereka. Tidak cukup bagi anda hanya mengunyah informasi dari media yang sebagian isinya adalah propaganda sekuler.

    Dari uraian anda, anda dengan terang pembela Ahmadiyah. Anda sudah tahu kan Ahmadiyah itu nabinya Mirza Ghulam Ahmad dan kitab sucinya adalah Tadzkirah? Dengan dua ajaran pokoknya itu, Ahmadiyah mengaku dirinya ISlam. Anda tahu kan, ajaran pokok Islam itu al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang berlaku bagi umat Islam sedangkan Muhammad SAW adalah nabi dan rasul penutup akhir zaman? Kalau anda tahu antara Ahmadiyah dengan Islam ajaran pokoknya sangat berbeda dan bertolak belakang, masih layakkah anda membenarkan Ahmadiyah? Di mana hati nurani anda dengan mengatakan kemuliaan orang-orang Ahmadiyah teraniaya dan terzalimi apabila Ahmadiyah merusak-rusak ajaran pokok Islam, menodai keyakinan satu milyar lebih kaum Muslim di bumi ini?

    Renungkanlah dan cobalah kaji Islam dengan mendalam sesuai dengan faktanya dari orang-orang yang berilmu dan tanggankanlah dahulu persepsi-persepsi Barat yang ada pada diri anda. Untuk mengkajinya pemikiran anda harus merdeka, terbebas dari persepsi-persepsi negatif Barat atau pun kepentingan-kepentingan. Setelah itu, silahkan anda berbicara tentang Islam. Semoga Allah memudahkan anda, amin.

    Salam,
    Hidayatullah

    Post a Reply
  5. Assalamu’alaikum wr wb.
    Cendekiawan2 muslim terutama dr UIN/IAIN semakin aneh2. Saya orang yg tidak berpendidikan hanya bisa ber tanya2 ADA APA DENGAN PARA CENDEKIAWAN2 MUSLIM (Prof. Dr. Syafii Maarif dan Dr. Hamim Ilyas, Adnan Buyung Nasution dll)?????????????
    Saya hanya bisa berharap semoga Khilafah Islamiyah segera tegak dibumi Indonesia. Pemimpin Islam kaffah.

    Post a Reply
  6. Assalamu’alikum, Ketahuilah hai para ulama yg menyesatkan Ahmadiyah.
    Coba anda tunjukkan ajaran Islam yg benar tentang beriman kepada Nabi-nabi dan Rasul Allah swt. coba baca bunyi Rukun iman yg ke empat ini. Apa kalian akan berani merobahnya menjadi : Beriman kepada 25 rasul saja dan sesat beriman kepada lebih dari 25 rasul Allah. cobalah robah rukun iman yg keempat itu kalau kalian mengaku ulama intelektual. Ketahuilah bunyi rukun iman itu, beriman kepada Allah swt, beriman kepada Malaikat-malaikat, beriman kepada kitab-kitabNya, beriman kepada rasul-rasulNya, beriman kepada Taqdir, dan beriman kepada Yaumil qiyamah.
    Ketahuilah apakah benar orang yg meyakini masih adanya wahyu itu sesat. Justru ulama/orang yg berkata wahyu itu tidak bisa ada lagi, itulah yg sesat. Menurunkan Wahyu itu pekerjaan Allah swt sifat Al-Mutakallim- Maha bercakap-cakap ( lih S-Al Hasyar). Jangan sekali-kali mengatkan orang itu Ulama Itelektual kalau dia Berani mencapuri kekuasaan Allah swt, atau Anda sudah berani berkata bahwa Allah swt itu tidak Al-Mutakallim lagi? Itulah sesat yg sebenarnya (lih kriteria sesat oleh MUI)

    Post a Reply
  7. Naudzubillahi min dzalik. Sadarlah bung!

    Coba anda renungkan baik-baik tulisan saya di atas. Cobalah berpikir dari fakta yang terjadi. Kemudian anda pelajari apa hubungan Ahmadiyah dengan Imperialisme Inggris di India dan Pakistan.

    Setelah itu silahkan anda pikirkan bahwa hidup itu hanya sesaat, setiap perkataan, perbuatan, dan diamnya kita dihisab oleh Allah SWT. Bertobatlah sebelum umur sampai.

    Berusahalah untuk sadar dan memohon petunjuk Allah SWT dan tinggalkanlah kesesatan Ahmadiyah ataupun pola pikir sekuler. Belajarlah agama pada orang berilmu terlebih kepada ulama. Tapi belajarnya kepada ulama yang menjadikan akidah Islam sebagai kaidah dan kepemimpinan berpikir, al-Quran dan al-Hadist sebagai sumber hukum, halal dan haram sebagai standar perbuatan, bukan ulama buatan Ahmadiyah yang jelas-jelas sesat dan dilahirkan negara penjajah Inggris atau ulama ciptaan Barat yang selalu mengusung sekularisme dan bertujuan menghancurkan Islam.

    Di dunia Kapitalis-Sekuler saat ini, sudah biasa “yang sesat” menyesatkan “yang benar” bung!!! Biasalah demi mengejar setoran program dari pesanan (Barat) untuk mendapatkan keuntungan finansial. Seperti komentar anda kali ini.

    Sadar dan bertobatlah Bung…..

    Post a Reply
  8. To: najam

    ASBUN (Asal Bunyi)

    Naudzubillahi min dzalik, jangan asal bunyi ghitu mas, ingat comment mas ini pasti dimintai pertanggungjawabnnya kelak dihadapan Allah Swt.
    Anda ini ngomongnya sok menguasi ilmu agama, padahal seujung kuku pun anda sama sekali tidak ngerti ilmu agama. Buktinya rukun iman aza kaga ngerti. Jadi saya sarankan 1). cepatlah bertobat kepada Allah Swt; 2) belajar lagi ilmu agama dari orang2 shalih; 3) buang paham2 barat yg telah merasuki otak kamu. Ok!!!

    Post a Reply
  9. Maaf Pak, sehubungan dengan bagian penutup pada tulisan Anda sbb:

    Bukankah ide-ide kebebasan beragama dan berkeyakinan (tanpa ada batasan) dan pluralisme agama adalah ide-ide sekuler dan liberal yang kerap diusung negara-negara Barat terhadap umat Islam?

    Saya tertarik untuk bertanya dan mencoba mengerti, apa yang diajarkan oleh Islam mengenai hal ini, menentang kebebasan beragamakah, atau bagaimana?

    Post a Reply
  10. Pakacil Yth.

    Apakah Islam menentang kebebasan beragama??

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya yang beriman agar selalu berpegang pada aturan Islam, sesuai firman-Nya, artinya: “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya” (Al-Baqarah: 208). Ini adalah karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah yang lurus dan benar.
    Orang yang murtad adalah orang Islam yang keluar dari agamanya, juga berarti telah menentang aturan paten, seluruh alam dari langit, bumi, hewan dan tumbuhan yang diciptakan agar senantiasa tunduk dan patuh hanya kepada Allah saja, sebagaimana difirmankan, artinya: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi baik secara sukarela ataupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (Ali Imran: 83).

    Allah pun mensyari’at-kan adanya penegakan hudud, termasuk hadd (sanksi) bagi pelaku riddah (murtad). Hal ini semata-mata karena adanya tujuan syar’i yang sangat penting dan agung yaitu terjaganya agama (Islam).

    Shahibul Fatwa berkata: “Sesungguhnya jikalau pelaku murtad itu tidak dihukum mati maka tentu setiap orang yang memeluk Islam akan (seenaknya) keluar dari Islam. Hukuman (mati) tersebut tidak lain adalah untuk menjaga pemeluk Islam dan juga agama Islam. Hal ini untuk mencegah orang dari main-main dalam agama dan dengan leluasa dan seenaknya keluar darinya.”

    Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang mengganti agamanya (murtad, red) maka bunuhlah ia.” Maksud dari mengganti agama adalah mengganti Islam dengan agama lain, sebab pada dasarnya agama itu hanyalah Islam, sebagaimana firman Allah, artinya: “Barang siapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya.” (Ali Imran: 85).

    Kekacauan metode berfikir sebagian cendekiawan muslim yang umumnya belajar di negara Barat, maka tak heran dimasa ini banyak pemikir-pemikir yang melontarkan ide aneh seperti Jaringan Islam Liberal dan sejenisnya yang bertentangan dengan prinsip akidah Islam yang lurus. Kebebasan beragama merupakan salah satu pemikiran yg diusung oleh orang2 liberal dengan tujuan merusak aqidah umat Islam. Dengan dalih kebebasan beragama akhirnya umat islam nantinya akan se enaknya pindah agama, pdahal Islam sangat tegas melarang untuk keluar (murtad) dari Islam.

    Kebebasan beragama sprti yang dilakukan ahmadiyah dengan mencaplok (menodai) agama islam yg telah smpurna itu jelas merupakan kebebasan beragama yang sangat ditentang oleh Islam.

    Kepada non muslim, Islam wajib disampaikan, namun apabila mereka menolak masuk agama Islam, Islam tidak memaksa mereka untuk masuk islam. Islam memberikan kebebasan kpd mereka utk tetap dalam agama mereka. Namun Islam tidak memberikan kebebasan kepada mereka/jga kpada orang2 yg tidak pnya agama untuk mencaplok (menodai) agama Islam.
    Jika mereka tetap dalam kekafiran mereka, Islam tetap disampaikan kepada mereka secara tidak langsung yaitu dengan cara mensyiarkan Islam dan menerapkan Islam scra kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga dengan itu cahaya islam akan menerangi sluruh jiwa umat manusia sehingga manusia berbondong-bondong masuk Islam.

    Post a Reply
  11. Terima kasih atas penjelasan Anda.
    Mohon maaf, baru kali ini saya melihat kembali ke sini dan ternyata sudah ada respons, karena memang cukup lama tidak ada kan?
    :)

    Namun bagi saya, tanggapan Anda masih nampak sumir. Terdapat ketidaktegasan pada pengertian kebebasan beragama. Anda mencampur adukkan antara kebebasan memilih agama dan menjalankan praktek keberagamaan.

    Saya memandang dengan sangat sederhana.
    Surah Al Kafiruun, bagaimana posisinya terhadap kebebasan beragama?

    Kebebasan beragama berada dalam pengertian Kebebebasan untuk memeluk agama sangat dihormati oleh Islam. Jadi saya masih tidak dapat mengerti kalau ide kebebasan beragama itu semata ide yg diusung oleh negara barat. Itu juga merupakan sebuah konsepsi dasar dalam Islam yang menghormati keyakinan orang lain.

    Sementara contoh yang Anda sampaikan tidak relevan dengan persoalan kebebasan beragama. Lebih tepat berada pada bingkai praktek beragama.

    Terima kasih.

    Post a Reply
  12. Pakacil yang budiman:)

    Anda mencampur adukkan antara kebebasan dan memilih agama.
    kebebasan beragama menurut padangan barat yaitu bebas mau memilih agama apa saja bahkan bebas punya keyakinan agama baru, bahkan lebih parah lagi bebas mencaplok/menodai agama lain karena itu adalah hak asasi keberagamaan seseorang. Benarkah kebebasan berarti sebebas-bebasnya tanpa ujung?? jika arti kebebasan seperti itu di kaitkan dengan memilih-agama maka rusaklah agama dan hancurlah kesucian agama.

    Apakah kebebasan beragama dalam islam sama seperti halnya kebebasan beragama dalam doktrin barat???tidak samakan, karena kebebasan beragama dalam pandangan Islam yaitu umat non muslim/yg tidak beragama diberikan KEBEBASAN UNTUK MEMILIH apakah mau masuk agama islam atau tidak, jika tidak mau maka islam tidak akan memaksa mereka untuk masuk agama Islam. sedangkan untuk umat islam sendiri, islam TIDAK MEMBERIKAN KEBEBASAN memilih agama lain (murtad). inilah konsep kebebasan beragama dalam islam.

    Apa yg dilakukan ahmadiyah merupakan PENODAAN AGAMA ISLAM bukan kebebasan beragama.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *