Di Hari Kemenangan, Telah Satu Koma Tiga Juta Rakyat Irak Dibantai Amerika

Sejak invasi Amerika Serikat ke Irak sudah 1.339.771 umat manusia yang dibantai (justforeignpolicy.org).

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Rakyat Irak adalah manusia sebagaimana manusia lainnya yang memiliki hak fundamental untuk hidup. Mereka bukan binatang dan binatang pun tidak boleh dibantai.

Hingga kini tidak ada satu negara pun termasuk badan dunia seperti PBB yang memandang AS sebagai penjahat perang dan negara teroris, apalagi melawannya dengan mengangkat senjata.

Logika-logika berpikir politik internasional pun menjadi jungkir balik. Mengapa peradaban modern melahirkan pembantaian demi pembantaian?

Yang kita ingat ketika Amerika memaksakan diri menginvasi Irak tanpa legalitas perang adalah untuk mencari senjata pemusnah massal dan memerangi rezim pro teroris. Ternyata tidak ditemukan bukti senjata pemusnah massal dan tidak ada pula kaitan rezim Saddam Husein dengan al-Qaidah.

Yang kita dengar AS datang untuk membebaskan rakyat Irak dari kediktatoran rezim Saddam Husein dan membangun Demokrasi yang menjunjung tinggi harkat manusia. Tetapi yang kita ketahui AS tidak sekedar negara diktator terhadap negara lainnya melainkan negara imperialis sejati yang tanpa sungkan membunuh ratusan hingga ribuan nyawa dalam sekejap. Demokrasi telah menjadi alat AS untuk menjajah dunia dan merampok kekayaan minyak sebuah negara berdaulat.

Peradaban modern begitu ganas bagi yang tidak memiliki kekuatan. Karena yang lemah tersebut seperti buih di lautan atau seperti hidangan di atas meja makan yang menjadi santapan manusia serakah.

Keganasan peradaban modern disebabkan oleh nilai-nilai sekuler yang menjadi paradigma berpikir para pemimpin dunia. Mereka tidak takut terhadap Tuhan, bahkan kadang-kadang Tuhan pun mereka anggap tidak ada. Maka wajar mereka tidak memiliki rasa takut terhadap umat manusia yang mereka zalimi.

Keganasan peradaban modern juga disebabkan oleh dominasi ideologi Kapitalisme atas dunia. Ideologi ini adalah ideologi yang didorong oleh motif keserakahan dan ketamakan. Karenanya, ideologi ini menjadikan imperialisme atau penjajahan sebagai metode untuk memajukan dan melestarikan peradaban modern.

Lihatlah bagaimana krisis finansial global telah memukul AS yang oleh para pakar ekonomi dunia disebabkan oleh keserakahan pemodal di sektor keuangan. Lihatlah bagaimana keserakahan elit penentu kebijakan Amerika telah meluluhlantakkan negeri Irak dan Afghanistan.

Apakah dunia masih dapat disebut beradab jika tidak dapat menghukum kejahatan perang ini dan mencegahnya di masa depan? Apakah sebuah negara dapat disebut beradab jika diam atas kejahatan berat ini bahkan menganggap AS sebagai negara sahabat atau negara mitra?

Alasan-alasan ini sudah cukup untuk mendongkel Kapitalisme dari dominasi dunia. Bagi dunia Islam, tidak ada lagi argumentasi untuk mempertahankan nilai-nilai dan sistem yang berkarakter imperialis kecuali kembali pada sistem Islam itu sendiri.

Tidak pantas hari kemenangan dirayakan jika masih terdapat kaum Muslimin yang menderita akibat penjajahan seperti di Irak, Afghanistan, Palestina, Xinjiang, Somalia, Sudan, Pattani, Moro, Kashmir, India, dan Pakistan. Begitu pula tidak pantas jika problematika kaum Muslim belum dapat dipecahkan di mana sampai saat ini ratusan juta menderita kemiskinan dan kemelaratan.

Satu koma tiga juta rakyat Irak yang dibantai jangan lagi dibiarkan bertambah. Sudah saatnya hari kemenangan bagi umat Islam direngkuh dengat tegaknya Khilafah dan Syariah Islam. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *