<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; PERCATURAN IDEOLOGI</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/category/percaturan-ideologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Pergeseran Peradaban itu Realistis</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 10:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERCATURAN IDEOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[Husain Matla]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" title="krisis-guardian" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian-300x185.jpg" alt="" width="150" height="100" />Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak â€œcerdas pasarâ€, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--> <!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><br />
</span></p>
<h3 id="1278__1" style="text-align: center;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1277" title="krisis-guardian" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a></h3>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;">
<h3 id="1278__2" ><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;">
<h3 id="1278_oleh-husain-matla_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-align: center;"><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Oleh : Husain Matla</span></span></h3>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak â€œcerdas pasarâ€, serta kegagalan pemerintah melakukan <em>good governance</em>. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu. </span></p>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Keinginan agar semua orang berpikir â€œcerdas      pasarâ€ tidak relevan karena orang-orang yang cerdas pasar justru akan      menjadikan mayoritas orang â€œbodoh pasarâ€ (Kiyosaki, <em>Rich Dad Poor Dad</em>).      Ini ditunjang oleh sistem bunga yang membuat eksploitasi itu menjadikan      bisnis tak sekedar â€œpermainanâ€ tapi â€œpembantaianâ€. Dahlan Iskan menyatakan      betapa tak adilnya orang-orang yang di sektor keuangan mendapat keuntungan      40 %, sementara orang-orang di sektor riil hanya dapat untung 20 %. Tentu      saja ini sebuah eksploitasi karena orang-orang di sektor riil bekerja jauh      lebih keras.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Harapan supaya para kapitalis tidak rakus      juga tidak mungkin. Ini karena selisih yang terlalu besar antara sektor      keuangan dan sektor riil menjadikan eksploitasi benar-benar di depan mata.      Faktanya, sistem bunga menjadikan jual beli uang jauh lebih menarik dari      produksi dan jual beli barang.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ketika sebuah bangsa mencapai kejayaan,      mereka cenderung cinta kemewahan (Ibnu Khaldun, Mukadimah). Faktanya,      kecenderungan ini menjadikan mereka rakus dan tidak cerdas pasar. Tak ada      strategi kapitalisme untuk mengatasi kondisi ini. Mekanisme pasar tak      sanggup menghasilkan â€œtangan gaibâ€. Optimisme Adam Smith dan John Naisbitt      faktanya tak pernah terbukti. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Pesimisme David Ricardo terasa lebih realistis.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Tuntutan agar pemerintah melakukan <em>good      governance</em> tak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun, persaingan      yang terjadi bukan persaingan sempurna. Tapi persaingan oligopolistis,      bahkan monopolistis. Faktanya, manusia kemampuannya berbeda-beda. Tak semua      mereka kuda. Sebagiannya singa dan mayoritasnya kancil. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sikap pemerintah tak akan      mengubah suasana persaingan ini.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Selama ini diharapkan para pelaku bisnis      mempunyai jiwa spiritual dan sosial. Masalahnya, ini didapat dari mana?      Adanya pebisnis yang dermawan seperti Bill Gates tak bisa jadi contoh      karena bukan menjadi kecenderungan umum. Faktanya, tokoh-tokoh agama yang      diharapkan menambal kekurangan ini terbelenggu, terkalahkan dominasi      pasar. Tak pernah ada ceritanya para ulama menominasikan pengusaha yang      â€œkonsisten pada syariahâ€. Yang ada, para pengusaha menyeleksi ustadz yang      lebih â€œdisukai pasarâ€. Apalagi media dan lembaga rating selalu dikuasai      pemegang modal, bukan pemegang nilai.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Semua itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada sopir dan penumpangnya. Masalahnya adalah, mobil yang bernama kapitalisme ini memang menghasilkan sopir atau penumpang yang tamak, bodoh, atau tak berdaya. Adalah wajar kalau penduduk dunia semakin tak percaya pada ideology ini. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Lalu, apakah kapitalisme akan segera hancur? Dan bagaimana prospek dunia masa depan?</span></p>
<h1 id="1278_memasuki-era-stagnan_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Memasuki Era Stagnan</span></h1>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Umumnya, bangkitnya peradaban dominan yang kedua kali â€“berbeda dengan periode pertama&#8211; lebih dikarenakan kepahlawanan (heroism) daripada pencerahan (aufklarung). Ini dilakukan setelah terjadi friksi internal dan â€œperang duniaâ€ yang melanda peradaban itu. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi setelah dilanda konflik Roma-Goth dan selanjutnya diserang Attila the Hun (</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">452 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">). Begitu pula yang terjadi pada peradaban Isalam setelah konflik Baghdad-Kairo dan selanjutnya diserbu Hulagu the Mongol. Peradaban kapitalis pun begitu. Konflik mazhab laissez faire (Inggris/Prancis) versus kapitalisme negara (Jerman) selanjutnya memicu Perang Dunia I dan II. Setelah itu, biasanya muncul â€œnegara intiâ€ (meminjam istilah Huntington) yang menyelamatkan dan memimpin peradaban (Bizantium, Utsmani, AS). Karenanya, pasang naik peradaban itu berikutnya lebih dilandasi kuatnya metode dan implementasi daripada ide dan formulasi. Mereka unggul dalam pengorganisasian dan militer. AS tentu saja lebih unggul daripada Kakaisaran Inggris Raya dulu, sebagaimana Utsmani lebih unggul daripada Abbasiyah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Walau begitu, hal ini juga mempunyai imbas. Setelah peradaban itu surut, memang friksi internal (sebagaimana dalam periode pertama) tidak terlalu nampak. Namun, terjadi stagnasi. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi (abad VII M) dan peradaban Islam (abad XVI M) yang tampaknya besar tapi lemah dalam ide. Kecenderungan yang muncul hanyalah implementasi, bukannya internalisasi. Peradaban dilanjutkan dengan kurangnya kesadaran ideologis. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Peradaban kapitalis tampaknya sekarang juga demikian. Rusia dan China bukan negara yang â€œfundamentalisâ€ pada kapitalisme. Meraka bahkan menjalankannya dengan banyak perkecualian. Eropa selalu terombang-ambing antara Keynesian versus neoklasik. Brasil dan India tipikal khas implementator. AS pun tampaknya melanjutkan kapitalisme tak seyakin sebelumnya. Keadaannya begitu mirip dengan Bizantium, Goth, dan Franka (abad VII M) atau Utsmani, Safawi, dan Moghul (abad XVI M). Peradaban berjalan multipolar, datar, dan stagnan, walaupun sepintas tampak besar.</span></p>
<h3 id="1278_geliat-peradaban-bar_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Geliat Peradaban Baru</span></h3>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Namun, kondisi ini sebenarnya sangat kondusif jika di dunia muncul sebuah konsep baru peradaban. Realitanya, itulah yang terjadi saat munculnya Islam di Madinah tahun </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">632 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> dan saat bangsa-bangsa Barat mengorganisasikan dirinya melalui konferensi Westphalia tahun </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">1645 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> yang menjadi penyangga penyebaran sekularisme-kapitalisme di Barat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Untuk saat ini, tak ada konsep dunia lain yang siap menggantikan kapitalisme kecuali Islam. Sosialisme Amerika Latin sebanarnya hanyalah kapitalisme Keynesian dengan beberapa catatan. Itupun lebih didorong adanya orang kuat seperti Hugo Chaves dan Castro bersaudara. Tak ada prospek Amareika Latin akan memandu perubahan peradaban di dunia. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sedangkan Islam sebaliknya. Memang mulai abad akhir XVI M melemah. Selanjutnya negeri-negeri Islam satu per satu jatuh ke dalam cengkeraman imperialisme Barat. Tapi itu sebenarnya lebih karena stagnasi. Tak berarti konsepnya hilang. Bahkan disamping konsep itu tetap ada, banyak para pengembannya yang menyoroti dengan detail akan kesalahan dan kekeliruan kapitalisme dalam memimpin dunia. Banyak konsep-konsep hasil ijtihad bermunculan, tak hanya tentang thaharah, nikah, dan pengurusan mayat. Tapi juga menyangkut sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, serta sosial. Dua fondasi masyarakat Islam, yaitu ekonomi syariah dan sistem khilafah kembali populer. Sebagaimana survei SEM Institute dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis, tren pro syariah di Indonesia meningkat pesat (&gt; 80 %). Dan tren ini ternyata juga menjadi tren global dunia Islam. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Dalam tahapan stagnasi kapitalisme ini, pergeseran peradaban tempaknya sangatlah realistis. Tidakkah kita berkaca pada abad VII M dan abad XVI M? </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Semarang / 12 Okt â€˜08]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #003300;">Husain Matla, ST, MM </span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #993300;">adalah penulis produktif. Beberapa buku yang bernuansa ideologis telah lahir dari pena aktivis Hizbut Tahrir Jawa Tengah yang menyelesaikan pendidikan masternya di Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang (2002). Saat ini aktif sebagai Ketua Divisi URC HTI Jateng dan Direktur MATLa Institute. Pada Jurnal Ekonomi Ideologis Husain Matla mengasuh rubrik baru <strong><span style="font-family: Verdana;">Percaturan Ideologi</span></strong>.</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #003300;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Referensi:</span></strong></p>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Robert      T. Kiyosaki, <em>Rich Dad Poor Dad</em>, Gramedia 2004</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Mukadimah      Ibnu Khaldun</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">John      Naisbitt, <em>Mind Set</em>, Daras 2007</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Imam Suyuthi, <em>Tarikh Khulafa</em>, Pustaka      Al-Kautsar</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ensiklopedia      Tematis Dunia Islam, bagian <em>Khilafah</em></span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ensiklopedia      Tematis Dunia Islam, bagian <em>Pemikiran dan Peradaban</em></span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">An-Nabhani,      <em>An-Nizham al-Iqtishadiyu fil Islam</em></span></li>
</ul>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/14/kegagalan-kapitalisme-dan-solusi-islam-untuk-krisis-keuangan-global/" title="Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global">Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/15/demokrasi-kapitalis-tidak-berkah-ekonomi-islam-khilafah-itu-berkah/" title="Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah">Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/kerusakan-sistem-barat-semakin-tidak-teratasi/" title="Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi">Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/barat-terjungkal-karena-ekonomi-non-riil/" title="Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil">Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama: Dari Donald Bebek ke Mickey Mouse</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/05/obama-dari-donald-bebek-ke-mickey-mouse/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/05/obama-dari-donald-bebek-ke-mickey-mouse/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 06:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERCATURAN IDEOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[Husain Matla]]></category>
		<category><![CDATA[Obama]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Amerika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=1154</guid>
		<description><![CDATA[Tampilnya Barack Obama, capres partai Demokrat,  sebagai ikon politik baru AS disambut dengan gembira oleh banyak kalangan di Indonesia. Kegembiraan itu semakin bertambah dengan semakin anjloknya popularitas George W. Bush yang tampaknya semakin menyurutkan pula popularitas John McCain, rival Obama dari kubu Republik yang akan meneruskan program-program Bush. Apalagi belum lama ini Joe Bidden, cawapres Obama, menyatakan bahwa persahabatannya dengan McCain hendaklah ia kalahkan demi semangat perubahan pada negeri paman Sam itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img src="file:///C:/DOCUME~1/HIDAYA~1/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/obama.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1155" title="obama" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/obama.jpg" alt="" width="187" height="244" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: medium;"><em>Oleh </em> :Â  Husain Matla</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Tampilnya Barack  Obama, capres partai Demokrat,Â  sebagai ikon politik baru AS disambut  dengan gembira oleh banyak kalangan di Indonesia. Kegembiraan itu semakin  bertambah dengan semakin anjloknya popularitas George W. Bush yang tampaknya  semakin menyurutkan pula popularitas John McCain, rival Obama dari kubu  Republik yang akan meneruskan program-program Bush. Apalagi belum lama  ini Joe Bidden, cawapres Obama, menyatakan bahwa persahabatannya dengan  McCain hendaklah ia kalahkan demi semangat perubahan pada negeri paman  Sam itu. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Ada  semacam harapan yangÂ  cukup besar di Indonesia bahwa Amerika Serikat  tak akan mendiktekan kemauannya dengan semaunya di dunia. Harapan bahwa  AS akan mengubah kebijakannya dan menjadi negara yang lebih bersahabat  menjadi ulasan di banyak media. Yang dirasa lebih melegakan lagi, dominasi  Demokrat ini seolah adalah akhir dari imperialisme modern yang telah  menindas dunia terutama selama delapan tahun ini. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Benarkah?  Menurut beberapa fakta yang penulis amati, tampaknya kita masih perlu  berhati-hati. Untuk memahami AS, penulis melihat perlunya menengok pada  sejarah negara maupun sejarah kedua partai di negeri itu.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Sejarah  Imperialisme AS</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sebuah  pertanyaan yang cukup penting jika kita mengamati peta negara Amerika  Serikat adalah, â€œAdakah hubungan antara bentuk batas-batas antar negara  bagian yang sangat teratur di AS dengan imperialisme?â€ </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Seperti  kita tahu, batas-batas wilayah di AS teratur sekali, berupa garis-garis.  Karenanya, banyak negara bagian yang bentuknya persegi panjang. Betapa  berbeda dengan batas-batas wilayah di Indonesia yang umumnya tak teratur,  berdasar batas-batas alamiah seperti gunung, bukit, atau sungai. Kondisi  batas-batas wilayah di AS sebenarnya tak lepas dari sejarahnya. Bangsa-bangsa  Eropa penghuni AS di masa awal adalah bangsa berperadaban tinggi yang  melihat tanah mahaluas menghampar seakan tak berujung. Penghuni dari  wilayah itu pun hanyalah suku-suku Indian yang tentu dengan mudah akan  mereka kalahkan. Hal ini membuat masyarakat AS awal dengan gampang mempunyai  lanskap pembagian wilayah berdasarkan koordinat. Walau mereka masih  tinggal di timur, tanah bagian barat pun sudah mereka kapling-kapling.  Ini membuat kondisi ekonomi AS relatif stabil. Orang-orang yang kalah  di wilayah timur akan senantiasa pindah ke barat, sehingga tak ada yang  kalah di AS. Ini tentu sangat berbeda dengan di Indonesia di mana orang  yang â€œkalahâ€ akan menjadi gelandangan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Yang  menjadi masalah adalah, bagaimana jika tanah di AS sudah penuh? Bukankah  mereka terbiasa dengan sumber daya alam yang jauh lebih besar dari kebutuhan  mereka? Mereka ternyata punya jawaban: imperialisme.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Imperialisme  pada faktanya memang menjadi tuntutan bangsa AS. Secara psikologis,  mereka tak siap dengan wilayah yang besarnya tetap. Ketika mereka baru  tinggal di wilayah timur, mereka pun memberi alasan penguasaan wilayah  barat Amerika sebagai â€œ<em>Manifest Destiny</em>â€ (takdir nyata)Â   milik ras kulit putih. Ketika seluruh wilayah negara telah penuh, maka  mereka memperluas definisi â€œtakdir nyataâ€ ini untuk seluruh Pasifik  dan Atlantik. Penguasaan Kuba, Panama, dan Filipina sama sekali tak  mereka anggap sebagai kesalahan. Kenyataannya, semua itu tak hanya keputusan  presiden, tapi juga didukung Konggres. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Semenjak  runtuhnya Uni Soviet tahun 1991, pemerintah silih berganti antara Republik  dan Demokrat. Walau begitu, klaim bahwa AS pantas menyandang predikat  polisi dunia dan berwenang mempunyai senjata nuklir seolah sudah menjadi  aksioma. Tuntutan imperialisme tampaknya memang telah menjadi suara  umum, sadar atau tidak sadar, yang dijiwai oleh Partai Republik sekaligus  Partai Demokrat.</span></p>
<h1 id="1154_nafsu-perang-partai-_1" ><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Nafsu Perang  Partai Republik</strong></span></h1>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Yang  patut kita amati dari Partai Republik adalah bagaimana ciri khas pandangan  mereka atas masalah AS dan dunia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Partai  ini adalah partai yang mewakili para kapitalis Amerika Serikat yang  menguasai timur laut AS di masa revolusi serta berjasa mendanai AS untuk  bebas dari Kekaisaran Inggris. Revolusi Amerika tahun 1776, yang memerdekakan  AS dari Inggris, tampaknya memang bisa disebut sebagai revolusi orang-orang  kaya. Ini karena revolusi ini didukung para konglomerat yang sejak jauh  sebelum masa revolusi telah menjadi penguasa status quo di wilayah timur  laut itu. Karenanya, Revolusi Amerika hakekatnya adalah gerakan sparatisme  yang dipimpin para pemodal.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dengan  latar belakang ini Partai Republik bervisi menjadikan AS sebagai negara  dengan kekuatan besar yang memberikan keleluasaan luar biasa pada kekuatan  dagangnya untuk bersaing menjadi kekuatan dagang yang disegani di dunia.  Kenyataannya, pandangan inilah yang akhirnya menimbulkan bencana besar  bagi dunia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sebagaimana  kita tahu, Partai Republik merupakan pendukung kapitalisme radikal yang  berpijak pada azas <em>laissez faire</em> pimpinan Adam Smith, Thomas  Robert Malthus, serta Jean Baptiste Say. Kita ketahui, Adam Smith mengajarkan  bahwa manusia adalah makhluk ekonomi (<em>rational economic man</em>)  yang jika â€œdilepaskanâ€ akan menjadi makhluk pemburu materi yang  memberikan dunia kemakmuran. Malthus mengajarkan bahwa jumlah manusia  akan menyalip jumlah materi sehingga solusi terbaik ekonomi adalah menggenjot  bertambahnya materi. Sementara J.B. Say, dengan hukum Say-nya, menyatakan  bahwa solusi pertambahan materi itu adalah jika negara tidak campur  tangan, biarkan tiap individu berlomba meraih keinginannya karena ekonomi  akan berjalan â€œapa adanyaâ€. Intinya, kalau tiap orang bersaing dan  tidak dicampuri negara, negara justru akan sejahtera. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pandangan  ketiga filosof tadi menyebabkan Partai Republik cenderung menyerahkan  ekonomi sepenuhnya pada swasta. Sementara swasta, sesuai karakter dasarnya  â€“urusan mereka adalah bisnis bukannya pelayanan;Â  tujuan mereka  adalah keuntungan bukannya pemerataanâ€” menyebabkan rakyat AS sendiri  tereksploitasi sebagai konsumen dan buruh, serta para politisi sebagai  abdi kekuatan bisnis. Suasana ini makin bertambah parah dengan banyaknya  merger perusahaan besar yang menyebabkan kesenjangan sosial semakin  luar biasa. Pemerintah pun dengan mudah mereka dikte. Tentu ini bukan  salah swasta, tapi mengapa swasta disuruh memikirkan rakyat?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Presiden  Rutherford B. Hayes, seorang presiden AS pada akhir abad XIX,Â   mengatakan, â€œIni adalah pemerintahan dari perusahaan, oleh perusahaan,  dan untuk perusahaan.â€ Sementara Matthew Josephson, dalam studi kritisnya  tentang Amerika awal, <em>The Robber Barrons</em>, mengatakan, â€œAula  gedung dewan pembuat undang-undang diubah menjadi pasar di mana harga  suara ditawar dan hukum yang dibuat untuk dijadikan peraturan dibeli  dan dijual.â€ Mengomentari kedua pendapat itu, Noreena Herzt, seorang  profesor di Cambridge University, dalam <em>The  Silent Take Over</em>, menyatakan, â€œ<em>Sekitar 100 tahun kemudian situasi  tampaknya hampir sama secara keseluruhan, tidak hanya di Amerika, yang  memiliki sejarah panjang korupsi dan politik gombal, tetapi juga di  negara-negara lain. Ketika kita memasuki milenium baru, barangkali bisa  dikatakan bahwa seluruh dunia adalah dari perusahaan multinasional,  oleh perusahaan multinasional, untuk perusahaan multinasional. Persoalannya  sama, tingkat geografisnya menjadi sangat buruk. Perusahaan akibatnya  mulai menancapkan kekuasaan untuk mengatur apa yang boleh dan tidak  boleh dilakukan para politisi di seluruh dunia</em>.â€ </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">GlobalisasiÂ   kiranya adalah gambaran dari uraian Herzt itu. Sayangnya Partai Republik  tak hanya berjalan dengan penjajahan gaya baru ini. Ia biasa memaksakan  keinginannya dengan bekerja sama dengan militer, baik militer AS maupun  penguasa diktator militer di negara-negara berkembang. Kita telah tahu  bagaimana perampasan emas dan tembaga di Irian zaman Soeharto dulu.  Hasil dari Partai Republik lainnya adalah banyaknya orang cacat akibat  Perang Vietnam; tewasnya penduduk Afghanistan yang, seperti kata Jendral  Z.A Maulani, butuh 32 gedung WTC untuk menampungnya; serta tewasnya  lebih dari 650 ribu orang di Iraq karena kerunyaman politik pasca serangan  Bush.</span></p>
<h1 id="1154_obsesi-bebas-partai-_1" ><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Obsesi  Bebas Partai Demokrat</strong></span></h1>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Partai  Demokrat merupakan kekuatan rakyat Amerika awal. Bisa dikatakan partai  ini awalnya adalah partainya â€œwong cilikâ€. Mereka terdiri dari orang-orang  yang lari dari Eropa yang trauma pada penindasan raja, gereja, dan bangsawan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sayangnya,  bandul biasanya bergeser dari ekstrem satu ke ekstrem lain. Trauma akan  penindasan di Eropa menjadikan mereka mengikuti para filosof dan intelektual  sekular yang sangat memuja kehidupan bebas. Bisa kita katakan, jika  Republik adalah representasi Kapitalisme, maka Demokrat adalah representasi  Liberalisme. Keduanya sebenarnya berinduk pada satu sumber, Sekularisme.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sayangnya,  pandangan ini akhirnya juga memberikan bencana bagi dunia dalam bentuk  yang lain.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  Liberalisme pada akhirnya mendesak agama. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pada  mulanya masyarakat AS masih menghargai agama walaupun agama terpisah  dari kehidupan. Namun bagaimanapun agama hanya berada di ranah privat  sehingga tak punya taji untuk menghakimi orang-orang yang menyimpang.  Orang Demokrat dalam sejarah terbukti lembek, atau bahkan membantu,  terhadap berbagai penyimpangan itu. Pada awal abad XIX, ketika perbudakan  berlangsung dengan kejam di negara-negara bagian di wilayah selatan  AS, kaum Demokrat selatan justru mendukung praktek ini. Tahun 60-an,  ketika revolusi seksual menyebabkan pornografi tak lagi dianggap tabu,  aktivis partai ini pun bersikap lunak. Para pegiat film Hollywood pun  umumnya pro Demokrat. Sejak pemerintahan Clinton sampai sekarang, eksistensi  kaum homoseks didukung kaum Demokrat. Partainya Clinton ini juga mendukung  pembunuhan jika â€œpelaksanaannya tidak nampak kejamâ€. Selain mereka  mendukung aborsi, yang menghilangkan nyawa sebelum menyentuh dunia,  mereka juga mendukung embargo ekonomi atas Iraq yang menyebabkan lebih  dari 500 ribu bayi meninggal. Banyak presiden dari partai ini terlibat  skandal perselingkuhan sejak dulu, seperti Thomas Jefferson, F.D Roosevelt,  JFK, serta Bill Clinton. Relatif berbeda dengan presiden dari kubu lawannya  yang terlibat skandal korupsi (Ulysess S. Grant), skandal mata-mata  (Nixon), skandal senjata (Reagan) dan skandal konglomerasi (Bush Senior). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kedua,  Liberalisme menyebabkan pragmatisme. Bagaimanapun juga, lemahnya agama  menjadikan pengambilan keputusan seringkali didasari kepentingan sesaat.  Prinsip pun bukan suatu yang mutlak sehingga gampang diingkari. Al Gore  dengan mudah mengingkari janjinya setelah terpilih sebagai wapres. Dukungan  atas perbudakan di masa lalu adalah karena kepentingan ekonomi. Andrew  Jackson, seorang Demokrat yang akhirnya jadi presiden di abad XIX, membantai  kaum Indian Apache dan Sioux demi mendapatkan dukungan politis para  petani dan peternak di wilayah barat. Presiden Roosevelt merasa malu  untuk bersikap garang menyikapi Perang Dunia, tapi meminta kalangan  angkatan laut dan pemerintah Hindia Belanda untuk memancing Jepang menyerang  pantai barat AS. Pada akhirnya ia mendapat dukungan rakyat uintuk berperang  dan menghadiahi Heroshima dan Nagasaki dengan bom atom. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Karenanya,  kiranya tak perlu keburu gembira dengan kemunculan Obama dan Bidden.  Tampaknya imperialisme tak akan segera sirna. Perpindahan yang terjadi  di negeri itu tampaknya hanyalah dari brutalisme ala Donald Bebek ke  pragmatisme model Mickey Mouse. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Bukan  berarti kita antipati pada Obama. Tapi kebijakan negeri Paman Sam itu  sebenarnya merupakan kebijakan ideologi. Dan Obama hanyalah bagian ideologi  itu.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;">Referensi</span></p>
<ol type="1">
<li><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"><em>Garis Besar Sejarah Amerika</em>,    Departemen Luar Negeri AS.</span></li>
<li><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;">Noreena Herzt, <em>Perampok    Negara, Kuasa Kapitalisme dan Matinya Demokrasi</em> (The Silent Take    Over, Global Capitalism and The Death of Democracy), Alenia, Jogjakarta,    2005. </span></li>
<li><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;">Joel Andreas, kartun ilmiah    â€œNafsu Perangâ€ bagian <em>Manifest Destiny.</em></span></li>
<li><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;">John Perkins, <em>Confessions    of Economic Hit Man</em> (Pengakuan Seorang Ekonom Perusak), Abdi Tandur,    Jakarta, 2005, bagian Kata Pengantar dan Pendahuluan.</span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><br />
</span></li>
</ol>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Husain Matla</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Direktur <em> MATLa Institute</em> Semarang</span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/26/hai-obama-amerika-tidak-akan-sembuh-dengan-retorika/" title="Hai Obama, Amerika tidak akan Sembuh dengan Retorika!">Hai Obama, Amerika tidak akan Sembuh dengan Retorika!</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/13/obama-loyalis-yahudi-dan-babak-baru-imperialisme-as/" title="Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS">Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/" title="Pergeseran Peradaban itu Realistis">Pergeseran Peradaban itu Realistis</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/03/otonomi-daerah-alat-konglomerasi-internasional/" title="Otonomi Daerah: Alat Konglomerasi Internasional">Otonomi Daerah: Alat Konglomerasi Internasional</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/05/obama-dari-donald-bebek-ke-mickey-mouse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Otonomi Daerah: Alat Konglomerasi Internasional</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/03/otonomi-daerah-alat-konglomerasi-internasional/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/03/otonomi-daerah-alat-konglomerasi-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 16:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERCATURAN IDEOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[Husain Matla]]></category>
		<category><![CDATA[Imperialisme Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Otonomi Daerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=1145</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/jebakan-otonomi-daerah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1146" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" title="jebakan-otonomi-daerah" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/jebakan-otonomi-daerah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Apa hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan? Mengapa dalam era otonomi daerah sekarang justru kemiskinan sangat merajalela? Sebagaimana dinyatakan Bank Dunia, angka kemiskinan di Indonesia mencakup lebih dari 70 juta jiwa. Lantas apakah berarti otonomi daerah justru berkorelasi negatif terhadap kesejahteraan?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/jebakan-otonomi-daerah.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1146" title="jebakan-otonomi-daerah" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/09/jebakan-otonomi-daerah.jpg" alt="" width="240" height="200" /></a></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Oleh : <strong>Husain Matla</strong></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Apa hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan? Mengapa dalam era otonomi daerah sekarang justru kemiskinan sangat merajalela? Sebagaimana dinyatakan Bank Dunia, angka kemiskinan di Indonesia mencakup lebih dari 70 juta jiwa. Lantas apakah berarti otonomi daerah justru berkorelasi negatif terhadap kesejahteraan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Sebelum kita meneliti semua itu, setidaknya bisa kita temukan fakta bahwa lahirnya otonomi daerah di Indonesia lebih karena perubahan kondisi politik daripada alasan paradikmatik-empirik. Tahun 1998, masyarakat Indonesia merasakan kemuakan atas pemerintahan yang sangat sentralistis dan ingin menuju pola masyarakat yang lebih menjanjikan kebebasan. Realitasnya, setelah masyarakat Indonesia berada dalam era otonomi daerah, berbagai problem bermunculan dan implemenasi atas konsep otonomi itu memunculkan banyak konflik baik vertikal maupun horizontal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Dalam paparan singkat ini, penulis ingin memberikan catatan bahwa pelaksanaan otonomi daerah pada faktanya telah menimbulkan empat problem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"> </span></p>
<h1 id="1145_empat-problem-otonom_1" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Empat Problem Otonomi Daerah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Pertama</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, pudarnya negara kesatuan. Dalam negara kesatuan, pemimpin negara adalah atasan para pemimpin di bawahnya. Namun di Indonesia, apakah faktanya memang demikian? Kenyataannya sangat jauh dari itu. Bagaimanapun para gubernur, bupati, dan walikota untuk terpilih butuh dukungan partai-partai. Realitas ini membuat mereka lebih taat pada pimpinan partai yang mendukung mereka. Undangan pertemuan pemerintah di atasnya sering diabaikan, sementara undangan pimpinan partai ditanggapi segera, bahkan cepat-cepat berangkat dengan memakai uang negara. Ini membuat Indonesia seperti mempunyai banyak presiden. Walaupun para pimpinan partai tidak memerintah, tapi mereka mengendalikan para gubernur dan kepala daerah yang didukung partai mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Kedua</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, lemahnya jalur komando. Dalam konsep otonomi daerah, para gubernur bukan atasan bupati/walikota. Sementara pemerintah pusat membawahi daerah yang jumlahnya lebih dari empat ratus buah. Di sisi lain, gubernur juga merupakan jabatan politis yang untuk meraihnya membutuhkan dukungan politik partai. Seringkali yang terjadi presiden, gubernur, dan bupati/walikota berasal dari partai yang berbeda. Kiranya, adalah wajar kalau dengan semua itu jalur komando dari pusat ke daerah menjadi terputus. Kemampuan pusat hanyalah mengkoordinasikan seluruh pemerintahan di bawahnya, itupun dalam tingkat koordinasi yang sangat lemah. Ini mengakibatkan program-program pemerintah pusat tidak berjalan, padahal banyak program yang sangat penting demi keselamatan rakyat. Alasan Menkes Siti Fadilah Supari terkait kegagalam penanganan flu burung, dimana instruksi dan dana dari departemen kesehatan tidak mengalir ke sasaran karena para kepala daerah tidak mempedulikan (sehingga banyak korban berjatuhan), kiranya cukup relevan sebagai contoh.<sup>1</sup> Realitasnya NKRI sekarang telah tiada. Yang ada hanyalah persekutuan ratusan kabupaten dan kota di Indonesia.<sup>2</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Ketiga</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, semakin kuatnya konglomeratokrasi. Putusnya jalur komando dalam pemerintahan di Indonesia terasa sangat ironis jika melihat kekuatan komando di partai dan perusahaan. Partai dan perusahaan umumnya bersifat sentralistis. Pimpinan pusat bagaimanapun juga adalah atasan pimpinan di tingkat provinsi. Dan pimpinan tingkat provinsi adalah atasan pimpinan tingkat daerah. Ini membuat partai dan perusahaan di Indonesia jauh lebih solid daripada pemerintah. Partai dan perusahaan lebih terasa sebagai suatu â€œpihakâ€. Ini lain dengan pemerintah yang lebih terasa sebagai â€œkumpulanâ€ atau bahkan sekedar â€œtempat persainganâ€. Dengan melihat bahwa pemerintahan di Indonesia terpecah-pecah, pemimpin pemerintahan butuh dukungan partai, dan partai butuh dana yang umumnya mengandalkan dukungan para konglomerat, maka bisa disimpulkan bahwa konglomerat merupakan subjek atas partai dan partai merupakan subjek atas pemerintah. Ini berarti yang berkuasa di Indonesia adalah para konglomerat. Realitas ini semakin terasa parahnya jika mengingat bahwa Indonesia sangat tergantung modal asing dan bahwa kekuatan korporasi di dunia saat ini di atas negara (sebagaimana dinyatakan Prof. Hertz, dari 100 pemegang kekayaan terbesar di dunia sekarang 49-nya adalah negara, sementara 51-nya perusahaan; kekayaan Warren Buffet, orang terkaya di dunia, di atas APBN Indonesia).<sup>3</sup> Bisa dibayangkan jika di jaman dulu puluhan kerajaan dengan kondisi politiknya yang â€œmungkin terpecahâ€ bisa dikuasai oleh VOC (sebuah perusahaan dunia), bagaimana sekarang ratusan daerah yang umumnya secara politis â€œsudah terpecahâ€ menghadapi puluhan VOC baru yang kekuatannya di atas negara? Dari fakta ini saja sangat bisa dipahami mengapa Indonesia berada dalam cengkeraman korporatokrasi/konglomeratokrasi.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Keempat</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, terabaikannya urusan rakyat. Asumsi yang diberlakukan dalam konsep otonomi daerah adalah rakyat bisa mengurus dirinya sendiri. Pelaksanaan asumsi ini adalah bahwa para gubernur, bupati, dan walikota, walaupun tidak dalam komando pemerintah pusat, tetapi<span> </span>dalam kontrol DPRD setempat. Sayangnya, bagaimanapun juga DPRD mempunyai realitas yang sama dengan para pimpinan pemerintahan dalam hubungannya dengan partai dan korporasi/konglomerat. Ini berarti kekuasaan korporasi justru semakin mengakar. Realitas ini bisa dilihat dari fakta bahwa berbagai parameter keberhasilan adalah ukuran korporasi, bukan ukuran kesejahteraan rakyat. Padahal, seringkali hitungan korporasi tidak sesuai dengan hitungan kesejahteraan. Dengan ukuran pendapatan per kapita (angka yang dibutuhkan korporasi), banyak kabupaten di Indonesia mempunyai pendapatan per kapita di atas Rp.18 juta per tahun (Rp. 1,5 juta/bulan atau Rp. 6 juta / keluarga). Itu berarti banyak keluarga di Indonesia yang mempunyai penghasilan di atas keluarga doktor. Kenyataannya, lebih 70 juta lebih rakyat miskin (angka kemiskinan merupakan hitungan kesejahteraan). Indonesia memang negeri yang sangat aneh. Berbagai bentuk iklan semakin megah dan meriah. Tapi jalan-jalan semakin berlubang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Kiranya, empat problem di atas sudah bisa menggambarkan bagaimana hubungan antara otonomi daerah dengan munculnya berbagai problem di Indonesia. Dengan otonomi, harapannya adalah suasana yang lebih bebas dan desentrlistis. Kenyataannya, sentralisasi lama dipreteli kekuasaannya untuk masuk sentralisasi baru, yaitu kekuasaan korporasi/konglomerasi internasional.</span></p>
<h1 id="1145_solusi-syariah_1" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Solusi Syariah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Selain konsep otonomi daerah, alternatif solusi lain yang dalam dekade terakhir mulai menjadi bahasan banyak pihak untuk memperbaiki kesejahteraan negeri ini adalah konsep ekonomi syariah. Hanya saja, sebenarnya kita perlu membahasnya secara lebih makro, yaitu solusi syariah secara makro untuk negara. Selain terasa janggal jika rakyat Indonesia yang mayoritas muslim tidak pernah mencoba membahas tentang solusi syariah, solusi syariah sendiri secara paradikmatik-empirik mempunyai beberapa kekuatan. Solusi syariah secara makro juga mempunyai pandangan khas tentang desentralisasi. Terdapat beberapa hal yang menjadi kebijakan negara berdasar solusi syariah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Pertama</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, sentralisasi politik. Selama ini orang umumnya trauma jika berbicara tentang sentralisasi. Semua itu bisa dipahami jika mengingat sentralisasi di jaman Soeharto (Orde Baru). Namun sentralisasi dalam syariah cukup berbeda dengan sentralisasi orde baru. Sentralisasi orde baru cukup ekstrim. Pemerintah pusat bukan hanya merupakan atasan pemerintahan di bawahnya. Tapi juga mempreteli kekuasaan di bawahnya dan mencengkeram dengan sangat kuat berbagai bidang operasional daerah dengan berbagai departemennya. Sentralisasi dalam syariah lebih menekankan agar negara berada dalam satu kesatuan politik. Ini dilakukan dengan cara khalifah (kepala negara) mempunyai akses komando atas pemerintahan di bawahnya, berhak mengangkatnya, dan berhak memberhentikannya. Sedangkan kekuasaan yang langsung dipegang pemerintah pusat itu sendiri lebih pada kekuasaan yang tidak bersifat operasional dan administratif, seperti militer, kepolisian, luar negeri, ekonomi kebijakan, dan keuangan.<sup>5</sup> Dalam pemerintahan Islam biasa dikenal <em>wali zakat</em> dan <em>wali sholat</em>.<sup>6</sup> Wali zakat adalah gubernur keuangan dalam tiap-tiap provinsi, yang menjadi saluran input keuangan dari daerah ke pusat. Sementara wali sholat adalah gubernur sebagaimana dalam pengertian sekarang, yang memikirkan urusan rakyat dengan anggaran yang dibutuhkan<span> </span>&#8211;hanya saja dalam Islam anggaran meminta ke pusat sesuai kebutuhannya. Ini berarti sektor input dan output keuangan berada dalam jalur yang berbeda. Kondisi ini diharapkan akan menguntungkan daerah dalam beberapa hal: komando pusat, anggaran yang jelas, lebih bersih dari politisasi dalam amsalah operasional, dan lebih terjaga dari korupsi. Bagi negara secara keseluruhan lebih utuh secara politik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Kedua</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, kontrol pemerintahan yang sehat. Gambaran pemerintahan dengan strukur pohon di atas barangkali memunculkan kekhawatiran. Yaitu: kesewenang-wenangan pemerintah pusat dan kurangnya partisipasi publik dan partisipasi daerah. Hal ini sebenarnya bisa dihindari dengan fakta bahwa syariah lebih menekankan agar pemerintah pusat dikontrol, bukan dipreteli kekuasaannya. Beberapa hal yang disiapkan syariah untuk menciptakan kondisi ini adalah: 1) Larangan memberhentikan mahkamah mazhalim (pimpinan peradilan negara) ketika sudah mendapat aduan tentang pemerintah. 2). Anggota majelis umat (dewan perwalikan) dipilih langsung oleh rakyat. 3) Majelis Umat terdapat di pusat, provinsi,dan daerah. Mereka merupakan lembaga kontrol dan masukan. 4). Partai politik bebas berdiri sepanjang berdasarkan syariah Islam, tugasnya bukan mencari kedudukan tapi mengontrol pemerintahan dan menyuarakan aspirasi masyarakat.<sup>7</sup> Jadi, berdasar syariah pemerintah pusat â€œdipaksa kuat, tapi juga dijaga supaya warasâ€. Kondisi ini juga lebih sesuai dengan kebutuhan rakyat untuk â€œmempunyai pemerintahan yang baikâ€, bukannya â€œingin memerintah sendiriâ€.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Ketiga</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, desentralisasi administrasi. Sungguhpun berlaku sentralisasi politik, tapi administrasi terdesentralisasi. Berbagai bidang operasional seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kebutuhan publik menjadi tanggung jawab daerah.<sup>8</sup> Dengan melihat fakta bahwa daerah tidak menjadi jalur input keuangan tapi jalur output pelayanan, maka rakyat akan merasakan manfaat desentralisasi. Desentralisasi tidak akan dirasakan sebagai â€œnaiknya karcis parkirâ€ dan â€œmelambungnya pajakâ€ seperti saat ini. Desentralisasi akan dirasakan sebagai kecepatan dalam pelayanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Keempat</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, orientasi pemerataan. Berbeda dengan sistem ekonomi yang ada sekarang yang menganggap masalah ekonomi adalah kelangkaan, penanganan kelangkaan butuh produksi, pelaksanaan produksi butuh korporasi, kelancaran korporasi butuh peran pemerintah sebagai fasilitator korporasi; sistem ekonomi Islam mempunyai filosofi berbeda. Sistem ekonomi Islam berdasarkan filosofi tersendiri, yaitu masalah ekonomi adalah kurangnya distribusi, pelaksanaan distribusi butuh peran negara, peran negara butuh kebijakan yang adil, kebijakan yang adil butuh rujukan syariah. Kenyataannya, syariah memang sangat mengatur masalah distribusi. 1). Zakat untuk mengembalikan fakir, miskin, dan gharim (penghutang) kembali ke titik nol. 2). Seluruh sumber daya alam adalah milik umat dan dipakai untuk sesejahteraan umat sedangkan negara sekedar pengelola. 3) Kebijakan agraria yang sangat melindungi petani, seperti larangan menganggurkan tanah tiga tahun, penyitaan negara atas tanah yang dianggurkan, serta kebolehan memagari tanah kosong.<sup>9</sup><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Sedikit contoh paradigma syariah Islam dalam kehidupan bernegara itu kiranya bisa menjadi pertimbangan baru untuk mengambil langkah yang tepat untuk negeri ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Referensi:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>1.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Siti Fadilah Supari<em>, Saatnya Dunia Berubah; Tangan Tuhan di Balik Flu Burung</em>, SWI, Jakarta, 2008. Lihat bagian <em>Perjuangan Belum Selesai</em>, hal 142.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>2.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Husain Matla, <em>Demokrasi Tersandera? Menyingkap Misteri 2 Â¼ Abad (1783- sekarang</em>), Big Bang, Semarang, 2007. Lihat hal 50, bab <em>Planet Robot</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>3.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Lihat hal 8 dari <em>Perampok Negara</em> (edisi Indonesia), karya Noreena Herzt,bagian <em>Monster-monster Perusahaan</em>, terbitan Alenia, Jogjakarta, 2005.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>4.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Jurnal Al-Waie Januari 2008, <em>Demokrasi dan Kedaulatan Pemilik Modal</em>, Husain Matla.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>5.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></em><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Nizhamul Hukmi fil Islam</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">, Taqiyuddin An-Nabhani, Daarul Bayaarid, Beirut, bagian <em>Nizham</em> <em>Khilafah</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>6.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></em><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Ibid. bagian <em>Wali</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><em><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>7.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></em><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Ibid, bagian <em>Majlisul Ummah</em>, <em>Qadhi Mazhalim</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 39.75pt; text-indent: -21.75pt;"><!--[if !supportLists]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span>8.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Lihat <em>An-Nizham al-Iqtishadiyu fil Islam</em>, Taqiyuddin An-Nabhani, bagian <em>Milkiyah</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;">Husain Matla, ST, MM </span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"></span><span style="font-size: 8pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #003300;"><span style="color: #993300;">adalah penulis produktif. Beberapa buku yang bernuansa ideologis telah lahir dari pena aktivis Hizbut Tahrir Jawa Tengah yang menyelesaikan pendidikan masternya di Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang (2002). Saat ini aktif sebagai Ketua Divisi URC HTI Jateng dan Direktur MATLa Institute. Pada Jurnal Ekonomi Ideologis Husain Matla mengasuh rubrik baru <strong>Percaturan Ideologi</strong>.</span> </span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/" title="Pergeseran Peradaban itu Realistis">Pergeseran Peradaban itu Realistis</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/05/obama-dari-donald-bebek-ke-mickey-mouse/" title="Obama: Dari Donald Bebek ke Mickey Mouse">Obama: Dari Donald Bebek ke Mickey Mouse</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/bagaimana-solusi-kesenjangan-akibat-neoimperialisme/" title="Bagaimana Solusi Kesenjangan Akibat Neo Imperialisme ?">Bagaimana Solusi Kesenjangan Akibat Neo Imperialisme ?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/11/menyikapi-imperialisme-gaya-baru/" title="Menyikapi Imperialisme Gaya Baru">Menyikapi Imperialisme Gaya Baru</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/09/cengkeraman-kapitalisme-global-di-indonesia/" title="Cengkraman Kapitalisme Global di Indonesia">Cengkraman Kapitalisme Global di Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/07/sarana-dan-cara-imperialisme-barat-di-bidang-ekonomi/" title="Sarana dan Cara Imperialisme Barat di Bidang Ekonomi">Sarana dan Cara Imperialisme Barat di Bidang Ekonomi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/04/10/imperialisme-moneter/" title="Imperialisme Moneter">Imperialisme Moneter</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/01/06/strategi-amerika-menguasai-ekonomi-dunia/" title="Strategi Amerika Menguasai Ekonomi Dunia">Strategi Amerika Menguasai Ekonomi Dunia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/11/16/apbn-alat-kepentingan-kapitalis-lokal-dan-imperialis-asing/" title="APBN Alat Kepentingan Kapitalis Lokal dan Imperialis Asing">APBN Alat Kepentingan Kapitalis Lokal dan Imperialis Asing</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/11/13/fakta-dan-hukum-syara-tentang-hak-cipta/" title="Fakta dan Hukum Syara tentang Hak Cipta">Fakta dan Hukum Syara tentang Hak Cipta</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/03/otonomi-daerah-alat-konglomerasi-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
