<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; LAPORAN KHUSUS</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/category/laporan-khusus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Brutalisme di Koja: Output dari Sistem yang Brutal</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2010/04/15/brutalisme-di-koja-output-dari-sistem-yang-brutal/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2010/04/15/brutalisme-di-koja-output-dari-sistem-yang-brutal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 00:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA dan OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[LAPORAN KHUSUS]]></category>
		<category><![CDATA[Brutalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Rusuh Koja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2613</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" style="border: 1px solid black; margin: 2px;" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/04/14/2349217t.jpg" alt="" width="100" height="80" />Negeri ini tidak henti-hentinya mengalirkan darah. Meski bukan zaman perang, pertumpahan darah selalu mewaranai negeri kita. Ada apa dengan Indonesia?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px;" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/04/14/2349217t.jpg" alt="" width="190" height="120" />Negeri ini tidak henti-hentinya mengalirkan darah. Meski bukan zaman perang, pertumpahan darah selalu mewaranai negeri kita. Ada apa dengan Indonesia?</p>
<p>Dalam tayangan televisi, begitu jelas terlihat bagaimana aparat Satpol PP menerapkan &#8220;brutalisme&#8221; terhadap rakyat yang tidak setuju dengan penggusuran. Tentu saja praktek brutalisme ini berbuah balasan sikap brutal masyarakat terhadap aparat. Dilaporkan puluhan jadi korban dan tiga di antaranya tewas.</p>
<p>Di balik peristiwa Koja, ada indikasi umum jika penegakkan hukum terhadap rakyat kecil dilakukan dengan tegas dan keras, bahkan menggunakan cara &#8220;tangan besi&#8221; tanpa mengenal belas kasihan. Sebaliknya jika pejabat atau elit politik yang melakukan pelanggaran hukum ketegasan penegakkan hukum hampir tidak ada dan cenderung ditutupi. Ini adalah salah satu indikasi bahwa negeri kita sedang mengarah pada kehancuran.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW bersabda: <em>&#8220;Hancurnya umat-umat terdahulu adalah tatkala kalangan rakyat jelata melakukan pelanggaran, mereka menerapkan hukum dengan tegas, tetapi manakala pelanggar itu dari kalangan bangsawan, mereka tidak melaksanakan hukum sepenuhnya. Oleh karena itu, sekiranya Fathimah putri Rasulullah mencuri, pasti kopotong tangannya.&#8221;</em></p>
<p>Patut kita sadari korban rusuh Koja adalah rakyat kecil. Baik aparat maupun masyarakat sama-sama rakyat kecil. Karena itu bentrok berdarah-darah yang sangat mengerikan ini sebenarnya pola konflik yang menghadap-hadapkan sesama rakyat kecil. Sementara yang berkepentingan di balik konflik tersebut pejabat dan pemilik modal.</p>
<p>Brutalisme di Koja hanyalah satu titik praktek brutal yang terjadi di Indonesia. Ini adalah output sistem yang brutal. Sistem yang menjadikan kepentingan-kepentingan ekonomi pemilik modal mendasari tindakan brutal aparat terhadap masyarakat. Tidak sedikit kepentingan-kepentingan tersebut direalisasikan secara ilegal melalui praktek korupsi kebijakan.</p>
<p>Sekali lagi, brutalisme di Koja yang juga terjadi di tempat-tempat lainnya adalah hasil dari sistem yang brutal. Sistem yang memfasilitasi perselingkuhan antara elit politik/pejabat, penegak hukum, dan pemilik modal. Sistem yang tidak menjadikan hukum-hukum Allah sebagai standar dan sumber aturan. Inilah Kapitalisme-Sekularsime yang menjadi sumber kerusakan di negeri kita. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS /www.jurnal-ekonomi.org]</p>
<p>Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.<br />
<h3>Random Posts</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/23/uni-eropa-kebingungan-hadapi-krisis-global/" title="Uni Eropa &#8220;Kebingungan&#8221; Hadapi Krisis Global">Uni Eropa &#8220;Kebingungan&#8221; Hadapi Krisis Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/04/16/hidup-sejahtera-dalam-naungan-islam/" title="Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam">Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/03/15/syariat-islam-dalam-mewujudkan-clean-governance-dan-good-government/" title="Syariat Islam dalam Mewujudkan “Clean Governance dan Good Government”">Syariat Islam dalam Mewujudkan “Clean Governance dan Good Government”</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/19/editorial-media-indonesia-mendukung-aliran-sesat/" title="Editorial Media Indonesia Mendukung Aliran Sesat">Editorial Media Indonesia Mendukung Aliran Sesat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/banking-crisis-timeline/" title="Banking Crisis Timeline">Banking Crisis Timeline</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/09/23/nota-keuangan-dan-rapbn-2008/" title="Nota Keuangan dan RAPBN 2008">Nota Keuangan dan RAPBN 2008</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/26/sistem-dinar-emas-solusi-untuk-perbankan-syariah/" title="Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah">Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah</a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2010%2F04%2F15%2Fbrutalisme-di-koja-output-dari-sistem-yang-brutal%2F&amp;linkname=Brutalisme%20di%20Koja%3A%20Output%20dari%20Sistem%20yang%20Brutal"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2010/04/15/brutalisme-di-koja-output-dari-sistem-yang-brutal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Neoliberalisme di Indonesia</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/22/jejak-neoliberalisme-di-indonesia/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/22/jejak-neoliberalisme-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 23:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[LAPORAN KHUSUS]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Neoliberalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2125</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="indonesia" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/06/indonesia.jpg" alt="indonesia" width="135" height="90" />Saat ini perbincangan tentang Neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme), sehingga banyak yang memandang Neoliberalisme hanya sebatas â€œismeâ€ anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. Karena itu pula pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah pemerintahan Neoliberal melainkan pemerintahan yang menjalan kebijakan ekonomi jalan tengah. SBY beralasan pemerintahannya masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN"><strong><br />
</strong></span></em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/06/indonesia.jpg"><img style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="indonesia" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/06/indonesia.jpg" alt="indonesia" width="135" height="90" align="left" /></a>Menjelang digelarnya pemilihan umum presiden pada 8 Juli 2009, &#8220;neolib&#8221; menjadi salah satu topik paling hangat. Hal ini seiring dengan dipilihnya Boediono oleh SBY sebagai pendampingnya di dalam memimpin Indonesia ke depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Tidak dapat dipungkiri, &#8220;neolib&#8221; atau Neoliberalisme telah menjadi isu <span> </span>menguntungkan bagi kandidat Mega-Pro dan JK-Win dan sebaliknya merugikan kandidat <em>incumbent</em> SBY-Boediono. Isu ini membuat kubu SBY-Boediono &#8220;kebakaran jenggot&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">SBY menyebut pihak-pihak yang menuduhnya &#8220;neolib&#8221; tidak memahami apa yang disebut dengan Neoliberalisme. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV">Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah tidak mungkin menerapkan sistem ekonomi neoliberal. Begitu pula Pjs Gubernur BI, Miranda S. Goeltom menganggap dirinya yang sudah 42 tahun belajar ekonomi tidak mengenal apa itu neoliberalisme. Sejumlah ekonom seperti Chatib Basri dan Raden Pardede juga menekankan bahwa tidak ada jejak Neoliberalisme di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Definisi dan Akar Ideologi Neoliberalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Saat ini perbincangan tentang Neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme), sehingga banyak yang memandang Neoliberalisme hanya sebatas â€œismeâ€ anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. Karena itu pula pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah pemerintahan Neoliberal melainkan pemerintahan yang menjalan kebijakan ekonomi jalan tengah. SBY beralasan pemerintahannya<em> </em>masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Neoliberalisme juga lebih banyak dipandang sebagai konsep ekonomi pasar berdasarkan Konsensus Washington yang dirumuskan oleh John Williamson (1989). Konsensus Washington yang berisi 10 item liberalisasi ekonomi seperti disiplin fiskal, deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, dan liberalisasi sektor finansial menjadi standar paket reformasi ekonomi yang ditawarkan (baca: dipaksakan) IMF, Bank Dunia, dan Amerika Serikat kepada dunia ketiga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Neoliberalisme merupakan â€œismeâ€ yang dinisbatkan kepada â€œwatakâ€ pemerintahan Augustu Pinochet (1873-1990) di Chile hasil perselingkuhan keditaktoran dengan ekonomi pasar bebas (B. Hery Priyono: 2009). Perselingkuhan ini terjadi ketika Pinochet yang meraih kekuasaan melalui kudeta berdarah mengangkat <em>Chicago boys</em> untuk mengelola kebijakan ekonomi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Chicago boys</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> adalah para pemuda Chile yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Chicago. Selama 1955-1963, 30 pemuda Chile telah mendapat gelar PhD di bidang ekonomi. Di universitas inilah <span> </span>para pemuda tersebut dicuci otaknya dengan pemikiran ekonomi ala mazhab Chicago, yakni mazhab ekonomi yang dikembangkan oleh seorang imigran Yahudi Milton Friedman yang mendapat gelar â€œnabiâ€ Neoliberalisme (Wibowo: 2004).</span></p>
<h1 style="margin: 0in 0in 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-weight: normal;" lang="IN">Milton Friedman bersama </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-weight: normal;" lang="SV">Friedrich August Hayek (ekonom dari Austria) menjadi peletak dasar bangunan Neoliberalisme. Hayek mengunggulkan Kapitalisme pasar bebas dengan menempatkan harga sebagai metode untuk mengoptimalkan alokasi modal, kreativitas manusia, dan tenaga kerja. Sementara Friedman berpandangan insentif individual merupakan cara terbaik untuk menggerakkan ekonomi. Menurut Friedman, <em>â€Ada satu, dan hanya satu, tanggungjawab sosial bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber-dayanya untuk aktivitas yang mengabdi akumulasi laba&#8230;â€</em> (B Herry Priyono: 2003).</span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-weight: normal;" lang="SV">â€Ismeâ€ liberal baru yang dikembangkan Friedman dan Hayek tidak dapat dipisahkan dari nilai dan spirit ideologi Kapitalisme yang dibangun dari filsafat liberalisme klasik. Menurut Betrand Russel (2002) Filsafat liberalisme klasik merupakan inti pemikiran asas ideologi Kapitalisme, yakni Sekularisme. </span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-weight: normal;" lang="SV">Liberalisme yang diwujudkan dalam kebebasan individu diperlukan untuk mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai sekuler ke seluruh dunia. Kebebasan individu tersebut dibagi ke dalam empat jenis, yaitu: kebebasan beragama (<em><span style="font-family: Verdana;">freedom of religion</span></em>), kebebasan berpendapat (<em><span style="font-family: Verdana;">freedom of speech</span></em>), kebebasan kepemilikan (<em><span style="font-family: Verdana;">freedom of ownership</span></em>), dan kebebasan berperilaku (<em><span style="font-family: Verdana;">freedom of behavior</span></em>) (Zallum: 2001). Kebebasan kepemilikan merupakan prinsip dasar sistem ekonomi Kapitalisme yang menonjolkan kepemilikan individu dalam perekonomian.</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV">Dalam liberalisme klasik Adam Smith, perekonomian harus berjalan tanpa campur tangan pemerintah (<em>laissez faire</em>). Smith percaya pada doktrin <em>invisible hands</em> (tangan gaib) akan menciptakan keseimbangan secara otomatis. Setiap upaya individu mengejar kepentingannya, maka secara sadar atau pun tidak indvidu tersebut juga mempromosikan kepentingan publik. Dengan kata lain, Smith mengklaim dalam sebuah perekonomian tanpa campur tangan pemerintah yang mengedepankan nilai-nilai kebebasan, maka perekonomian secara otomatis mengatur dirinya untuk mencapai kemakmuran dan keseimbangan. Pandangan ekonomi Smith ini kemudian dikenal sebagai ekonomi pasar murni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV">Berbeda dengan liberalisme klasik yang masih berbicara kepentingan publik, liberalisme Friedman menempatkan transaksi ekonomi (motif materi) sebagai satu-satunya landasan interaksi antar manusia dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hubungan antar bangsa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV">Meskipun Neoliberalisme mengusung ide pasar bebas, bukan berarti persaingan yang tercipta di pasar berlangsung secara bebas. Dalam bahasa Prof. Claudia von Werlhof (2007) kebebasan ekonomi yang terjadi adalah kebebasan bagi korporasi bukan bagi masyarakat. Begitu pula tidak benar jika dalam kerangka Neoliberalisme negara tidak melakukan campur tangan. Bahkan seringkali dalam merealisasikan kebijakan neolib pemerintah menerapkan kebijakan â€tangan besiâ€. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV">Tingkat resistensi masyarakat terhadap kebijakan neoliberal sangat besar. Untuk itu, kebijakan neoliberal selalu dibungkus secara apik sebagai bentuk kebohongan publik. Misalnya, globalisasi dan pasar bebas digemba-gemborkan sebagai jalan menuju kemakmuran. Atau privatisasi dianggap sebagai upaya untuk memperluas kepemilikan masyarakat. </span></p>
<h1 style="margin: 0in 0in 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-weight: normal;" lang="SV">Terlepas adanya perbedaan Neoliberalisme dengan liberalismenya Adam Smith, serta pandangan yang bertolak belakang dengan mazhab Keynesian yang mengedepankan campur tangan pemerintah, Neoliberalisme merupakan wujud baru Kapitalisme yang lebih serakah dan jahat. </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Neoliberal dari Masa ke Masa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Liberalisasi ekonomi merupakan ciri khas sistem Kapitalisme. Hanya saja bentuk dan cara liberalisasi tersebut mengalami perkembangan seiring dengan perubahan realitas sistem Kapitalisme dan tarik-menarik kepentingan negara besar khususnya Amerika Serikat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Dalam booklet <em>Sarana dan Cara Imperialisme Barat di Bidang Ekonomi</em><span> </span>yang dikeluarkan Hizbut Tahrir (1998), dijelaskan Amerika menyebarkan ide tentang pembangunan ekonomi dan keadilan sosial untuk menggiring negara-negara baru merdeka masuk ke dalam cengkramannya. James Petras (2004) menyebut hal itu sebagai ekpansi penjajah (<em>imperialist expansion</em>) dalam wujud neoliberalisme dan globalisasi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Amerika mendorong pembangunan berbasis hutang hutang dan investasi asing di dunia ketiga. Dengan cara ini, Amerika menjebak mereka dalam perangkap hutang (<em>debt trap</em>) sehingga mudah didikte bahkan hingga â€œbertekuk lututâ€. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Sebelum Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Amerika telah mengincar negeri kita. Dalam bahasa David Ransom, Indonesia merupakan â€œhadiah yang terkaya bagi penjajahâ€ di dunia. Presiden AS, Richard Nixon pernah menyebut Indonesia sebagai â€œhadiah terbesarâ€ di wilayah Asing Tenggara (Ransom: 2006). Sedangkan Presiden Lyndon Johnson menyatakan kekayaan alam Indonesia yang melimpah sebagai alasan Amerika mendekati dan â€œmembantuâ€ Indonesia (Johnson Library: 1967). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Amerika berupaya mempengaruhi sistem politik di Indonesia dan menempatkan orang-orangnya di pemerintahan. Soemitro Djojohadikusumo yang menjadi Menteri Perdagangan dan Industri dalam pemerintahan koalisi adalah pejabat pro Amerika.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Soemitro bersama Soedjatmoko merupakan anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang berorientasi ke Barat. Pada 1949 di School of Advanced International Studies yang dibiayai Ford Foundation, Soemitro mengatakan Sosialisme yang diyakininya termasuk akses seluas-luasnya terhadap sumber daya alam Indonesia dan insentif yang cukup bagi investasi asing. Sedangkan Soedjatmoko di hadapan tokoh-tokoh Amerika di New York menyampaikan strategi Marshal Plan di Eropa bergantung pada ketersediaan sumber daya di Asia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Sejak 1951 Soemitro menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di kampus ini, Soemitro bekerjasama dengan Ford Foundation mengatur pemuda Indonesia untuk disekolahkan di kampus terkemuka Amerika, seperti MIT, Cornell, Berkeley, dan Harvard. Inilah cikal bakal lahirnya Mafia Berkeley. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Pada saat itu, Ford Foundation dipimpin Paul Hoffman yang juga pemimpin Marshall Plan di Eropa. Tujuan program pendidikan para pemuda Indonesia di Amerika untuk mencetak para administrator modern di dalam pemerintah Indonesia yang secara tidak langsung bekerja di bawah perintah Amerika. Hal ini persis seperti yang dilakukan Amerika terhadap para pemuda Chile yang tergabung dalam <em>Chicago Boys</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Jika <em>Chicago Boys</em> memegang peranan penting di tubuh pemerintahan setelah kudeta berdarah Jenderal Augusto Pinochet yang didukung Amerika, maka Mafia Berkeley pun mendapatkan kedudukan strategis setelah Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan dari tangan Soekarno dengan dukungan Amerika pula (Ransom: 2006).<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Mafia Berkeley sudah memiliki peran penting sejak awal Orba dalam meliberalisasi ekonomi Indonesia. November 1967, Mafia Berkeley mewakili pemerintah Indonesia dalam sebuah konferensi yang digagas Life Time Corporation di Genewa Swiss. Dalam konferensi tersebut, Mafia Berkeley menyetujui pengkaplingan wilayah dan sumber daya alam Indonesia untuk para korporasi raksasa dunia (Pilger: 2008). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Pada tahun 1967 pula Undang-Undang Nomor 1 tentang Penanaman Modal Asing disahkan pemerintah. Perusahaan asal Amerika, Freeport merupakan korporasi asing pertama yang memanfaatkan undang-undang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Setahun kemudian, Soeharto mengangkat sejumlah anggota Mafia Berkeley duduk dalam kabinetnya. Soemitro Djojohadikusumo menjadi Meteri Perdagangan, Widjojo Nitisastro Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Emil Salim Wakil Ketua Bappenas, Ali Wardhana Menteri Keuangan, Subroto Direktur Jenderal Pemasaran dan Perdagangan, Moh. Sadli Ketua Tim Penanaman Modal Asing, dan Sudjatmoko Duta Besar RI di Washington (Ransom: 2006).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Mafia Berkeley memformat pembangunan Indonesia bertumpu pada hutang. Sementara Amerika memainkan peranan melalui IMF, Bank Dunia, ADB, dan PBB. IMF bertugas menciptakan stabilisasi ekonomi, penjadwalan hutang, dan memobilisasi hutang baru. Sedangkan Bank Dunia berperan dalam memandu perencanaan pembangunan dan rekonstruksi perekonomian Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Bergesernya mazhab ekonomi negara-negara besar, dari Keynesian menjadi Neoliberal, semakin mendorong IMF dan Bank Dunia menerapkan program penyesuaian struktural dalam pinjaman yang mereka berikan kepada Indonesia. Pada tahun 1980-an Indonesia melakukan liberalisasi sektor keuangan dan perbankan secara siknifikan, khususnya setelah keluar Pakto 88 melalui tangan Trio RMS (Radius-Mooy-Sumarlin). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Di awal 1990-an, Indonesia sangat menggalakkan investasi asing dan swasta untuk menggenjot pertumbuhan. Akibatnya hutang luar negeri swasta Indonesia membengkak dari US$ 1,8 miliar pada tahun 1975 menjadi US$ 18,8 pada 1990. Tujuh tahun kemudian hutang luar negeri swasta Indonesia membengkak 4,5 kali lipat menjadi US$ 82,2 miliar. Beban hutang yang sangat besar inilah yang membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap krisis dan meledak pada pertengahan 1997 (Muttaqin: 2002).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Sementara itu tekanan beban hutang Orba mendorong pemerintah melakukan privatisasi sejumlah BUMN di pasar modal Indonesia dan internasional sejak tahun 1991 hingga 1997. Dana hasil privatisasi pada periode tersebut sebagian digunakan untuk membayar cicilan hutang pemerintah <span> </span>(Muttaqin: 2008).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Indonesia juga terlibat dalam liberalisasi perdagangan dan pasar bebas khususnya setelah bergabung dengan World Trade Organization (WTO), APEC, dan AFTA. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Kebijakan neoliberal di Indonesia semakin tidak terkendali dengan masuknya IMF dalam penataan ekonomi sejak akhir 1997. Melalui kontrol yang sangat ketat, IMF memaksa Indonesia menjalankan kebijakan neoliberal, termasuk menalangi hutang swasta melalui BLBI dan merekapitalisasi sistem perbankan nasional yang tengah ambruk dengan biaya Rp 650 trilyun. Momen ini juga dimanfaatkan Bank Dunia, ADB, USAID, dan OECD untuk meliberalisasi ekonomi Indonesia melalui program pinjaman yang mereka berikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Pemerintahan neoliberal di Indonesia berlangsung menjelang akhir kekuasaan Orde Baru hingga saat ini. Sepanjang itu, pemerintahan neoliberal mengukir prestasi meningkatkan hutang negara dua kali lipat dalam waktu 10 tahun dari US$ 67,3 miliar menjadi US$ 65,7 miliar untuk hutang bilateral/multilateral dan Rp 972,2 trilyun dalam bentuk hutang obligasi. Karenanya, pemerintahan Soerharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY-JK menjadi bagian tidak terpisahkan dari penerapan kebijakan ekonomi neoliberal. Jadi sangat aneh klaim pasangan <em>incumbent</em> SBY-Boediono tidak menjalan ekonomi neoliberal. Begitu pula sama anehnya dengan kedua pasangan calon presiden lainnya yang mengklaim bersih dari neolib, sebab mereka pernah menjadi <em>incumbent</em>. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Indonesia merupakan korban penjajahan Kapitalisme, baik Kapitalisme Keynes pada masa awal Orba maupun Kapitalisme Neoliberal pada saat ini. Karena itu sangat memprihatinkan pejabat negara yang sesungguhnya memiliki peran penting dalam mengubah negeri ini menjadi lebih baik justru menjadi kepanjangan tangan asing. Bahkan agenda liberalisasi yang mereka jalankan jauh lebih liberal dibandingkan negara-negara Kapitalis besar sekali pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Ini pelajaran yang sangat berharga bagi kita bahwa negara-negara penjajah tidak akan pernah rela melepaskan daerah jajahannya. Mereka senantiasa merancang dan memperbaharui bentuk penjajahan. Jika pada awal Orba penjajahan tersebut diwujudkan dalam â€œtopengâ€ pembangunan, maka kini penjajahan dibungkus dalam kerangka globalisasi, pasar bebas, investasi, privatisasi, termasuk demokratisasi dalam ranah politik, liberalisasi agama dan sosial budaya masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Karena itu tawaran konsep Islam untuk Indonesia lebih baik dan kuat dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah menjadi sangat relevan sebagai sebuah solusi. Sebab masalah negeri kita tidak semata-mata masalah personal pemimpin yang neolib malinkan juga akibat bercokolnya sistem Kapitalisme liberal di Indonesia. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/www.jurnal-ekonomi.org]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN"><strong><em>Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI </em></strong><em>adalah Dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Ketua Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Kalsel.</em><br />
</span></p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/12/neolib-tidak-mungkin-memajukan-ekonomi-syariah/" title="Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah">Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/bps-tertimpa-neolib/" title="BPS Tertimpa Neolib">BPS Tertimpa Neolib</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/bank-dunia-senang-yang-paling-neolib-menang/" title="Bank Dunia Senang yang Paling Neolib Menang">Bank Dunia Senang yang Paling Neolib Menang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/22/ketua-mpr-tidak-tau-neolib/" title="Ketua MPR tidak &#8220;Tau&#8221; Neolib?">Ketua MPR tidak &#8220;Tau&#8221; Neolib?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/27/dusta-kaum-neolib/" title="Dusta Kaum Neolib">Dusta Kaum Neolib</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/26/neoliberalisme-bangkrut-neoliberalisme-berkuasa/" title="Neoliberalisme Bangkrut Neoliberalisme Berkuasa">Neoliberalisme Bangkrut Neoliberalisme Berkuasa</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/18/pujian-untuk-mengukuhkan-neoliberalisme/" title="Pujian untuk Mengukuhkan Neoliberalisme">Pujian untuk Mengukuhkan Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/07/neoliberalisme-dan-kebangkrutan-ideologi-kapitalisme/" title="Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme">Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F06%2F22%2Fjejak-neoliberalisme-di-indonesia%2F&amp;linkname=Jejak%20Neoliberalisme%20di%20Indonesia"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/22/jejak-neoliberalisme-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
