Published November 13th, 2008
Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS
Kirim ke email teman
Banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia berharap Obama dapat mengubah wajah Amerika yang “jahat” menjadi “baik hati”. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan: “Ini memang menantang dan menarik karena ada sesuatu yang baru. Tetapi, dunia cuma bisa berharap, Obama akan menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan negara yang bernama AS ini”. Perubahan kepemimpinan di AS dari Bush ke Obama harus dilihat sebagai pergantian kepemimpinan yang biasa terjadi. Dan tentu saja setiap kebijakan dan keputusan Obama senantiasa terikat dengan fikrah dan thariqah Kapitalisme.

Perhatian dunia terpusat ke pasar modal. Indikator-indikator finansial menunjukkan suasana yang kelam bagi negara-negara dunia khususnya Amerika Serikat. Kebangkrutan besar-besaran sedang berjalan. Tidak hanya melanda AS tapi juga seluruh dunia khususnya Eropa dan Jepang. Trilyunan dollar AS dikucurkan hanya untuk menunda waktu kebangkrutan. Bukan untuk menyelesaikan masalah. Kapitalisme yang sangat membenci intervensi negara dalam perekonomian (laissez faire) terpaksa menasionalisasi korporasi finansial dan membayar hutang swasta (bail out) secara besar-besaran. Kapitalisme sudah diujung tanduk. Ini kesempatan Islam untuk kembali memimpin dunia dengan Khilafah.
Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak “cerdas pasar”, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu.



Tulisan ini bertujuan menjelaskan 3 (tiga) poin yang saling terkait dalam konteks globalisasi, kemiskinan, dan agama; yaitu : (1) bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan, (2) bagaimana respon agama (atau agama-agama) terhadap globalisasi, (3) bagaimana respon Hizbut Tahrir terhadap globalisasi.





