Published January 10th, 2010
Bunuh Diri Ekonomi Indonesia
Perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah memasuki babak realisasi sejal januari tahun ini. Hasilnya, produk impor dari China semakin mendominasi pasar Indonesia dan mengancam eksistensi industri dan usaha menengah kecil serta kemandirian Indonesia. Kesepakatan pemerintah akan perjanjian perdagangan bebas disadari atau tidak telah membunuh ekonomi negeri ini secara perlahan namun pasti.
Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib.
Hari ini (18/5/2009) di Kompas halaman 15 saya membaca sebuah tulisan seorang ekonom yang memuji setinggi langit CaWapres Boediono. Tulisan tersebut berjudul Tantangan BI Sepeninggalan Boediono. Memuji Boediono setinggi langit tentu saja sekalian bertepuk tangan atas prestasi ekonomi pemerintahan SBY.
Membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan bertanya-tanya? Apa benar bankir adalah musuh bagi perekonomian suatu negara? Bukankah kebutuhan akan lembaga perbankan merupakan kebutuhan mutlak dalam sebuah perekonomian, baik untuk kebutuhan modal, penyimpanan, investasi, maupun transaksi?
Sebagaimana diberitakan oleh media internasional, KTT G-20 di London (2/4/2009) diwarnai perpecahan antara kubu Eropa yang diwakili oleh Jerman dan Perancis dengan kubu Amerika. Pelajaran apa yang kita peroleh dari pertemuan negara-negara besar tersebut?
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes. Semua mahasiswa fakultas ekonomi khususnya yang telah mengambil mata kuliah ekonomi makro pasti pernah mendengar nama kesohor ini.
Tahun 2009 ini ekonomi Indonesia menghadapi tekanan yang lebih berat dengan besarnya jumlah utang swasta yang jatuh tempo, yakni sebesar 22,6 miliar dollar AS. Padahal tahun ini pula pemerintah Indonesia menganggarkan pembayaran utang dalam APBN sebanyak Rp 172 trilyun.
Saat ini timbul perdebatan tentang apakah krisis global yang bersumbu dari gagalnya sistem keuangan Barat (akan) lebih hebat dari Depresi Besar -Great Depression- 1929 ataukah tidak? Dalam sebuah opini New York Times (16/2/2009) dipertanyakan apakah Amerika sudah memasuki depresi? Tentu saja dijawab oleh pemerintah Amerika Serikat TIDAK.
Kejatuhan pasar saham dunia terus berlanjut kemaren (3/3/), mengikuti keanjlokan pada hari sebelumnya. Keadaan ini terjadi setelah the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD memperingatkan bahwa resesi global akan lebih buruk dari perkiraan. “Resesi akan semakin dalam, tidak ada keraguan akan hal itu… Saya pikir pada kuartal ini akan menjadi kuartal paling buruk untuk semua,” kata Kepala Ahli Ekonomi OECD Klaus Schmidt-Hebbel.
Dalam jamuan santap malam dengan peserta WIEF, Presiden SBY mengatakan, “Saya yakin, bahwa apa yang kita cari dan dapatkan melalui WIEF lebih dari sekadar kerja sama ekonomi. Apa yang kita dapatkan adalah persahabatan sejati, persaudaraan dan solidaritas antara sesama umat muslim dari berbagai bangsa.”
Sebuah pernyataan sangat menarik disampaikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Wapres menyatakan sistem ekonomi Islam lebih mampu bertahan di tengah krisis global dibandingkan sistem Barat (Kapitalisme). Hal ini disebabkan sistem ekonomi Islam berbasis real transactionsedangkan Barat unreal transction.
Sejak pencalonan dirinya sebagai kandidat calon presiden Amerika, Obama dikenal sebagai seorang politisi muda yang gemar dan pandai beretorika. Slogan terkenalnya; “Yes, we can change.†Dalam pidato perdananya sebagai Presiden AS di Kongres, Obama mengatakan: “Amerika Serikat akan muncul lebih kuat dari sebelumnya.” Gambaran suram ekonomi AS merupakan sebuah kenyataan yang setiap hari menghantui pemerintah dan rakyat Amerika. Boleh dikatakan tidak ada senjata yang dapat digunakan oleh negara kapitalis ini untuk menghentikan krisis apalagi dengan presiden yang suka beretoika di hadapan rakyatnya.
Kurs Rupiah terhadap dollar Amerika terus merosot. Pekan lalu nilainya mencapai Rp 12.000/ dollar AS. Pergerakan rupiah yang curam ini cukup mengkhawatirkan meskipun penguatan dollar terjadi atas sebagian besar mata uang dunia (Kompas, 16/2/2009). Rupiah yang notabene mata uang kertas inconvertiblememang memiliki potensi besar mengalami gejolak kurs. Kita membutuhkan mata uang yang aman dan terjaga nilainya, yakni mata uang dinar.








