Capres (yang Konon) Pro Rakyat Mendukung Kenaikan Harga BBM

Sumber gambar: Surya.co.id

Sumber gambar: Surya.co.id

Sebagaimana berita yang di lansir situs detik.com, Jusuf Kalla (JK) menyetujui kenaikan harga BBM bahkan dengan kenaikan Rp2 ribu. Alasan yang dikemukakan JK pun ternyata persis sama dengan pemerintah, yaitu membebani keuangan Negara. Sikap JK yang seperti ini bukanlah perkara baru.

Sebelumnya, ketika JK bersama SBY menahkodai negeri ini pada masa jabatan 2004-2009, JK juga menyetujui kenaikan harga BBM sebanyak 3 kali.
Mengapa seorang Capres yang digadang-gadang oleh sebagian pihak yang konon dikatakan lebih berani dan pro rakyat dibandingkan dengan Presiden SBY ternyata juga menyetujui kenaikan harga BBM?

Kalau sebelum berkuasa saja JK sudah demikian, maka tidak heran ketika berkuasa pun kemungkinan besar juga mengambil kebijakan yang tidak jauh beda dengan Presiden terdahulu yang sering mengkhianati rakyat. Lantas tidak adakah Capres yang bakal membela dan melindungi nasib rakyat meskipun dengan risiko, meminjam Istilah Ichsanudin Noorsy, keuangan Negara Jebol atau bahkan mungkin diri sang Capres harus mati di tangan para Kapitalis?

Melihat fakta demikian, sudah semestinya kita kemudian merenungkan dan memikirkan kembali seperti apa sebenarnya gambaran (deskripsi) seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin sejati tentu tidak hanya memiliki sifat keberanian. Melainkan juga harus memiliki kecemerlangan berpikir dalam memimpin Negara. Sifat berani akan menjadi tidak ada artinya ketika hanya bermakna tidak takut melawan sesuatu. Sifat berani haruslah diikuti dengan pemikiran yang mampu menilai mana yang benar dan mana yang salah secara tepat.

Karenanya yang menjadi pertanyaan penting adalah sudut pandang apa yang digunakan oleh pemimpin tersebut dalam menilai sesuatu itu benar atau salah? Kalau sudut pandang yang digunakan hanya menggunakan akal manusia semata, maka hampir bisa dipastikan akan bernasib sama seperti halnya JK.

JK mengatakan, “Bukan soal diterima atau tidak oleh publik, mau baik infrastruktur atau tidak. Kalau subsidi BBM tinggi, tidak mungkin kita bisa perbaiki jalan, pilihannya di situ.” Ditinjau dari akal sehat pernyataan seperti ini pada hakikatnya juga lemah, karena masih ada pos-pos lain dalam APBN yang lebih memberatkan daripada subsidi BBM dan kemudian bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Itu kalau ditinjau dengan akal sehat semata. Kalau ditinjau dengan hukum syara, maka pernyataan JK akan ditolak dan dipandang batil.

Perlu ditekankan disini, Islam sesungguhnya tidaklah antipati dengan dalil aqli. Islam hanya menempatkan posisi dalil aqli pada tempat yang memang tepat untuk digunakan, yaitu ketika membahas permasalahan aqidah (seperti pertanyaan siapa yang menciptakan seluruh alam semesta ini?) dan ketika membahas masalah yang hanya berkaitan dengan aspek teknis dari sebuah aktivitas (misal dalam menentukan teknologi apa yang tepat digunakan untuk proses eksplorasi ladang minyak). Adapun pembahasan selain dari dua aspek tersebut maka Islam mewajibkan umatnya untuk merujuk hanya kepada hukum Islam.
Yang menjadi pertanyaan adalah, adakah calon pemimpin Indonesia yang menggunakan sudut pandang seperti ini? [Jurnal Ekonomi Ideologis/Hatta]

Referensi:

Detiknews, JK: Harga BBM Idealnya Naik Rp2 ribu, 26/2/2012.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *