Buruh yang Menderita, Dipolitisasi: Kapan Berakhir ?

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Sekilas tentang Sumber Permasalahan Buruh dari Sisi Ideologis
“Sesungguhnya telah Kami tawarkan suatu amanah kepada langit, bumi beserta gunung-gunungnya, tapi mereka enggan menerimanya dan takut akan resikonya, maka manusia memikulnya, sungguh manusia itu zhalim dan jahil” (TQS. Al Ahzab: 72). Dengan firman ini, Allah SWT menegaskan bahwa manusia mengemban amanah yang berat di muka bumi ini. Padahal manusia merupakan mahkluk yang lemah walaupun ia dikaruniakan oleh Allah sesuatu hal yang sangat berharga yakni akal. Karena manusia itu tidak selalu menggunakan akalnya untuk memahami realitas kehidupan dan alam ini untuk menemukan hakikat kehidupan yang sebenarnya[1]. Mereka tidak memahami ayat-ayat Allah yang mengatur alam semesta (sunnatullah)[2] sehingga mereka tidak menemukan Allah dan Kebesaran-Nya (pandangan dari sisi Aqidah). Mereka juga tidak mengerti, lalai, bahkan bersikap sombong terhadap peringatan-peringatan Allah dalam firman-Nya yang dibawa oleh rasulullah sehingga mereka lupa siapa diri mereka sebenarnya serta bagaimana dan untuk apa mereka hidup di dunia ini. Keadaan ini membawa mereka pada kehidupan yang tidak mempunyai arah yang benar, yang menempatkan nafsu kebinatangan sebagai panglima dan meletakkan fungsi akal pada tingkat yang paling rendah.

Benarlah kata Allah, bahwa manusia itu zhalim dan jahil. Lihatlah dunia sekarang ini ! Orang-orang yang tidak bisa membaca ayat-ayat Allah (sunnatullah)[3] akhirnya memilih atheisme (paham tidak bertuhan) terutama dengan bangkitnya Komunisme[4] yang sempat menjadi penguasa dunia. Orang-orang yang ingkar terhadap ayat Allah akhirnya memilih Kapitalisme[5] yang memiliki aqidah sekularisme[6] dengan menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum kehidupan di dunia yang menyebabkan nafsu dengan leluasa berbuat angkara murka di muka bumi ini. Akhirnya dunia dipenuhi oleh perbuatan-perbuatan zhalim dan kejahilan manusia yang menyebabkan kesengsaraan, penderitaan, pemusnahan terhadap manusia-manusia lainnya yang lemah yang tidak mempunyai kekuatan. Manusia yang mempunyai kekuatan dan rakus, memaksa manusia lainnya untuk menghamba kepadanya, memaksanya dengan cara dieksploitasi tenaga dan hartanya untuk kepentingan manusia yang rakus tersebut, tanpa memperdulikan hak kemanusiaan yang tertindas walau sedikitpun.

Inilah gambaran yang terjadi pada penduduk bumi di masa sekarang. Kapitalisme yang berhasil menumbangkan Komunisme dan menjadi satu-satunya ideologi yang dominan dan diterapkan di dunia ini telah membimbing penduduk dunia memasuki jurang kenistaan yang sengaja dibuat para pemilik modal (orang-orang ultrakaya) agar hanya merekalah yang dapat menikmati “ciptaan Allah” di muka bumi ini. Salah satu masalah yang muncul dari the depths of misery trap (jebakan jurang kenistaan) adalah perburuhan.

Kapitalisme dalam perkembangannya, yakni sejak revolusi industri di Inggeris dan Perancis, telah memakan banyak korban. Perkembangan revolusi industri ini di dalam negeri negara-negara Eropa yang bangkit memberikan kesempatan yang luas kepada para pemilik modal untuk mengeksploitasi kaum buruh yang mereka pekerjakan hanya untuk kepentingan mereka saja yakni tujuan akumulasi kapital (modal)[7]. Dengan prinsip kebebasan kepemilikan dan didukung oleh pandangan laissez faire (tidak ada campur tangan pemerintah dalam perekonomian), para pemilik modal dengan bebasnya memanfaatkan tenaga kaum buruh di luar batas kewajaran dengan upah yang sangat rendah yang tidak sesuai dengan tenaga yang telah mereka berikan. Dalam keadaan ini kaum buruh tidak ubahnya budak yang dipekerjakan oleh majikannya.

Penindasan terhadap para buruh ini melahirkan sikap anti Kapitalisme yang kemudian “dikipasi” oleh Karl Marx lewat ideologi Komunisme yang dipertegas oleh Lenin dan Stalin lewat penerapan ideologi Komunisme dalam negara Uni Sovyet (Rusia). Ideologi Komunisme memandang antara para pemilik kapital (kaum borjuis) dengan kaum buruh dan petani dan kelas tertindas lainnya (kaum proletar) tidak dapat disatukan. Ke dua kelas ini harus dipertentangkan. Menurut ideologi ini, Komunismelah yang akan menang lewat kontrol buruh terhadap pabrik-pabrik, yang kemudian diikuti dengan pengambilalihan ke tangan mereka, nasionalisasi bank-bank, dan pembentukan Dewan Ekonomi Pusat guna mengatur seluruh kehidupan ekonomi negeri.[8] Sebenarnya Komunisme tidaklah membela kaum buruh, tetapi hanyalah memanfaatkan buruh untuk mencapai target dan tujuan ideologi Komunisme itu sendiri yakni menumbangkan ideologi Kapitalisme dan menguasai dunia, sehingga dunia bisa diatur menurut pandangannya. Misalnya Komunisme berusaha menyatukan manusia, alam, alat-alat produksi dan tanah sebagai suatu masyarakat yang menyatu sebagai “materi”[9] sehingga pemerintah pusat dapat melakukan kontrol yang kuat terhadap rakyatnya sebagai mesin yang menghasilkan nilai guna bagi negara (baca: penguasa)[10]

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan munculnya permasalahan perburuhan suatu hal yang niscaya terjadi ketika suatu negara menganut sistem ekonomi Kapitals ataupun membebek pada negara Kapitalis, begitu pula dengan negara Komunis. Namun Komunis secara lebih spesifik memanfaatkan isu-isu perburuhan dan sejenisnya untuk melanggengkan ide-idenya ke tengah-tengah masyarakat.

Buruh yang Menderita yang Menjadi Sapi Perahan
Penderitaan… Itulah yang dialami sebagian besar manusia yang hidup dalam naungan Kapitalisme termasuk mereka yang berprofesi sebagai buruh. Kaum buruh yang sangat berjasa dalam menggerakkan roda ekonomi dan industri diabaikan begitu saja hak-haknya oleh para pengusaha (majikan) yang Kapitalis dengan tidak memenuhi hak-hak mereka dari sisi upah kerja dan fasilitas kerja yang tidak memadai. Begitu pula dengan negara, negara Kapitalis membiarkan buruh duduk lebih rendah dibandingkan dengan para pengusaha ketika buruh dipaksa menerima aqad kerja dengan tingkat upah yang tidak memadai atas pekerjaan yang mereka lakukan. Negara Kapitalis juga meninggalkan fungsinya sebagai pelayan masyarakat dalam segala aspek kehidupan dan benteng terakhir dalam upaya menjamin kebutuhan pokok[11] tiap individu dalam masyarakat sehingga fungsi ini dialihkan kepada para pengusaha itu sendiri yang menjadi majikannya si buruh. Jelas fungsi ini mustahil bisa dijalankan oleh para pengusaha sedangkan mereka sendiri tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada buruh yang mereka pekerjakan. Kebijakan ini dalam negara Kapitalis melahirkan gejolak yang sewaktu-waktu dapat meledak.

Penderitaan buruh semakin “mendunia” tatkala Kapitalisme mengglobal menjadi ideologi dunia yang diterapkan di hampir seluruh negara-negara di dunia. Di Indonesia persoalan buruh menjadi sangat pelik. Upah buruh sangat rendah relatif tidak sebanding dengan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara pemerintah Indonesia sendiri tidak menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat dan benteng terakhir dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok tiap individu termasuk buruh. Celakanya upah buruh yang sangat rendah ini, dimanfaatkan pemerintah dalam kampanyenya menarik investor asing[12].

Dalam paradigma Kapitalis, buruh atau tenaga kerja (labor) dipandang sebagai faktor ekonomi saja sehingga nilai buruh diserahkan pada mekanisme pasar[13]. Upah yang diterima buruh tergantung pada kekuatan antara jumlah angkatan kerja (supply) dengan permintaan (demand) para pengusaha[14]. Pandangan seperti ini memberikan mekanisme pasar sebagai faktor yang paling dominan dalam penentuan upah tiap buruh dibandingkan faktor tenaga, skill, dan waktu yang telah dikorbankan buruh bagi pengusaha. Padahal realita menunjukkan antara supply dan demand di pasar tidak selalu sebanding artinya tingkat supply selalu lebih tinggi dari tingkat demand walaupun dalam perekonomian suatu negara terjadi “boom ekonomi.”

Bagi para pengusaha, “buruh merupakan faktor ekonomi yang menjadi objek pencapaian keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.”[15] Karena itu tidak aneh jika pengusaha berusaha meraih keuntungan dengan menghalalkan segala cara, menekan biaya (cost) produksi sekecil-kecilnya termasuk upah buruh dan mengabaikan kewajibannya kepada para buruh.[16] Pengorbanan yang sangat kecil yang dilakukan pengusaha tercermin dari angka komponen biaya upah yang sangat kecil dari biaya produksi total yakni hanya 5,3 persen pada tahun 1970-an, kemudian turun lagi menjadi 5 persen pada tahun 1980-an dan 1990-an.[17] Sangat rendah jika dibandingkan dengan biaya promosi antara 10-20 persen, ataupun tip (suap) yang diberikan pengusaha kepada pejabat. (Dasar Kapitalis !!!).

Banyak kasus yang terjadi akibat pengusaha menerapkan prinsip keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Bagaimana seorang Marsinah[18] dibunuh hanya karena memperjuangkan hak-haknya. Bagaimana seorang wanita, seorang ibu yang terpaksa bekerja karena harus memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga, dimanfaatkan oleh para majikan bekerja sampai larut malam bahkan sampai dini hari meninggalkan keluarga dan anak-anaknya. Bagaimana seorang wanita dipaksa majikannya untuk melepaskan jilbab dan kerudungnya dengan alasan mengganggu kerja. Bagaimana buruh muslim dipaksa bekerja penuh tidak boleh meluangkan waktu untuk melakukan shalat. Bagaimana buruh yang sudah mengorbankan tenaga, pikiran dan waktunya ditunda haknya untuk mendapatkan upah karena kerakusan pengusaha. Bagaimana buruh yang bekerja dengan fasilitas alat pengaman yang sangat minim (karena kekikiran pengusaha yang hanya mementingkan diri sendiri) sehingga pekerjaannya rawan akan bahaya. Pernah saya baca, seorang pekerja hancur lebur badan serta tulang tengkoraknya digilas mesin pengaduk bubur kertas. Sungguh kejadian-kejadian yang seperti inilah yang sering dialami para pekerja.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Nike[19] terhadap para karyawannya sendiri, bahwa mayoritas buruhnya kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan sehingga mereka rawan sakit. Sedangkan mereka jika tidak bekerja walaupun karena sakit akan di PHK.[20] Lebih dari 30 persen dari 54 ribu karyawan Nike sering mengalami perlakuan kasar, seperti dicaci maki. Lebih dari 3 persen mengalami pelecehan fisik atau seksual.[21]

Memang malang nasib buruh yang berada dalam negara Kapitalis, semalang mayoritas rakyat dalam negara tersebut. Di mata pengusaha, buruh dieksploitasi sedemikian rupa untuk kepentingan pengusaha. Di mata negara, buruh dieksploitasi untuk melayani investor asing dan pengusaha dalam negeri dengan alasan pembangunan. Akhirnya buruh hanya menjadi sapi perahan seperti rakyat lainnya.

Hidup sengsara di bawah naungan Kapitalisme!!!

Tetap Berada dalam The Depths of Misery Trap
Tentu penderitaan yang dialami buruh sabagai hasil Kapitalisme ataupun Komunisme. Buruh tidak akan pernah lepas dari the depths of misery trap (jebakan jurang kenistaan) selama mereka berada dalam sistem tersebut.

Dalam negara Kapitalis, sistem politiknya adalah demokrasi yang bersandarkan pada paham Liberalisme (paham kebebasan), salah satunya adalah kebebasan kepemilikan.[22] Dengan kebebasan kepemilikan ini siapapun berhak untuk memiliki sesuatu asal diperoleh dengan jalan yang legal. Berdasarkan “hukum rimba” yang diciptakan oleh Kapitalisme sendiri, maka para kapitallah (pemilik modal) yang mampu bertahan dan terus berkembang di dalam perekonomian. Sedangkan mereka yang kurang kuat modalnya apalagi bagi orang-orang yang lemah dengan sangat terpaksa harus keluar karena kalah bersaing, atau tetap berada di dalam tetapi dengan mengikuti kemauan “si kaya” tersebut. Jangankan buruh yang lemah kedudukannya, negara pun harus mengikuti kemauan mereka.

Para pemilik modal dalam negara demokrasi, mempunyai peranan yang besar dalam mempengaruhi arah kebijakan pemerintah dan mendanai partai politik. Sehingga parlemen dan negara mengeluarkan undang-undang yang selalu menguntungkan mereka. Hal ini tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, tetapi semua negara yang menganut sistem politik demokrasi. Menurut Hedrick Smith dalam The Powergame, kehidupan politik Amerika diwarnai oleh “uang atau fulus”.[23] Sehingga benarlah apa yang diteriakkan oleh Huey Newton, pemimpin Black Panther bahwa “kekuasaan diperuntukkan bagi siapa saja yang mampu membayarnya.[24]

Dampak kehidupan politik demikian bagi buruh dan masyarakat lainnya, cenderung selalau merugikan mereka. Buruh akan terus menjadi sapi perahan para pemilik modal. Dan selama sistem ini masih eksis, maka selama itu pula buruh berada dalam the depths of misery trap.

Buruh yang Dipolitisasi
Buruh berada dalam kondisi tawar yang lemah dengan pengusaha dalam bingkai hubungan antara seorang pekerja dengan majikan. Dan dalam sistem Kapitalis pula buruh hidup menderita. Penderitaan yang dialami buruh serta jumlahnya yang sangat besar merupakan komoditas yang sangat tinggi harganya untuk dimanfaatkan oleh kalangan tertentu.

Bagi pemerintah dan partai politik, besarnya jumlah buruh tidak dibiarkan begitu saja, mereka memanfaatkan untuk kepentingan politiknya. Bahkan di negara-negara maju seperti Inggeris dan Australia, buruh diwakili oleh Partai Buruh. Karena itu dalam kampanye politiknya mereka mengumbar janji yang sifatnya pembelaan terhadap para buruh. Namun buruh kembali menjadi sapi perahan, karena partai politik yang memenangkan pemilu dan yang menjadi opisisi mengikuti kemauan para pemilik modal sebagai pihak yang mendanai perjuangan politik mereka.

Di sisi lain bagi gerakan kiri atau gerakan Marxis (Komunis/Sosialis), penderitaan buruh, eksploitasi pengusaha terhadap buruh, pengangguran terutama pada masa krisis ekonomi, merupakan modal perjuangan mereka untuk mencapai tujuan-tujuannya. Karena metode mereka mempertentangkan antara kaum proletar (buruh dan masyarakat miskin lainnya) dengan kaum borjuis (para pemilik modal/ pengusaha).

Perjuangan[25] mereka akan semakin intens penampakkannya ketika ada momen-momen tertentu seperti lahirnya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap buruh, PHK di suatu perusahaan besar dan kenaikan harga BBM. Karena dalam kondisi demikian para buruh dan masyarakat miskin lainnya sangat mudah disusupi dan dihasut gerakan ideologis tersebut.[26] Mereka menginginkan terjadinya benturan antara buruh dengan pihak pemerintah dan pengusaha sehingga terjadi perubahan sosial. Gerakan buruh yang dikoordinir gerakan marxisme ini tumbuh sejak tahun 1990-an terutama dengan tumbangnya rezim Soeharto dan terbukanya kran Demokrasi.[27]

Kapan Berakhir?
Penderitaan buruh dan politisasi terhadap mereka kapankah berakhir? Yaa… Jika kita masih berada dalam kondisi sekarang ini, yakni berada dalam sistem Kapitalis maka buruh akan terus ditindas oleh pengusaha yang Kapitalis, oleh negara yang Kapitalis, oleh gerakan Marxisme yang memanfaatkan penderitaan para buruh. Kapitalisme dan Komunisme menghisap buruh dan seluruh masyarakat.

Untuk itu satu-satunya jalan supaya buruh dapat keluar dari penderitaan yang demikian adalah dengan keluar dari sistem tersebut, menghancurkan sitem yang zhalim, dan tegakkan sistem yang berasal dari Allah Yang Menciptakan Segala Sesuatu. Karena hanya Dia-lah yang mengetahui kebaikan bagi diri manusia dan alam ini. Untuk itu tidak ada jalan lain, tegakkan syari’at Islam yang bersumberkan Al Qur’an dan Al Hadist dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Daulah tidak hanya menaungi para buruh tetapi juga para majikan dan seluruh masyarakat yang ada di dalamnya.

——————————————————————————–

[1] Fungsi akal adalah untuk memahami sebagaimana firman Allah QS. Az Zukhruf: 3 “Sesungguhnya kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal) memahaminya.”

[2] Menurut Bang Imad: “Sunnah Allah (sunnatullah) adalah suatu set ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah demi keteraturan, kelestarian dan keharmonisan alam jagat raya ini, serta kesejahteraan manusia yang hidup di dunia ini”. (lihat DR. Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim, M.Sc, Islam Sistem Nilai Terpadu, Gema Insani Pers, Jakarta, Thn. 2002 cet. I, hal 15).

[3] Padahal orang yang awampun dapat menemukan kebenaran di balik alam semesta, karena mereka masih menempatkan akalnya sesuai fungsinya. Ingat bagaimana seorang Arab Baduy yang tatkala ditanyakan kepadanya “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?” Jawabnya: “Tahi onta itu menunjukkan adanya onta, dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada orang yang berjalan.”

[4] Komunisme merupakan ideologi yang mengingkari adanya Tuhan sebagai Pencipta, doktrin mereka bahwa manusia, alam semesta dan hidup berasal dari materi yang berkembang dan berevolusi menjadi benda-benda lainnya. (lihat Taqiyyuddin An Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, Pustaka Thariqul Izzah, Thn. 1993 cet. II, hal. 35).

[5] Kapitalisme merupakan ideologi yang menjadikan sekularisme sebagai aqidahnya, dengan empat prinsip kebebasan, yaitu; kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan prilaku (Ibid, hal. 32)

[6] Sekularisme: pemisahan agama dari kehidupan (Ibid, hal. 32).

[7] Lihat AG. Eka Wenats Wuryanta, Kapitalisme; Sekilas Sejarah, www.sosialista.org 071401_04_Kapitalisme.html

[8] Lihat V.I. Lenin, Sepucuk Surat untuk Pravda: Aliansi antara Kelas Buruh dengan Petani Terhisap, www24.brinkster.com/vi170109.htm

[9] Lihat Taqiyyuddin An Nabhani, “Peraturan Hidup dalam Islam”, hal. 43

[10] Pandangan ini menempatkan manusia pada derajat yang sama dengan tanah, alat-alat produksi sehingga manusia juga dianggap seonggok materi belaka.

[11] Kebutuhan pokok meliputi makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan.

[12] Lihat Erafzon Saptiyulda AS, Produktivitas Naker Rendah, Upah Sulit Diubah, HU. Pelita, Jakarta, 12 September 1995.

[13] Artinya buruh yang merupakan manusia disamakan dengan barang.

[14] Ibid

[15] Ini merupakan “prinsip ekonomi” yang ada dalam Kapitalisme

[16] Lihat Neni Indriati, Mengubah Paradigma tentang Buruh, HU Kompas, Jakarta, 16 Juni 2001

[17] Lihat Erafzon Saptiyulda AS, Produktivitas Naker Rendah, Upah Sulit Diubah, HU. Pelita, Jakarta, 12 September 1995.

[18]Ya Allah Tuhanku Yang Maha Penyayang… Mudah-mudahan dia syahid di sisi Engkau.

[19] Perusahaan perlengkapan olah raga Amerika yang memiliki 9 pabrik di Indonesia.

[20] Pemutusan hubungan kerja (dipecat)

[21] Sumber Redaksi Radio Netherland, Nike Akui Keadaan Buruk Pabriknya di Indonesia, www.rnw.nlnike-buruh.html

[22] Lihat Abdul Qadim Zallum, Demokrasi Sistem Kufur: Haram Mengambil, Menerapkan dan Menyebarkannya, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, Thn. 2001 cet. II, hal. 5.

[23] Sebagaimana yang saya kutip dari Bimo Ario Tejo, Demokrasi: Gambaran Sebuah Sampah Peradaban, 26 September 1999.

[24] Ibid.

[25] Baca: politisasi terhadap buruh.

[26] Lihat Yuddi Chrisnandi, Marxisme dalam Gerakan Buruh, HU Republika, Jakarta, 21 Juni 2001

[27] Lihat Dede Otomo, Penjegalan terhadap Pergerakan Buruh di Indonesia, Makalah yang disampaikan dalam Diskusi Menyambut Hari Buruh Internasional 1 Mei di FISIP Unair Surabaya, 2000, www.come.to/indomarxis

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. memang pada saat ini kita harus cerdik dan pandai-pandai membaca situasi yang dihadapi oleh dunia, khususnya Indonesia. Memang yang di tawarkan oleh pihak-pihak kapitalisme yang berakidah sekularisme terlihat membuaikan masyarakat yang menghasilkan madu-madu yang sangat manis. Sungguh betapa hebatnya musuh-musuh islam. Dengan membaca artikel yang saudara buat, saya menjadi lebih termotivasi untuk memperjuangkan aturan ALLAh. Mari kita tegakkan KHILAFAH ISLAMIYAH. ALLAHU AKBAR

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *