Brutalisme di Koja: Output dari Sistem yang Brutal

oleh Hidayatullah Muttaqin

Negeri ini tidak henti-hentinya mengalirkan darah. Meski bukan zaman perang, pertumpahan darah selalu mewaranai negeri kita. Ada apa dengan Indonesia?

Dalam tayangan televisi, begitu jelas terlihat bagaimana aparat Satpol PP menerapkan “brutalisme” terhadap rakyat yang tidak setuju dengan penggusuran. Tentu saja praktek brutalisme ini berbuah balasan sikap brutal masyarakat terhadap aparat. Dilaporkan puluhan jadi korban dan tiga di antaranya tewas.

Di balik peristiwa Koja, ada indikasi umum jika penegakkan hukum terhadap rakyat kecil dilakukan dengan tegas dan keras, bahkan menggunakan cara “tangan besi” tanpa mengenal belas kasihan. Sebaliknya jika pejabat atau elit politik yang melakukan pelanggaran hukum ketegasan penegakkan hukum hampir tidak ada dan cenderung ditutupi. Ini adalah salah satu indikasi bahwa negeri kita sedang mengarah pada kehancuran.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hancurnya umat-umat terdahulu adalah tatkala kalangan rakyat jelata melakukan pelanggaran, mereka menerapkan hukum dengan tegas, tetapi manakala pelanggar itu dari kalangan bangsawan, mereka tidak melaksanakan hukum sepenuhnya. Oleh karena itu, sekiranya Fathimah putri Rasulullah mencuri, pasti kopotong tangannya.”

Patut kita sadari korban rusuh Koja adalah rakyat kecil. Baik aparat maupun masyarakat sama-sama rakyat kecil. Karena itu bentrok berdarah-darah yang sangat mengerikan ini sebenarnya pola konflik yang menghadap-hadapkan sesama rakyat kecil. Sementara yang berkepentingan di balik konflik tersebut pejabat dan pemilik modal.

Brutalisme di Koja hanyalah satu titik praktek brutal yang terjadi di Indonesia. Ini adalah output sistem yang brutal. Sistem yang menjadikan kepentingan-kepentingan ekonomi pemilik modal mendasari tindakan brutal aparat terhadap masyarakat. Tidak sedikit kepentingan-kepentingan tersebut direalisasikan secara ilegal melalui praktek korupsi kebijakan.

Sekali lagi, brutalisme di Koja yang juga terjadi di tempat-tempat lainnya adalah hasil dari sistem yang brutal. Sistem yang memfasilitasi perselingkuhan antara elit politik/pejabat, penegak hukum, dan pemilik modal. Sistem yang tidak menjadikan hukum-hukum Allah sebagai standar dan sumber aturan. Inilah Kapitalisme-Sekularsime yang menjadi sumber kerusakan di negeri kita. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS /www.jurnal-ekonomi.org]

[poll id=”8″]

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *