"Blame The Victim"

Oleh M. Hatta

sosial-ekonomi-pengemis

Foto: Kompas

Melihat realitas seperti itu atau bahkan ada di antara kita yang diminta oleh mereka secara langsung, sadar atau tidak, ada di antara kita yang berkata “buat apa ngasih mereka uang, mereka itu pemalas, tidak mau kerja”, “masih anak-anak sudah terbiasa minta-minta duit, gimana sudah dewasa nanti”, ini adalah perkataan dari kita-kita yang awam. Bagi orang-orang yang dikenal intelek dan konon katanya pakar dalam bidang tertentu (misalnya ekonomi) dengan menggunakan data dari hasil penelitian di lapangan berucap “buat apa ngasih mereka duit, berdasarkan hasil penelitian para pengemis itu banyak yang menjadi kaya dari hasil mengemis. Jadi, tidak perlu kita ngasih mereka duit”.

Perkataan-perkataan tersebut sering penulis dengar dan anda semua tampaknya juga pernah atau bahkan sering mendengarnya atau mungkin justru kita adalah yang berkata demikian. Benar dan adilkah kiranya perkataan-perkataan itu semua?

Terjebak Menyalahkan Korban

Perkataan-perkataan di atas sejatinya adalah sebagai salah satu bentuk menyalahkan korban (blame the victim). Menyalahkan korban seringkali dilakukan oleh Negara-negara maju (yang dikomandoi oleh AS) beserta Lembaga-lembaga Internasional yang mereka kuasai. Salah satu bentuk menyalahkan korban yang dilakukan oleh AS adalah dalam hal isu terorisme.

Sebagaimana diketahui, teroris dalam kacamata AS dan sekutunya adalah setiap orang, kelompok dan atau Negara yang mengancam segala kepentingan mereka. Oleh karenanya, apabila ada orang, kelompok dan atau Negara yang berusaha melawan atau melepaskan diri atas penjajahan yang mereka (AS dan sekutunya) lakukan niscaya akan dihabisi oleh mereka.

Dalam konteks perkataan-perkataan di atas yang menyalahkan para pelaku pengemis sejatinya hampir sama dengan AS dan sekutunya. Mengapa?

Bagi yang masih memiliki akal sehat tentunya akan memandang bahwa mengemis adalah sebuah “pekerjaan” yang tidak baik, akan berlaku sebaliknya bagi yang sudah tidak berakal sehat. Mengapa demikian? Tentunya dikarenakan mengemis sangat identik dengan orang yang malas menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Adapun malas itu sendiri adalah suatu sifat buruk yang harus dijauhi oleh setiap orang.

Seperti halnya akal sehat manusia, Islam sebagai sebuah agama yang paripurna juga memandang bahwa mengemis atau meminta-minta suatu perbuatan yang tidak baik. Pandangan Islam seperti ini dapat kita temui dalam beberapa hadits dan perbuatan para Shabat Nabi. Adapun sebaliknya, bagi yang rajin dalam bekerja diberikan penghargaan yang tinggi oleh Islam.

Oleh karenanya, dapat kita katakan bahwa para pengemis yang ada sekarang ini tidak lain adalah bukan disebabkan kehendak nyata mereka. Melainkan adalah suatu bentuk keterpaksaan dari kondisi ekonomi yang sangat menghimpit diri mereka. Kalaupun itu disebabkan oleh kehendak nyata mereka (misalnya pemalas, tidak mau bersusah payah), maka sebenarnya kehendak nyata tersebut terlahir dari cara berpikir mereka yang tidak terdidik dengan baik. Hal ini semakin relevan ketika pendidikan yang ada sudah tidak terjangkau lagi bagi mereka yang berpendapatan rendah. Terlebih lagi, banyak pendidikan yang tersedia ternyata hanya mengarahkan siswa didiknya berperilaku materialistik.

Mengapa kondisi ekonomi dan pendidikan tidak terjangkau bagi banyak orang? Tentunya hanya ada satu jawaban bagi kita yang mau berpikir dengan jernih yaitu, di terapkannya SISTEM KAPITALISME di Negeri ini dan juga di Dunia pada umumnya.

Singkat kata, yang hendak penulis katakan adalah SISTEM KAPITALISME lah yang memproduksi pengemis, bukan kehendak pengemis itu sendiri.

Sebagai solusi, ayo kita perjuangkan penerapan SYARIAH ISLAM secara TOTALITAS dalam bingkai DAULAH KHILAFAH”¦.!!!

M. Hatta adalah Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Islam dan aktivis HTI Yogyakarta.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *