Benarkah Krisis dan "Bubble" Ekonomi Bukan Bukti Kerusakan Kapitalisme?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz,

Terkait dengan krisis financial di AS yang ditandai dengan kebangkrutan beberapa perusahaan yang bermain di bursa saham, salah satu topik berita visual yang tersaji di CNN adalah “Bubble Watch is needed” (http://www.truveo.com/Bubblewatch-system-needed/id/201504400). Judul ini memberikan beberapa interpretasi. Pertama, judul itu menyiratkan bahwa bubble dalam ekonomi khususnya yang terjadi di industri keuangan menjadi sebuah kelumrahan sistem. Kedua, diperlukan infrastruktur atau instrumen kebijakan ekonomi yang sifatnya permanen untuk mengidentifikasi kemunculan bubble dan melakukan treatments terhadap kondisi bubble. Akhirnya bubble dianggap tak beda dengan inflasi, sekedar fenomena wajar atau bahkan keniscayaan dalam ekonomi, meskipun implikasi negatif dari bubble berpuluh atau beratus kali lipat bagi perekonomian. Apakah benar demikian ?

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalam

Jawaban :

Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

Audzubillah, Bismillah, Wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad ibni Abdillah wa ‘ala alihi washahbihi wa man walah, amma ba’du,

Saudaraku,

Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin dalam bukunya, The Chalenge of Global Capitalism (2000), memuji Kapitalisme sebagai “sistem ekonomi pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal di dunia.” Namun, para pemuja fanatik Kapitalisme itu lupa, siapa yang menikmati kesejahteraan itu. Penikmat kesejahteraan sebagian besarnya hanyalah negara-negara penjajah kaya. Kapitalisme justru gagal total dalam mendistribusikan pendapatan global. Pada tahun 1960, 20% penduduk dunia terkaya menikmati 75% pendapatan dunia; sedangkan 20% penduduk termiskin hanya menerima 2,3% pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketimpangan global itu bukan makin berkurang, namun makin parah. Sebanyak 20% penduduk terkaya itu menikmati pendapatan global makin banyak, yakni 80%. Sebaliknya, 20% penduduk termiskin menerima pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1% saja (Spilanne, 2003).

Ibarat suara “ngorok”, kejang-kejang dan mata mendelik bagi orang yang akan mati dalam kondisi sakaratul maut, tanda-tanda kematian Kapitalisme makin terlihat. Harry Shutt dalam bukunya, Runtuhnya Kapitalisme (2005), menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”. Misal: semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya krisis keuangan.


Saudaraku,

Tidak benar bahwa bubble dalam ekonomi khususnya yang terjadi di industri keuangan menjadi sebuah kelumrahan sistem. Tidak benar pula kesalahan tersebut sekedar fenomena wajar atau bahkan keniscayaan dalam ekonomi. Kesalahan ini bagaikan cacat bawaan yang melekat pada Kapitalisme sejak kelahirannya.

Ustadz Shiddiq Al-Jawi (2007) menjelaskan bahwa sistem kapitalisme tidak mungkin bisa dikoreksi dengan pembaruan atau perbaikan pada lapisan kulitnya saja. Diperlukan perombakan system yang sama sekali baru. Mengapa demikian ?

Ibarat pondasi rumah, pondasi kapitalisme sangat rapuh, yaitu sekulerisme. Adapun tiang-tiang penyangga bangunan kapitalisme juga sangat rapuh. Tiang yang sangat rapuh tersebut terdiri dari :  Pertama, Ekonomi Berbasis Investasi Asing,  Kedua, Ekonomi Berbasis Utang, Ketiga, Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money), dan Keempat, monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan/non-real).

Saudaraku,

Abu al-Mu’tashim (dalam Shiddiq Al-Jawi, 2008) menjelaskan, sekularisme merupakan pondasi Kapitalisme yang rapuh, karena tidak memuaskan akal dan tidak selaras dengan fitrah manusia. Disebut tak memuaskan akal, karena sekularisme hanya jalan tengah (al-hall al-wasath) antara dua kutub ekstrem, yaitu ketundukan total pada dominasi Gereja di satu sisi dan penolakan total terhadap agama Katolik di sisi lain. Akhirnya, diambil jalan tengah sebagai hasil langkah pragmatis, bukan hasil proses berpikir yang masuk akal. Tunduk total pada Gereja tidak, menolak total agama Katolik juga tidak. Jadi agama tetap diakui keberadaannya, tetapi hanya berfungsi di Gereja, tidak boleh lagi berperan di sektor publik seperti politik, ekonomi, dan sosial sebagaimana di Abad Pertengahan (486-1453 M). Bangsa Eropa Kristen sudah kapok hidup terbelakang pada abad-abad kegelapan itu, ketika Gereja membunuh 300 ribu ilmuwan, 32 ribu di antaranya dibakar hidup-hidup. Disebut tak sesuai fitrah, karena sekularisme telah menafikan naluri beragama (gharîzah tadayyun), sebagai bagian dari fitrah manusia. Padahal naluri beragama secara natural mengakui kelemahan dan ketidakmampuan diri dalam mengatur kehidupan. Kerapuhan pondasi kapitalisme inilah yang membawa atau mengakibatkan rusaknya segala aspek kehidupan praktis manusia.

Saudaraku,

Dalam konsep kapitalisme dikenal “Tidak ada makan siang gratif”. Demikian pula investasi asing yang dilakukan di negara-negara berkembang terbukti lebih menguntungkan negara-negara investor dan merugikan ekonomi lokal. Ekonom Sritua Arief pernah menghitung, untuk 1 dolar AS investasi asing yang masuk ke Indonesia, ternyata yang balik lagi keluar dari Indonesia adalah sepuluh kali lipatnya, alias 10 dolar AS.

Investasi asing yang dilakukan ternyata lebih sebagai penghisapan dan eksploitasi yang kejam. Menurut Al-Jawi (2007) sebanyak 70% sumberdaya alam di Indonesia telah dikuasai asing. Indonesia hanya mendapat bagian sedikit, ditambah ‘bonus’ mengerikan berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Emas Papua yang dieksploitasi PT Freeport, misalnya, pertahun menghasilkan Rp 40 triliun. Namun, Pemerintah Indonesia hanya mendapat bagian 9,4 % ditambah pajak dan royalti, serta itu tadi, bonus kerusakan lingkungan yang dahsyat dan konflik sosial antara penduduk lokal dengan PT Freeport karena ketidakadilan.

Dalam bulletin AL-ISLAM Edisi: 421 (2008) dijelaskan, Islam memberikan ketentuan syariah yang jelas mengenai investasi asing. Dalam investasi asing untuk SDA, misalnya, Islam telah menetapkan bahwa SDA seperti emas, minyak, dan gas, adalah milik umum, bukan milik individu atau milik negara. Jadi, tambang tidak boleh diserahkan kepada investor untuk dieksplorasi dengan sistem bagi hasil. Yang benar, 100% hasil tambang adalah milik umum yang dikelola negara. Jika ada pihak swasta yang dilibatkan, itu sebatas kontrak tenaga kerja atau kontrak sewa peralatan yang dibayar sesuai dengan jasa mereka.

Saudaraku,

Mengenai Ekonomi Berbasis Utang, baik yang dilakukan negara-negara kapitalis maupun negara-negara Dunia Ketiga, terbukti sama-sama membahayakan. Total out standing utang AS (pemerintah dan swasta) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 1998 jumlahnya ‘baru’ 5,5 triliun dolar AS, dan pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 6,2 triliun dolar AS. Jelas ini jumlah yang luar biasa besar kalau dibandingkan dengan utang Indonesia yang ‘hanya’ 120 miliar dolar AS pada tahun 1998 dan turun menjadi 98 miliar dolar AS pada tahun 2002. Bagaimana AS mengatasi masalah ini? Gampang, AS tinggal mencetak dolar sebanyak-banyaknya, lalu mengalihkan beban inflasinya ke segala pihak yang memegang uang dolar di seluruh dunia (Hamidi, 2007). Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul akan bersifat semu (bubble economy) dan ancaman kolapsnya pun tinggal menunggu waktu.

Bagi negara-negara Dunia Ketiga yang ikut-ikutan menerapkan Kapitalisme, utang telah menjadi alternatif andalan dalam pembiayaan pembangunan mereka sejak berakhirnya Perang Dunia II (1945). Namun, para penguasa Dunia Ketiga itu tidak sadar, bahwa utang luar negeri sebenarnya lebih bermotif ideologi-politik daripada motif ekonomi. John F. Kennedy tahun 1962 pernah menegaskan, bahwa utang luar negeri merupakan metode AS untuk mempertahankan kedudukannya yang berpengaruh dan memiliki pengawasan di seluruh dunia (Beaud, 1987). Dengan demikian, utang luar negeri bagi negara-negara Dunia Ketiga bukan saja menimbulkan masalah ekonomi (beban utang yang berat), namun juga masalah ideologi dan politik, yaitu hegemoni ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Islam dengan tegas mengharamkan utang luar negeri dengan dua alasan utama. Pertama: karena utang itu pasti disertai syarat bunga, padahal Islam mengharamkan bunga (QS 2: 275). Kedua: karena utang itu telah menghancurkan kedaulatan negeri penerima utang dan hanya menjadi jalan hegemoni penjajah kafir. Padahal hegemoni kafir atas umat Islam juga diharamkan (QS 4: 141).

Saudaraku,

Mengenai Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money), sistem uang kertas ini merupakan salah satu tiang yang sangat rapuh untuk menopang bangunan Kapitalisme. Betapa tidak. bukankah uang kertas yang secara legal diakui pemerintah melalui dekrit sebagai uang resmi, namun tidak ditopang dengan logam mulia seperti emas dan perak ? (Hamidi, 2007). Uang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods yang mengaitkan dolar dengan emas (1 ons/28,35 gram emas=35 dolar AS) pada tahun 1970-an, dolar AS tidak ditopang lagi dengan emas dan dapat berlaku hanya karena kepercayaan (trust) orang pada dolar. Seiring dengan dominasi Kapitalisme AS, mata uang dolar kini menjadi salah satu mata uang kuat (hard currency) dunia yang digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional.

Jika dibandingkan dengan mata uang Islam (dinar dan dirham), uang kertas sesungguhnya mempunyai kelemahan mendasar, antara lain selalu terkena inflasi permanen (Hamidi, 2007). Di samping itu, uang kertas jauh dari nilai keadilan (fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya.

Mengenai inflasi permanen, perhatikan ilustrasi berikut. Misal: Anda meminjamkan uang kepada teman Anda tahun ini sebesar Rp 100 juta rupiah. Teman Anda akan mengembalikan sejumlah Rp 100 juta juga, namun 10 tahun lagi. Samakah nilai Rp 100 juta sekarang dengan Rp 100 juta untuk 10 tahun lagi? Jelas tidak sama. Uang kertas rupiah ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) karena inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.

Mata uang Islam (dinar dan dirham) berbeda dengan mata uang dalam Kapitalisme. Dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Pada masa Rasulullah saw., dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor kambing, dan dengan uang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor ayam. Pada masa sekarang ini, tahun 2007, dengan uang senilai 1 dinar orang masih dapat membeli seekor kambing; dan dengan uang senilai 1 dirham orang sekarang masih dapat membeli seekor ayam. Luar biasa, bukan?

Pada mata uang kertas, nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya. Ini jelas tidak adil. Misal: untuk mencetak uang dengan nilai nominal 1 dolar AS diperlukan biaya yang besarnya hanya 4 sen dolar AS. Jadi, nilai intrinsik uang 1 dolar sebenarnya hanya 4 sen dolar. Kalau kurs 1 dolar AS, misalnya, senilai Rp 10.000, berarti 4 sen dolar hanya sebesar Rp 400. Nah, sekarang kalau mau mencetak uang 100 dolar AS, berapa biaya produksi yang diperlukan? Jelas sekali tidak akan jauh berbeda dengan biaya mencetak uang 1 dolar AS (Hamidi, 2007).

Berbeda dengan uang kertas, pada dinar dan dirham nilai intrinsik dan nominalnya menyatu, tidak bakal ada perbedaan. Mengapa? Sebab, nilai nominal dinar atau dirham ditentukan semata oleh berat logamnya itu sendiri yang sekaligus menjadi nilai intrinsiknya, bukan ditentukan oleh dekrit atau pengumuman bank sentral. Kalau kita menyimpan uang Rp 100 ribu sebanyak satu karung, lalu Bank Indonesia mengumumkan uang itu tidak berlaku lagi dan tidak bisa ditukar dengan uang baru, kita tak bisa berbuat apa-apa. Sekarung uang itu hanya menjadi sampah tak bernilai. Berbeda halnya kalau kita mempunyai dinar emas seberat 100 gram, misalnya. Dinar emas akan tetap berlaku sebagai alat tukar di mana pun dan kapan pun, tidak bergantung pada dekrit pemerintah atau bank sentral.

Keunggulan dinar dan dirham Islam itu tidak dimiliki oleh dolar AS yang dominan sekarang. Jika dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi, dolar AS justru akan merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. Pasalnya, ketika dolar tidak ditopang dengan emas lagi, pemerintah AS akan gampang tergoda mencetak dolar dalam jumlah tak terbatas (unlimited). Penciptaan dolar yang terus-menerus oleh Federal Reserve (Bank Sentral) AS inilah yang dianggap para pakar seperti Friedman dan Schwartz (1983) sebagai biang keladi di balik depresi terburuk sepanjang sejarah Amerika. Mereka mengatakan, Federal Reserve-lah yang menyebabkan inflasi terus-menerus karena mencetak dolar yang melebihi nilai barang dan jasa yang ada (Hamidi, 2007).


Saudaraku,

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan/non-real). Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, Kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius (Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar daripada jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).

Dari aspek kredit bank juga dapat diketahui, bahwa kualitas aktiva produktif (kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody’s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan, bahwa pola kredit perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor real dan perekonomian secara umum (Harahap, 2003).

Islam berbeda dengan Kapitalisme. Islam tidak mengakui keberadaan sektor non-real berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga (QS 2: 275). Dengan kata lain, dalam Islam, uang bukanlah komoditi yang karenanya mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori Kapitalisme disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990, “Suku bunga merupakan harga dari uang dan kredit.” (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam hanyalah sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam Kapitalisme.

Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis sektor real). Ini merupakan kebalikan total dari ekonomi Kapitalisme yang dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah nyata (real) dalam produksi barang atau jasa.

Walhasil, jika anda menghuni rumah yang mengetahui bahwa pondasinya sangat rapuh, tiang-tiang penyangganya juga sangat rapuh, meskipun bangunan luarnya terlihat sangat indah dan menawan. Apakah anda “betah” dan nyaman tinggal di dalam rumah yang sangat rapuh itu ? Setelah kita mengerti bahwa kita saat ini diatur oleh sistem kapitalisme yang sangat rapuh, apakah kita masih “kerasan” dan nyaman ?

Mari kita lakukan perubahan sistem secara menyeluruh dan total, tentunya sesuai dengan dakwah Rasulullah SAW yang atas izin Allah SWT mampu merubah secara total sistem jahiliyah menjadi sistem Islam meskpun dalam masyarakat Madinah yang majemuk.

Semoga Allah SWT meridhai dan menerima amal sholeh setiap hamba-Nya yang senantiasa istiqomah mengikuti langkah dakwah Rasulullah SAW secara komprehensif.


Wallâhu a’lam
.

M. Sholahuddin, SE, M.Si adalah dosen tetap Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Direktur Pusat Studi Ekonomi Islam UMS, Kepala Laboratorium Manajemen UMS. Penulis beberapa buku ekonomi Syariah ini menyelesaikan pendidikan master bidang ekonomi dan keuangan Syariah pada Universitas Indonesia (2005). Selain aktif mengajar, research, dan mengikuti berbagai seminar ekonomi Syariah, Sholahuddin juga giat berdakwah bersama Hizbut Tahrir. Saat ini memegang amanah sebagai HUMAS HTI Soloraya.

Author: Admin

Share This Post On

8 Comments

  1. Pencerahan oleh bpk Ustad sangat bagus namun penjelasannya tetap menggunakan teori makro ekonomi hasil ciptaan kapitalis katanya.

    system ekonomi yang sekarang ada itu sangat hebat dan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah juga.
    menurut saya sisten ekonomi islam baik..ntar ada sistem ekonomi kristen, budha, sitem ekonomi hindu, sistem ekonomi yahudi, sistem ekonomi mas parto…tujuaanya jelas untuk mengatur pasar. Permasalahan..MENTAL MANUSIA BAIK ITU INDONESIA MAUPUN LYANG MENJALANKAN EKONOMI SUDAH BOBROK TAK BERMORAL DAN MAU MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI. TOH YANG MEMIMPIN NEGARA INI ISLAM. Jadi kembalilah takut sama Tuhan dan berbuat baik dengan sesama dan alam ketika kita bekerja. cukup. Supaya anak cucu tetap bisa menikmati….Katakan pada dunia kita ini sama besok saya kristen…cicit saya mungkin islam atau menantu saya budha. moralnya bok arus tetap murni. Esensi manusia sebagai mahluk sosial. kita milik manusia lainnya bukan milik keluarga aja. Semoga Ekonomi Islam menjadi rujukan dalam ekonomi dunia. Dan ekonomi Dunia bukan berbasis islam. Kasihan teman saya ingin masuk kerja syaratnya harus bisa baca quran. Sama aja nggak boleh kerja kalau tidak islam….wah kebanyakan pengganguran Pak ustad…..Karena pencari kerja bukan islam aja….jangan egois dong

    Post a Reply
  2. Saudaraku,
    Saya ingin sedikit mengomentari komentar anda:
    1. “.. namun penjelasannya tetap menggunakan teori makro ekonomi hasil ciptaan kapitalis katanya”.
    Metodologi yang kami pakai dengan metode aqliyah dan naqliyah.
    2. “system ekonomi yang sekarang ada itu sangat hebat dan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah juga”.
    Sehebat apa pun sistem ekonomi buatan manusia pasti kalah dengan sistem ekonomi yang berlandaskan tauhidy (ilahiyah). Apakah belum cukup bukti dengan diterapkannya sistem ekonomi kapitalis saat ini semakin tinggi ketimpangan kaya dan miskin, imperialisme, dan berbagai kerusakan serta krisis ?
    3. “Permasalahan..MENTAL MANUSIA BAIK ITU INDONESIA MAUPUN LYANG MENJALANKAN EKONOMI SUDAH BOBROK TAK BERMORAL DAN MAU MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI. TOH YANG MEMIMPIN NEGARA INI ISLAM.”
    Taruh kata semua orang Indonesia itu mental dan akhlaknya baik semua. Tapi ketika masih memakai sistem ekonomi RIBA, maka pasti tidak akan mendapatkan keberkahan. Pasti akan mengalami krisis berulang. Bukankah Riba juga dilarang dalam semua agama ?
    4. Masalah masuk kerja harus bisa baca Al-Qur’an, itu kasus saja. Jangan menggeneralisir permasalahan. Jika pekerjaannya memang menuntut harus bisa baca Al-Qur’an (seperti lowongan guru ngaji), maka sah juga jika ada persyaratan seperti itu. Namun jika lowongannya sebagai manajer department Store maka tidak ada hubungannya dengan persyaratan harus bisa baca Al-Qur’an.
    5. Islam sebagai sistem pernah diterapkan selama kurang lebih 1300 tahun lamanya dan sistem ekonominya diterapkan tidak hanya kepada orang muslim saja. Terbukti hampir tidak pernah mengalami krisis. Namun Sistem Ekonomi kapitalisme yang baru diterapkan 300 tahun lamanya, sudah puluhan kali mengalami krisis yang berulang. Apakah ini masih belum cukup sebagai bukti ?
    6. Suadaraku, saya sarankan dan saya nasehatkan kepada Anda untuk mengkaji dan mendalami Islam dengan seorang Ustadz/Kyai yang sholeh dan terpercaya. Luangkan waktu anda 2 jam setiap minggu untuk mengaji dan mendalami Islam dengan beliau-beliau.
    Semoga Anda mendapatkan pencerahan dari Allah SWT.

    Post a Reply
  3. utang itu apa ngga boleh di dalam islam pak ustads?
    setau sy dlm ekonomi syariah kan ada instrumen mirip ORI yaitu SUKUK
    itu gimana pak ustads, apakah haram jg?
    aduh smua kok haram ya

    Post a Reply
  4. Dalam ekonomi syariah, kita mengenal akad tabarru’ (sosial) dan tijarah (bisnis). Pada prinsipnya utang piutang termasuk akad sosial, sehingga tidak mengenal tambahan keuntungan di dunia tapi mengharap ridha Allah dan keuntungan di akherat. Lain halnya kita memberikan pinjaman untuk berbisnis di sektor riil, maka dalam ekonomi syariah diarahkan untuk menjalin partnership (syirkah).
    Jika ORI (Obligasi RI) itu memakai bunga, maka hukumnya haram. Karena Bunga merupakan istilah lain dari riba. Sedangkan SUKUK, penulis belum mengetahui secara jelas akad SUKUK itu apa ? Jika bagi hasil, apa yang dibagihasilkan ? Mungkin ada di antara pembaca yang bisa berbagi mengenai hal ini ?

    Post a Reply
  5. PETAKA KRISIS EKONOMI AS, BUKTI KERAPUHAN KAPITALISME!!
    Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) pada tanggal 27 September 2008 silam telah ikut mengguncang pasar saham dunia. Krisis yang ditandai dengan bangkrutnya perusahaan sekuritas Lehman Brothers menjadi pertanda ambruknya sistem ekonomi Kapitalis AS. Perusahaan yang telah berusia 158 tahun milik Yahudi ini menyatakan kebangkrutannya hari Selasa 16 September 2008 lalu. Begitu juga dengan kolapsnya beberapa bank dan perusahaan besar lainnya di AS telah menyebabkan keguncangan perekonomian global. Ini kah akhir dari sebuah negara adidaya AS dengan sistem ekonomi neo-liberal nya?

    Bangkrutnya Lehman Brothers ini telah menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Perusahaan tersebut telah melakukan pemecatan 5 persen dari 25.000 jumlah total karyawannya yang tersebar dalam jaringan perusahaannya di seluruh dunia atau sekitar 1.500 orang. Fenomena ini menunjukkan bahwa perusahaan finansial sekelas Lehman Brothers juga menyimpan kelemahan yang berujung pada ambruknya perusahaan tersebut. Mengutip pernyataan kepala ekonom di The Saudi British Bank (SBB), John Sfakianakis yang mengatakan bahwa “krisis perbankan yang terjadi di AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.”

    Sebelum Lehman, sejumah perusahaan di AS juga sudah melakukan pemangkasan karyawan. Misalnya perusahaan penerbitan koran Gannett Co. Inc. menyatakan akan merumahkan 600 karyawannya dan Ford Motor Co. akan mengurangi 300 orang karyawannya. Para analis mempekirakan tingkat pengangguran AS sampai pertengahan tahun 2009 akan meningkat dari 5,7 persen menjadi 6,5 persen. Bertambahnya pengangguran berarti bertambahnya beban perekonomian pemerintah.1

    Kolapsnya Lehman Brothers juga diikuti oleh rivalnya Merril Lynch yang harus rela diakuisisi oleh Bank of America. Begitu juga dengan perusahaan sekuritas, penjamin kredit dan sejumlah bank investasi lainnya ikut rontok satu persatu.2 Peristiwa ini telah menyebabkan keguncangan yang luar biasa di lantai bursa Wall Street. Rontoknya Pasar Saham terbesar di dunia tersebut ikut mengguncang pasar saham di beberapa negara lainnya di dunia termasuk Indonesia. Pemerintah AS pun dengan terpaksa harus menalangi perusahaan-perusahaan kapital tersebut dengan mengucurkan dana segar untuk menyelamatkan perekonomiannya. Keputusan Presiden Bush tersebut yang ingin mem-bail out perusahaan-perusahaan keuangan dengan USD 700 miliar ditentang oleh banyak anggota DPR AS. Karena kerugian yang diperkirakan mencapai USD 5 triliun.

    Post a Reply
  6. Selama sistem ekonomi menjalankan riba, maka Allah akan memeranginya dengan rusaknya sistem itu sendiri. Seperti kapitalisme, yang tumbuh subur dengan riba, pastilah akan hancur. Tanda-tanda kehancurannya sudah nampak di depan mata kita, seperti riba dari bunga yang menyulut krisis global (ekonomi, pangan dan energi) serta krisis moral (hati nurani), ketimpangan sektor riil dan moneter, ketimpangan pendapatan, serta eksploitasi yang terus berlangsung dengan sendirinya melalui struktur pasar monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Kita diajarkan oleh teori, struktur pasar tadi prilakunya eksploitasi yang menimbulkan hilangnya kesejahteraan konsumen dan produsen (deadweight loss).

    Post a Reply
  7. Assalamu ‘alaikum Wr.Wb;
    Selamat Sore;

    Data dari jawaban Bapak Dosen di atas:
    Abu al-Mu’tashim (dalam Shiddiq Al-Jawi, 2008) menjelaskan, sekularisme merupakan pondasi Kapitalisme yang rapuh, karena tidak memuaskan akal dan tidak selaras dengan fitrah manusia. Disebut tak memuaskan akal, karena sekularisme hanya jalan tengah (al-hall al-wasath) antara dua kutub ekstrem, yaitu ketundukan total pada dominasi Gereja di satu sisi dan penolakan total terhadap agama Katolik di sisi lain. Akhirnya, diambil jalan tengah sebagai hasil langkah pragmatis, bukan hasil proses berpikir yang masuk akal. Tunduk total pada Gereja tidak, menolak total agama Katolik juga tidak. Jadi agama tetap diakui keberadaannya, tetapi hanya berfungsi di Gereja, tidak boleh lagi berperan di sektor publik seperti politik, ekonomi, dan sosial sebagaimana di Abad Pertengahan (486-1453 M). Bangsa Eropa Kristen sudah kapok hidup terbelakang pada abad-abad kegelapan itu, ketika Gereja membunuh 300 ribu ilmuwan, 32 ribu di antaranya dibakar hidup-hidup. Disebut tak sesuai fitrah, karena sekularisme telah menafikan naluri beragama (gharîzah tadayyun), sebagai bagian dari fitrah manusia. Padahal naluri beragama secara natural mengakui kelemahan dan ketidakmampuan diri dalam mengatur kehidupan. Kerapuhan pondasi kapitalisme inilah yang membawa atau mengakibatkan rusaknya segala aspek kehidupan praktis manusia.
    Komentar ku : aduh kasian banget deh……..manusia zaman dahulu harus meninggal sia-sia apalagi bangsa Eropa zaman dahulu pada saat masa kegelapan yang telah keji membunuh ilmuwan nya sendiri dan sampai hati alias tega banget sejumlah 300 ribu ilmuwan; andaikata Rasul Isa a.s dibangkitkan lagi oleh Tuhan Allah SWT dan Rasul Muhammad SAW dibangkitkan kembali, kira-kira apa kata mereka berdua ya terhadap umat beragama zaman dulunya dan zaman ini ……………… ??????
    Maafkan, perandaian tadi pasti tidak akan mungkin terjadi kan. Mana mungkin Tuhan Allah SWT akan menghidupkan kembali Rasul Isa a.s dan Rasul Muhammad SAW secara bersamaan waktunya apalagi saat zaman ini ? Pasti ngak mungkin kan.

    Terima kasih

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *