Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil

EKONOMI : Ekonomi Islam

oleh Hidayatullah Muttaqin

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.... (T.QS. al-Baqarah: 275).

Foto: Setwapres

Foto: Setwapres

Sebuah pernyataan sangat menarik disampaikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla dalam pembukaan diskusi bertema Young Leader Forum dan Business Women Forum sebagai bagian acara World Islam Economic Forum di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Minggu (1/3/2009).

Sebagaimana diberitakan Detikfance, Wapres memberikan pandangan bahwa sistem ekonomi Islam lebih mampu bertahan di tengah krisis global dibandingkan sistem Barat (Kapitalisme). Hal ini disebabkan sistem ekonomi Islam berbasis real transaction sedangkan Barat unreal transction.“Krisis terakhir telah mengajarkan ke kita untuk menggunakan sistem ekonomi Islam. Karena sistem ekonomi Islam yang pakai sistem real transaction, ternyata lebih bisa bertahan menghadapi krisis…. Hal ini bisa dilihat dari negara-negara yang menggunakan sistem ini terbukti tidak begitu terpengaruh. Beda dengan negara-negara Eropa yang menggunakan unreal transaction.” kata Wapres.

Pandangan Wapres sangat tepat, sebab negara-negara yang menerapkan sistem ekonomi Barat (Kapitalisme) sangat rapuh menghadapi krisis. Bukan saja rapuh, sistem ekonomi Barat itulah yang menjadi penyebab krisis.

Sistem ekonomi Barat tidak dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT (lihat QS. at-Taubah: 109). Sistem ekonomi Barat dibangun atas dasar penghalauan peranan (hukum) Tuhan dari muka bumi (sekularisme) dengan nilai-nilai materialistik sebagai standar.

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. at-Taubah 109)

Jika terhadap Allah SWT Barat sangat sangat berani maka bagaimana jadinya terhadap umat manusia? Karena itu tidaklah aneh negara-negara Barat sejak dulu dikenal sebagai negara penjajah.

Saat ini pun mereka selalu berusaha mencengkram negeri-negeri Islam untuk menguasai sumber daya alam dan pasarnya. Mereka berusaha mengcengkram malalui pasar bebas dan globalisasi, privatisasi dan investasi asing, serta dengan menjadikan sektor ekonomi non riil (virtual sector) sebagai basis perekonomian dunia.

Tidaklah aneh pula negeri-negeri muslim seperti Indonesia yang berkiblat pada sistem ekonomi Barat mengalami krisis dan sering kali melahirkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Setiap kebijakan ekonomi senantiasa didasarkan pada kepentingan asing dan investor. Sudah bukan rahasia lagi pembuatan undang-undang juga sarat dengan intervensi asing.

Sistem ekonomi Barat juga telah gagal mengangkat dirinya sendiri dari krisis sebagaimana dikatakan oleh Nouriel Roubini. Mereka gagal mengatasi krisis yang dipicu oleh masalah kredit macet subprime mortgage. Dana besar-besaran yang menyandera rakyat negara-negara Barat dalam hutang yang berkepanjangan juga tidak mampu mengeluarkan dari permasalahan. Pasar sektor non riil mereka tidak terlalu menganggap paket-paket stimulus sebagaimana yang terjadi Amerika. Perekonomian sektor non riil yang oleh Wapres Jusuf Kalla dianggap sebagai penyebab utama permasalahan ekonomi dunia adalah sumber penyakit ekonomi. 

Allah SWT dalam QS. al-Baqarah 275 menggambarkan model perekonomian ribawi merupakan perekonomian yang “pasti jatuh”. Jika dapat berdiri pun berdirinya dengan sempoyongan. Ketidakpastian dan ketidakamanan merupakan karakteristik ekonomi Barat yang menjadikan riba sebagai model utama di dalam memperoleh profit.

Lihatlah negara-negara mana di dunia ini yang menerapkan sistem ekonomi Barat tidak pernah mengalami krisis? Dan negara mana pula setelah krisis tidak lagi dihantam krisis? Krisis terjadi berulang-ulang. Walaupun bisa diredam krisis pasti akan datang lagi dalam waktu yang lebih pendek dan lebih keras hantamannya.

Lihatlah pula negara-negara mana di dunia ini yang dikatakan negara kuat ekonominya? Pasti yang dikatakan sebagai negara-negara maju bukanlah negara kuat yang sebenarnya. Sebab bagaimana bisa dikatakan kuat keuangan negara senantiasa “lebih besar pasak daripada tiang” dengan jumlah hutang yang terus bertambah besar? Inilah yang menimpa negara-negara maju seperti Amerika.

Kehancuran-kehancuran ekonomi yang bersumbu di sektor non riil adalah kepastian. Tetapi ketidakpastian dan ketidakamanan ekonomi senantiasa mengiringi perekonomian yang menempatkan sektor non riil bisa berjalan beriringan dengan sektor riil.

Jual beli tidak sama dengan membungakan uang. Meraih untung melalui berdagang tidak sama dengan meraih untung melalui bermain saham dan produk derivatif. Berproduksi tidak sama dengan berinvestasi di pasar modal dan instrumen keuangan Barat lainnya. Namun itulah perekonomian non riil masih dianggap sebagai kegiatan ekonomi yang lazim.

Barat terjungkal oleh ekonomi non riil dan dunia pun terjungkal dengan ekonomi ini. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

Artikel terkait krisis:

Krisis Berulang-Ulang: Ada Apa dengan Pasar Global?

Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah

Kapitalisme Sistem yang Gagal

Benarkah Krisis dan “Bubble” Ekonomi Bukan Bukti Kerusakan Kapitalisme?

REFERENSI
Detikfinance.com (1/3/2009), JK: Krisis Buktikan Ketahanan Ekonomi Islam.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *