Baja Naik, Indonesia Gigit Jari

Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) sebagaimana dipetik MediaIndonesia.com (18/1/2011) menyatakan kenaikan harga baja 23% pada tahun ini sangat membebani penyelesaian proyek infrastruktur. Tidak hanya itu, kenaikan harga juga berdampak pada penuruan kualitas pembangunan infrastruktur tersebut.

 

Kenaikan harga baja ini tidak hanya memukul pembangunan infrastruktur tetapi juga merupakan sebuah tamparan keras terhadap pemerintah yang pada tahun lalu memprivatisasi Krakatau Steel melalui IPO di Bursa Efek Indonesia. IPO yang kontraversial karena menjual murah saham Krakatau Steel tersebut merupakan langkah “ugal-ugalan” pemerintahan SBY-Boediono yang mendewakan pasar bebas.

Kebijakan privatisasi pemerintah yang kemudian namanya diubah menjadi kebijakan penjualan saham (untuk menghindari resistensi masyarakat) merupakan sebuah master plan liberalisasi ekonomi Indonesia yang dipaksakan IMF, Bank Dunia, ADB, dan USAID terhadap Indonesia. Sedangkan pemerintah Indonesia manut saja terhadap pemaksaan privatisasi. Justru pemerintah melakukan akrobat opini dengan mengubah istilah privatisasi sebagaimana pemerintah mengubah istilah pencabutan subsidi menjadi pembatasan subsidi.

Dari desain kebijakan ekonomi Kapitalis-liberal yang telah diadopsi pemerintah, nampak negara kita tidak punya arah kecuali hanya mengikuti apa yang menjadi kepentingan internasional. Pemerintah begitu lemah manakala menghadapi rezim internasional (perjanjian dan peraturan perdagangan bebas) tetapi begitu perkasa mencabut subsidi untuk rakyat. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS] 

 

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *