Bagaimana Solusi Kesenjangan Akibat Neo Imperialisme ?

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, dalam bukunya Pak Amien Rais (Selamatkan Indonesia, 2008: 22) dipaparkan tentang kesenjangan kaya-miskin sebagai berikut : Untuk perbaikan pendidikan dasar di seluruh negara berkembang, dibutuhkan dana 6 miliar USD setahun. Jumlah ini lebih sedikit dibanding dana 8 miliar USD setahun untuk belanja komestik di AS saja. Untuk instalasi air dan sanitasi seluruh negara berkembang, diperlukan 9 miliar USD setahun, lebih kecil dari dana konsumsi es krim di Eropa yang besarnya 11 miliar USD setahun. Untuk pemeliharaan kesehatan dan nutrisi, seluruh negara berkembang perlu 13 miliar USD setahun, lebih kecil dibanding dana untuk pakan hewan piaraan (anjing dan kucing) di Eropa dan AS yang besarnya 17 miliar USD setahun.

Bagaimana menyelesaikan permasalahan kesenjangan tersebut ?

Wassalam

Avicena, 0271-5858XXX

Jawaban :

Wa’alaikum salam wr. Wb.

Audzubillah, bismillah, wassholatu wassalamu ‘ala Muhammadin ibni Abdillah wa’ala alihi wasohbihi wa man walah. Amma ba’du.

Saudaraku Avicena, kesenjangan antara kaya dan miskin yang sangat tajam tersebut merupakan akibat dari suatu sebab. Ketika mencari sebab, ibarat pohon, ada yang menemukan cabangnya saja, bukan batangnya. Mari kita cari sebab utama (batang) dari permasalahan tersebut.

Avicena, pada hakekatnya, sebab utama (batang) dari permasalahan kesenjangan saat ini adalah neo imperialisme (penjajahan non fisik) negara-negara kapitalis untuk menghisap dan mengeksploitasi negara-negara berkembang.

Saudaraku Avicena, menentang penjajahan bukan sekedar bertolak dari argumen empiris, seperti terjadinya kesenjangan, kemiskinan dll, namun lebih karena argumen normatif, yakni menentang karena Allah. Sebab neo imperialisme adalah suatu kondisi yang diharamkan, karena firman Allah SWT :

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan /menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisaa` [4] : 141).

Saudaraku Avicena, menyelesaikan permasalahan kesenjangan tidak akan berhasil, kecuali jika dilakukan perlawanan terhadap neo imperialisme negara-negara kapitalis dengan serius, komprehensif dan tanpa kekerasan. Perlawanan terhadap neo imperialisme hendaknya memenuhi paling tidak 3 (tiga) kriteria berikut :

Pertama, hendaknya ada kritik yang memadai terhadap berbagai senjata neo imperialisme (seperti globalisasi, pasar bebas, utang LN, Privatisasi SDA dll) dan menyadarkan kepada umat dampak kerusakan senjata tersebut;

Kedua, hendaknya ada solusi alternatif yang memadai, yaitu suatu kondisi ideal yang diharapkan;

Ketiga, hendaknya ada peta jalan (road map) yang jelas, berupa strategi yang dapat ditempuh untuk mengubah kondisi yang ada (kondisi terjajah) menuju kondisi ideal (merdeka dari neo imperialisme).

Itulah tiga kriteria yang kiranya dapat menjadi standar umum untuk menilai sejauh mana keseriusan kita untuk menentang neo imperialisme. Setiap respon, perlawanan, atau penentangan terhadap neo-imperialisme, baik oleh pribadi, organisasi atau negara yang tidak memenuhi tiga kriteria di atas, dapat dianggap cacat atau gagal.

Sebagai contoh, untuk memenuhi ketiga kriteria tersebut secara operasional dapat dijabarkan sebagai berikut :

Kriteria Pertama, sebagaimana kita ketahui neo imperialis merupakan ciri khas alat yang dijalankan oleh sistem ekonomi kapitalis. Ada tiga faktor internal yang secara inheren ada dalam sistem ekonomi kapitalisme, yaitu : sistem moneter yang berbasis uang kertas, bunga (riba), dan sistem perseroan terbatas (PT). Solusi yang ditawarkan yaitu sistem moneter harus berbasis mata uang emas dan perak, bunga harus dihapuskan dalam segala transaksi ekonomi, dan institusi PT harus dihapuskan dan diganti dengan sistem perusahaan kooperatif (syirkah).

Kritik dan solusi tersebut secara terus menerus perlu disampaikan kepada umat, terutama DPR dan pemerintah karena merekalah yang membuat dan menjalankan berbagai undang-undang . Contohnya, RUU Penanaman Modal Asing (PMA), RUU Ketenagalistrikan, dan RUU Sumber Daya Air, melakukan privatisasi BUMN dan memecah (un-bundling) kesatuan institusi PLN. Menaikkan harga BBM, karena kebijakan ini bukan untuk menyelamatkan APBN, bukan pula karena naiknya harga minyak dunia, melainkan untuk melancarkan program liberalisasi migas di sektor hilir, sebuah agenda yang jelas-jelas semakin memperlancar neo-imperialisme.

Kriteria Kedua, memberikan solusi alternatif yang memadai.

Avicena, pada prinsipnya, apa pun masalahnya, solusinya adalah Syariah Islam, bukan yang lain. Syariah Islam dari Allah SWT adalah satu-satunya solusi untuk segala problematika manusia (mu’alajat li masyakil al-insan). Syariah Islam ini dilaksanakan karena alasan iman, bukan karena alasan kemaslahatan. Di mana syariah, maka di situ ada kemaslahatan. (Haitsuma yakunu asy-syar’u takunu al-mashlahatu).

Firman Allah SWT :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”¦” (QS An-Nisaa` [4] : 65).

Secara rinci, solusi syariah untuk mengatasi kesenjangan setidaknya terdapat dalam 3 (tiga) agenda perjuangan yaitu :

1. Menegakkan negara Khilafah yang akan mempersatukan kaum muslimin di seluruh dunia dan menjadi negara adidaya yang akan mampu menghadang dan menggagalkan imperialis. (An-Nabhani, 2006:105).

2. Menerapkan sistem ekonomi Islam dalam negara Khilafah yang akan menerapkan sistem ekonomi yang adil, manusiawi, menyejahterakan, dan bermartabat, sekaligus akan menghancurkan sistem ekonominya para neo imperialis yaitu sistem ekonomi kapitalis.

Penderitaan dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan dari negara-negara kapitalis, khususnya AS, tidak akan lenyap kecuali dengan tegaknya negara Khilafah yang akan menerapkan ideologi yang haq, yaitu Islam yang agung yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin. Pada saat itu, keadilan Islam akan dapat membongkar kebobrokan kapitalisme, dalam pemikirannya yang materialistik dan metodenya yang imperialistik. Demikian pula, kekuatan Islam yang baik akan menghancurkan kesombongan dan arogansi AS, serta akan memaksa AS untuk kembali ke isolasinya dan Dunia Barunya, jika Dunia Baru itu masih ada. Kemudian kebaikan akan tersebar luas ke seluruh penjuru dunia dan dunia pun akan dapat bernafas lega setelah lama menderita dan sengsara. (Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir, An-Nabhani, 2006:105-106).

Kriteria Ketiga, Peta jalan (road map) yang jelas yang harus ditempuh.

Saudaraku Avicena, sebagai seorang muslim, kita mempunyai dua kewajiban, yaitu : (1) melakukan pembebasan atau penyelamatan atas dirinya sendiri lebih dahulu. Caranya adalah dengan menerapkan kembali Islam secara utuh, baik Aqidah Islam maupun Syariah Islam, dalam negara Khilafah Islam. (2) setelah itu, umat Islam wajib melakukan pembebasan atau penyelamatan dunia. Caranya adalah dengan mengemban dakwah Islam (haml ad-da’wah al-islamiyah) ke seluruh dunia dengan jalan jihad fi sabilillah.

Adapun langkah-langkah tanpa kekerasan untuk kembali menerapkan Islam seutuhnya dalam wadah negara Khilafah adalah sebagai berikut :

Pertama, tahap pembinaan (tatsqif) untuk membentuk kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islam) yang mempercayai pemikiran (fikrah) dan metode (thariqah);

Kedua, tahap interaksi dengan umat (tafa’ul ma’a al-ummah) agar terwujud opini umum dan kesadaran umum tentang Islam di tengah umat, sehingga umat turut memperjuangkan dan mewujudkan Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat;

Ketiga, tahap penerimaan kekuasaan (istilaam al-hukm), yaitu penerapan Islam secara menyeluruh oleh negara Khilafah dan penyebaran Islam sebagai risalah untuk seluruh umat manusia dengan jalan jihad fi sabilillah.

Semoga Allah SWT mengampuni kekhilafan kita yang belum begitu serius dan fokus dalam upaya menegakkan daulah khilafah Islamiyah yang akan menghancurkan neo imperialisme sebagai penyebab utama kesenjangan yang terjadi. [ ]

M. Sholahuddin

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *