Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?

Assalamu’alaikum Ustadz,

Banyak warga kampung saya menyatakan bahwa tidak mengapa harga BBM naik karena untuk menutupi anggaran pemerintah yang defisit. Ketika membeli minyak, kita niatkan saja untuk membantu negara yang sedang defisit. Saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia menjadi bingung. Mohon pencerahannya.

Wassalam

(Tazkia Amalia, tut_xtan@xxxxx.com)

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah, wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah Muhammad ibn abdillah wa ‘ala alihi wa sahbih wa mawwalah, amma ba’du,

Ukhti Tazkia Amalia, Kenaikan harga minyak pada Hari Jumat 22 Mei 2008 (Premium, Solar dan Minyak Tanah), jika kita amati banyak terjadi penyesatan politis. Kenaikan harga itu tidak mau disebut kenaikan harga, tetapi disebut pengurangan subsidi BBM. Padahal hakikatnya adalah kenaikan harga BBM.

Juga dibuat opini melalui ‘pakar’ bidang ekonomi bahwa kenaikan itu untuk menyelamatkan APBN agar perekonomian nasional selamat. Padahal dalam APBN 2008 dinyatakan, APBN itu hanya 20 % dari PDB atau dengan kata lain hanya 20 % dari kue perekonomian nasional. Sementara dengan kenaikan harga BBM yang terkena dampak negatifnya adalah perekonomian nasional seluruhnya. Artinya untuk menyelamatkan yang 20 % itu, justru 80 % dari perekonomian nasional terkena dampak negatifnya.

Ukhti Tazkia Amalia, ada juga yang mengatakan bahwa jika BBM disubsidi terus menerus akan mendorong pemborosan. Faktanya, konsumsi BBM Indonesia berada di urutan 116 dari negara-negara di dunia. Singapura yang BBM-nya tidak disubsisi, justru berada di ranking 1 konsumsi BBM dunia.

Bahkan ada Profesor bidang ekonomi di Solo yang menyatakan bahwa diantara alasan kenaikan harga BBM itu karena subsidi BBM hanya dinikmati oleh orang kaya yang diidentikkan dengan pemilik mobil pribadi. Sehingga jika harga BBM naik, maka pembelian mobil mewah akan berkurang. Padahal jumlah pemilik mobil mewah hanya < 5 % (< 10 juta). Faktanya, BBM jelas dipakai oleh semua orang termasuk seluruh orang miskin. Bukankah BBM itu juga dipakai oleh sopir Bus, Metromini, mikrolet, angkot, sopir truk pengangkut barang, nelayan, para penumpang angkutan umum (bus, metromini, mikrolet, angkot, dsb) yang mereak itu semuanya bukan pemilik mobil pribadi atau bukan orang kaya. Dengan kenaikan harga BBM, harga-harga barang naik, akibatnya dirasakan oleh semua orang termasuk orang yang tidak pernah naik kendaraan (kalau ada) karena barang-barang itu diangkut dan didistribusikan dengan kendaraan pengangkut yang menggunakan BBM.

Di sisi lain, subsidi yang jelas hanya dinikmati orang kaya tetap dipertahankan. Impor gandum, PPn-nya dibayar pemerintah, jelas subsidi itu lebih dinikmati pengusaha dan mereka adalah orang kaya (malah mungkin super kaya). Lebih dari 600 triliun uang dikucurkan untuk rekapitulasi Bank. Yang paling banyak menikmati adalah para pemilik Bank itu dan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Malah mereka yang ngemplang dana rekap itu begitu mudah dimaafkan dan dianggap lunas. Jika kepada mereka “pemerintah” begitu dermawan, kenapa untuk subsidi BBM yang dinikmati masyarakat kebanyakan pemerintah terlihat begitu berat dan pelit?

Begitulah, umat Islam perlu memiliki kesadaran politik. Salah satunya, memahami adanya penyesatan politik.

Apa itu penyesatan politik ? Penyesatan politik itu menyembunyikan sesuatu atau menjadikan sesuatu tidak tampak, dalam konteks pengaturan urusan masyarakat dan pemeliharaan kemaslahatan serta kepentingan mereka. Penyesatan politis itu adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan urusan masyarakat sehingga hakikat suatu masalah bisa disembunyikan dan yang tampak adalah sesuatu yang lain. Penyesatan politis itu dalam perpolitikan sekarang ini menjadi fenomena keseharian, baik ditingkat internasional atau nasional.

Tanpa memahami ‘konsep penyesatan politik’ umat akan mudah dijadikan bulan-bulanan. Sebaliknya, umat yang mengetahui penyesatan politik akan mampu melakukan kebangkitan dan tidak mudah dininabobokan. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita jalan yang lurus, agar kita tidak tersesat dan tidak dimurkai oleh Allh SWT. Amin. [ ]

M. Sholahuddin

Author: Admin

Share This Post On

3 Comments

  1. Pemerintah kita, adalah pemeritah yang pintar dalam berbohong dan menyembunyikan isu… lihat saja, dua kali kenaikan harga bbm di masa megawati telah teralihkand engan isu bom bali plus kasus ambalat. Saat ini, Pemerintah jg pintar berupaya mengalihkan opini kenaikan bbm dengan mencuatnya kasus monas. Jadi wajarlah… kalau pembohong ulung akan dengan sangat mudah menyesatkan masyarakat dengan hanya bahasa subsidi…

    salam hangat pak…!!

    Post a Reply
  2. Assalamu”alaikum Wr. Wb. Menurut saya sikap masyarakat terhadap kenaikan BBM seharusnya sudah sewajarnya di terima.
    tapi sistem yang di berlakukan pemerintah terhadap kenaikan BBM saya kurang setuju.
    menurut saya dengan pemberian subsidi oleh pemerintah itu sama saja dengan semakin meninabobokan masyarakat indonesia ke dalam jurang ketergantungan.kenapa bisa begitu menurut saya masyarakat indonesia sekarang kurang bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
    saya berpendapat kenaikan BBM harus dengan harga standard internasional tanpa pemberian subsidi,TAPI dengan ketentuan semua dana untuk subsidi harus di salurkan kepada rakyat.(dari rakyat oleh rakyat untuk rayat).Dan semua itu untuk melatih warga indonesia untuk hidup mandiri dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ke kehidupan yang lebih sejahtera.
    maka dari itu kenaikan BBM saya berpendapat masih bisa terima.
    makasih pak??????
    wassalamu”alaikum Wr. Wb.

    Post a Reply
  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb. Cara pandang saya sikap masyarakat menyikapi kenaikan BBM adalah menerima namun kebijakan itu kurang efektif karena pemerintah tidak melihat akibat dari kebijakan tersebut. Contoh nyata dampak kenaikan BBM adalah meningkatnya angka kemiskinan. Seperti tragedi pembagian zakat yang terjadi di pasuruan merupakan bukti nyata bahwa di Indonesia masih banyak rakyat yang kekurangan dan mereka rela berkorban nyawa hanya untuk mendapat uang tiga puluh ribu rupiah. Meskipun pemerintah sudah berusaha untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai pada masyarakat tapi apakah bantuan itu mencukupi untuk merigankan beban rakyat dengan harga bahan-bahan pokok yang makin mahal? Pemerintah hanya menyusun teori saja tapi praktek di lapangan yang sangat bertolak belakang dengan semua skenario yang pemerintah susun. Memang subsidi BBM melatih rakyat tidak mandiri tapi apakah pemerintah tidak punya alternatif lain untuk menutupi dampak kenaikan harga minyak dunia yang tidak menyengsarakan rakyat?padahal Indonesia dikenal sebagai negara kaya raya dengan hasil bumi tapi mengapa semua itu tidak kita manfaatkan sendiri untuk memenuhi kebutuhan rakyat malah justru semua itu dialih fungsikan oleh negara asing?semua itu kembali pada manusianya sendiri…
    terimakasih pak…
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *