Bagaimana Krisis Pangan Global dapat Terjadi?

Bagaimana Krisis Pangan Global Dapat Terjadi?

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, rasanya hidup ini bertambah susah ya… hampir semua barang kebutuhan pokok harganya naik. Barangkali yang menurun hanya kemiskinan, maksudnya menurun ke anak cucu…. Yang saya tanyakan, kenapa harga-harga kebutuhan pokok semakin mahal ? Apakah karena jumlah bahan kebutuhan pokok kita itu tidak mencukupi ustadz ?

Atas jawabannya kami sampaikan terima kasih.

Jazakumullah ahsanal jaza’.

Wassalam.

Sony M, sony_2008@XXXXX.com

Jawaban :

Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

Alhamdulillah. Wassholatu wassalamu ‘ala Sayyidina Muhammadin ibni Abdillah, amma ba’du.

Saudara Sony,

Krisis Pangan Global ternyata sudah di depan mata. Penyebabnya tidak lain adalah kenaikan harga produk pangan yang sulit terbendung sejak dua tahun lalu dan terus berlanjut hingga kini.

Ancaman krisis pangan dunia sebenarnya telah dikomunikasikan sejak 2006. Selama enam tahun berturut-turut konsumsi biji-bijian pangan dunia lebih besar dari pada produksi dunia. Bahkan pada 1999, stok pangan dunia masih dapat memenuhi kebutuhan selama 116 hari, tapi pada 2006 hanya tinggal 57 hari. Dalam laporan Food and Agriculture Organitation (FAO) yang berjudul Growing Demand on Agriculture and Rising Prices of Commodities menunjukkan indeks harga pangan meningkat rata-rata 9% pada 2006 ketimbang tahun sebelumnya. Bahkan pada 2007 indeks harga pangan meningkat 23% dibandingkan 2006. Sementara dalam Food Outlook yang dikeluarkan FAO hingga Tahun 2017 diramalkan harga pangan akan terus naik sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah

Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak makan sebesar 50%, seperti harga crude palm oil (CPO) yang sudah menembus angka 1.200 dolar AS/ton Untuk komoditi padi-padian rata-rata naik 42%. Misalnya, harga jagung kini mencapai 500 dolar AS/ton dan cenderung bertambah naik sejak Desember 2007. Begitu juga dengan komoditi gandum. Pada periode 2007/2008 diperkirakan produksinya hanya 604 juta ton ditambah stok periode sebelumnya sebanyak 125 juta ton, total pasokan menjadi sekitar 729 juta ton. Artinya dengan total kebutuhan gandum di seluruh dunia sebanyak 619 juta ton, stok akhir di pasar dunia hanya tinggal 110 juta ton.

Sedangkan harga beras yang menjadi makanan pokok bangsa Indonesia di pasar internasional juga naik hampir 50%. Contohnya, harga beras Thailand broken 10% yang tahun lalu masih 326 dolar AS/ton, tapi pada Maret 2008 sudah mencapai 543 dolar AS/ton. Harga beras Vietnam broken 25% juga melonjak sangat tinggi, tahun lalu masih 281 dolar AS/ton, kini sudah di atas 500 dolar AS/ton.

Saudara Sonny,

Krisis pangan dunia ini sebenarnya terjadi belakangan setelah terjadinya kenaikan harga bahan-bahan makanan pokok pada tahun-tahun terakhir dan melambung secara fluktuatif pada beberapa bulan terakhir.

Sedangkan naiknya harga, yang diikuti dengan krisis pangan sebenarnya sebab utamanya adalah sebagai berikut:

Pertama, Naiknya harga minyak dan turunnya nilai dolar

Naiknya harga minyak menyebabkan naiknya harga-harga bahan yang diperlukan dalam pertanian, semisal benih, pupuk, obatan-obatan, peralatan dan transportasi. Kenaikan biaya produksi dan transportasi telah berpengaruh terhadap naiknya harga bahan-bahan pangan terutama gandum, beras, dan shorghum. Contohnya, harga beras di Philipina telah mengalami kenaikan 70 % selama setahun lalu.

Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, harga-harga bahan pangan biasanya ditentukan dengan menggunakan dolar. Maka, ketika nilai dolar turun, otomatis harga bahan pangan naik.

Kedua, Kondisi-kondisi klimatologi

Kondisi-kondisi klimatologi yang berpengaruh terhadap turunnya produksi hasil pertanian, seperti banjir, topan dan kekeringan. Misalnya, Australia, salah satu penghasil terbanyak biji-bijian, menghadapi kondisi kekeringan yang paling buruk sepanjang sejarahnya”¦ Kondisi-kondisi klimatologi ini pada tahun-tahun terakhir diiringi lompatan perekonomian di beberapa negara seperti Cina, India, dan Brazil yang menyebabkan meningkatnya konsumsi daging.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk memproduksi sepotong daging yang mengandung 100 kalori, ternak penghasil daging harus diberi pakan berupa biji-bijian sebanyak 700 kalori. Dari 2,13 miliar ton biji-bijian, menurut statistik FAO hanya 1,01 miliar ton saja yang digunakan untuk makanan manusia. Dengan begitu pemeliharaan ternak menambah naiknya harga dunia.

Ketiga, Produksi biofuel dari biji-bijian.

Jan Zigler, reporter khusus PBB untuk urusan makanan, dalam pernyataannya kepada sebuah radio Jerman, menilai bahwa produksi besar-besaran biofuel pada saat ini bisa dianggap sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Ini disebabkan oleh pengaruhnya terhadap naiknya harga bahan pangan di dunia.

Biofuel menggunakan bahan dasar produk-produk pertanian. Pada tahun-tahun terakhir, banyak negara industri memanfaatkan lahan pertanian untuk memproduksi biofuel untuk menurunkan ketergantungan kepada minyak, yang harganya melonjak sampai angka yang tidak rasional. Ini menyebabkan bertambahnya permintaan terhadap biofuel, kemudian menyebabkan naiknya harga biji-bijian.

Pada Maret 2007, Presiden AS George Bush bertemu dengan rekannya dari Brazil, Luiz Enisa Lula Silva untuk menandatangani perjanjian bilateral, yaitu Perjanjian Etanol bagi kerjasama di antara kedua negara untuk melakukan penelitian dan pengembangan generasi baru produksi biofuel, juga untuk membentuk persatuan dagang biofuel, khususnya di negara-negara Asia Tengah. Kesepakatan Perjanjian Etanol kedua kepala negara itu menjadi awal pertumbuhan yang nyata penanaman biji-bijian untuk dimanfaatkan dalam produksi biofuel. Gula tebu, kelapa sawit dan kedelai yang khusus untuk produksi biofuel telah menghabiskan lahan belukar dan hutan di Brazil, Argentina, Kolombia, Ekuador dan Uruguay. Areal tanam kedelai di Brazil telah menghabiskan 21 juta hektar lahan hutan dan 14 juta hektar di Argentina. Tidak tampak, bahwa fenomena ini akan menurun selama harga biji-bijian terus naik. Sebanyak 100 juta ton biji-bijian dari total 2,13 miliar ton akan digunakan dalam memproduksi biofuel pada tahun 2008. Dengan kata lain, ratusan juta ton biji-bijian ini akan digunakan untuk memberi makan mobil.

Keempat, Kegagalan Pemerintah dan Politik

Tentang produksi gandum yang merupakan produk strategis, Uni Eropa memproduksi 122 juta ton, Cina 106 juta ton, India 75 juta ton, Amerika Serikat 56 juta ton, dan Rusia memproduksi 48 juta ton. Amerika Serikat mengekspor 32 juta ton, Kanada 15 juta ton, Uni Eropa 10 juta ton dan Argentina 10 juta ton.

Sedangkan negara-negara Arab, seluruhnya kecuali Suria, mengimpor gandum. Mesir, negeri sungai Nil, merupakan pengimpor gandum terbanyak di dunia. Mesir mengimpor 7 juta ton gandum. Aljazair negeri gunung Atlas dengan pertaniannya yang dahulu pernah kesohor sebagai produsen gandum pada masa penjajahan Perancis, ternyata mengimpor 5 juta ton gandum. Irak negeri sungai Eufrat dan Tigris mengimpor 3 juta ton, Maroko 3 juta ton, Yaman mendekati 3 juta ton, Tunisia satu juta ton dan Yordania 500 ribu ton.

Di tengah menurunnya nilai dolar dan naiknya harga minyak, maka biaya impor gandum akan naik drastis. Ini akan membebani neraca negara-negara tersebut dengan beban yang amat besar untuk mengimpor gandum, sampai seandainya negara-negara itu memperoleh gandum dan biji-bijian dengan harga khusus sekalipun.

Ini bisa terjadi, meski negara-negara tersebut memiliki sumber air dan tanah yang subur! Bukankah sesuatu yang mengherankan, negeri Nil, dua sungai (Eufrat dan Tigris) dan gunung Atlas justru termasuk negara pengimpor gandum terbesar di dunia!

Bisa jadi rekomendasi terakhir yang ada dalam laporan Bank Dunia tentang sumber-sumber air di Timur Tengah dan Afrika Utara, sebenarnya menjelaskan bagaimana politik yang keji tengah didesain untuk negara-negara Arab! Laporan tersebut menyimpulkan, bahwa untuk penyediaan air wajib diadopsi politik pertanian yang meminimalkan penggunaan air. Laporan ini merekomendasikan penanaman tomat dan semangka”¦ Sebaliknya tidak menanam gandum! Tentu saja rekomendasi Bank Dunia yang dikatakan oleh Pir Franchesco Mantovani, ahli air di Bank Dunia, tidak ada kaitannya dengan prosedur teknik yang ditetapkan oleh para insinyur, tetapi berkaitan dengan reformasi politik yang mendalam!

Perlu diketahui, bahwa sebenarnya banyak negara yang memiliki potensi menanam gandum. Tetapi, politik penjajah yang diadopsi IMF menghalangi produksi gandum tersebut. Karena, IMF mendorong negara-negara yang mengikuti politiknya untuk menanam tembakau dan kapas, sementara IMF memberikan utang dan berbagai bantuan untuk menanamnya. Pada saat yang sama, utang dan bantuan itu dihalangi untuk penanaman gandum. Ini untuk mensuplay industri barat dengan dua komoditi tersebut.

Saudara Sony,

Lantas, apa kontribusi kita menyaksikan dan mengalami kondisi ini ? Akankah kita diam saja ? Atau juga ikut bergerak bersama untuk melakukan perubahan secara menyeluruh dengan cara dakwah tanpa kekerasan (pemikiran dan politik) ? Semua respon kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban besuk di akherat kelak. Wallahu a’lam bishawab. [ ]

Author: Admin

Share This Post On

3 Comments

  1. Krisis ini membuktikan Firman Allah SWT mengenai kehancuran dan kerusakan bumi (Global warming) disebabkan ulah tangan manusia. Manusia sekarang dihadapkan pada situasi yang sulit, dan dunia saat ini terbelenggu dalam sistem hidup yang ribawi (tidak hanya sistem ekonomi kapitalisme saja melainkan sistem politik dan hukum yang juga jahiliah). Ini disebabkan ia paradigmatik berfikir manusia menjauhi nilai Tauhid. Jika kita tidak mengubah ke haluan sistem ilahiah, maka tinggal menunggu waktu saja hancurnya sistem hidup dan kehidupan manusia di alam ini. Wallahu ‘alam Bissawab.

    Post a Reply
  2. askum….
    kurangnya lapangan kerja mgkin bsa penyebab salah satunya,dan banyaknya para koruptor yang memakai dana2 yang ga wajar,sehingga menyebabkan krisis global terjadi…

    Post a Reply
  3. Assalamu’alaikum.wr.wb. Menurut saya krisis pangan global dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antara negara kaya dengan negara miskin/ berkembang. Mereka(negara-negara kaya) selalu berusaha untuk tidak memberi kesempatan kepada negara kecil untuk berkembang/ maju..
    Wassalamu’alaikum.wr.wb…..

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>