Awas "Ledakan" Utang!

EKONOMI: Utang Swasta

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Ilustrasi: kolomhumor.com

Ilustrasi: kolomhumor.com

Tahun 2009 ini ekonomi Indonesia menghadapi tekanan yang lebih berat seiring dengan besarnya jumlah utang swasta yang jatuh tempo, yakni sebesar 22,6 miliar dollar AS (sekitar Rp 248,6 trilyun dengan asumsi kurs Rp 11.000/dollar AS). Padahal tahun ini pula pemerintah Indonesia menganggarkan pembayaran utang dalam APBN sebanyak Rp 172 trilyun.

Bila dikalkulasikan dengan anggaran penerimaan APBN 2009 Rp 847,7 trilyun, maka rasio utang swasta yang jatuh tempo dengan penerimaan negara mencapai 29,33%. Sedangkan rasio pembayaran utang pemerintah mencakup 20,31%. Secara keseluruhan, jumlah utang yang jatuh tempo mencapai 49,64% pendapatan negara 2009, di mana 12% di antaranya adalah pembayaran cicilan BUNGA utang pemerintah.

Menanggapi “ledakan” pembayaran utang swasta, ekonom Drajat Wibowo sebagaimana diberitakan Detikfinance.com (21/3/2009) menilai masalah ini harus benar-benar diwaspadai, sebab bisa mengganggu nilai tukar rupiah. Drajat mengatakan:

“Sesuai hukum penawaran dan permintaan, pada bulan-bulan dimana utang swasta tersebut jatuh tempo, rupiah bisa terdepresiasi. Depresiasi ini bisa cukup besar kalau ekspor terus anjlok sehingga pasokan valas di bawah semestinya. Tapi hemat saya, depresiasi pada bulan jatuh tempo tersebut paling tinggi sekitar Rp 300/US$, itupun kalau pasokan valas agak turun.”

Sementara itu, Bank Indonesia menganggap hal itu tidak akan menganggu nilai rupiah meskipun jumlah utang swasta yang jatuh tempo sangat besar. Menurut Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono, utang swasta yang jatuh tempo tahun ini sebagian besar masih bisa diperpanjang atau sudah tersedia dananya. Sehingga kebutuhan akan dollar AS akan tetap dapat dipenuhi.

Berdasarkan publikasi Bank Indonesia, data utang swasta Indonesia pada kuartal IV 2008 mencapai US$ 62,57 miliar sedangkan utang luar negeri pemerintah US$ 66,51 miliar sehingga total utang luar negeri Indonesia di akhir 2008 mencapai US$ 129,07 miliar. Dengan kurs Rp 11.000/ dollar AS, maka jumlah utang luar negeri Indonesia setara Rp 1.419, 77 trilyun. Jumlah utang ini belum termasuk utang obligasi pemerintah atau SUN yang nilainya sudah mencapai Rp 920 trilyun.

Negeri ini memang dikelola dengan “cara aneh”. Untuk utang negara, pemerintah menggunakan pendapatan negara dalam melunasi cicilan bunga utang yang jatuh tempo. Sedangkan pinjaman baru baik dalam bentuk pinjaman asing maupun hasil penerbitan obligasi (Surat Utang Negara) digunakan untuk membayar cicilan pokok utang yang jatuh tempo. Jadi dengan cara seperti ini, negara kita selamanya akan terjebak utang dengan jumlah total dan beban pembayaran tahunan yang semakin besar.

Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang besar, serta pasar domestik yang luas, justru mengandalkan utang untuk “hidup”. Dengan utang, seolah-olah Indonesia yang bergantung pada asing. Namun sebaliknya, asinglah yang bergantung pada Indonesia karena mereka menjadikan utang sebagai sumber pendapatan melalui bunga dan sebagai cara membuka mata pencaharian untuk korporasi-korporasi Kapitalis.

Pengelola negeri ini, termasuk para politisi dan partai politik yang saat ini sedang “berebut” kursi parlemen terjebak pada kerusakan sistem liberal Barat, dan menjadi pemelihara kerusakan itu sendiri. Tidak sedikit di antara mereka membawa agenda penjajah ataupun kepentingan “pragmatis”. Semua perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Setiap penghianat akan membawa bendera pada Hari Pembalasan yang akan dikibarkan sama tinggi dengan (tingkat) penghianatannya. Dan tidak ada penghianatan yang lebih besar daripada penghianatan (yang dilakukan oleh) seorang pemimpin umat.” [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

REFERENSI BERITA

Detikfinance.com (21/3/2009), Utang Swasta Jatuh Tempo US$ 22,6 Miliar Bisa Goyang Rupiah.

Kompas (20/3/2009), Tekanan Kurs Terkendali: Utang Swasta Jatuh Tempo 22,6 Miliar Dollar AS.

Jurnal Ekonomi Ideologis (16/3/2009), Indonesia Terlilit Utang Kronis.

Author: Admin

Share This Post On

4 Comments

  1. Asw..
    Ust ysh.,
    sungguh mengerikan nasib negeri ini, Indonesia tempat kita barada. Sistem ekonomi Liberal yg ribawi mencengkram di berbagai sendi. Apakah para penguasa negri tdk berfikir akan permintaan tgg jwb dari kekuasaan yg diberikan oleh Sang Khalik. Akankah kita biarkan anak cucu kita bergelimang hutang..?. Ust., kapankah Allah akan anugrahkan kpd negeri ini pejuang-pejuang Islam yg siap diberi amanah menata kembali negeri ini dgn syariah yg Islami.
    Allahumma innanas ‘aluka Khilaafatan ‘alaa minhaajinnubuwwah.. Amin.

    Post a Reply
  2. Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

    Pak Dady Yth.

    Semua itu akan berakhir hingga datang pertolongan Allah SWT bagi kaum Muslimin agar mereka memiliki sistem sendiri, yakni Syariah dan Khilafah. Untuk itu, yang terpenting saat ini adalah kita semua berkonstribusi dalam amal penegakkan Syariah dan Khilafah sesuai metode –thariqah– Rasulullah SAW.

    Kerusakan dan kejahatan sistem Demokrasi dan Kapitalisme harus terus kita buka dan jelaskan kepada umat. Seraya berusaha menghadirkan konsep-konsep Islam sebagai solusi, dan membangun perasaan dan keterikatan umat terhadap akidah Islam.

    InsyaAllah umat akan segera menerapkan Syariah dan memiliki sistem Khilafah sebagaimana hadis Rasulullah SAW:

    “Setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah.” (HR Ahmad)

    Salam,
    Hidayatullah Muttaqin

    Post a Reply
  3. assalamu’alaikum…

    pak saya ingin tau… misal indonesia engga bisa bayar utang jatuh tempo akibatnya gmn ya…

    terima kasih

    wassalamu’alaikum..

    Post a Reply
  4. Waàlaikum Salam Wr. Wb

    Pertama, pemerintah akan kehilangan status “good boy” di mata para kreditor.

    Kedua, pemerintah akan sangat kesulitan mendapatkan utang baru. Padahal selama ini utang baru dijadikan pemerintah untuk mencicil kembali utang pokok yang jatuh tempo.

    Ketiga, karena pemerintah tidak memiliki solusi maka APBN akan menghadapi tekanan berat.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *