ASEAN + 3 Himpun Dana US$ 120 Miliar Tanpa Melihat Akar Masalah

EKONOMI :  Moneter

oleh Hidayatullah Muttaqin


Di Phuket, Thailand, menteri keuangan negara-negara ASEAN bersama Jepang, China, dan Korea Selatan (ASEAN + 3) sepakat melakukan penghimpunan dana US$ 120 miliar untuk meredam penurunan nilai mata uang yang semakin dalam. Dana tersebut disiapkan guna menghadapi situasi genting neraca pembayaran dan untuk memperkuat cadangan devisa.

Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, 80% dana yang dihimpun disumbangkan China, Jepang dan Korsel, dan 20% sisanya disumbangkan anggota Asean. Para menteri keuangan ASEAN + 3 berharap penghimpunan ini dapat memperkuat bank sentral di masing-masing negara untuk menghadapi serangan spekulasi sebagaimana krisis moneter yang pernah terjadi di Indonesia, Thailand, dan Korea Selatan pada tahun 1997/1998.

Langkah moneter yang dilakukan ASEAN + 3 tidak akan bisa mengatasi gejolak nilai tukar secara permanen. Sebab meskipun dana yang dihimpun cukup besar, jurus tersebut tidak menyentuh akar masalah. Serangan spekulasi terjadi karena dalam sistem moneter ribawi ini sangat memberikan peluang bagi kaum spekulan.

Dalam perekonomian Kapitalisme, perdagangan mata uang dalam konteks uang sebagai komoditas bukan sebagai alat tukar semata adalah hal yang lumrah. Dari konteks inilah terbuka peluang lebar untuk mendapatkan untuk dari selisih nilai tukar. Bahkan terbuka kesempatan lebar untuk menghancurkan perekonomian sebuah negara dengan cara menghancurkan nilai tukar mata uangnya.

Uang sebagai komoditas terjadi karena mata uang masa kini murni terbuat dari kertas (paper money) tanpa jaminan logam mulia (fiat money) sehingga antara nilai nominal dengan nilai intrinstik uang tidak sama bahkan sangat tidak seimbang. Di sisi lain pertukaran mata uang tidak dilakukan secara tunai sehingga spekulan dapat mempermainkan kurs.

Akar masalah gejolak nilai tukar sehingga nilai mata uang tidak stabil dan tidak pasti didukung oleh satu kondisi di mana untuk menjaga nilai tukar bank sentral mengandalkan instrumen suku bunga. Juga peranan bank dalam memberikan pinjaman kepada spekulan untuk bermain bahkan bank itu sendiri merupakan bagian dari pelaku pengambil untung dari selisih nilai tukar. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

REFERENSI BERITA

Bisnis Indonesia (23/2/2009), Asean+3 himpun US$120 miliar

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *