Aqidah Islam Memancarkan Sistem Ekonomi

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Masyarakat sekarang merupakan masyarakat yang tidak Islami. Cara mereka berinteraksi antar sesama tidak dilandasi aturan-aturan Islam. Di bidang ekonomi, semua aturan hukum yang mengatur sistem ekonomi merujuk kepada sistem ekonomi Kapitalis sehingga sebagian besar masyarakat mengalami kemiskinan, ketidakadilan, terlebih lagi dengan terjadinya krisis moneter dan ekonomi. Begitu pula kehidupan mereka di bidang lainnya, sangat jauh dari Islam. Pemaham yang keliru terhadap Islam menyebabkan mereka jauh dari Islam. Mereka menjadi terbiasa dengan pemikiran sekuler (pemisahan agama dari kehidupan), seperti paham politik demokrasi yang menjadikan manusia sebagai sumber dan pembuat hukum, pemikiran ekonomi kapitalis seperti mejadikan bunga (riba) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan ekonomi. Yang sangat parah mereka terbiasa dengan kehidupan seperti itu seolah-olah merupakan ibadah. Mereka bahkan menganggab agama mereka sendiri (Islam-pen) tidak mengatur masalah politik dan kenegaraan, ekonomi, sosial, budaya, dll. Akibatnya mereka “linglung” dalam kehidupan, tidak tau tujuan apa yang harus dicapai selain mengekor dan membebek kepada Barat yang Kapitalis. Sebagian dari mereka menjadi budak-budak Barat yang sangat setia sebagai agen Barat yang menyebarkan pemikiran-pemikiran sekuler yang sesat yang dibungkus dengan sangat apik (kapitalisme, HAM, pluralisme, feminisme, demokrasi) sehingga terlihat manis kalau masyarakat tidak jernih memandangnya. Mereka juga menjadi “hantu” dengan menekan umat yang tetap bertahan dalam ciri Islam yang sebenarnya ataupun siapa saja yang menghambat gerak dakwah pemikiran sekuler mereka. Bagaimanakah kita harus menyikapi keadaan yang seperti itu? Lantas, apa yang harus dipahami dan dilakukan seseorang yang mengaku Muslim terhadap agamanya sendiri? Dan apakah dalam Islam juga mengatur sistem ekonomi? Tulisan ini berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Konsekuensi Memeluk Islam
Konsekuensi seseorang memeluk Islam adalah menjadikan aqidah Islam sebagai standar berpikir dan standar berperilaku, terikat pula seluruh perbuatannya dengan hukum syara’ atau syari’at Islam (hukum Islam). Dia juga memahami Islam sebagai agama yang dapat memecahkan seluruh problem kehidupan sehingga mempunyai keyakinan Islam merupakan sistem kehidupan, sebagai sebuah mabda (ideologi) yang menjadi way of life. Dia memahami Allah SWT sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya, mengetahui segala sesuatu yang menimpa manusia di dunia sehingga hanya Allah-lah yang dapat memberikan solusinya yakni Islam. Hanya dengan mengikuti kehendak Allah SWT, maka manusia dapat selamat hidup di dunia dan akhirat.

Tujuan Hidup di Dunia
Tujuan kehidupan seorang muslim di dunia ini adalah beribadah kepada Allah dengan semata-mata mengharap keridhoa’an-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Pengertian ibadah di sini adalah menyangkut seluruh aspek perbuatan manusia dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Jadi ibadah tidak terbatas hanya pada ibadah yang sifatnya individu seperti shalat, puasa, zakat, haji, tetapi juga meliputi perbuatan-perbuatan mengajak orang kembali kepada Islam, upaya menegakkan syari’at Islam, jihad, menjalin hubungan sesama manusia dengan berdasarkan aturan-aturan Islam.

Masuk ke dalam Islam Secara Kaffah

Orang yang mengaku Islam, harus meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan yang memecahkan seluruh masalah kehidupan. Namun hal ini hanya bisa terjadi jika orang tersebut masuk ke dalam Islam secara menyeluruh. Allah SWT memperingatkan kepada kita semua: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al Baqarah: 208). Jadi masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) merupakan hal mutlak yang harus dilakukan sebagai bukti keimanan kita kepada Allah SWT. Ibnu Katsir menyatakan bahwa semua orang beriman diperintahkan untuk melaksanakan seluruh cabang iman dan hukum-hukum Islam. Kita semua harus masuk ke dalam syari’at Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan tidak boleh mengabaikan syari’at walau sedikitpun. Menurut Buya Hamka, syari’at Islam harus diterapkan dalam setiap individu, masyarakat dan negara dan jangan sampai kita meyakini bahwa ada satu peraturan yang lebih baik dari syari’at Islam (lihat Tafsir Al Azhar Djuzu’ II).

Firman Allah: “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An Nisa: 65). Menurut ayat ini seseorang belum dianggap beriman jika belum menjadikan syari’at Islam yang dibawa Nabi sebagai sistem hukum atau peraturan dalam kehidupan yang diterapkan bagi manusia. Allah juga menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang berhak membuat dan menetapkan hukum bukannya manusia seperti yang berlaku dalam demokrasi ataupun sistem ekonomi kapitalis. “(Hak untuk) menetapkan hukum itu (hanyalah) hak Allah” (QS. Al An’am: 57).

Islam Satu-satunya Jalan Kebenaran
Dengan demikian Allah telah menetapkan Islamlah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam kehidupan ini, jalan selain Islam merupakan jalannya syaithan, sehingga sistem ekonomi kapitalis karena bukan berasal dari Islam dan sudah jelas bertentangan dengan Islam maka sistem ekonomi kapitalis merupakan jalannya syaithan. Termasuk pula sistem ekonomi lainnya seperti komunis/sosialis, dan semua yang bukan berasal dari Islam merupakan jalannya syaithan. Tidak salah kalau saya mengatakan sistem ekonomi dan syari’at selain Islam sebagai “sistem ekonomi syaithan dan syari’at syaithan.” Saya setuju dengan pendapat Eri Sudewo (salah satu pembicara Syari’ah Economic Days 2002) bahwa sistem ekonomi kapitalis bila kita yakini kebenarannya dan turut pula menyebarkannya berarti membawa diri kita sendiri dan mengajak orang lain ke neraka, karena sistem ekonomi kapitalis merupakan sistem ekonomi syaithan, sedangkan syaithan itulah yang menjerumuskan manusia ke neraka.

Tinggalkan Pembangkangan terhadap Allah
Melaksanakan perintah Allah di bidang ibadah ritual yang sifatnya individu saja dan meninggalkan syari’at Islam lainnya, sama saja menentang perintah Allah, menentang ayat-ayat Allah sebagaimana pernyataan beberapa ayat yang saya kutip di atas. Padahal jika ini yang dilakukan maka membawa konsekuensi yang berat dari sisi aqidah. Karena perkara aqidah merupakan perkara yang 100 persen harus kita yakini yang jika kurang yakin walau sedikitpun maka itu berdampak pada kekufuran, berarti jika satu ayat saja dari Al Quran kita tidak membenarkan/tidak meyakini maka kita kufur kepada Allah. (Ingat iman kepada Al Quran termasuk rukun iman !).

Begitupula meyakini bahwa Islam tidak mempunyai sistem yang mengatur kehidupan bernegara, politik, ekonomi, sosial, budaya, uqubat (sanksi), merupakan keyakinan yang sangat keliru. Keyakinan seperti ini sama saja menganggap Islam ini agama yang tidak sempurna yang berarti secara sadar atau tidak orang yang berpendapat demikian sama saja menghina Allah SWT. Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran yang sekuler yang bertentangan dengan Islam. Padahal Allah telah jelas menyebutkan dalam QS. Al Ma’idah ayat 3: “Hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian dien (agama, sistem hidup) kalian, dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan Aku meridhoi Islam sebagai dien kalian.” Allah menyebut orang yang tidak menjadikan Islam sebagai solusi atas seluruh aspek kehidupan dengan menjadikan sistem yang lain sebagai solusi, maka Allah menyebut orang tersebut sebagai orang yang kafir, zhalim, fasik. “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maidah: 44). Lihat juga QS. Al Maidah ayat 45 dan 47. Karena itu janganlah kita membangkang terhadap perintah Allah SWT.

Aqidah Islam Memancarkan Sistem Ekonomi

Setelah kita memahami Islam sebagai sistem kehidupan yang memecahkan seluruh problematika manusia di dunia dengan pelaksanaan syari’atnya, maka kita yakin aqidah Islam sebagai bangunan dasar agama ini di atasnya terpancar juga syari’at yang mengatur kegiatan ekonomi yang lazim disebut sistem ekonomi Islam.

Menurut An-Nabhani sistem ekonomi Islam dibangun di atas landasan tiga kaidah, yaitu kepemilikan (property), pengelolaan kepemilikan, dan distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat.

Pada dasarnya segala sesuatu adalah milik Allah SWT. Allah mengizinkan kepada manusia untuk memiliki kekayaan dengan sebab-sebab tertentu (lihat QS. An Nur: 33).

Pengelolaan kepemilikan menyangkut tiga macam kepemilikan yaitu; kepemilikan individu dan kepemilikan negara yang diatur berdasarkan hukum-hukum baitul mal dan muamalah, sedangkan kepemilikan umum (collective property) harus dikelola negara sebagai wakil umat yang hasilnya harus dikembalikan kepada umat dan negara tidak boleh menjual aset milik umat tersebut.

Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu di tengah-tengah masyarakat mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta transaksi-transaksi yang dibenarkan syariat. Agar tidak terjadi ketimpangan distribusi, syari’at melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya saja. Juga negara melalui politik ekonominya, menjamin kebutuhan primer (:sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan) setiap individu, mengupayakan kemakmuran setiap individu untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Islam juga mengatur :

1. Bagaimana seseorang memperoleh kekayaan (terkait dengan masalah kepemilikan atau property). Maka syari’at mengatur supaya manusia dapat memperoleh harta antara lain dengan menghidupkan tanah mati, menggali kandungan bumi, berburu, syamsarah (makelar), mudlarabah (perseroan antara dua orang dalam perdagangan), musaqat, ijarah (jasa yang diberikan tenaga kerja kepada majikan).

Syari’at juga mengatur larangan memperoleh harta dengan jalan bathil seperti perjudian, riba, penipuan (al ghabn), penipuan (tadlis) dalam jual beli, penimbunan, pematokan harga. Allah menghalalkan jual beli dan mengaharamkan riba, karena itu bunga bukanlah cara yang dibenarkan untuk memperoleh dan mengembangkan harta. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.”

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi SAW bersabda: “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina terhadap ibunya.”

2. Memanfaatkan kekayaan (konsumsi).

Syari’at mengatur manusia hanya boleh mengkonsumsi makanan, barang atau jasa yang dihalalkan oleh Allah.

3. Mengembangkan kekayaan (investasi).

Khatimah

Berdasarkan uraian di atas maka Islam merupakan suatu sistem kehidupan (mabda) yang sempurna sehingga dalam permasalahan ekonomipun Islam mengaturnya. Jadi sudah pasti Islam memiliki sistem ekonomi dan ia merupakan bagian dari aqidah Islam. Pelaksanaan sistem ekonomi Islam adalah konsekuensi meyakini aqidah Islam.

Untuk itu hai orang-orang yang beriman janganlah kalian sampai melupakan syari’at Allah. Kembalilah kepada Islam ! Tinggalkan hukum-hukum kufur ! Hancurkan syari’at dan sistem ekonomi syaithan yang saat ini tegak di atas dunia. Jangan sampai kita mati dalam keyakinan hukum-hukum kufur. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam” (QS. Ali Imaran: 102).

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *