Apakah Bankir Musuh Perekonomian?

Blog Hidayatullah Muttaqin SmartMuslim.info

bankir-rakus

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan bertanya-tanya? Apa benar bankir adalah musuh bagi perekonomian suatu negara? Bukankah kebutuhan akan lembaga perbankan merupakan kebutuhan mutlak dalam sebuah perekonomian, baik untuk kebutuhan modal, penyimpanan, investasi, maupun transaksi?

Memang benar lembaga bank mutlak adanya dalam perekonomian tanda petik. Yakni perekonomian Kapitalisme ataupun perekonomian yang mengadopsi Kapitalisme. Tanpa bank Kapitalisme tidak bisa hidup, tetapi dengan bank Kapitalisme juga semakin larut dalam “pusaran” kehancuran.

Tulisan ini tidak membahas urgensi bank bagi perekonomian Kapitalisme. Tulisan ini mencoba dalam sudut pandang perilaku pengelola bank, yakni bankir.

Keluhan Klasik terhadap Bank

Kompas hari ini, Senin (7/5/2009), di halaman depan menulis berita dengan judul “Bankir Tetap Sulit Tekan Bunga Kredit”.  Inti berita ini berisi keluhan terhadap para bankir yang tetap bertahan pada suku bunga tinggi meskipun BI rate telah turun.

Alasan klasik para bankir tersebut adalah mereka harus menyeimbangkan kepentingan debitor dan kreditor sehingga sulit mempercepat penurunan bunga.

Direktur BNI Gatot M. Suwondo, Rabu (6/5/2009), menyatakan perbankan selalu berdiri di atas dua kepentingan. Perbankan berdiri untuk kepentingan debitor, yakni nasabah peminjam yang selalu mengharapkan suku bunga rendah. Perbankan juga berdiri untuk memenuhi keinginan kreditor, yakni nasabah penyimpan dana yang selalu mengharapkan imbalan bunga yang tinggi.

Karena itu, menurut Gatot, pergerakan suku bunga kredit sangat bergantung kepada pergerakan suku bunga deposito. Inilah biaya dana (cost of fund) yang ditanggung bank yang cukup mempengaruhi besaran bunga kredit.

Bankir hanya Memupuk Laba

Berbeda dengan pandangan para bankir, Kepala Ekonom Denareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan; bank justru menangguk untung di balik lambatnya penurunan suku bunga kredit. Bank tidak mementingkan bergeraknya perekonomian. Jadi orientasi bank hanya memupuk laba.

Musuh Perekonomian

affiliate_link Bankir senantiasa berupaya agar bank-nya selalu untung dalam kondisi apapun. Beberapa tahun lalu misalnya, wapres Jusuf Kalla “marah” terhadap perbankan Indonesia yang menerapkan suku bunga tinggi, khususnya suku bunga terhadap usaha kecil dan menengah.

Di saat dunia usaha membutuhkan banyak modal, para bankir justru mengalirkan dana masyarakat di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga dari sini bank mendapat untung trilyunan rupiah dalam sekejap.

Kita tentu tidak lupa saat badai krisis moneter menimpa Indonesia sepuluh tahun yang lalu. Pada saat itu BI mengucurkan dana BLBI ratusan trilyun rupiah kepada para bankir sebagai dana talangan. Mereka justru menggunakan dana talangan tersebut untuk menghantam rupiah, memperkaya diri, dan melarikannya keluar negeri. Belum lagi biaya obligasi rekap yang nilai nominal awalnya mencapai Rp 400 trilyun sebagai “hadiah” cuma-cuma dari pemerintah untuk kalangan bankir.

Ini merupakan pengalaman buruk dari perilaku bankir dalam sebuah sistem keuangan Kapitalisme. Pengalaman buruk yang terjadi berulang-ulang. Begitu nampak permusahannya terhadap perekonomian (sektor riil). Namun begitu pula “kita” terus menerima “kelaliman” dunia perbankan terhadap diri kita sendiri. Aneh memang.

Seperti di awal tulisan ini, pasti banyak yang menyangkal dan menyatakan bank mutlak adanya dalam perekonomian. Pandangan seperti itu wajar, kecuali jika melihat kelembagaan perbankan dan realitasnya di luar “pakem “Kapitalisme. Dengan itu mungkin baru bisa melihat bahwa bank dan para bankir adalah musuh perekonomian  [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

di salin dari: http://SmartMuslim.info

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Bankir dalam pandangan org awam sangat membantu mereka dlm masalah keuangan terutama dalam hal penyimpanan uang maupun surat2 berharga. Disisi lain juga bankir sangat pandai memanjakan nasabahnya dengan iming2 bunga berbunga dan juga gebyar hadiah2 eksklusif.
    Namun dibalik itu semua, masyarakat awam kurang menyadari bahwa bankir adalah musuh perekonomian. Bankir adalah penghancur tatanan ekonomi menuju kebangkrutan dengan sistem ribawi yg mereka agung2kan.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *