Apa Hukum Hadiah yang Diberikan terhadap Seseorang karena Jabatannya?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya kerja di sebuah perusahaan minyak. Setiap kunjungan ke daerah dalam rangka inspeksi, saya selalu mendapatkan hadiah. Bagaimana hukumnya ?
Terima kasih atas jawabannya.

Wassalam.

(Aa’ Jim, 08588057XXXX)

Jawaban :

Wa’alaikum salam wr. Wb.

Aa’ Jim, Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW.

Hukum asal memberi dan menerima hadiah hukumnya sunnah. Abu Hurairah berkata, Nabi saw. bersabda:

Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian saling mencintai (Al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad; al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, Abu Ya’la, Musnad Abiy Ya’lâ. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata: isnadnya hasan).

Bahkan Nabi saw. mendorong untuk memberi hadiah meski nilainya secara nominal kecil:

Hai para Muslimah, janganlah seorang wanita merasa hina (memberi hadiah) kapada wanita tetangganya meski hanya tungkai (kuku) kambing. (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Sebaliknya, Nabi saw. melarang untuk menolak hadiah:

Penuhilah (undangan) orang yang mengundang, jangan kalian tolak hadiah dan jangan kalian memukul kaum Muslim. (HR al-Bukhari Ahmad, Abu Ya”˜la dan Ibn Abi Syaibah).

Jika seseorang diberi hadiah dan tidak ada halangan syar”˜i untuk menerimanya maka hendaknya ia menerimanya. Jika seseorang menolak hadiah kepadanya maka hendaknya menjelaskan alasannya untuk menghilangkan perasaan buruk di hati si pemberi. Hal itu seperti riwayat Sha’b ibn Jatstsamah bahwa ia menghadiahkan seekor keledai liar kepada Nabi saw. saat Beliau berada di Abwa atau Wadan, tetapi Beliau menolaknya. Lalu Beliau menjelaskan alasan penolakannya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak menolak hadiahmu kecuali karena aku sedang berihram.” (HR al-Bukhari).

Boleh menerima hadiah dari orang kafir, karena dalam Shahîh al-Bukhârî diriwayatkan Nabi saw. pernah menerima hadiah dari Heraklius, Muqauqis, Ukaidir Dumatul Jandal, dan Raja Ailah. Beliau pun menerima hadiah dari orang kafir lainnya. Begitu pula boleh memberi hadiah kepada orang kafir selama orang itu bukan kafir harbi fi”˜l[an], (QS. Mumtahanah [6]: 8-9) atau selama hadiah itu tidak membuat orang kafir bertambah kuat atau menjadi berani menyerang kaum Muslim.

Jika seseorang mendapat hadiah dan ia memiliki kelapangan maka disunahkan untuk membalasnya. Jika tidak, setidaknya memuji dan mendoakan pemberi hadiah. Jabir ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

Siapa yang diberi sesuatu lalu ia memiliki kelapangan harta, hendaklah ia membalasnya; jika ia tidak memiliki kelapangan harta, hendaknya ia memuji (mendoakan)-nya. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, al-Baihaqi).

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Usamah bin Zaid, pujian (doa) yang paling baik untuk itu adalah dengan mengatakan, “Jazâkallâh khayr[an] (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik).”

Sekalipun diperintahkan untuk menerima hadiah dan dilarang menolaknya, ada beberapa macam hadiah yang justru tidak boleh (haram) diterima, di antaranya:

Pertama, hadiah yang diberikan agar suatu kemungkaran dibiarkan atau agar penerima hadiah mengendurkan aktivitas amar makruf nahi mungkar atau yang semisalnya. Hadiah yang dimaksudkan untuk membatalkan yang hak dan mengokohkan yang batil, termasuk hadiah agar yang haq tidak disuarakan dan agar yang batil dibiarkan atau tidak dikritik, tidak boleh diterima. Apalagi hadiah yang diberikan agar kebatilan disuarakan dan disebarkan, atau agar kemungkaran diperintahkan, tentu lebih tidak boleh lagi diterima; termasuk di dalamnya hadiah dari negara atau lembaga asing untuk penyebaran ide selain Islam seperti demokrasi, HAM, pluralisme, liberalisme, dsb; atau hadiah agar ide-ide tidak islami seperti itu dibiarkan.

Beberapa contoh hadiah/hibah/bantuan yang diharamkan (wajib ditolak atau dikembalikan) antara lain :

  1. David E. Kaplan menulis, AS telah menggelontorkan dana puluhan juta dolar dalam rangka kampanye untuk mengubah masyarakat Muslim sekaligus mengubah Islam itu sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).
  2. Ketua Usaha Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, John Heffern, menjenguk memberi bantuan korban luka Insiden Monas dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di RSPAD Gatot Subroto pada 6 Juni 2008.
  3. Mendapatkan hadiah berupa penghargaan Dan David Prize yang diselenggarakan Universitas Tel Aviv (TAU), Israel, pada 21 Mei 2006 (www.dandavidprize.org). Termasuk penghargaan dari Shimon Perez Insitute.
  4. Tokoh Betawi, Ridwan Saidi mengatakan, “Saya punya data, LSM berkedok pejuang demokrasi dan HAM menerima dana asing“. (Rakyat Merdeka, 16/6/08).
  5. Mayjen (purn.) TNI Zacky A Makarim, mantan Direktur Badan Intelijen Strategis, juga mengungkapkan, “Saya yakin sekali, bantuan Jaksa Agung AS kepada Jaksa Agung RI tujuannya untuk kepentingan penegakkan hukum di Indonesia, money laundering, terorisme, juga soal Ahmadiyah.” (Rakyat Merdeka,17/6/08)


Kedua, hadiah kepada penguasa, pejabat atau pegawai negara. Abu Humaid as-Sa’idi menuturkan bahwa Nabi saw. pernah mengangkat seseorang dari Bani Azad yang bernama Ibn al-Utbiyah (Ibn al-Lutbiyah) sebagai amil pemungut zakat, lalu ia kembali dan mengatakan, “Ya Rasul, ini untuk Anda dan ini dihadiahkan untuk saya.”

Nabi saw. lalu berpidato, “Tidak pantas seorang petugas yang kami utus lalu datang dan berkata, “Ini untuk Anda dan ini dihadiahkan untuk saya.” Mengapa ia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya lalu memperhatikan apakah itu dihadiahkan kepadanya atau tidak. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah ia datang membawa pemberian itu, kecuali ia pasti datang pada Hari Kiamat kelak memanggul barang itu di pundaknya.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis ini menunjukkan hadiah itu datang karena jabatan, kedudukan atau tugasnya.

Ketiga, hadiah yang diberikan karena adanya akad al-qardh (utang). Anas ra. menuturkan, Nabi saw. pernah bersabda:

Jika salah seorang di antara kalian mengutangi suatu utang lalu yang berutang memberinya hadiah atau membawanya di atas hewan tunggangan maka jangan ia menaikinya dan jangan menerima hadiah itu, kecuali yang demikian itu biasa terjadi di antara keduanya sebelum utang-piutang itu. (HR Ibn Majah).

Masih ada beberapa macam hadiah yang tidak boleh diterima. Hal itu bisa kita lihat dalam penjelasan para ulama dalam kitab-kitab mereka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan taufiq serta memberkahi semua harta kita. Wallâh a”˜lam bi shawab.

M. Sholahuddin

Author: Admin

Share This Post On

5 Comments

  1. Assalamu’alikuk Wr. Wb.
    Saya sependapat dengan uztad, kita seharusnya tidak boleh menolak hadiah dari pemberian orang lain sebab menurut saya hadiah juga merupakan rezeki yang diberikan ALLAH SWt pada kita. Maka jika menolak hadiah tersebut brarti sama saja kita menolak rezeki. Tapi dengan catatan hadiah tersebut bukan dimaksudkan untuk suap dari orang-orang tertentu untuk mempermudah jalannya hal-hal yang dilarang agama, jika kondisinya demikian maka kita wajib menolaknya..
    Wassalam…

    Post a Reply
  2. Assalamualaikum w.b.h

    Bagaimana pula sekiranya teman non-muslim memenangi wang perjudian dan menghadiahkan sebahagian wang kemenangannya itu lepada kita?

    apakah hukum menerimanya?

    Post a Reply
  3. ass, ustad saya mau tanya nih,
    bgmn mnrt ustad jk ada slh satu wsudwan yg bkrj di sebuah bank konvwnsional tetapi dia dari jrsn ekonomi islam………?
    wassalam……,

    Post a Reply
  4. klo saya memberikan hadiah karena orang itu sudah berlaku baik ke kita hukumnya seperti apa ?

    dan hukumnya menolak hadiah tersebut apabila kondisinya seperti di atas ?

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *