Amerika Serikat Tersungkur, Uni Eropa Terseok-seok, Indonesia?

Sebagaimana yang dilansir oleh situs inilah.com, Eropa ternyata membutuhkan suntikan dana begitu besar yang mencapai $US1 triliun. Kalau kita rupiahkan dengan kurs Rp9000, maka jumlahnya berarti Rp9.000 triliun. Empat kali lipat lebih besar dari jumlah utang Indonesia yang telah mencapai Rp1.800 triliun.

Untuk menggambarkan bagaimana gawatnya kondisi ekonomi Eropa, Nouriel Roubini pada bulan oktober 2011 yang lalu membuat sebuah pernyataan dengan mengatakan “Eropa membutuhkan sebuah bazoka besar yang setara dengan nilai dua triliun euro”. Angka ini jauh lebih besar di bandingkan dengan angka dari skenario kajian yang dikeluarkan oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral yang tergabung dalam G20 senilai $US1 triliun. Dan di bulan Februari 2012 ini Zona Euro telah memasuki resesi yang dalam (deep recession), bahkan sudah menjalar ke Negara-negara inti seperti halnya Jerman dan Prancis.

Bagaimana dengan Negara AS? Ketika AS masih belum mampu keluar dari permasalahan ekonominya sendiri (twin deficit dan meledaknya bubble surat utang), problem yang menimpa Uni Eropa juga akan cukup mempengaruhi ekonomi negeri Paman Sam tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Roubini bahwa AS tidaklah aman dari permasalahan Eropa. Dimana tercatat bahwa aset (exposure – direct exposure dan other potensial exposures) yang dimiliki AS pada akhir 2010 di Yunani mencapai $US 40 milyar lebih. Itu baru di Yunani, adapun di Spanyol dan Italy menunjukkan angka yang jauh lebih besar yaitu sebesar $US150-170 milyar untuk Spanyol dan di Italy mencapai $US250-270 milyar.

Dengan sistem ekonomi dan politik yang relatif sama (kalau tidak mau dikatakan 100% sama) posisi Indonesia saat ini sesungguhnya akan mengalami hal yang serupa dengan AS dan Uni Eropa apabila dalam pengelolaan Negara masih saja berkiblat kepada dua Negara tersebut. Kalau di dalam hubungan antara orang tua dan anak kita mengenal peribahasa “Buah tidak akan jauh jatuhnya dari pohon”, maka dalam konteks tulisan ini peribahasa tersebut masih memiliki relevansi tentunya.

Betapa tidak, dari beberapa indikator menunjukkan bahwa Indonesia tengah menghadapi gejala yang sama. Setidaknya terdapat dua indikator untuk menunjukkan hal tersebut. Pertama, meskipun pembayaran utang terus dilakukan, namun ternyata jumlah total utang yang dimiliki Indonesia tidaklah menurun melainkan terus mengalami kenaikan. Dari Rp1.200 triliun pada tahun 2000, membengkak menjadi Rp1.800 triliun lebih pada tahun 2012 ini.

Kedua, di tengah tingkat kemiskinan yang begitu parah ternyata diikuti dengan perilaku korupsi yang akut dan menggurita. Dua hal ini tentunya hanya akan menyebabkan beban ekonomi semakin besar.

Satu-satunya faktor yang akan terus mendorong roda perekonomian Indonesia adalah kekuatan sumber daya alamnya (SDA). Sektor inilah yang menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi PDB Indonesia.

Namun ingat, sebagian besar dari kekayaan alam tersebut tidaklah renewable. Sebagai contoh adalah batu bara, sebagaimana yang diberitakan oleh situs inilah. com cadangan batu bara diperkirakan hanya akan bertahan 60 tahun lagi.

Lantas sampai kapan berbagai SDA yang ada mampu mendorong perekonomian Indonesia? [Jurnal Ekonomi Ideologis/Hatta]

Referensi:

Inilah.com, Senin, Wow, Eropa Butuh Suntikan Dana US$1 Triliun, 27/1/2012.

http://nourielroubini.blogspot.com/2011/10/roubini-europe-needs-2-trillion-euro.html

http://nourielroubini.blogspot.com/2012/01/roubini-america-not-safe-from-europes.html

http://nourielroubini.blogspot.com/2012/02/roubini-eurozone-is-in-deep-recession.html

Rebecca M. Nelson, dkk., 2011, Greece’s Debt Crisis: Overview, Policy Responses, and Implications, Congressional Research Service, www.crs.gov

Sumber gambar: lichtconlon.posterous.com

Sumber gambar: lichtconlon.posterous.com

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *