Ahmadiyah Tetap Ahmadiyah

AKIDAH

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Departemen Politik HTI Kalsel

JEINews – Akhirnya pemerintah membiarkan keberadaan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) untuk tetap eksis di negeri ini secara legal. Seperti diberitakan oleh media cetak dan elektronik, pada hari Selasa kemaren pemerintah melalui Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) Pusat memberikan kesempatan kepada Jemaah Ahmadiyah Indonesia selama tiga bulan untuk membuktikan bahwa mereka bukan aliran sesat.

Keputusan Bakorpakem dikeluarkan, setelah Jemaah Ahmadiyah Indonesia melakukan kesepakatan dengan Departemen Agama yang tertuang dalam 12 butir. Menurut Kepala Balitbang Depag, Dr. Atho Muzhor, 12 butir kesepakatan ini untuk membuktikan bahwa Ahmadiyah adalah aliran yang bisa membaur dengan masyarakat (Okezone.com 15/1/2008).

Dengan 12 butir kesepakatan tersebut, Jemaah Ahmadiyah Indonesia mengklaim dirinya bagian dari umat Islam. Menurut Ketua Pusat Jemaah Ahmadiyah Indonesia Abdul Basit, Ahmadiyah sama dengan umat Islam lainnya meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi penutup. Terhadap Mirza Ghulam Ahmad, Abdul Basit mengatakan: “Kami juga yakini bahwa hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengembang mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaah Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah, dan syiar Islam yang dibawa Nabi Muhammad” (Okezone.com 15/1/2008).

Menyikapi kebijakan yang telah diambil Bakorpakem bersama Depag, Majelis Ulama Indonesia melalui Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin menyatakan ke-12 butir tersebut tidak ada poin tegas yang menyatakan Ahmadiyah telah berubah. MUI menganggap Bakorpakem terburu-buru terburu-buru mengambil sikap apalagi keputusan tersebut dirapatkan tanpa mengundang MUI. Karena itu MUI tidak akan mencabut fatwa Ahmadiyah sesat (Hidayatullah.com 15/12008).

Ahmadiyah tidak Berubah

Sikap pemerintah melalui Bakorpakem dan Depag ingin mengesankan kepada masyarakat bahwa Ahmadiyah sudah berubah dan bukan lagi aliran sesat. Namun sikap pemerintah ini sangat keliru dan tidak berdasar.

Dari ke-12 butir yang dijadikan alasan Ahmadiyah telah berubah tidak satu pun poin yang menyebutkan Jemaah Ahmadiyah Indonesia mengingkari kitab sucinya Tadzkirah meskipun mereka menyatakan bukan kitab suci. Dalam butir 5, Jemaah Ahmadiyah Indonesia menyatakan al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan menjadi sumber ajaran Islam, sedangkan dalam butir 6 Jemaah Ahmadiyah Indonesia menyebutkan Tadzkirah merupakan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang diberi nama Tadzkirah. Menurut KH. Ma’ruf Amin, pernyataan Jemaah Ahmadiyah Indonesia hanya retorika belaka. Adapun 12 butir pernyataan sikap Jemaah Ahmadiyah Indonesia tersebut bersifat karet (Hidayatullah.com 15/1/2008).

Butir-butir tersebut bersifat karet karena meskipun tidak menyatakan Tadzkirah sebagai kitab suci tetapi Jemaah Ahmadiyah tidak mengingkarinya. Padahal Tadzkirah itu sendiri berisi pengingkaran terhadap Islam dan kerasulan Muhammad SAW. Mengutip Haqiqatul Wahyi, hal. 71 dan kandungan umum Tadzkirah, Buletin al-Islam edisi 388 menyebutkan di dalam Tadzkirah yang harus diikuti adalah Mirza Ghulam Ahmad; yang diutus sebagai Rasul dengan membawa agama kebenaran dan dimenangkan diatas semua agama adalah Mirza Ghulam Ahmad; yang menjadi “˜al mukhothob’ (yang diseru) dalam ayat-ayat al-Quran yang dimasukkan kedalam Tadzkirah adalah Mirza.

Kemudian dalam butir ke-2 disebutkan Muhammad adalah Nabi penutup dan di butir ke-3 Jemaah Ahmadiyah Indonesia mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan. Kedua butir ini juga bersifat karet karena meskipun mengakui Muhammad SAW sebagai Nabi penutup tetapi Jemaah Ahmadiyah Indonesia tidak mengingkari dan meninggalkan Mirza Ghulam Ahmad. Mengutif Buletin al-islam edisi 388, di dalam Tadzkirah justru dinyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul. Dalam Tadzkirah hal. 621 disebutkan “Dialah Tuhan yang mengutus rasulNya, Mirza Ghulam Ahmad, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas semua agama.”

Jemaah Ahmadiyah juga mengaku syahadat mereka sama dengan syahadat umat Islam. Dalam butir ke-1 mereka menyebutkan: Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

Menurut Amin Jamaluddin meskipun bunyi syahadat sama, Jemaah Ahmadiyah telah mengaburkan makna syahadat tersebut sebab mereka mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Muhammad dan Rasul Allah. Dalam buku Memperbaiki Kesalahan (Eik Ghalthi Ka Izalah) karya Mirza Ghulam Ahmad alih bahasa H.S. Yahya Ponto terbitan Jamaah Ahmadiyah cab. Bandung, tahun 1993, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, siapa yang dimaksud dengan “Muhammad” dalam ayat tersebut, yakni: “Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul”¦(hal. 5). (Menjawab Kebohongan Ahmadiyah, Hidayatullah.com 15/1/2008)

Jadi selama Jemaah Ahmadiyah Indonesia tidak mengingkari dan meninggalkan Mirza Ghulam Ahmad dan kitabnya Tadzkirah, maka tidak ada perubahan akidah pada para pemimpin dan pengikutnya di Indonesia. Mereka tetap berada dalam kesesatan. Bila mereka ingin ber-Islam, mereka harus mengingkari keduanya dan membubarkan organisasinya seraya bertobat dengan tobat sebenar-benarnya.

Penulis berharap pemerintah bertindak adil dan bijaksana, jangan gegabah dan buru-buru mengambil keputusan. Jangan sampai untuk kepentingan yang tidak jelas dan menyesatkan pemerintah mengorbankan hak umat untuk dilindungi akidahnya oleh negara. [HM/JEINews]

Berikut 12 poin Ahmadiyah yang dibacakan dalam konferensi pers:

Tentang Pokok-pokok Keyakinan dan Kemasyarakatan Warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

  2. Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

  3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

  4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

  5. Kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa:
    a. Tidak ada wahyu syariat setelah Alquranul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW;
    b. Alquran dan sunnah Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

  6. Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

  7. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.

  8. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

  9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

  10. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai Muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di KUA dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke KUA sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  11. Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa, dan NKRI.

  12. Dengan penjelasan ini, kami PB JAI mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008
H Abdul Basit
Amir Pengurus Besar Jema’at Ahmadiyah Indonesia (PB JAI)

Mengetahui:
Prof Dr HM Atho Mudzhar (Kaba Litbang dan Diklat Depag)
Prof Dr H Nasaruddin Umar MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
Prof Dr H Asyumardi Azra MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
Drs Denty Lerdan MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)
Ir H Muslich Zainal Asikin MBA MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia-GAI)
KH Agus Miftah (Tokoh masyarakat)
Irjen Pol Drs H Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
Prof Dr HM Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syahid Jakarta)
Ir H Anis Ahmad Ayyub (Aanggota PB JAI)
Drs Abdul Rozzaq (Aanggota PB JAI).

sumber: http://mui.or.id/mui_in/news.php?id=246

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *