IMF sarankan harga BBM dilepas ke pasar
Kirim ke email temanBisnis Indonesia - Kamis, 14/08/2008
JAKARTA: IMF menganjurkan Pemerintah Indonesia menerapkan mekanisme penyesuaian harga bahan bakar yang secara otomatis mengikuti perkembangan harga minyak di pasaran dunia.
Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) meyakini cara ini sebagai solusi terbaik untuk menjamin ruang fiskal bagi belanja modal dan sosial. Selain itu, pelepasan harga ke pasar juga mencegah kekhawatiran yang tinggi mengenai kesinambungan subsidi.
Anjuran lembaga moneter multilateral yang berbasis di Washington D.C, AS, itu tercantum dalam Penilaian Dewan Eksekutif IMF pada Artikel IV mengenai Indonesia yang dirilis kemarin.
“Dalam jangka sementara, penyesuaian [harga BBM] lebih jauh akan membantu mengurangi biaya subsidi bahan bakar,” tulis IMF dalam situs resminya.
Meski begitu, IMF menyambut baik kinerja fiskal Indonesia yang kuat yang telah dicapai pada semester I karena konsisten terhadap pengurangan beban utang publik yang substansial. Apalagi, kebijakan kenaikan harga BBM pada Mei juga diikuti dengan transfer uang tunai (BLT) ke rakyat miskin.
Pemerintah dan DPR memang tengah menyiapkan mekanisme penetapan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang akan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Akan tetapi, pemerintah tidak akan melepas seluruhnya-seperti penetapan harga BBM nonsubsidi-dan memberi jarak tetap pada kisaran tertentu.
Deputi Bappenas Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bambang Widiyanto mengatakan ada kemungkinan rasio disparitas harga minyak dalam negeri dengan luar negeri dipatok pada level tertentu.� Menurut rencana, kebijakan ini akan diterapkan pada 2009. “Jadi, harga BBM akan mengikuti harga minyak mentah dunia yang dipatok dengan jarak tetap.” (Bisnis, 12 Agustus).
Proyeksi APBN-P
Di tempat terpisah, pemerintah memastikan APBN-P 2008 aman hingga akhir tahun ini yang dibantu oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia sehingga faktor eksternal tersebut tidak lagi menjadi tekanan bagi anggaran.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu memperhitungkan harga minyak mentah dunia akan berada pada kisaran US$120 per barel dalam sisa waktu 5 bulan ke depan. Sementara itu, harga Indonesia Crude Price sepanjang 2008 rata-rata akan berada pada level US$115,9 per barel.
“Setidaknya kondisi ini telah mengurangi tekanan terhadap APBN akibat tingginya harga minyak mentah dunia,” katanya kemarin.
Selain faktor harga minyak mentah dunia, berbagai indikator ekonomi, baik itu konsumsi, investasi, ekspor impor, maupun perkembangan belanja negara sebagai faktor-faktor yang membentuk kinerja pertumbuhan ekonomi 2008, seluruhnya menunjukkan perbaikan dan meningkat cukup tinggi pada Juli 2008.
Indikator investasi, misalnya, mengalami peningkatan hingga Juli 2008. Impor barang modal mengalami pertumbuhan hingga 53,5% (year-to-date), penjualan semen sebesar 21,1% (y-t-d), kredit investasi naik hingga 30,7% (y-o-y), kredit modal kerja naik 37% (y-o-y), dan investasi melalui PMA dan PMDN naik sebesar 23,2%(y-t-d).
Kendati begitu, dia mengingatkan hal yang patut mendapatkan perhatian adalah tingginya laju inflasi, walaupun kondisi yang sama juga terjadi di negara lain.
Dia mengatakan inflasi saat ini merupakan masalah serius mengingat laju inflasi kumulatif Januari-Juli 2008 sudah berada di kisaran 8,85% dengan laju inflasi year on year (y-o-y) mencapai 11,9%. Laju Inflasi ini diperkirakan pada akhir 2008 dapat menembus dua digit. “Kami menengarai inflasi tidak akan turun ke bawah 10%. Tapi Indonesia tidak sendirian,” katanya.
Kondisi inflasi yang cenderung tinggi, lanjutnya, juga dialami oleh beberapa negara tetangga a.l. Filipina 12,2%, Thailand 9,2%, Vietnam 27%, India 6,3%, China 6,3%, dan Malaysia 7,7%.
Selain perkembangan ekonomi makro, Anggito juga menyebutkan kinerja� penerimaan perpajakan hingga 31 Juli 2008 mencapai Rp357,8 triliun atau 58,7% dari target APBN-P 2008. (15/16) (redaksi@bisnis.co.id)
Oleh Dewi Astuti
Bisnis Indonesia
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/ekonomi-makro/1id73881.html
![]()
Akses Jurnal Ekonomi Ideologis berdasarkan kata kunci:
Bisnis.com, fiskal, Harga BBM, imf, migas





