Produksi Domestik Terancam
Kirim ke email temanKrisis Listrik
Kompas - Sabtu, 26 Juli 2008 | 01:50 WIB
Jakarta, Kompas - Industri saat ini menghadapi kendala serius untuk meningkatkan kapasitas produksi karena tidak bisa menambah daya listrik.
Hambatan tersebut antara lain dialami oleh industri sepatu, tekstil dan produk tekstil, serta makanan. Akibatnya, penambahan tenaga kerja pun tersendat.
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia Eddy Widjanarko, Jumat (25/7) di Jakarta, menjelaskan, lima perusahaan anggota asosiasinya tahun ini menunda ekspansi karena tidak bisa mendapat tambahan daya dari PLN.
Selain itu, terdapat pula dua perusahaan sepatu yang sudah membangun pabrik baru, tetapi tidak bisa beroperasi. Permintaan pemasangan listrik baru dua pabrik ini tak dilayani PLN.
Dua pabrik baru tersebut berada di Tangerang dengan kapasitas produksi 180.000 dan 240.000 pasang per bulan. Jika dapat beroperasi, dua pabrik baru ini akan menyerap tenaga kerja baru sekitar 2.800 orang.
Sementara penambahan kapasitas pada lima pabrik sepatu lain di Tangerang dan Surabaya akan menyerap sekitar 2.000 karyawan. ”Kalau di dalam negeri saja industri yang ada tidak bisa ekspansi, bagaimana investasi baru mau masuk,” ujar Eddy.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) juga mendapat pengaduan serupa dari sejumlah anggotanya. Sekretaris Eksekutif API Ernovian G Ismy menjelaskan, sedikitnya enam perusahaan di Bogor, Tangerang, dan Jawa Tengah, terhambat saat akan ekspansi karena tambahan daya yang mereka minta ditolak PLN.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan mengatakan, ekspansi produksi pada industri makanan saat ini hanya bisa berjalan dengan penyiapan genset yang berbahan bakar solar atau minyak bakar.
”Selama krisis listrik, seharusnya dihilangkan dulu pajak penerangan jalan umum atau pajak genset itu. Jadi, ada semacam kompensasi,” ujar Thomas.
Data PLN menunjukkan, pada Januari-Juni 2008, jumlah daftar tunggu pelanggan tegangan tinggi dan tegangan menengah yang belum terlayani di Jawa mencapai 1.923 pelanggan dengan total daya mencapai 880 mVA.
Direktur PLN untuk Jawa Bali Murtaqi Syamsuddin mengatakan, penambahan daya dan pemasangan listrik baru tidak dihentikan. Akan tetapi, kesulitan keuangan membuat PLN terpaksa menahan investasi infrastruktur distribusi dan transmisi serta memprioritaskan kewajiban membayar bunga utang dan biaya bahan bakar. (DAY/DOT)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01500185/produksi.domestik.terancam
![]()
Akses Jurnal Ekonomi Ideologis berdasarkan kata kunci:
kompas, krisis listrik





