Risiko NPL dan Inflasi Mengancam
Kirim ke email temanBI Siapkan Instrumen Moneter
Jakarta, Kompas - Di tengah krisis energi dan pangan global, kondisi makroekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik daripada banyak negara. Sampai semester I-2008, pertumbuhan ekonomi bahkan masih kencang. Namun, di balik situasi ekonomi ini, tersimpan ancaman kredit bermasalah dan lonjakan inflasi.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean saat pemaparan kondisi makroekonomi terkini, Kamis (24/7) di Jakarta, mengatakan, perekonomian Indonesia semester II-2008 menghadapi ancaman lonjakan inflasi dan meningkatnya kredit bermasalah (non performing loan/NPL).
Jika ancaman tersebut gagal diantisipasi Bank Indonesia dan pemerintah, perekonomian Indonesia bakal memburuk, bahkan mengarah pada resesi.
Menurut Martin, tekanan inflasi di Indonesia saat ini tidak hanya didorong oleh kenaikan harga pangan dan energi di pasar internasional, tetapi juga oleh meningkatnya permintaan dan konsumsi.
Meningkatnya permintaan dan konsumsi itu terlihat di luar Jawa karena daya beli masyarakatnya naik. Itu terjadi karena mereka menikmati rezeki dari kenaikan harga komoditas.
Penjualan kendaraan bermotor dan semen, misalnya, marak di luar Jawa. Permintaan kredit, yang didorong oleh industri perkebunan dan pertambangan di daerah, juga melejit.
Martin mengatakan, apabila harga komoditas terus tinggi, inflasi akan melambung tak terkendali. Dampaknya, masyarakat di kota-kota besar di Jawa dan industri yang tak terkait perkebunan dan pertambangan kian tercekik.
Sebaliknya, jika harga komoditas turun dengan cepat, seperti terlihat dalam sepekan terakhir, juga akan memunculkan situasi suram karena masyarakat luar Jawa akan kehilangan daya beli secara signifikan. Dampaknya, bakal terjadi lonjakan NPL.
Naikkan BI Rate
Martin berharap BI dan pemerintah bisa mengantisipasi situasi tersebut. Hal yang bisa dilakukan BI ialah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) ke level 9,5 persen sampai akhir tahun ini.
Saat ini level BI Rate sebesar 8,75 persen. Martin juga menyarankan agar BI menaikkan rasio giro wajib minimum (GWM) untuk memperlambat laju kredit.
Pertumbuhan kredit saat ini 33 persen. Martin memperkirakan inflasi year on year akan terkelola pada level 10,37 persen dan inflasi inti 8,94 persen pada tahun ini.
Kenaikan BI Rate, ujar Martin, akan membawa konsekuensi melambatnya laju kredit dan pertumbuhan ekonomi. Namun, ini lebih baik ketimbang inflasi dibiarkan melambung tinggi.
Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono sebelumnya mengatakan, BI akan mengombinasikan berbagai instrumen yang dimiliki untuk meredam lonjakan inflasi. BI juga akan secara gradual menaikkan BI Rate jika diperlukan. ”Jika tekanan inflasi mereda, BI akan menyetop kenaikan BI Rate,” katanya. (FAJ)
![]()
Akses Jurnal Ekonomi Ideologis berdasarkan kata kunci:
Inflasi, kompas, NPL





