Pasar Tesktil Indonesia Semakin Tertekan
Kirim ke email temanRepublika - Jumat, 04 Juli 2008
JAKARTA– Pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia semakin berat, setelah pemerintah Cina berencana mengeluarkan kebijakan pemotongan pajak ekspor tekstil mereka. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) meminta pemerintah merespons kebijakan tersebut, dengan mengeluarkan instrumen serupa.
”Jika kebijakan tersebut diterapkan, akan berdampak luas terhadap ekspor tekstil Indonesia. Tentu saja pasar tekstil Indonesia akan semakin terjepit. Bagi kami, jika pemerintah Cina bisa mengeluarkan kebijakan tersebut, mengapa kita tidak bisa,” kata Sekretaris eksekutif API Ernovian G Ismy, di Jakarta, Kamis (3/7).
Menurut dia, cepat atau lambat pasar tekstil dalam negeri juga berpotensi dibanjiri produk Cina, yang sebelumnya sudah sangat banyak membanjiri pasar Indonesia. Di samping itu dampak berikutnya ekspor nasional terancam karena kompetisi di pasar Asia dan dunia makin ketat.
Karena itu, katanya, pemerintah harus mengambil sikap tegas, salah satunya menyetop impor garmen dari Cina untuk sementara waktu.
Dia menjelaskan, jika Cina menaikkan potongan pajak ekspor, harga produk tekstil negara tirai bambu tersebut akan makin lebih murah dibandingkan produk Indonesia. Ini sangat pasti menyulitkan produsen dalam negeri, karena iklim usaha didalam negeri belum kondusif.
Ditegaskan, kebijakan pemerintah Cina tersebut untuk membantu kinerja ekspor tesktil negeri tersebut, setelah tahun 2007 mengalami penurunan.
(zak )
![]()
Akses Jurnal Ekonomi Ideologis berdasarkan kata kunci:
Produk Cina, republika, tekstil





