Untuk Pertama Kali Harga Minyak Tembus US$ 140
Kirim ke email temanJurnal-ekonomi.org - Untuk pertamakalinya harga minyak tembus angka SU$ 140 per barrel setelah Libya akan mengurangi produksi dan prediksi OPEC bahwa harga minyak akan tembus US$ 170 per barrel pada musim panas ini. Kenaikan harga minyak mentah (crude oil) juga didorg oleh pelemahan nilai dolar AS terhadap Euro. Menurut Presiden Excel Futures di California, kenaikan ini terjadi akibat kombinasi ketiga hal tersebut.
Tren harga minyak yang semakin tinggi semakin memperburuk perekonomian dunia, khususnya negara-negara dunia ketiga dan penduduk miskin. Karena itu perlu upaya untuk menahan laju kenaikan harga minyak. Hanya saja karena harga minyak dikendalikan para spekulan, maka upaya untuk menurunkan sangat sulit kecuali suatu saat nanti lantai bursa komoditas ditutup.
Menurut analisis Jurnal Ekonomi Ideologis, tidak logis hanya karena Libya akan menurunkan produksi harga minyak langsung naik. Lebih tidak logis lagi saat sektor riil mengalami penurunan aktivitas, bahkan berbagai negara menurunkan target pertumbuhan ekonominya, harga minyak menjadi jauh lebih tinggi.
Pernyataan OPEC tentang kemungkinan harga minyak naik hingga US$ 170 lebih didasarkan kepada faktor spekulasi dan pelemahan nilai dolar. Karenanya, para spekulan minyak di bursa komoditas memanfaatkan faktor psikologis ini untuk semakin menggerek harga minyak ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka akan menjadikan isu apapun untuk menaikan harga minyak atau waktu yang tepat untuk melakukan aksi ambil untung.
Kenaikan harga minyak yang tidak terkendali dan sangat merugikan dunia khususnya penduduk miskin, harus dilawan dengan menghadirkan sistem alternatif, yakni sistem Khilafah. Riba dan judi yang mendominasi perekonomian dunia merupakan bagian tak terpisahkan dari hegemoni dan metode penjajahan negarta-negara Kapitalis terhadap dunia. Karena itu penghapusan bursa komoditas dan sektor finansial dan penegakan sistem Khilafah harus menjadi agenda masyarakat dunia khususnya kaum muslimin. [Jurnal Ekonomi Ideologis/HM]
REFERENSI
CNN Money 26 Juni 2008, Oil hits $140 for the first time
![]()
Akses Jurnal Ekonomi Ideologis berdasarkan kata kunci:
harga minyak, spekulasi







June 27th, 2008 at 1:00 pm
Saya yakin, sekarang pasar BBM dunia sudah dikuasi para spekulan zionis, kita tidak bisa berharap dari kekuatan pemerintah dan DPR yang sekarang mengangkat isu hak angket. Indonesia sudah masuk perangkapnya zionis yang memiliki kekuatan memonopoli SDA termasuk sumber energi minyak Indonesia. Saatini hanya sekitar 20% saja eksploitasi minyak yang dikelola pemerintah, selebihnya pihak asing. Dari aspek pasar, kita hanya follower harga. Sejak kemerdekaan hingga saat ini Pertamina gagal melaksanakan alih teknologi pengolahan minyak, Buktinya minyak mentah kita diekspor ke Singapura, lalu kita impor lagi. Dari aspek ini, jelas kedaulatan kita sudah tergadaikan, dan pemerintah boleh dikata tidak memegang amanah Pasal 33 UUD 1945.
September 11th, 2008 at 1:08 pm
Sekarang minyak udah level $90.barrel, dan insaya alloh tahun depan akan stabil di level $60-80 barrel
October 13th, 2008 at 2:50 pm
sekarang belum tahn 2009, harga minyak dunia sudah turun doa anda sudah terkabul, tentunya kita berdo lagi supaya harga minyak di indonesia ikut juga turn…………mari kita berdoa terus…hanya itu yang bisa kita lakukan
salam
October 30th, 2008 at 10:55 am
Salah satu hal yang kini sangat diharapkan dari pemerintah untuk mengurangi beban ekonomi rakyat adalah menurunkan harga BBM mengingat harga minyak dunia juga sudah turun. Sayangnya, hal ini sulit direalisasikan secepatnya mengingat masa berlaku APBN-P 2008 tinggal dua bulan lagi. Tapi sangat diharapkan tahun depan harga BBM bisa diturunkan, mengingat dampak krisis saat ini akan lebih terasa pada tahun 2009. Kita berharap Pemerintah memiliki kesadaran dan keberanian yang lebih besar untuk mengupas inti persoalan BBM lebih mendalam karena sudah menjadi catatan umum bahwa kenaikan harga BBM di Indonesia tidak sekedar terkait dengan harga minyak dunia, namun juga terkait dengan ketidakberesan pengelolaan migas di Indonesia sendiri.